
Sepulangnya dari rumah sakit, Edwin mengantar Akash dan Shira ke kediamannya Tuan Baker.
Di bawah rintik hujan, Akash dan Shira keluar dari mobil.
"Ed, kamu pulang saja, malam ini aku akan menginap di rumah ayahku," ucap Akash memberi tahu, sebelum ia melangkah menjauh dari mobil.
"Baik, Tuan. Terima kasih," jawab Edwin.
Akash dan Shira pun bergegas pergi menuju teras rumah, lalu sejenak mereka merapikan terlebih dahulu pakaian mereka yang terkena tetesan air hujan.
"Sudah, ayo masuk," ucap Akash, sesaat setelah membenarkan sebagian rambut Shira yang menghalangi wajahnya.
"Ayo."
Dan tepat, saat Akash ingin membuka pintu rumah, tiba-tiba, sudah ada Asten yang membukakan pintu itu secara kebetulan.
"Akash," ucap Asten sedikit terkejut melihat kehadiran Akash di sana.
Akash tersenyum simpul, sedangkan Shira, ia melebarkan senyumannya memberi salam dengan sopan, bahkan saat Shira menyodorkan tangannya ingin bersalaman, Asten malah memandangnya aneh.
"Masuk saja," ucap Asten tanpa membalas jabat tangan Shira.
Shira sejenak melirik ke arah Akash, karena merasa tidak enak hati atas sikap yang ditunjukan Asten padanya.
"Sudah, tidak apa-apa, ayo." Akash merangkul Shira lalu membawanya masuk ke dalam rumah, melewati Asten begitu saja.
Asten masih berdiri di ambang pintu, wanita itu tampaknya tidak tahu kalau Akash hari ini akan datang ke rumah ini.
"Ada apa mereka malam-malam begini datang kemari?" gumam Asten memandang penuh sedilik ke arah Akash dan Shira yang tengah berjalan di ruang tengah.
"Aku harus membatalkan rencanaku malam ini. Lebih baik aku mencari tahu kedatangan mereka ke sini untuk apa," gumam Asten kembali menutup pintu dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar rumah.
Keadaan rumah mewah bergelimang emas ini, tampak terlihat sunyi, meski terdapat banyak para pengawal dan pelayan, akan tetapi entah kenapa setiap memasuki rumah megah ini, rasanya hanya ada kehampaan di dalamnya.
Shira dan Akash mendudukan tubuh mereka di atas sofa empuk di ruang kerja milik Baker. Dan tidak lama kemudian Baker datang sendirian memasuki ruangan tersebut.
Dan seperti biasa, Akash serta Shira langsung berdiri menyambut kedatangan Baker dengan berdiri sopan serta menundukkan kepala mereka.
"Duduklah," titah Baker, sesaat setelah ia duduk di kursi keagungannya.
Shira dan Akash pun mengangguk, lalu duduk secara bersamaan di tempat mereka sebelumnya.
__ADS_1
"Apa kabar, Nashira?" tanya Baker tiba-tiba, cukup membuat Shira gugup mendengarnya.
"Ka-kabarku ba-baik, Ayah," jawab Shira gugup, dengan kedua tangan yang sudah bergetar meremas rok miliknya.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja." Perlahan tatapan Baker mulai tampak serius, mengamati anak dan menantunya itu secara bergantian.
"Ini." Tiba-tiba Baker menyerahkan dua lembar tiket pesawat kepada Shira dan Akash, meyimpannya di atas meja yang ada di depan mereka.
"Apa itu, Ayah?" tanya Akash dengan bingung.
"Ambil dan lihatlah," jawabnya.
Perlahan sebelah tangan Akash meraih dua lembar kertas itu, dan membacanya pelan. Selagi membaca, kedua mata Akash membulat dengan sempurna melihat apa yang dilihatnya.
"Ayah ... ini?" Akash memandangnya bingung.
"Ayah tidak ingin mengulur-ulur waktu. Kalian tidak kunjung memberi kepastikan kepada Jackson jadi biar Ayah sendiri yang memilihkan tempat bulan madu untuk kalian," tutur Baker menjelaskan.
Shira ikut tercengang mendengarnya. "Apa? Bulan madu?" tanya nya spontan dibalas anggukkan seirus oleh Baker.
Buru-buru Shira mengambil alih kertas yang ada di tangan Akash, dan ia pun membacanya. Ternyata itu adalah tiket pesawat menuju Kanada.
