Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Mau Mengulang Lagi?


__ADS_3

“Oh ya, Kala, aku pamit pulang ya, sudah malam juga, aku tidak enak dengan orang yang punya rumah,” ucap Shira, langsung berpamitan kepada Kalala dan mamanya. Lalu bergegas pergi dari sana.


Kalala masih penasaran, ia pun pamitan sebentar kepada mamanya, lalu membuntuti Shira yang tengah pergi ke parkiran mobil.


Dari jauh Kalala mengamati Shira yang masuk ke dalam mobil hitam, bisa di bilang itu mobil mewah yang pastinya bernilai ratusan ribu dollar.


“Dia naik mobil siapa?” gumam Kalala dalam hati. Karena sebenarnya Kalala juga masih penasaran akan gosip yang beredar di kampus, kalau Shira menjadi simpanan pria yang sudah menikah. Akan tetapi, Kalala tidak ingin mempercayai berita itu.


***


Sementara itu, di kediaman rumah mewah milik Tuan Baker, ada Jackson yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon.


“Baiklah, pastikan besok semuanya aman dan berjalan lancar sesuai yang kita rencanakan. Dan jangan biarkan suaminya datang ke sana,” ucap Jackson kemudian mengakhiri teleponnya.


“Bagaiamana?” tanya Nyonya Asten—ibunya Jackson.


Jackson berbalik menghadap ibunya, lalu menyeringai penuh maksud. “Besok, semua pasti akan berjalan lancar. Aku akan memastikan kalau dia tidak akan hadir di acara besok,” ucapnya.


Lalu, dibalas dengan seringai senyuman penuh kepuasan di wajah Asten. Wanita berkepala empat itu, tampak senang mendengarnya. Entah apa yang mereka rencakan besok, yang pasti rencananya itu ada kaitannya dengan Akash.


“Lihat saja kau, Akash. Aku tidak akan membiarkan kekayaan dan harta warisan dari suamiku jatuh terlalu banyak padamu,” gumam Asten penuh ambisi.


***


Sementara itu, jalanan Jakarta malam ini cukuplah luang, lampu-lampu kendaraan dan lampu bangunan serta toko-toko, ikut menghiasi gemerlap malam ini.


Akash masih fokus menyetir, membelah jalanan di tengah keramaian dan diantara rintik hujan yang gerimis membasahi bumi.


Lalu tepat di pertigaan lampu merah, ia menghentikan mobilnya.


"Bagaiamana kedaan orang tua temanmu itu?" tanya Akash membuka pembicaraan, karena dari rumah sakit tadi, hanya keheningan lah yang menyelimuti mereka.


"Emh, masih seperti kemarin, belum ada perubahan."


"Kalau operasinya?"


"Oh, belum, kemungkinan besok atau lusa, aku juga lupa menanyakan jadwal operasinya," jawab Shira. Akash mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Oh ya Akash, sekali lagi aku mau bilang makasih sama kamu. Terima kasih sudah mau membantu temanku ya," ucap Shira dengan tulus.


Akash menoleh, sambil mengembangkan senyumannya. "Iya, asal kau tidak lupa saja, dengan permintaanku kemarin malam," jawabnya tersenyum mesem.


Pernyataan tersebut, langsung mengingatkan Shira akan kejadian kemarin malam, di mana Akash meminta sebuah syarat jika ingin membantu mamanya kalala.


Shira tersenyum, tersipu malu, mengingatnya, kini kedua pipinya sudah merona memerah, saking malunya mengingat kejadian kemarin malam.


"Kenapa? Kok senyum-senyum begitu?" tanya Akash yang sengaja semakin membuat Shira malu sendiri.


"Enggak! Siapa yang senyum-senyum sendiri," sangkal Shira langsung diam tanpa senyum sedikit pun.


Akash malah semakin menatapnya dengan mimik wajah yang membuat Shira ingin tertawa.


"Akash! Jangan melihatku seperti itu!" gerutunya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Ah... jangan! Aku tidak suka!"


"Tapi aku suka," jawab Akash yang dengan sengaja malah semakin serius menatap Shira sambil tersenyum.


Tok, tok, tok.


Kaca mobil tiba-tiba ada yang mengetuk, saat Akash berbalik, ternyata ada anak kecil yang tengah berdiri di dekat jendela kemudi.


Lalu, Akash menurunkan kaca mobil hingga setengahnya.


"Om, tisunya, Om," tawar anak kecil yang berpakaian lusuh dan basah itu, sambil menyodorkan dua pack tisu kepada Akash.


"Ya ampun, Dek. Lagi hujan begini kok masih jualan?" tanya Akash, yang tidak tega melihat anak kecil lelaki itu jualan tisu sambil hujan-hujanan di lampu merah.


"Tisunya belum habis, Om. Om mau tisunya, Om?" tawar anak lelaki itu.


"Astaga .... Ya sudah, sini Om beli semuanya," ucap Akash.


