
Akash begitu terkejut melihat wajah istrinya yang terdapat darah di pipinya.
“Shira, kenapa pipimu berdarah. Apa yang terjadi?” tanyanya panik, menatap mata sembab Shira yang semakin meyakinkan Akash kalau istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
Shira menggeleng lemah, lalu ia menunjukkan jari telunjuknya yang sobek terkena pisau.
“Ya ampun, Shira! Kenapa kau bisa terluka seperti ini?” Akash yang panik langsung berteriak memanggil pelayan.
“Bawakan kotak P3K, istriku terluka,” titahnya begitu pelayan itu datang. Pelayan itu mengangguk dan bergegas pergi untuk membawakan kotak P3K itu sesuai perintah tuannya.
Akash langsung merangkul kepala Shira, mendekapnya di dada. Dan perlakuan tersebut semakin membuat Shira tidak bisa menahan tangisannya.
Air mata pun semakin meleleh keluar dari kedua manik indahnya. Ia tidak tahan, ia tidak kuat, dan perlakuan Akash yang seperti ini lah yang membuat Shira tenggelam akan perasaannya kepada suaminya itu.
Kini Akash mulai mengobati jari telunjuk istrinya dengan hati-hati, membalurkan betadine menggunakan kapas dan membalut jari Shira yang sobek menggunakan hansplast.
Shira terdiam menunduk, masih menjatuhkan air matanya yang mulai surut.
“Kenapa kau harus bersikap seperti ini, Akash? Bukankah jika kau terus seperti ini, harapanku padamu akan semakin besar,” batin Shira, memandang Akash yang tengah fokus menggunting hansplast di tangannya.
“Sudah ... lain kali, kamu harus lebih hati-hati ya,” ucap Akash begitu lembut, menatap Shira penuh cinta.
Shira hanya mengangguk tanpa bersuara sedikit pun.
Setelah membereskan kotak P3K itu, Akash kembali duduk di samping Shira. Wanita itu masih terdiam dengan air matanya yang masih terlihat deras membasahi pipinya.
“Apa semenyakitkan itu?” tanya Akash tiba-tiba, memandang Shira dengan iba.
Shira mengangguk. “Sangat, sangat menyakitkan” jawabnya pelan, dengan suara yang seolah tercekat di tenggorokan.
“Sudah aku obati, nanti juga tidak akan sakit lagi,” ucapnya mencoba menenangkan. “Oh, aku tahu, cara paling ampuh untuk mengobati lukamu itu,” ucap Akash dengan semangat.
Shira masih terdiam, ia seolah enggan untuk sekedar berbincang dengan suaminya tersebut.
“Kemari.” Akash menarik lengan Shira yang terluka, lalu ia pun menciumi jari telunjuk Shira yang sudah diperban itu, menciumnya berulang-ulang kali sambil tersenyum, mencoba mengibur Shira.
Akan tetapi, respon Shira jauh dari apa yang Akash harapkan.
Shira menarik tangannya dari genggaman Akash, lalu ia pun buru-buru berdiri dari duduknya, dan melewati Akash begitu saja.
“Kau mau kemana?” tanya Akash terheran-heran dengan sikap istirnya tersebut.
“Toilet,” jawabnya singkat, lalu Shira pun masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
__ADS_1
“Ada apa dengan dia?” gumam Akash memandang pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu, merasakan ada yang tidak beres dengan istrinya tersebut.
Hingga malam tiba, saat hendak tidur, seperti biasa, Akash selalu bermanja-manja kepada Shira, namun kali ini ada yang berbeda.
Akash hendak merebahkan kepalanya di lahunan Shira, namun Shira malah menghindar dan duduk di atas sofa sana sambil fokus membaca buku di tangannya.
“Shira,” panggil Akash penasaran.
“Hm,” jawab Shira begitu dingin bahkan tanpa menoleh ke arah Akash.
“Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa hari ini kau terlihat lebih pendiam dan selalu menghindar dariku? Apa aku punya salah denganmu?” tanya Akash.
Shira terdiam, mengumpulkan tenaga agar ia tidak menangis, karena jujur saja, jika mengingat perkataan Jackson tadi pagi, sungguh membuat hatinya terluka. Ia tidak ingin menampakkan kesedihannya di hadapan Akash.
“Shira ....”
Keadaan semakin hening, Shira masih fokus akan bukunya dan Akash pun mulai merasa geram. Ia pun melangkahkan kaki panjangnya mendekati Shira.
