
"Bagaimana Jackson? Apa kau sudah mendapat info mengenai mereka?" tanya Asten.
Mereka berdua kini tengah duduk di samping taman rumah. Menikmati secangkir teh hangat di saat udara tengah dingin seperti sekarang ini.
"Belum, Bu. Nanti setelah ini aku akan menghubungi anak itu lagi," jawabnya.
"Hm, Ibu percayakan semuanya padamu. Pastikan, jangan sampai rencana kita kali ini gagal. Kalau sampai saudara tirimu itu berhasil mewujudkan keinginan ayahmu, maka sudah tidak ada harapan lain lagi untukmu Jackson!" ucap Asten bersungguh-sungguh.
"Iya, Bu. Kali ini aku juga tidak akan membiarkan dia mengambil kesempatan ini. Minimal, dalam satu tahun ini jangan sampai istrinya itu hamil," ungkapnya menatap lurus ke depan, sambil membayangkan berbagai macam kemungkinan, jika Akash berhasil meraup kekayaan ayahnya itu.
"Baguslah kalau kau berpikir seperti itu, Ibu jadi sedikit tenang, karena kini ambisimu yang sesungguhnya sudah di mulai."
"Iya, Ibu. Ibu tenang saja, aku juga tidak akan membiarkan Akash berkuasa dengan mudahnya."
"Kalau begitu, apa kau sudah menyuruh anak itu untuk melakukan tugas pertamanya?" tanya Asten.
"Sudah, hari ini aku menyuruhnya untuk mengikuti Akash dan istrinya yang tengah liburan ke Menara CN."
"Lalu?"
Jackson terdiam sejenak. "Aku belum menyuruhnya melakukan apa-apa lagi, nanti jika dia sudah menghubungi, baru akan aku beri tahu misi selanjutnya."
"Jadi, sampai sekarang anak itu belum menelepon?"
"Belum," jawabnya sambil meraba saku jasanya, hanya saja Jackson merasa ada yang aneh.
"Loh, handphone?" gumamnya langsung berdiri dari duduknya, sambil melihat ke tempat duduknya mencari-cari handphonemiliknya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Asten ikut berdiri dari duduknya.
"Ibu, handphone tidak ada," ucapnya dengan wajah yang penuh Keterkejutan.
"Tidak ada? Memang terakhir kau menggunakannya di mana?" tanya Asten tidak santai.
"Di ...." Jackson teringat kalau tadi ia sempat masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya dan membawa handphonenya ke sana.
"Sebentar, Bu. Aku akan mencari handphone di kamar," ucapnya langsung bergegas pergi menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Dan ternyata benar saja, ponsel miliknya itu tertinggal di sisi bathtup, ia lupa mengambil ponselnya itu setelah ia berendam sambil menonton film kesukaannya.
Dan saat ia mengaktifkan ponselnya itu, ternyata ada dua panggilan tidak terjawab dari Boy.
Dan buru-buru pula, Jackson meneleponnya kembali.
"Saya sudah ada di area Menara CN, Tuan Tapi, ada sesuatu yang gawat, Tuan," suara Boy di balik ponsel.
"Gawat? Gawat apa?" tanya Jackson dengan perasaan yang sudah tidak enak hati.
"Orang yang saya ikuti, mereka bukan Shira atau pun suaminya. Itu orang yang berbeda, Tuan."
"Bagaimana bisa! Kau ini, tidak becus sekali!" amuk Jackson lewat sambungan teleponnya.
"Tapi, Tuan. Saya sudah mengikuti semua arahan dari Tuan. Mobil yang saya ikuti juga, plat nomernya sama dengan yang, Tuan kirimkan kepada saya."
"Lalu, kenapa bisa sampai begitu?"
__ADS_1
"Tidak tahu, Tuan. Saya juga tidak mengerti, kenapa saya bisa sampai salah mengikuti orang. Padahal nomor mobil, pakaian dan postur tubuh orang yang saya ikuti semuanya sama dengan pesan dari, Tuan."
Jackson terpaku di tempatnya, sorot matanya terlihat begitu tajam dengan Mimika wajah yang sedikit menyerahkan. Lelaki itu mengepalkan sebelah tangannya dengan erat, dengan urat-urat yang tampak menonjol di dahi dan tangannya.
"Sialan! Ya sudah, kalau begitu, kau harus mencari keberadaan Akash dan Shira di sana, pastikan kau harus mendapatkan jejak mereka, kalau tidak ... Adikmu yang akan menjadi taruhannya," ancam Jackson dengan serius, lalu langsung mematikan ponselnya.
Boy yang masih ada di negara bersalju itu, ia tampak kelimpungan. Ia tidak tahu lagi harus dengan cara apa agar dirinya bisa menemukan Shira. Jika tidak, kini bukan hanya masalah uang yang menghantuinya, tapi masalah ancaman bosnya itu yang mengarah kepada adik kesayangannya.
"Bagaimana pun juga, aku harus mencari dan menemukan keberadaan meraka, aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus berusaha lebih," gumamnya sungguh-sungguh.
Sementara Jackson, kini lelaki itu tengah dirundung oleh amarah yang membuatnya sedikit frustrasi.
Ia melangkah keluar dari kamar mandi, dengan Mimik wajahnya yang tidak tenang.
"Dasar, pekerja tidak becus! Bisa-bisanya dia kehilangan jejak Akash dan Shira begitu saja! Argh!" serunya mengacak rambutnya dengan kasar, lalu melemparkan ponsel yang digenggamnya itu ke atas tempat tidur. Membuat benda pipih itu melayang dan mengancul di tengah-tengah ranjang.
Tiba-tiba, sebuah feeling mengingatkannya kepada sesuatu.
"Apa mungkin mereka....?"
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Hayo bisa nebak feeling yang dirasakan sama Jackson apa?