
“Ambil saja keputusan yang menurutmu benar, yang tidak memberatkanmu dan tidak membuatmu merasa menyesal dikemudian hari. Mama, tahu ini pilihan yang berat, tapi kalau kamu menolak, apa kamu yakin perasaan dan pikiranmu akan tenang? Setidaknya, untuk menghindari penyesalan cobalah untuk mengambil langkah ketenangan,” ucap Sarah mengelus pelan puncak kepala Kalala.
Kalala yang terisak, ia mengangguk pelan memahami nasehat mamanya tersebut.
“Tapi, Mama, kalau seandainya aku jadi pergi, selama tiga bulan aku tidak bisa bertemu dengan Mama bagaimana?” tanya Kalala menatap Sarah dengan tatapan sedih sambil mencebikkan bibirnya.
Sarah kembali membelai kepala anak tunggal kesayangannya itu dengan penuh cinta. Menatapnya begitu dalam, berharap anaknya tahu apa yang dirasakannya.
“Munafik sekali jika Mama yakin akan baik-baik saja. Hanya saja, Mama juga pasti akan mencoba mengertikan kondisi kamu. Yang penting kamu tidak lupa untuk selalu mengabari Mama lewat ponsel,” lirihnya pelan, seolah berat.
Kini keduanya saling berpelukkan, merasakan sedih karena pada akhirnya mereka harus berpisah sementara untuk beberapa bulan ke depan.
___
Jadi, pagi kemarin saat Kalala berbicara dengan Baker, ia meminta maaf kepada Baker karena ia harus menemui mamanya terlebih dahulu dan pulang ke Indonesia. Dan saat itu Baker mengizinkannya dengan harapan, keluarga Kalala bisa mengizinkannya.
Dan saat selesai berbicara dengan Baker, Kalala mencoba membujuk Jackson untuk makan, namun sulit sekali karena keadaan psikis dan mental Jackson saat itu benar-benar dalam keadaan buruk. Lelaki itu tengah mencoba berdamai dengan takdir yang menimpanya saat ini. Meski berat, tapi Kalala berusaha untuk menyemangatinya.
Dan karena Kalala tidak tega melihat keadaan Jackson waktu itu, Kalala pun segera pamit dan sore harinya ia langsung pulang ke Indonesia, lebih tepatnya ke Surabaya, tempat di mana mamanya berada.
___
Setelah mengatur jadwal dan meminta bertemu dengan Edwin, akhirnya mereka pun berencana untuk bertemu di sebuah hotel bintang lima, lebih tepatnya di restorannya. Karena saat itu, Edwin juga kebetulan tengah berada di Jakarta.
Malam ini, Edwin tampil sangat begitu rapi, bahkan ketampanannya pun jauh lebih meningkat dari biasanya. Lelaki itu tidak surut menampilkan senyuman di wajahnya. Hati dan perasaannya berdebar, karena tiba-tiba pacarnya itu memintanya untuk bertemu secara dadakan.
“Sebenarnya apa ya yang ingin Kalala katakan padaku? Apa dia ....” Sebelum melanjutkan gumamannya Edwin malah cekikikan sendirian, membayangkan kalau malam ini akan menjadi malam indah untuk mereka berdua.
Karena jujur saja, sejak tragedi waktu itu, hingga sekarang, mereka sudah jarang quality time, kalau pun ada waktu untuk bertemu, itu pun bertemu saat menjaga Jackson, atau kalau tidak saat Edwin melakukan laporan mingguannya kepada Akash. Karena sekarang Edwin sudah ditugaskan untuk mengatur dua hotel milik Akash. Dan tidak lupa, Edwin juga mengatur hotel miliknya yang diberikan oleh Akash padanya sebagai bonus. Dan hal itu lah yang membuat Edwin akhir-akhir ini sibuk dan terkadang membuatnya harus bolak-balik Indonesia-Singapura.
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, Kalala pun datang. Wanita itu tampil dengan gaun hitam dengan aksen swarovsky di bagian bawah dada, serta rambutnya yang terurai panjang tidak seperti biasanya.
Benar-benar sangat cantik dan menawan.
“Kalala,” ucap Edwin begitu terperangah melihat kecantikannya.
Kalala tersenyum lebar kepada kekasihnya itu. Lalu Edwin pun menarik kursi dan mempersilakan Kalala untuk duduk di sana.
“Apa terlalu lama menunggu?”
Edwin menggeleng. “Tidak, hanya menunggu beberapa menit saja.”
Kalala mengangguk tersenyum. Menyembunyikan kebingungannya di balik senyuman tipisnya tersebut.
“Malam ini, kamu sangat cantik,” puji Edwin yang sejak tadi tidak menyurutkan padangannya sedetik pun dari Kalala.
Kalala tersenyum sambil tersipu malu. Lalu mendongak menatap wajah tampan kekasih yang ada di depannya.
“Kamu juga, malam ini sangat tampan,” balas Kalala, membuat senyuman Edwin semakin melembar, menampilkan lesung pipinya yang membuatnya semakin terlihat manis.
__ADS_1
Mereka berdua pun menikmati makan malamnya dengan tenang sambil berbincang ringan. Lalu setelahnya, Kalala mengajak Edwin untuk pergi taman yang ada di lingkungan hotel tersebut.