“Shira!” seru Akash yang sudah berdiri di depan Shira menatap istrinya dengan kesal.
Shira seolah enggan melihat wajah suaminya itu. Ia pun akhirnya memilih berdiri, menutup bukunya dan melemparkannya ke sofa yang baru saja didudukinya. Ia menatap Akash dengan tatapan yang tidak biasanya.
“Aku capek! Aku ingin tidur,” ucapnya malas, kemudian melangkah melewati Akash begitu saja.
“Apa kau menjadi begini karena perkataan Jackson?” tanya Akash, tiba-tiba membuat jantung Shira berdegup kencang tidak karuan.
Ia terdiam, tidak ingin mengakui karena terlalu gengsi.
“Memang apa yang dikatakan, Jackson?” tanya Shira pura-pura tidak tahu, berusaha agar tidak ingat akan kata-kata menyakitkan itu.
Akash berbalik, lalu memutar kedua bahu Shira agar berhadapan dengannya.
Buru-buru Shira menundukkan pandangannya, ia tahu kelemahan dirinya adalah binar kedua matanya yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
“Tatap aku, Shira!” tegas Akash masih memandangi wajah istirnya yang terus menunduk itu.
Shira mencoba melpaskan tangan Akash dari bahunya, akan tetapi Akash semakin memegangnya dengan erat.
“Shira, jawab aku!”
“Lepaskan! Aku ingin tidur!” seru Shira masih mencoba melepaskan diri dari Akash.
“Tidak!” serunya sedikit membentak. “Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menjawab pertanyaanku!” bentak Akash begitu serius.
__ADS_1
Mendapat bentakan dari Akash, seketika membuat hati Shira semakin terasa sakit. Ini untuk pertama kalinya Akash membentaknya seserius itu.
Dan pada akhirnya air matanya pun lolos berjatuhan dari kedua maniknya. Ia mendongak, menatap wajah Akash dengan tatapan penuh kekesalan, kesal terhadap diri sendiri yang lemah jika hatinya sudah terusik seperti itu.
“Iya!” jawabnya sedikit berteriak, menampilkan deraian air matanya yang kian berjatuhan membasahi pipinya.
Keduanya saling terdiam, memandang begitu dalam satu sama lain selama beberapa detik.
“Apa kau mendengar semuanya?” tanya Akash, untuk memastikan agar tidak ada kesalah pahaman antara dirinya dengan Shira.
Kedua dada Shira terasa semakin sesak, perasaannya terasa semakin kalut, ia tidak kuasa untuk melanjutkan perdebatan ini.
Ia menarik nafas begitu dalam, mengembuskannya pelan, mencoba mengontrol perasaannya yang kian terasa sakit, meusuk ke relung hati.
“Sudahlah! Aku tidak ingin membahas ini,” ucap Shira memalingkan wajahnya.
Akash mengkerutkan kedua alisnya, ia sudah tahu jawabannya, Shira pasti tidak mendengarkan semua percakapan dirinya dengan Jackson, istrinya itu pasti tengah salah paham padanya.
“Shira, kau salah paham, Shira,” lirih Akash, menatapnya sendu.
“Tidak! ... Tidak ada yang salah paham di antara kita, Akash!” ucapnya menatap nanar kedua bola mata suaminya.
“Aku tahu, pernikahan kita hanyalah pernikahan simbiosis, aku diuntungkan olehmu karena kau selalu melindungiku, dan kau di untungkan olehku karena kau bisa mendapatkan kekuasaan ayahmu saat menikahiku, bahkan kau bisa mendapatkan kekuasaan lebih jika aku hamil ‘kan?” tanya Shira, membuat kedua mata Akash langsung membeliak tidak menyangka.
“Tidak, Shira, tidak seperti itu,” sangkal Akash.
“Lalu apa hah? Lagi pula di dalam pernikahan kita ini, kau selalu menyembunyikan semuanya dariku, kau penuh rahasia Akash, kau lelaki yang penuh misteri! Bahkan sampai detik ini pun aku tidak bisa mengenali siapa sebenarnya suamiku ini!” tegasnya, semakin menangis menjaid-jadi.
Akash terdiam, ia mengakui apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya itu, tapi semua itu ada yang perlu ia jelaskan. Memang akan sangat rumit baginya jika dirinya jujur tentang siapa ia sebenarnya, tapi ia juga sudah sadar, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.
“Baiklah ....”
Bersambung....
__ADS_1