
Waktu sudah menjelang malam, seluruh destinasi wisata mau pun tempat bersejarah sudah tutup. Boy masih kelimpungan mencari keberadaan Shira dan suaminya itu.
Sedari pagi yang terang, hingga gelap gulita yang sangat dingin ini, Boy tidak bisa merasa tenang, lelaki itu terus saja mencari-cari keberadaan Shira. Ia juga tidak bisa pulang ke hotel jika ia belum bisa menemukan Shira.
Dan ponselnya kini kembali berdering. Ia pun segera merogoh sakunya dan mengmbil ponsel miliknya itu, lalu melihat nomor siapa yang memanggilnya.
"Tuan Jackson," gumamnya langsung menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya, dan mendekatkan benda pipih itu di dekat daun telinganya.
"Hallo, Tuan."
"Hm, bagaimana, apa kau sudah menemukan keberadaan Shira dan Akash?" suara Jackson tidak santai di balik ponsel.
"Be-belum, Tuan. Saya sudah mencari-cari di seluruh penjuru wilayah Menara CN, tapi Shira tidak ditemukan, Tuan."
"Dasar bodoh! Aku beri waktu kamu seharian untuk mencari mereka saja, masih tidak becus! Ya sudah, lebih baik kau sekarang pulang saja ke hotelmu, selidiki mereka lewat kamar hotelnya. Dan jangan sampai kau kelolosan mereka lagi!" suara Jackson tampak memekik di telinga Boy.
__ADS_1
Boy hanya bisa pasrah menerima kenyataan, kalau memang dirinya begitu bodoh dan tidak becus dalam melakukan pekerjaan pertamanya ini.
"Ba-baik, Tuan."
"Awas ya, kalau kau sampai kehilangan jejak mereka lagi, ingatlah kalau taruhannya adalah keselamatan adikmu di sini!"
"Siap, Tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari informasi mereka," ucap Boy dengan tangan yang sudah gemetar dan kening yang bercucuran keringat karena kecapekan. Dan setelah itu telepon pun dimatikan.
Boy terduduk lemas di sebuah bangku yang ada di sisi taman. Pikirannya semakin kacau, belum lagi suhu tubuhnya yang semakin terasa dingin menggigil akibat salju yang sejak pagi tidak berhenti.
Setibanya di hotel, Boy masih setia berdiri di dekat pintu lift, di lorong yang akan menuju ke kamarnya. Ia masih menantikan, kalau orang yang ada di kamar itu adalah Shira dan Akash.
Tring ....
Suara pintu lift terdengar, terbuka, lalu keluarlah satu wanita dan satu lelaki yang postur tubuhnya sangat mirip sekali dengan Shira, buru-buru Boy berbalik agar wajahnya tidak terlihat oleh mereka.
__ADS_1
"Malam ini aku akan tidur di kamarku ya," ucap Dean.
"Hm, oke. Oh ya jangan lupa hubungi Tuan Muda ya, bilang padanya kalau hari ini semua berjalan baik-baik saja," ucap Dama.
"Okey." Mereka pun berpisah di masing-masing kamar mereka, dan masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Sementara Boy, lelaki itu benar-benar terkejut, karena ternyata orang yang menempati kamar Shira sedari kemarin bukanlah Shira. Lantas, kalau memang seperti itu, di mana Shira sekarang.
"Tidak, ini pasti tidak mungkin. Bagaimana bisa tuan Jackson memberikanku informasi yang salah."
Boy pun hanya bisa diam terpaku di tempatnya. Ia bingung harus mengatakan apa kepada bosnya itu. Karena ternayta ia benar-benar sudah kehilangan jejak Shira dan Akash.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus menelponnya."
***
__ADS_1