
Tepat pukul 21.00 malam, Akash dan Edwin baru sampai di rumah. Mereka disambut hangat oleh Shira dan juga Tessa.
“Untung saja aku belum makan, jadi malam ini aku bisa makan bareng sama kamu. Kangen banget tahu, udah beberapa hari enggak makan malam bareng-bareng,” ucap Shira sambil gelendotan di lengan Akash dengan manja.
Bibir Akash melengkung, menciptakan sebuah senyuman manis mendengar perkataan manja dari istrinya itu. Ia mengusap pelan kepala Shira, lalu mengelus perut buncit istrinya yang semakin tampak besar.
“Iya, Sayang, maafin aku ya, akhir-akhir ini aku ‘kan sibuk. Semoga saja, besok dan bulan-bulan seterusnya sampai anak kita lahir, aku akan berusaha selalu nemenin kamu, kok Sayang,” balas Akash.
“Duh, senangnya lihat anak-anak Ibu, romantis begini,” seloroh Tessa ikut bahagia melihat Shira dan Akash yang selalu akur, bahkan wanita paruh baya ini belum pernah melihat Akash dan Shira bertengkar, dan semoga saja dijauhkan.
“Hayo Nak Edwin, segera susul Akash,” celetuk Tessa saat Edwin baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi meja makan, hendak ikut bergabung makan malam bersama.
Edwin tersenyum malu dan gugup, lalu ie melirik ke arah Kalala yang baru saja selesai membantu koki menyiapkan makanan.
“Iya, Nyonya, mohon do’anya semoga secepatnya saya bisa mengikuti jejak pernikahan Tuan Akash,” jawabnya malu-malu.
“Cieee ... kode nih, Kal,” timpal Shira kepada Kalala yang ikut mengompori.
Kalala jadi tersipu malu, lalu ia pun duduk di samping Shira, tepat berhadapan dengan Edwin yang duduk di sebrangnya.
Edwin masih tidak menyurutkan pandangannya dari tatapan wajah Kalala. Lelaki itu seolah tengah menikmati maha karya Tuhan yang ada di depannya. Kecantikannya, kepolosannya, dan juga senyuman mahalnya yang jarang ia dapati.
“Tenang saja, tidak lama lagi aku pun akan segera mempersuntingmu, Kalala,” batin Edwin, begitu berdebar-debar.
Karena bagaimana pun, Edwin sangatlah serius kepada Kalala, tentunya, wanita yang selama ini sudah memberinya kenyamanan yang tidak bisa ia dapati dari wanita lain, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sampai ujung dunia pun, Edwin pasti akan berusaha mengejar Kalala, menjadikannya kekasih serta teman hidup untuk selama-lamanya.
“Duh, dia ngapain sih liatin aku kayak begitu,” batin Kalala tersipu malu, saat Edwin masih fokus menatapnya.
Tiga detik, lima detik, hingga satu menit berlalu, Edwin masih tidak mengalihkan pandangannya, Kalala pun menyenggol sikut Shira, memberinya kode agar sahabatnya itu mau menegur Edwin.
Shira yang selalu hafal dengan kode-kode yang diberikan oleh Kalala, ia pun langsung melirik ke arah Edwin yang tengah memandangi Kalala.
“Duh aduh... sampai segitunya ya mandanginnya,” celetuk Shira tiba-tiba, membuat Edwin yang mendengar langsung terhenyak dari lamunannya. Dan langsung salah tingkah lalu segera mengambil lauk pauk untuk mengisi piringnya yang baru ada nasi saja.
“Mandangin apa, Sayang?” tanya Akash.
__ADS_1
“Itu, Kalala dari tadi Cuma mandangin makanannya, enggak di makan-makan,” jawabnya mengalihkan.
Kalala tersenyum puas, ia pun mencolek sikut Shira, lalu mengacungkan ibu jari di bawah meja. Menandakan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu sukses.
***
Setelah makan malam selesai, Akash meminta waktu kepada semua orang yang ada di ruang makan, untuk tidak pergi, karena ia ingin mengatakan sesuatu mengenai rencananya besok hari.
Dengan wajah yang tampak serius, dan tatap mata yang begitu dalam, Akash pun mulai berbicara.
“Sebelumnya, aku ingin meminta maaf, jika apa yang aku katakan ini terlalu mendadak, karena kalau direncanakan jauh-jauh hari, aku takut rencana ini bocor ke orang lain.”
Kini Akash menoleh ke arah istrinya, memandangnya dengan senyuman penuh kehangatan, lalu memegang sebelah tangan Shira. “Jadi, sesuai janjiku padamu, cepat atau lambat aku akan keluar dari pekerjaanku dengan para mafia organ itu,” ucapnya langsung membuat Shira, Tessa dan Kalala membeliakkan matanya masing-masing.
“Mafia organ?” gumam Kalala cukup shock.