"Beneran, Om?" tanya anak lelaki yang tengah mengusap wajahnya yang basah itu.


"Iya, ada berapa lagi itu sisanya?" tanya Akash.


"Ada 10 pack lagi, Om."


"Ya sudah, saya beli semuanya jadi berapa?"


"Semuanya lima puluh ribu, Om."


"Om , ini kebanyakan, Om." Anak itu menghitungnya, dan total ada lima lembar, jika dijumlahkan totalnya ada 500 ribu rupiah.


"Udah buat kamu aja," ucap Akash, lalu mengambil kantung bening yang berisi 10 pack tisu dan menyimpannya ke jok belakang.


"Yeee... makasih banyak, Om." Anak itu berlari kegirangan menghampiri beberapa teman-temannya yang ada di sekitar lampu merah.


Akash yang baru sadar ternyata anak-anak yang jualan tisu itu bukan hanya satu orang, ia pun cukup miris melihatnya.


Ia hendak memanggil anak-anak jalanan itu, akan tetapi lampu merah sudah beralih ke lampu hijau, dan dengan terpaksa Akash melajukan mobilnya.


Shira mengira, kalau Akash akan langsung membawanya pulang, akan tetapi baru saja melaju beberapa meter, di depan sana, Akash kembali menghentikan mobilnya.


"Loh, kenapa?" tanya Shira kebingungan.


"Anak-anak itu, lagi hujan begini masih saja sempat-sempatnya jualan!" ucap Akash, lalu melepas seat beltnya, dan membuka pintu mobil setengahnya.


Dan saat pandangan Akash dengan anak lelaki tadi bertemu, Akash langsung berteriak memanggilnya lagi.


"Hey, anak-anak penjual tisu semuanya kemari!" teriak Akash.


Anak-anak yang tengah hujan-hujanan sambil menawarkan tisu mereka ke beberapa pengendara, mereka pun langsung berlari kegirangan menghampiri Akash.


"Ada apa, Om?"

__ADS_1


"Om mau beli tisu kita Om?"


"Iya, saya mau beli tisu kalian semuanya," ucap Akash. Dan tanpa bertanya, Akash langsung memberikan mereka masing-masing uang 500rb.


Anak-anak penjual tisu pun kegirangan bukan main, tampak senyuman dan tawa lebar dari wajah tulus mereka.


"Om, makasih banyak ya, Om," ucap mereka berlima secara bersamaan. Akash mengangguk tersenyum.


"Sudah malam, pulanglah," ucap Akash.


"Iya, Om siap!" ucap mereka serentak dengan semangat.


Meski Akash tipikal orang yang cuek, akan tetapi rasa simpatinya terhadap anak kecil,orang tua dan wanita sangatlah tinggi. Dibalik wajahnya yang sangar, tersimpan hati yang lembut dan menenangkan.


"Ya ampun Akash, kenapa kau membeli tisu sebanyak ini?" tanya Shira terkejut, saat Akash menyimpan puluhan pack tisu itu di kursi belakang.


"Sudah tidak apa-apa, lagi pula ini buat stok," jawab Akash sambil tersenyum penuh maksud, sambil memasangkan kembali seat belt di tubuhnya.


"Stok? Tapi, stok di rumah juga kan masih banyak."


"Ini bukan untuk di rumah, tapi special buat kita," bisik Akash pelan, kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Special buat kita? Maksud kamu apa?" tanya Shira yang tidak paham.


Akash tersenyum simpul, lirikannya pada Shira seolah menyiratkan arti sesuatu. "Kau lupa dengan kejadian kemarin malam? Kamu bilang enggak mau menelannya 'kan? ... Kalau enggak mau nelen, ya udah pakai tisu aja bersihinnya," ucap Akash penuh maksud.


Langsung membuat Shira membeliakan kedua matanya. Ia tidak menyangka, kalau Akash akan berani membahas masalah ini.


"Ya ampun Akash! Kata-katamu ini ya!"


"Memangnya kenapa dengan kata-kataku?" tanya Akash sengaja memancing.


Shira langsung mencebikan bibirnya, melipat kedua tangan di dada. "Udah ah, ayo pulang!" ucap Shira.


"Ekhem! Pengen banget buru-buru pulang, apa mau ngulang lagi yang kemarin?" tanyanya semakin membuat pikirannya merambah ke mana-mana.


"Akash!" Shira menoleh, melayangkan tatapan dinginnya. Langsung membuat Akash terkekeh melihat wajah lucu dari istrinya tersebut.


"Iya, iya, kita pulang sekarang," jawabnya. "Duh, yang udah enggak sabar," lanjutnya pelan, langsung mendapat cubitan kecil di bahunya.


"Menyebalkan!" cetus Shira, masih dengan mimik wajahnya yang cemberut menggemaskan.


.


.


.


Bersambung


Udah hari senin nih, bantu vote ya mentemen, nanti malam dela up lagi ya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2