
Sebelum lanjut baca bab ini, alangkah baiknya kalian baca bab 109-110 dulu ya, soalnya kemarin author salah masukin naskah, tapi sekarang udah di benerin kok hehe. Maaf ya...
Happy reading and enjoy~~~
***
“Memangnya apa yang harus aku benci dari profesimu?” tanya Shira.
“Ja-jadi ....”
“Hm?”
“Jadi sebenarnya, aku—”
“Sebenarnya kamu apa, Akah?” tanya Shira tidak sabar menanti ucapan selanjutnya yang akan keluar dari mulut suaminya itu.
“Aku dokter bedah organ,” ucap Akash tegas.
Shira masih menautkan kedua alisnya. “Bedah organ bagaiamana?”
Karena istrinya itu sepertinya kurang paham akan maksud dirinya, Akash pun mengajak Shira untuk duduk terlebih dauhulu di sofa yang ada di sana. Lalu mengambil dua minuman kaleng dari dalam kulkas mini yang ada di pojok ruang.
“Baiklah, aku akan menjelaskannya dari awal,” ucap Akash bersiap untuk membuka siapa dirinya sebenarnya kepada Shira.
***
21.00 malam, di hotel Alexandra.
Kalala baru saja selesai menuntaskan pekerjaannya malam ini. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 21.02 malam.
“Oke, sudah selesai. Tamunya akan datang satu jam lagi,” ucap Kalala, kemudian memandang kasur yang penuh dengan taburan kelopak mawar merah serta ada handuk satu jodo yang berbentung angsa.
“Semoga bulan madu kalian berjalan lancar, tamu kesayanganku,” ucap Kalala yang baru selesai menghias kamar tersebut untuk customer yang akan berbulan madu.
Kalala pun segera kelaur dari kamar tersebut, mendorong troley yang berisi seprai bekas tamu sebelumnya.
Ia berjalan mendorong troley itu, lalu berhenti di depan lift, menekan tombol untuk membukanya. Dan baru saja ia tekan, tiba-tiba pintu lift berbunyi, bergerak membuka dan menampilkan dua orang yang ia kenal ada di dalam lift tersebut.
“Tuan Jackson,” ucap Kalala sedikit terkejut.
Jackson dan satu orang pramu yang membawa satu botol jus dan satu botol vodka di atas nampan itu, mereka pun keluar dari lift tersebut.
“Ternyata kau ada di sini,” ucap Jackson menghentikan langkahnya di depan Kalala.
__ADS_1
Kalala mengangguk, lalu menunduk sopan di depan Jackson.
Jackson menoleh ke pramu yang ada di sampingnya. “Berikan itu kepada dia, dan kau bawa pulang troley ini ke bawah,” ucap Jackson.
Peramu cantik itu mengangguk, lalu menyerahkan nampan tersebut kepada Kalala.
“T-tapi, Tuan, ini ‘kan—”
“Saya tamu di sini, dan saya ingin kamu yang menemani saya malam ini,” ucap Jackson.
“Hah?” Kalala terdiam, sambil memegang nampan yang satu botol vodka dan satu botol orange juice dan dua gelas serta satu mangkuk kaca.
Lalu peramu cantik yang datang bersama Jackson pun mengambil alih trolley yang dibawa Kalala, dan dia pun kembali masuk ke dalam lift lalu meninggalkan mereka.
“Ikuti saya,” ucap Jackson berjalan terlebih dahulu memasuki kamar presiden suites.
“Tuangkan untuk saya,” ucap Jackson.
“Vodka atau jus, Tuan?” tanya Kalala, yang kini sudah duduk di samping meja, melipat kedua kakinya di duduk manis di atas karpet.
“Jus,” jawabnya simple.
Kalala pun membuka jus tersebut pelan-pelan, lalu menuangkannya ke dalam gelas yang sudah isi dengan dua butir es batu, dan menyerahkannya kepada Jackson dengan sopan.
“Ini, Tuan,” ucap Kalala.
Kalala masih terdiam, duduk menyamping di deekat kaki Jackson yang berpijak di karpet.
Sementara Jackson, lelaki itu masih penasaran dengan wanita yang ada di depannya. Ia masih bertekad untuk mengajak Kalala bekerja sama agar mau menjadi calon istrinya.
“Naik,” ucap Jackson pelan.
Kalala mendongak, menatap Jackson dengan bingung.
“Naik, dan duduk di sampingku!” titah Jackson, menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
Kalala yang bingung, ia tampak tidak nyaman atas perintah Tuannya itu. “T-tapi, Tuan sa—”
“Cepat, Kalala!” seru Jackson menajamkan matanya, membuat Kalala tidak bisa menolak dan akhirnya ia pun duduk di samping Jackson dengan jarak yang cukup dekat.
“Sekarang ayo, katakan apa yang ingin kau ungkapkan padaku!” titahnya tiba-tiba, membuat kedua alis Kalala langsung bertautan rapat.
“Katakan apa? Oh, iya, pasti dia ingin membahas masalah uang bonus yang 30 juta itu,” gumam Kalala dalam hati.
__ADS_1
“Oh soal uang bonus itu, saya ingin mengucapkan terima kasih, Tuan. Saya tidak menyangka, Tuan akan sebaik itu kepada saya, memberi bonus sangat besar,” ucap Kalala tersenyum senang.
Tiba-tiba, Jackson berdecak. “Ck! Bukan itu yang ingin aku dengar darimu!” balasnya.
“Hah? Te-terus apa dong?” tanya Kalala dengan polosnya.
“Hubunganmu dengan Edwin,” jawabnya simple, menatap serius kedua bola mata milik Kalala.
“Hah?” Lagi dan lagi, Kalala terperangah mendengarnya, kurang mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jackson mengenai Edwin.
“Jangan cuma hah heh hoh doang! Aku ingin tahu hubungan kamu dengan Edwin!”
Kalala masih terdiam dalam kebingungannya.
“Katakan! Kau dengan Edwin tidak berpacaran ‘kan?” tanya Jackson menatap sinis.
“Hah? Ma-maksud, Tuan bagaimana?”
Jackson menaruh gelas jus itu dengan malas di atas meja, lalu kembali fokus menatap Kalala.
“Kalala, kau lahir di Surabaya pada tahun 1998, mempunyai ibu bernama Weni, sekarang ibumu tinggal di Surabaya bersama bibimu setelah selesai menjalankan operasi jantung.”
“Kau tidak perlu berbohong padaku lagi, Kalala! Aku sudah tahu semuanya, aku tahu keluargamu, aku tahu tuhanmu dan aku tahu, kau sebenarnya tidak berpacaran dengan Edwin kan?” tanyanya penuh selidik.
Deg.
Jantung Kalala berdebar tidak karuan, hatinya terasa panik tidak santai. Ia menatap heran kepada lelaki yang ada di hadapannya itu.
“Loh, bagaimana bisa dia tahu semuanya?” batin Kalala cengo memandang wajah Jackson. "Siapa sebenarnya dia ini? Apa dia adalah seorang FBI yang memata-mataiku? T-tapi, untuk apa?"
"Benarkan?" tanya Jackson dengan penuh percaya diri.
.
.
.
Bersambung....
Hayo, pada penasaran enggak sama kelanjutan Akash yang sebenarnya?
Ramaikan kolom komentarnya ya, dan jangan lupa mumpung awal bulan, bantu votenya ya mentemen. Terima kasih.
__ADS_1