Sebenarnya, sejak tadi, Kalala tengah mempersiapkan dirinya untuk berbicara jujur soal keputusannya untuk menemani Jackson ke Amerika. Namun, entah kenapa ia merasa begitu berat mengatakannya. Rasanya ada rasa bersalah yang menggumpal di benaknya.
Di satu sisi ia tidak tega dengan keadaan Jackson saat ini, tapi di satu sisi ia juga tidak tega jika harus berpisah dengan jarak yang sangat jauh dengan waktu yang tidak bisa ditentukan dengan kekasihnya itu.
Kini Kalala mengentikan langkahnya tepat di depan kolam ikan di atas jembatan kecil di taman tersebut.
“Edwin,” ucap Kalala, yang berdiri di belakang Edwin.
Edwin yang berjalan satu langkah di depan Kalala, langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang menghadap Kalala.
“Kenapa?”
“A-ada hal yang harus aku bicarakan denganmu,” ucap Kalala gugup, sambil memegangi tali tasnya dengan kuat.
“Bicara apa? Apa ini hal yang sangat serius?” tanya Edwin tidak curiga apa-apa, dan masih mengembangkan senyumannya.
Kalala mengangguk pelan. Lalu Edwin pun semakin mendekat, lalu memegang kedua bahu Kalala sambil menatapnya dengan begitu dalam.
“Bicaralah, tidak perlu setegang ini.”
“A-aku ....”
Edwin masih menantikan ucapan selanjutnya.
“A-aku ....”
“Tenanglah, Kalala, ” ucap Edwin dengan lembut.
Kalala menarik nafasnya pelan, sambil mengangguk lalu mengembuskannya dengan kasar.
Ia mendongak, menatap wajah Edwin dengan penuh keyakinan. “Tenanglah Kalala, Edwin pasti akan mengerti dengan keputusanmu ini,” batinnya meyakinkan diri.
“Edwin, a-aku akan pergi ke Amerika,” ucapnya lantang. Membuat kedua alis Edwin langsung berkerut.
“Apa?! ... Pergi ke Amerika?” tanyanya terkejut, Kalala pun mengangguk mengiyakan.
“Tapi, untuk apa kamu pergi ke Amerika?”
“U-untuk menemani, Jackson,” jawabnya lagi dengan suara yang semakin pelan.
Edwin terdiam, masih memegangi kedua bahu Kalala. Menatap raut keseriusan yang ditunjukkan oleh pacarnya itu.
“Menemani Jackson?” tanyanya masih tidak paham.
“Iya, aku harus menemaninya berobat ke Amerika, dia harus melakukan operasi,” ucap Kalala menjelaskan.
“T-tapi, kenapa harus kamu yang menemaninya?”
__ADS_1
Hening.
“Apa semua ini permintaan tuan Baker?”
Kalala mengangguk pelan.
“Tapi, Kalala ka—”
Sebelah tangan Kalala tiba-tiba membungkan mulut Edwin, membuat lelaki itu harus menghentikan perkataannya.
“Aku tidak akan lama, aku akan segera kembali jika semuanya sudah selesai.”
“Tapi, Kalala—”
“Tidak, Edwin! Aku haurs melakukan ini karena Jackson menjadi lumpuh karena aku!” ucapnya dengan tegas, dengan mata yang berkaca-kaca.
Hening.
Keduanya saling menatap dengan tatapan yang sangat serius.
“Apa?! ... Lumpuh?” tanya Edwin semakin shock.
Air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya terjatuh membasahi kedua pipi Kalala, rasa sesak dan bersalah itu kembali menghampiri pikirannya. Kalala menunduk, tidak kuat jika mengingat betapa malang dan menderitanya Jackson saat ini.
“Aku harus menemaninya, Edwin. Aku harus bertanggung jawab,” ucap Kalala sambil terisak tidak kuat.
Edwin langsung mendekap tubuh Kalala ke dalam pelukannya, memeluknya seerat mungkin, sambil memberikan elusan pelan di punggung dan kepala kekasihnya itu.
Ia juga sangat terkejut saat tahu kalau Jackson harus mengalami kelumpuhan.
“Aku harus bagaimana, Edwin. Aku benar-benar merasa bersalah padanya, di-dia ja-jadi seperti itu ka-ka—,” Kalala berucap sambil sesenggukkan.
Edwin memejamkan matanya, merasakan sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. “Tidak, Kalala. Ini bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu seperti ini,” lirih Edwin ikut merasakan hal yang sama dengan Kalala. Sama-sama merasa bersalah dengan kondisi Jackson saat ini.
Kalala masih merintih di dada bidang kekasihnya itu, menumpahkan semua rasa gelisah, bersalah dan menyesal yang saat ini tengah menghantui perasaannya.
“Tenanglah, Kalala. Ini bukan salahmu.”
.
.
.
Bersambung....
Maaf baru up, kesehatan author kemarin lagi nurun makanya enggak bisa update. Dan baru bisa up hari ini.
Selamat menunaikan ibadah puasa teman-teman.
__ADS_1
Eh sekarang mah udah magrib ya, selamat berbuka teman-teman.