
Setelah itu, ia berbalik ke arah Shira yang masih setia berdiri membelakanginya. Ia pun terlebih dahulu membasuh tangan dan mengeringkannya.
“Sudah belum?” tanya Shira masih terpaku berdiri menghadap pintu.
Namun, bukannya jawaban yang Shira terima, malah sebuah tangan melingkar di perutnya yang ia dapati.
Akash mendekapnya pelan, menagitkan jari-jari tangannya di perut Shira. Lalu wajah lelaki itu kini mulai terasa menelisik sebelah leher Shira, mengecup leher putih itu pelan, sambil menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Shira.
“Akash!” Shira berdecak kesal.
“Akash! ... Ah.” Shira mendesah pelan saat Akash berhasil menggigit lehernya dan menghisapnya pelan.
Akash yang sudah tidak tahan itu, ia langsung membalikkan badan Shira, berhadapan dengannya. Dan tanpa segan ia pun langsung menautkan bibirnya dengan bibir Shira. Membuat Shira yang terlena, tidak berdaya untuk menolaknya.
Ciuman itu semakin lama semakin memanas, keduanya saling membalas satu sama lain. Tangan Akash mengapit kedua tulang rahang Shira, menangkup pipi halus Shira sambil mengusap-usapnya pelan.
Sementara kedua tangan Shira kini sudah meremas kaos yang digunakan Akash, tepat di bagian dada bidang suaminya itu.
Semakin lama, ciuman itu semakin merambah ke mana-mana. Dari bibir turun ke leher, membuat beberapa tanda kiss mark di leher Shira, dengan tangan yang sudah bergeriliya manja bermain di luar puncak piramid.
Dan saat Akash hendak memasukan tangannya ke dalam baju milik Shira, wanita itu langsung menahannya, dan melepaskan ciumannya.
Shira membuka matanya pelan, memandang teduh wajah suaminya itu. “Jangan sekarang, Akash,” lirih Shira.
“Sebentar saja, Shira,” pinta Akash dengan tatapan penuh damba yang sudah tidak tahan.
“Tidak, jangan sekarang. Bukankah masing-masing dari kira menginginkan moment yang spesial?” tanya Shira pelan.
Akash pun memejamkan matanya, menunduk pasrah. Ia tahu, jika mereka melakukannya di sini, tentu akan kurang nyaman. Dan Akash juga tidak ingin moment hubungan mereka setelah pernikahan harus dilakukan di dalam toilet pesawat.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menunggu,” ucapnya pasrah.
Shira mengembangkan kembali senyumannya, dan Akash pun kembali menautkan bibirnya dengan bibir Shira. Menutup adegan hot-hot jeletot mereka dengan french kiss. Lalu setelah itu, mereka berdua pun keluar dari toilet.
Dan saat mereka keluar, secara bersamaan pula ada seorang pramugari yang ternyata tengah ada di ruangan mereka dengan senyum merekahnya yang dilayangkan ke arah Shira dan Akash yang baru saja datang, kembali ke tempat duduk mereka.
“Maaf Tuan dan Nona mengganggu waktunya sebentar, saya kemari untuk menyiapkan makan siang,” ucap Pramugari cantik dengan pakaian yang sangat rapi itu.
Akash dan Shira mengangguk. “Hm ,terima kasih.”
“Oh ya, apa ada sesuatu yang ingin dipesan?” tawar pramugari itu.
Akash sejenak melihat ke arah makanan yang sudah terjadi di kursinya.
“Emh, tidak ada, terima kasih.”
Kini Akash pun memperbolehkan para pengawal dan pelayannya itu untuk melepaskan earphone dan mematikan musik yang tengah mereka dengarkan. Dan mereka pun menurut. Lalu setelah itu mereka semua pun makan bersama.
***
Kini jam sudah menunjukkan pukul 14.30 siang, sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas di bandara Narita Intl, Tokyo.
Setelah selesai makan bersama, Akash pun meminta pengawal dan pelayan yang menemaninya untuk duduk di kursi yang agak panjang yang terdapat di sana.
Ada satu hal yang ingin Akash sampaikan pada pengawal dan pelayan itu mengenai rencananya. Karena jika mereka merundingkannya di tempat transit, itu tidak mungkin dan yang ada mereka pasti akan ketahuan.
“Baiklah, jadi begini, kamu--Dean dan Dama, kalian berdua lanjutkanlah perjalanan kalian menuju Kanada, nanti kalian chek in di hotel yang sudah di pesan atas namaku, katakan saja kalau kalian dari keluarga Atkinson."
Dean si pengawal muda itu mengangguk paham. Dama sang pelayan yang menyukai BTS itu juga ia mengangguk paham.
__ADS_1
"Dan ingat selalu pakai masker kalian, dan jaket kalian harus ditutup sampai ke kepala, seperti gayaku dan gaya Shira," ucap Akash memberi tahu.
Keduanya kembali mengangguk paham. Dan kini, tatapan Akash beralih kepada Beni dan Bella. Satu pengawal dan satu pelayan yang diajaknya secara mendadak tadi malam.
"Dan kalian berdua, Beni dan Bella, kalian akan ikut denganku dan juga Shira untuk melakukan perjalan ke Paris."
"Penampilan kalian harus berbeda dari aku dan juga Shira, dan jangan lupa pakai masker kalian dan kaca mata kalian."
Beni dan Bella pun mengangguk paham. Lalu setelah dirasa semuanya paham, Akash pun kembali ke kursinya duduk di sebelah Shira.
"Akash, itu kenapa kamu tadi menyuruh dua orang itu untuk tetap pergi ke Kanada? Kenapa tidak ikut saja dengan kita ke Paris?" tanya Shira penasaran.
"Sudah tidak apa-apa, aku hanya memberikan bonus liburan kepada mereka berdua agar bisa liburan lebih jauh," ucapnya.
"Loh, kok gitu?"
"Udah jangan banyak tanya. Kita harus siap-siap, sebentar lagi pesawat akan landing, cepat pakai sabuk pengamanmu," titah Akash kepada Shira. Shira pun mengangguk menurut.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1