“Akash, kamu yakin dengan pilihanmu ini? Ingat akibat yang akan kamu timbulkan jika kamu benar-benar keluar dari para mafia itu?” imbuh Tessa tampak cemas, karena ia tahu dulu saat Akash sempat melarikan diri dari mafia organ itu, Akash harus sampai di asingkan di negri orang, bahkan kehidupan Akash jauh lebih menyengsarakan, dan ia tidak ingin kejadian dan kepedihan di masa lalu itu terulang ke dua kalinya kepada anaknya.
“Aku yakin, Bu. Ibu tenang saja, karena aku merencanakan semua ini sudah dari empat bulan yang lalu. Semua strategi yang aku lakukan saat ini pasti tidak akan sampai membuat aku seperti dulu lagi, Bu. Dan sebagian dari rencanaku kali ini, aku ingin mengajak Ibu dan Shira untuk pergi ke suatu tempat,” ucapnya.
Akash terdiam, memandang Shira dan Tessa secara bergantian. “Masih di negara ini, pulau kecil dan terpencil yang jauh dari jangkauan orang-orang. Pulau itu jarang ada yang menjamah, tapi tenang saja, di sana sudah tersedia listrik, signal dan juga rumah yang cukup megah untuk kita tempati,” ucap Akash.
“Hanya saja, mobilitas serta kehidupan kita kedepannya di sana akan sangat terbatas, dan juga di sana hanya akan ada aku, Ibu, kamu Shira, dan juga sepuluh orang pelayan yang sudah aku siapkan di pulau tersebut.”
“Lalu, bagaimana dengan rumah ini? Apa kamu akan menjualnya?” tanya Tessa.
“Tidak, untuk sementara rumah ini akan diurus oleh Edwin, hanya saja para pegawai dan pengawal di sini akan aku liburkan untuk beberapa bulan ke depan sebelum semuanya di rasa aman.” jawabnya.
“Jadi, sekretaris Edwin tidak akan ikut bersama kita?” tanya Shira.
“Dia ikut, hanya saja dia akan bolak-balik. Dan kemungkinan Edwin akan lebih banyak menghabiskan waktunya di sini. Karena sementara dia yang akan memegang kendali dari beberpa hotel dan perusahaan milikku,” jawab Akash.
“Kalau begitu, bagaimana dengan Kalala? Apa dia boleh ikut dengan kita?” tanya Shira, karena bagaimana pun, sedih rasanya jika ia harus berpisah dengan sahabatnya itu dalam rentan waktu yang cukup lama.
Akash terdiam. “Tergantung, kalau Kalala mau ikut, silakan saja, hanya saja resikonya selama beberapa bulan ke depan kamu enggak bisa pulang untuk menemui orang tuamu,” jawab Akash, menyorotkan tatapan seriusnya kepada Kalala.
Kalala teridam kebingungan. “Oh iya, jika kau memang ingin ikut dengan kami, aku akan menaikkan gajimu dua kalilipat dari gajimu yang sekarang.”
__ADS_1
Kalala cukup tercengang. Ia pun terus berpikir, tapi, kalau gajinya bisa dinaikkan dua kali lipat, tentu itu akan membuat Kalala dengan cepat meraih mimpinya, yaitu membeli sebuah rumah di Jakarta, agar ia bisa mengajak mamanya untuk tinggal bersama.
Kalala melirik ke arah Edwin, keduanya saling bertatapan. Edwin sedikit menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode kepada Kalala, agar kekasihnya itu jangan ikut. Namun, hati kecil Kalala berkata lain. Kalala benar-benar kebingungan.
“Baiklah, sepertinya tidak apa jika aku ikut dengan Shira, selagi aku masih bisa menelpon mamaku, semuanya pasti akan baik-baik saja,” batin Kalala dalam hati.
“Baiklah, Tuan, saya akan ikut bersama kalian. Tapi, jika saya menelepon mama saya, masih bisa ‘kan?” tanya Kalala ragu.
“Bisa ... tapi, tidak boleh sering-sering.”
Kalala mengangguk paham. “Baik, Tuan.”
Baiklah, kalau begitu besok ketika kiat berangkat cukup bawa baju secukupnya, karena di sana pun aku sudah menyiapkan segala kebutuhan kita, termasuk baju, makanan dan kebutuhan lainnya.
***
Setelah perbincangan selesai, kini mereka semua masuk ke kamarnya masing-masing. Sementara Edwin, lelaki itu tampak begitu bimbang, karena Kalala akan ikut bersama tuannya.
“Kenapa juga dia harus ikut sih!” gerutunya, berjalan bolak-balik di kamarnya, merasa begitu khawatir.
“Tidak, aku tidak bisa membiarkannya! Aku harus melarangnya agar2 dia tidak pergi,” ucapnya bergegas keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar yang ditempati oleh Kalala.
.
.
.
Bersambung...
Maaf ya baru bisa up, tapi Dela kasih bonus malam ini upnya dua bab. Hehe...
Yang tanya ini tamat atau belum,, belum ya, tapi bentar lagi bakalan tamat kok.
Mudah-mudahan sebelum akhir bulan semua babnya udah lengkap dan bisa dela publish.
Happy reading gengs :)
__ADS_1