Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Keadaan Jackson Sebenarnya


__ADS_3

Akash memasuki ruangan kerjanya, ia menarik napasnya dalam-dalam, merasa begitu senang karena akhirnya ia bisa bekerja layaknya kebanyakan orang-orang, tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi dan tanpa harus ada rasa takut atau dosa yang menghantui.


Ia kemudian kembali keluar dari ruangannya saat seorang suster datang keruangannya untuk mengajaknya berkeliling mengecek pasiennya yang lusa akan melakukan operasi bersamanya.


Akash begitu lugas melakukan pekerjaannya, apalagi yang saat ini ia gunakan bukanlah bahasa Indonesia lagi melainkan berbicara dalam bahasa Inggris Singapura.


Setelah selesai, ia meminta susternya itu untuk kembali terlebih dahulu ke ruangannya, sementara ia ingin pergi terlebih dahulu ke ruang rawat yang tengah ditempati Jackson saat ini.


Akash mengetuk pintu ruangan, terlihat ada Jackson yang tidur tengah berbaring di brankarnya, dan Baker yang duduk meringkuk di atas kursi terlihat sangat frustrasi.


“Ayah,” panggil Akash dengan pelan begitu ia memasuki ruangan.


Baker mendongak melihat kehadiran anaknya di sana. Tiba-tiba Baker bangun lalu memandang Akash dengan kedua matanya yang sudah memerah dan bengkak seperti orang yang sudah menangis semalaman.


Akash terdiam, ia sudah tahu kenapa Ayahnya bisa sampai seperti itu.


“Ayah ... apa, Ayah—”


Sebelum Akash menyelesaikan ucapannya, Baker terlebih dahulu mendekap anak sulungnya itu dengan erat, menjatuhkan segala kesedihannya di pundak anak pertamanya itu.


Akash terdiam bergeming di tempatnya. Perlahan kedua tangannya menepuk dan mengelus-elus punggung Ayahnya. Suara rintih dan isak dari Ayahnya tersebut, sungguh membuat Akash tidak kuat menahan kesedihannya.


Kini kedua lelaki itu saling menumpahkan air matanya satu sama lain, saling memahami dengan kondisi mereka saat ini. Terlebih Akash sangat sedih karena pada akhirnya Baker tahu soal kondisi Jackson yang sebenarnya.


Setelah beberapa menit saling berpelukan dan menangis, kini Baker mulai melepaskan pelukannya dan merenggankan jarak tubuhnya dengan Akash, lalu memandangnya sendu dengan penuh kekecewaan.


“Kenapa tidak bilang dari kemarin Akash?” tanya Baker dengan suaranya yang terdengar berat.


Akash terdiam menunduk.


“A-aku takut Ayah kenapa-napa, Yah.”


Hening, keduanya hanya saling menatap. Baker berusaha tidak menyalahkan keadaan, karena ia juga tahu Akash pasti sangat mengkhawatirkannya sehingga dia tidak memberi tahu kondisi Jackson yang sebenarnya sejak beberapa hari lalu padanya.


“A-aku juga tidak bisa jika aku yang berbicara langsung dengan Ayah. Ma-makanya aku meminta dokter untuk menceritakan kondisi Jackson kepada, Ayah.”


“Tapi, Ayah ... Ayah tenang saja, minggu depan aku akan segera mengoperasi Jackson, aku akan berusaha semak—”


“Tidak perlu!” potong Baker dengan tegas, membuat Akash langsung terdiam dan menatapnya dengan heran.


Baker menarik nafasnya dengan panjang. “Ayah tahu, resiko mengoperasi Jackson terlalu berat. Karena itu, Ayah tidak ingin kau yang melakukannya.”


“T-tapi, Ayah. Di rumah sakit ini tidak ada yang sang—”


“Ayah tahu, maka dari itu, Ayah akan membawa Jackson ke Amerika,” ucapnya pelan.

__ADS_1


Akash langsung membeliakkan kedua matanya semakin terkejut mendengar penuturan dari Ayahnya.


“Apa?! ... Amerika?” tanyanya sangat terkejut, yang dibalas anggukkan pelan oleh Baker.


“Ayah akan membawa Jackson ke Amerika minggu depan.”


“T-tapi, Ayah ... aku yakin, aku pasti bisa melakukannya, aku sanggup untuk meng—”


“Ayah tahu kemampuanmu dalam bedah sangat luar biasa. Tapi, Akash, Ayah tidak bisa membiarkan kamu yang melakukannya. Apa aku lupa ikatanmu dengan Jackson?”


Akash terdiam, masih belum mengerti dengan ucapan Ayahnya.


“Kalian bersaudara! Kalau seandainya ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi saat operasi, apa kau sanggup menerima semuanya? Apa kau siap untuk menyesalinya hah?” tanya Baker dengan tatapan tegas. Membuat Akash terdiam menyadarinya.


“Ayah tahu, kalau seandainya semua itu terjadi, kau pasti tidak akan mau memaafkan dirimu sendiri. Karena itu lah, Ayah harus membawa Jackson berobat ke Amerika. Ayah harus melakukan operasi itu di sana,” tutur Baker dengan perasaan yang kian menyesakkan dada.


