Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Hello My Baby


__ADS_3

“Edwin,” ucap Kalala dan Shira bersamaan. Memandang Edwin yang berdiri sambil memegang tiang infusannya, dengan sebelah tangan yang ditekuk menggunakan kain penyangga tangan.


Edwin tersenyum kaku ke arah mereka.


“Edwin, kenapa kamu malah ke sini? Memangnya dokter membolehkan kamu?” tanya Shira heran, karena yang Shira tahu, kondisi Edwin belum sepenuhnya pulih.


Edwin mengangguk. “Hm, iya dokter membolehkan aku untuk sekedar jalan-jalan sebentar. Lagi pula nanti malam infusan aku sudah bisa dilepas, dan aku sudah diizinkan untuk istirahat di rumah.”


“Oh, begitu ... syukurlah kalau keadaanmu sudah membaik.”


“Oh ya, sebelumnya aku tadi tidak sengaja mendengar obrolan kalian soal ke Singapura,” ucap Edwin agak ragu.


Kalala dan Shira saling menatap satu sama lain. “Edwin, ayo kita bicara di luar,” ucap Kalala, yang tidak enak hati jika membahasnya di depan Shira.


___


Edwin dan Kalala kini sudah duduk di atas bangku di taman, samping gedung rawat inap. Mereka terdiam dalam keheningan, sambil sesekali melegakan penghirupan dengan udara malam yang sangat sejuk dan cukup dingin.


“Apa kamu menyetujuinya, Kalala?” tanya Edwin tiba-tiba, setelah keheningan menyelimuti mereka berdua dalam beberapa menit lalu.


Ternyata, lelaki itu sudah mengetahui semuanya.


Kalala mengangguk pelan, sambil memiringkan badannya menghadap Edwin. “Hm, maafkan aku, Edwin, a-aku terpaksa melakukannya, karena bagaimana pun aku sudah berhutang budi kepada Jackson.”


Edwin mengangguk paham, ia tahu bahwa kekasihnya itu bisa selamat atas pertolongan Jackson. Jadi untuk saat ini, Edwin pun tidak marah atau sekedar cemburu, karena sebagai pria yang sudah dewasa tentunya ia harus lebih bisa memahami situasi dan kondisi, bukan hanya soal hati.


“Tidak apa-apa, Kalala. Aku juga mengerti, karena bagaimana pun, Jackson lah yang sudah menyelamatkan kamu.” Kalala mengangguk, sedikit tenang saat tahu kalau pacarnya itu tidak marah padanya.


“Aku akan menemanimu.” Kalala terkejut mendengarnya.


“Ke Singapura?!” Wanita itu membeliakkan kedua matanya, tidak percaya.


Edwin mengangguk tersenyum. “Aku akan meminta izin kepada tuan Akash, agar aku bisa menemanimu di sana. Sekaligus aku juga akan mengurus perpindahan dan data-data baru tuan Akash di Singapura.”


“Hah? Data perpindahan?” Kalala kurang paham.


“Iya, tuan Akash dan nona Shira akan segera pinda ke Singapura dan mengganti semua data mereka. Kamu juga pasti sudah tahu bukan masalah tuan Akash dengan para mafia organ itu?” Kalala mengangguk.


“Karena hal itu lah, tuan Akash akan meninggalkan Indonesia dan juga mereka akan meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan keluarga Atkinson, termasuk nama mereka.”


“Maksud kamu, tuan Akash akan berganti marga?” tanya Kalala, Edwin mengangguk.


“Ya, mereka akan membuat marga mereka sendiri. Dan tentunya semua data mereka di sini semuanya sudah di hapus.”


Kalala cukup terkejut mendengar semuanya, apalagi saat Edwin menceritakan kalau Akash dan Shira akan berpindah kewarganegaraannya. Serta ada beberapa dokumen yang terpaksa dipalsukan agar rencana mereka untuk pindah ke Singapura bisa berhasil, dan kemungkinan untuk kedepannya mereka tidak akan pernah pulang ke Indonsia lagi. Jadi setelah bayi mereka sudah dalam kondisi normal dan bisa keluar dari rumah sakit, secepat mungkin mereka akan langsung pindah. Dan tentunya yang mengurus semua ini bukan hanya Edwin saja, tapi ada beberapa orang penting yang gabung dalam permasalahan ini.

__ADS_1


***


Hari yang dinantikan pun tiba, setelah selesai bertemu dengan Kalala dan mengantarkan ke ruang rawat Jackson, akhirnya Akash bisa bernafas lega dan bisa segera menemui istri serta anaknya yang ada di Indonesia.


“Kalala, saya sangat berterima kasih sekali padamu. Dan maaf, kalau saya sering merepotkanmu.”


Kalala tersenyum canggung. “Tidak apa-apa, Tuan, saya senang bisa melakukan semua ini. Lagi pula, sudah menjadi keharusan untuk saya mengurus tuan Jackson, karena bagaiman pun saya sudah diselamatkan olehnya.”


Akash mengangguk tersenyum lalu kembali memandangi Jackson yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


“Jackson, semoga kau segera sadar. Kalala di sini akan menjagamu, maaf aku harus meninggalkanmu karena ada istri dan anakku. Cepatlah bangun Jackson, agar kau bisa bertemu dengan keponakanmu,” ucap Akash, sedikit berat dan terasa haru.