"Lusa, kalian akan berangkat. Ayah dan Jackson akan mengantarkan kalian ke bandara. Dan tidak lupa, Ayah juga sudah menyiapkan dua pengawal untuk menemani honey moon kalian selama di sana."
"Apa? Dua pengawal?" tanya Shira semakin terkejut.
"Iya ... kenapa? Apa masih kurang? Kalau kurang biar Ayah tambah lagi jadi lima pengawal," ucap Baker dengan serius.
Akash kebingungan. "Tidak Ayah, tidak perlu. Dua pengawal saja sudah cukup kok Ayah," tuturnya sedikit cemas.
Akash mengerti, pasti Shira bertanya mengenai dua pengawal karena ia merasa aneh, jika bulan madu harus dibuntuti oleh pengawal. Tapi Akash juga mengerti, Ayahnya melakukan ini semata-mata karena ingin menjaga keamanana anak dan menantunya di luar negri nanti.
"Bagaimana? Apa kalian setuju dengan tempat pilihan Ayah?" tanya Baker.
"Ayah, t-tapi bukankah Kanada itu jauh?" tanya Shira, karena entah kenapa ia merasa begitu panik jika harus pergi terlalu jauh dari negaranya.
"Iya, memangnya kenapa? Apa kurang jauh, kalau kurang jauh besok Ayah carikan lagi?" tanya Baker.
Akash sudah paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ayahnya. Jika sudah bertanya seperti itu, bisa-bisa Ayahnya akan mengubah tujuannya ke nergara yang lebih jauh lagi.
"Tidak, Ayah, tidak perlu he he ... ini sudah cukup kok, tidak perlu diganti, Ayah," ucap Akash kelimpungan, jangan sampai Ayahnya itu mengganti destinasi bulan madunya ke Afrika. Bisa-bisa, kalau mereka dikirim ke Afrika, yang ada mereka bergulat sama hewan-hewan di sana.
__ADS_1
"Tapi Akash," lirih Shira memandang Akash dengan tatapan bingung. Sorot matanya menyiratkan sebuah pesan, kalau gadis itu tidak ingin pergi ke negara yang jauh, tatapannya menandakan kalau ia kurang setuju.
Akan tetapi, sebisa mungkin Akash harus menghargai keputusan Ayahnya, tidak berani jika ia menolak apa yang sudah dipilihkan Ayahnya padanya. Karena pada dasarnya, Akash memanglah seorang anak yang penurut kepada orang tua. Hanya saja tidak menurut kepada ibu tirinya.
"Sudah, tidak apa-apa, kita terima saja," bisik Akash tanpa menggerakkan bibirnya.
Kini Akash kembali memandang ke arah Ayahnya. "Terima kasih Ayah untuk kejutannya," ucap Akash tersenyum kaku.
"Hm, sama-sama. Dan jangan lupa, beri Ayah kejutan kalau kalian sudah pulang dari Kanada. Kau pasti paham hadiah yang diinginkan ayah," ucap Baker memandangnya penuh maksud.
Akash mengangguk kaku. "Baik Ayah, sebisa mungkin kita akan memberikan hadiah terindah untuk Ayah sepulang kami dari Kanada."
"Hm, baguslah. Kalau begitu, sekarang kalian makan lah terlebih dahulu, setelah itu kalian beristirahtlah di kamar kedua," ucap Baker lalu berdiri dari duduknya, mengakhiri obrolan mereka malam ini.
"Baik, Ayah. Selamat malam."
"Hm, malam." Baker pun pergi terlebih dahulu meninggalkan ruang kerja itu.
Sementara kini, Akash sudah bisa bernafas lega setelah kepergian Ayahnya dari ruangan tersebut.
"Akash! Kenapa kamu menyetujuinya?" tanya Shira dengan mimik wajah yang kesal.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Ya ampun Akash! Tapi Kanada itu jauh ... belum lagi, kenapa semuanya mendadak sih? Kenapa harus lusa coba? Kenapa enggak bulan depan aja?"
"Kalau bulan depan, bisa-bisa kamu keburu hamil sebelum kita honeymoon," jawab Akash dingin tapi menggoda, dengan sorot matanya yang tiba-tiba berubah seolah menginginkan sesuatu.
"Ih, Akash! Aku serius." Shira mencebik kesal, melipat kedua tangannya di dada. Mendelik tidak mau bulan madu cepat-cepat.
Bersambung...
Wah... kira-kira mau pada ikut gak nih ke Kanada bareng Shira dan Akash?
Yang mau ikut, yuk siap-siap packing haha
__ADS_1