Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Tersanjung Didekatmu


__ADS_3

Hari ke hari tidak terasa sudah terlewati. Jackson masih dilanda kecemasan dan kebingungan, karena sudah dua minggu ini, ia tidak mendapati Kalala di hotel. Dan setelah bertanya-tanya, ternyata gadis itu sudah resign.


Selain itu, Jackson juga bingung karena hingga detik ini Baker—ayahnya, selalu saja menanyai Jackson mengenai calon istrinya itu.


Bahkan malam kemarin saat sedang makan malam bersama pun, Baker kembali menanyai soal Kalala. Meski Jackson sudah memilih jujur untuk mengatakan yang sebenarnya, bahwa Kalala bukan pacarnya, tapi Baker tetap menginginkan Jackson untuk membawa gadis itu kembali ke rumah ini.


Secangkir cappucino, tengah disesapnya, diteguk secara perlahan, lalu kembali menyimpannya di atas meja, tempatnya berasaal.


Jackson masih terdiam dalam lamunannya.


“Tuan, apa tidak sebaiknya kita ke rumah tuan Akash saja, siapa tahu gadis yang Anda cari ada di sana,” usul Erru, sekretarisnya yang kebetulan saat ini tengah ikut dengannya meeting di kafe.


“Apa kau yakin, gadis itu ada di rumah Akash?” tanya Jackson.


Erru yang memang kurang tahu, bahkan belum pernah melihat gadis yang dicari tuannya itu, ia juga kebingungan menjawabnya.


“Emh, dicoba saja, Tuan. Jika memang benar ada di sana, ya Anda beruntung,” jawabnya.


Jackson terdiam sejenak, memikirkan usulan Erru. Lalu, setelah mendapat ide, ia pun beranjak dari tempat duduknya, membenarkan jas abu-bau yang melekat di tubuh kekarnya itu, lalu pergi keluar dari kafe.


Erru hendak masuk ke dalam mobil, namun Jackson segera mencegahnya.


“Tidak perlu ikut. Kau urus saja pertemuan dengan klien selanjutnya. Katakan, aku tidak bisa datang karena ada urusan mendesak,” ucap Jackson, membukan pintu mobilnya.


“Baik, Tuan.” Erru mengangguk paham.


***


Cuaca sore ini cukup cerah dari biasanya. Langit berwarna jingga pun menampilkan keindahannya, seolah tengah mendukung suasana dari keluarga bahagia yang saat ini tengah mendirikan tenda.


Tenda spesial yang diinginkan oleh Shira. Karena ia tidak bisa ikut acara kampus untuk camping ground hari ini. Maka dari itu, ia dan Kalala sengaja membuat tenda di taman, belakang rumah yang cukup luas, rencananya malam ini juga mereka akan mengadakan acara bakar-bakar.

__ADS_1


“Ih... kok jadi begini sih!” Kalala menggerutu kesal, karena sudah satu jam berkutat, ia belum bisa mendirikan tendanya.


Edwin yang sudah mendirikan dua tenda, serta tempat api unggun untuk nanti malam, ia pun memperhatikan Kalala dari kejauhan.


“Haih... dia ini, terlalu sok bisa, sampai gengsi meminta bantuan,” ucapnya pelan sambil menggelengkan kepalanya. Lalu beranjak mendekati Kalala.


“Kemari, biar aku saja yang pasang,” ucap Edwin menengadahkan tangannya, hendak mengambil alih, kawat-kawat tenda yang tengah dipegang oleh Kalala.


Kalala terdiam sejenak sebelum menyerahkan kawat itu kepada Edwin, karena jujur saja, sebenarnya ia begitu gengsi sudah menolak ajakan Edwin untuk membangun rumah tangga bersamanya, eh salah, maksudnya membangun  tenda bersamanya.


“Jangan sok! Udah sini, biar aku yang pasang!” Edwin langsung merebut kawat itu dari tangan Kalala. Lalu berjongkok di depan Kalala, fokus menyambungkan kerangka tenda.


“Dasar cewek! Bukannya dibenerin, malah dibikin acak-acakan begini!” gumamnya pelan, namun masih terdengar di telinga Kalala.


“Kau mengataiku hah?!” seru Kalala, mencebikkan bibirnya dengan wajah yang berekspresi kesal.


“Baguslah kalau kau merasa tanpa aku sebutkan nama,” jawab Edwin begitu cuek.


Setelah berkutata selama 15 menit, akhirnya tenda berdiameter 2 meter itu pun berhasil didirikan.


Edwin menepuk-nepuk tangannya yang sedikit kotor itu.


Kalala menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ingin mengucapkan terima kasih pada Edwin, tapi ia ragu.


“Ma-ma ....”


“Apa?!” tanya Edwin tidak santai.


“Makasih,” lanjutnya.


Edwin sempat terdiam, menatap Kalala dengan terheran-heran. Karena tumben-tumbenan wanita itu berterima kasih secara lembut padanya.

__ADS_1


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Kalala menuatkan kedua alisnya.


“Aneh!” ucapnya pelan.


Dan saat Edwin hendak melangkah pergi, tiba-tiba sebelah kakinya tidak senagaja tersanjung, mengenai kaki tenda. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya.


Gubrak!


Tubuh Edwin kini menumpu di atas tubuh Kalala, dengan posisi Kalala yang terlihat tengah dikungkung oleh Edwin.


Dug, deg, dug, deg.


Jantung keduanya berpacu cepat tidak normal. Masing-masing dari mata mereka, saling memandang bertautan.


Satu detik, dua detik, hingga di detik ke lima, tiba-tiba ada suara seseorang yang mengejutkan mereka berdua.


“Tuan Edwin!”


.


.


.


Bersambung....


O-ow ... siapakah itu?


 


 

__ADS_1


__ADS_2