“Kalala, saya pergi dulu ya.”


“Iya, Tuan. Hati-hati di jalan.”


Akash pun melangkah pergi meninggalkan Kalala dan Jackson di ruangan tersebut, namun saat Akash hendak membuka pintu ruangan, tiba-tiba Kalala kembali memanggilnya.


“Kenapa, Kalala?” tanya Akash menoleh.


“Emh, begini, apa Edwin sudah diizinkan untuk datang kemari?”


Akash terdiam sejenak, ia lupa kalau semalam Edwin sempat meminta izin padanya untuk datang ke Singapura. Dan ia belum memberikan keputusan yang pasti pada sekretarisnya itu.


“Hm, kemungkinan lusa dia akan datang kemari. Aku harus memberikannya waktu istirahat, setidaknya  hingga besok.”


***


Akash baru sampai di rumah sakit, setelah menanyakan kamar rawat Shira, ia pun segera pergi menemui istrinya tersebut.


Dan sesampainya di kamar rawat Shira, Akash langsung masuk dan memeluk istrinya tersebut, lalu menghujani wajah Shira dengan ciumannnya.


“Maafkan, aku Sayang, aku baru bisa menjengukmu,” ucap Akash.


Shira tersenyum. “Iya enggak apa-apa, Sayang.”


Lalu Akash pun menanyai kondisi Shira, sekaligus melihat bekas secar di bawah perut istrinya.


“Kamu ingin melihat anak kita sekarang?” tawar Shira.


“Apa kamu sudah bisa jalan?” tanya Akash. Shira mengangguk.


“Ayo, aku kita ke ruang PICU,” ajak Shira. Akash pun mengangguk, lalu membantu istrinya itu untuk turun dari brankar. Dan saat Akash melihat ada kursi roda di pojok kamar, ia pun pergi mengambilnya dan menyuruh Shira untuk naik ke kursi roda saja.


Dan mereka pun pergi ke ruang PICU dengan Shira yang di dorong di kursi roda. Sebelum masuk mereka izin terlebih dahulu kepada petugas penjaga di ruang tersebut, sekaligus mereka masuk harus mengenakan pakaian yang sesuai dengan standar sterilisasi di ruangan tersebut, tidak lupa memakai masker dan sarung tangan.

__ADS_1


“Lihat, anak kita sangat tampan sekali ya, persis kayak kamu,” ucap Shira memandang buah hatinya yang tengah terlelap di dalam inkubator.


Tidak mendengar tanggapan apa-apa dari suaminya, Shira pun menoleh ke arah Akash yang berdiri di sampingnya. Dan ternyata, suaminya itu diam-diam tengah meneteskan air matanya, namun buru-buru disekanya saat ketahuan oleh Shira.


Shira langsung bangkit dan memeluk suaminya tersebut dengan penuh kehangatan. “Sayang ... kenapa kamu malah menangis?” tanya Shira masih memeluk Akash.


Entah kenapa, tapi ini untuk pertama kalinya Akash benar-benar merasa kecewa pada dirinya, terlebih ia merasa sangat berdosa karena baru bisa datang melihat anak dan istrinya.


Akash melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Shira dengan kedua tangannya, kembali mengecup kening istrinya itu meski mulutnya tertutup oleh masker.


“A-aku benar-benar merasa bersalah, karena tidak ada di sisimu saat kamu mempertaruhkan hidupmu untuk anak kita. Maafkan aku, Shira, maafkan,” ucapnya kembali mendekap istrinya itu dengan sangat erat.


“Sudah, tidak apa-apa, Sayang. Ayo, lihat lagi tuh anak kita. Dia pasti sangat merindukan Daddynya ini,” ucap Shira, Akash tersenyum mendengarnya.


“Daddy?” tanya Akash.


“Hm.” Shira tersenyum sumringah. “Aku ingin anak kita memanggil kita dengan sebutan Daddy and Mommy.”


Akash terkekeh ringan mendengarnya. “Baiklah, Mommy cantik,” ucap Akash menggodanya.


Mereka pun memandangi jagoan mereka yang masih terlelap nyenyak di dalam inkubator.


“Oh ya, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?” tanya Akash.


“Tentu, aku sudah menyiapkan dua nama paling bagus untuk anak kita, jadi kamu bisa memilihnya. Dan tentunya aku juga sudah menambahkan marga baru kita di belakang namanya.”


“Siapa namanya?”


“Clyde Branwyn dan Chivarly Branwyn, kamu suka yang mana sayang?” tanya Shira.


Akash tampak berpikir. “Kalau Clyde panggilannya nanti apa dan kalau Chivarly nanti panggilannya apa?”


“Kalau Clyde nanti kita bisa panggil namanya dengan lengkap atau cuku dengan sebutan, Cly. Nah kalau Chivarly kita bisa memanggilnya dengan sebutan, Chiv.”


“Hm, kalau begitu aku pilih Chiv.”


Shira tersenyum. “Wah, pemikiran kita ternyata sama, baiklah kita akan memanggilnya Chiv,” ucapnya girang.


“Hello, Baby Chiv.”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2