
Tidak ingin membiarkan Shira dalam pengaruh emosi, Kalala mencari cara untuk mencairkan suasana.
"Eh iya, jadi gimana ini? Kamu mau ngajak aku kemana?” tanya Kalala mengalihkan pembicaraan.
Shira teringat akan rencananya. Lalu wajahnya yang tengah meringsut kesal itu, tiba-tiba berubah menjadi ceria.
"Eh iya, aku hampir saja lupa tujuanku itu. Ini semua gara-gara si Haris brengsek itu!"
"Terus, jadinya sekarang kita mau ke mana?" tanya Kalala lagi, masih berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Shira kembali melebarkan senyuman penuh maksudnya. “Oh ada deh ... udah, sekarang kita cegat taksi dulu, ayo.” Shira kembali menarik lengan sahabatnya itu membawanya ke pinggir jalan raya, tempat di mana mereka biasa mencegat taksi untuk pulang.
Kini mereka sampai di depan sebuah mall besar, tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat Shira masih dalam kejayaannya. Keduanya langsung keluar dari taksi. Kalala masih penasaran dan terheran-heran kenapa Shira mengajaknya ke sini.
Shira kembali menarik lengan Kalala, akan tetapi saat ini Kalala memilih mematung di tempatnya. “Shir, kita mau ngapain si?” tanya Kalala bingung.
“Udah ayo masuk,” ajak Shira, tapi kekeh Kalala tidak mau.
“Jawab dulu."
"Iya nanti aku jawab kalau udah di dalam, ayo!"
Kalala masih tertegun. "Jawab sekarang atau aku pulang!” ujar Kalala, memberi ancaman ringan.
Shira berdecak kesal, sepertinya hari ini orang-orang sangat senang memberinya pilihan di balik ancaman.
“Ya udah iya iya ... aku ajak kamu ke sini itu buat beli perlengkapan mama kamu, sekaligus buat beli beberapa persiapan kita buat acara festival besok. Kamu gak lupa ‘kan?” tanya Shira sekaligus menjelaskan.
Kalala masih bergeming di tempatnya. “Emangnya kamu punya uang?” tanya Kalala, karena yang jadi permasalahannya saat ini adalah uang. Apalagi, Kalala juga tahu barang-barang yang dijual di mall ini rata-rata barang mahal.
“Ya punya lah, kalau gak punya ngapain aku berani ajak kamu ke sini,” jawabnya.
__ADS_1
Masih kurang percaya, Kalala menatapnya hati-hati.
“Serius? ... Punya uang dari mana kamu?” tanya Kalala, karena ia khawatir kalau Shira berkhayal.
“Ada deh ... nih lihat.” Shira mengeluarkan dua kartu dari dalam tasnya. Satu kartu debit dan satu lagi kartu kredit tanpa batas.
“Punya siapa itu?”
“Punya aku lah,” jawabnya semangat.
"Udah ayo ah, jangan banyak nanya mulu!' Shira kembali menarik lengan Kalala, membanya masuk ke dalam mall.
Kalala mengikuti pergerakan sahabatnya yang berjalan dengan semangat dan lincah, melihat dari satu store ke store lain. Lalu, mereka masuk ke sebuah store baju anak muda. Di store tersebut banyak sekali baju-baju keluaran terbaru yang pastinya limitied edition.
“Shir, kamu gak ngikut satanis ‘kan?” tanya Kalala, berbisik waspada.
Shira yang tengah memilih-milih pakaian, ia langsung terkekeh mendengar pertanyaan bodoh dari sahabatnya tersebut.
"Perjanjian? Perjanjian apa Shir? Kamu gak ngepet 'kan?" tanya Kalala dengan polosnya, karena sejujurnya Kalala pun merasa heran pada Shira. Meski sahabatnya itu sudah jatuh miskin, tapi pakaian, perlengkapan dan keuangan sahabatnya itu tampak terlihat normal-normal saja.
"Iya, aku ngepet jadi lonthee, haha," jawab Shira asal ucap. Membuat kedua mata Kalala membulat sempurna.
"Aku serius Shira!" seru Kalala, cemas.
Shira kembali tertawa, masih dengan matanya yang fokus memilah-milah baju. "Ya ampun Kalala, kau ini polos atau bodoh sih. Ya mana mungkin wanita secantik aku negepet dan jadi lonthe," ucapnya terkekeh.
"Dan masalah kartu debit dan kartu kredit punyaku ini, aku memilikinya karena dikasih sama seseorang. Udah, kamu gak perlu cemas, dan jangan banyak tanya, mending sekarang kamu pilih, mau baju yang kayak gimana, cepat!" ucap Shira menjelaskan panjang lebar.
Kalala mengangguk paham, lalu ia pun ikut memilih pakaian untuk acara festival besok, ia juga membantu Shira untuk mencarikan pakaian yang pantas untuk dijadikan ajang modeling nanti.
“Eh iya Kal, kalau pentas model, temanya apa sih?” tanya Shira.
__ADS_1
“Temanya bebas, kamu bisa mix and match pakaian yang kamu suka aja. Yang penting besok performa tampilanmu bagus,” jawab Kalala.
Setelah memesan beberapa pakaian untuk dirinya dan juga Kalala, kini mereka berdua pindah dari toko satu ke toko yang lainnya, mencari pakaian untuk Shira pentas model besok.
Kalala pun menyarankan kepada Shira agar dia memamerkan pakaian bertema koboy saja, selain barangnya mudah di dapat, tema koboy pasti sedikit yang mengambilnya. Shira pun menyetujuinya.
Setelah berputar-putar di dalam mall sekitar tiga jam, mereka berdua pun makan terlebih dauhulu di sebuah restoran yang ada di mall tersebut, dan setelah selesai, mereka pergi ke rumah sakit untuk menemui mamanya Kalala.
Shira juga memberi tahu Kalala, kalau masalah biaya operasi mamanya itu akan ditanggung oleh Shira. Dan begitu mereka sampai di sana, Shira segera mengurus biaya administrasi dan bebagai keperluan sekaligus pemindahan kamar untuk mamanya Kalala.
Lagi-lagi, Kalala dibuat merasa begitu banyak hutang kepada Shira.
Gadis polos itu memeluk sahabatnya dengan erat, air matanya tumpah karena saking bahagianya. Tidak hanya Kalala, tapi mamanya Kalala pun ikut terharu mendengarnya. Entah sudah yang ke berapa puluh kalinya, Shira selalu membantu dirinya bersama mamanya.
“Shira, sekali lagi aku berterima kasih padamu. A-aku tidak tahu jadinya kalau gak ada kamu,” ucap Kalala masih tersedu menahan tangisnya.
“Sudah tidak apa-apa, ini semua Tuhan yang memberikan, aku hanya jadi perantaramu saja, Kalala.”
Sungguh, entah terbuat dari apa hati Shira, yang pasti wanita itu sejak dulu terbilang sangat baik, tidak pendendam, dan pastinya adalah orang yang setia dan murah hati.
Seandainya ada lelaki yang menyia-nyiakannya, pastilah dia akan menyesal. Dan hal itu sudah terjadi kepada Haris mantan kekasihnya.
Jujur saja, Haris pun sekarang tengah dilanda dilema saat tahu Shira memiliki kekasih baru. Karena yang Haris tahu, Shira adalah gadis yang baik yang terkadang masih mudah untuk dibohongi oleh laki-laki modelan buaya darat seperti Haris.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1