“Tapi, Ayah jika seandainya di Amerika terjadi kegagalan apa, Ayah—”


Lagi, Baker memotong ucapan Akash, karena ia sudah tahu hal apa yang akan ditanyakan oleh anaknya itu.


“Ayah sudah siap menerima resikonya. Kalau Ayah harus kecewa, Ayah akan kecewa pada diri Ayah sendiri, dan mungkin akan menganggap semua ini terjadi karena takdir. Tapi, seandainya kamu yang melakukannya, Ayah tidak bisa, karena Ayah pun takut kalau Ayah akan marah padamu dan menyesali semuanya.”


Akash menganggukkan kepalanya pelan. Ia paham dengan pemikiran orang tuanya itu. Karena jika dipikir kembali, jika ia yang melakukannya, tentu jika ada kegagalan ia akan menyesalinya dan menderita karena tidak bisa menyelamatkan adik satu-satunya itu. Tapi, jika dilakukan oleh orang lain, setidaknya Akash atau pun ayahnya bisa menganggap semua itu adalah takdir dan kehendak Tuhan.


***


“Shira, apa yang harus aku lakukan?” tanya Kalala masih dengan kedua manik yang berurai air mata.


Shira terdiam kebingungan, dan merasa ikut sedih dengan keadaan Jackson saat ini.


“Aku tidak bisa berkata apa-apa, Kalala. Lakukan yang menurutmu baik dan yang pasti tidak memberatkanmu.”


Kalala terisak, lalu kembali menyapu air mata di pipi menggunakan punggung tangannya.


“Tapi, Kalala, apa Edwin sudah tahu soal ini?” tanya Shira.


Kalala menggeleng pelan. “Yang tahu, baru aku, tuan Akash dan tuan Baker. Itu pun karena dokter yang mengatakan semuanya kepada tuan Baker.”


Shira mengangguk pelan, ia paham dengan perasaan Kalala yang saat ini pasti sedang kalut. Dan Shira pun baru paham dengan hal yang dirahasiakan Akash selama beberapa hari ini. Karena waktu beberapa hari lalu, Akash sempat terlihat bingung, namun saat Shira menanyainya, lelaki itu hanya menjawab kalau hal itu masih harus dirahasiakan sampai tiba waktunya. Dan ternyata yang dirahasiakan selama beberapa hari ini adalah kondisi Jackson.


***


Tepat pukul 10 pagi waktu Singapura. Kalala mengetuk pintu ruang rawat milik Jackson. Pintu pun terbuka.


Di depan sudah ada Baker yang berdiri memandang lurus padanya. Dengan raut wajah mendamba seribu harapan kepada Kalala.

__ADS_1


“Tuan,” sapa Kalala segan, sambil mengangguk sopan.


“Masuklah,” ucap Baker, Kalala mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan.


Ia menyimpan satu kantung makanan di atas meja tamu yang ada di ruangan tersebut.


“Apa, Tuan sudah makan?” tanya Kalala, Baker menggeleng.


“Belum.”


“Emh, ini ada bekal dari nyonya Tessa, untuk, Tuan.” Kalala mengeluarkan satu boks kotak makan dari tas yang dibawanya. Lalu memberikannya kepada Baker.


“Kalau, tuan Jackson, apa dia sudah makan?” tanya Kalala, sekilas melirik ke arah Jackson yang sejak tadi masih terlihat tidur.


Baker kembali menggeleng. “Sejak semalam, dia belum mau makan sampai sekarang,” jawab Baker pelan, dengan tatapannya yang kosong seperti memikirkan sesuatu.


Kalala cukup terkejut mendengarnya. Ia juga paham, Jackson tidak mau makan pasti karena alasan penyakit yang dideritanya saat ini.


“Dia masih terpukul karena kabar itu. Saya harap, kamu bisa membujuknya untuk makan,” ucap Baker.


Kalala menarik nafas panjang, lalu mengangguk mengiyakan.


Lagi dan lagi, rasa penyesalan dan bersalah kembali menyesakkan dada Kalala. Pikirannya dibuat kalut, karena masalah ini. Namun, sebisa mungkin ia harus segera mengambil keputusan.


Kalala yang hendak melangkah mendekati Jackson, tiba-tiba berbalik menghadap Baker yang hendak menyendokkan makanan ke mulutnya.


“Tuan,” ucap Kalala pelan. Membuat Baker yang tengah mengunyah makanan di mulutnya itu harus dengan cepat menelannya.


“Ada apa, Kalala?”


Kalala kembali menarik nafasnya dengan panjang, berusaha sebisa mungkin meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang ia ambil adalah keputusan terbaik untuk dirinya mau pun Jackson.


“Tuan, emh ... mengenai oborlan malam tadi ....”


Baker masih memerhatikannya dengan seksama, berharap kalau Kalala akan menyanggupi permintaannya.


“Maaf, sa-saya ....”


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf upnya kemalaman nih haha. Jangan lupa ramaikan kolom komentar, like dan votenya ya gaes...


__ADS_2