Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Mengatur Jadwal Pertemuan


__ADS_3

Mentari di ufuk Timur, tenggelam di telan awan malam. Udara malam, yang cukup dingin membelai pelan kulit, menusuk ke dalam pori-pori. Seorang lelaki tampan, tampak tengah duduk melamun, sambil menyesap secangkir teh di balkon kamarnya.


Jackson menatap lurus ke arah dedaunan pohon yang melambai-lambai tertiup angin. Ia menaruh cangkir teh itu ke atas meja. Menarik nafas dalam, sambil memikirkan seseorang yang entah kenapa sering ia impikan akhir-akhir ini. Entah rindu atau bukan, ia pun tak tahu.


“Ke mana mereka sebenarnya? Sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu mereka,” gumam Jackson dengan pelan.


Ia mengeluarkan satu kotak perhiasan dari dalam sakunya, membukanya lalu mengambil benda yang ada di dalamnya. Benda berbentuk bulat dan berkilau indah.


“Bahkan, sampai sekarang pun aku belum bisa menyampaikan hadiah ini untuknya,” ucapnya.


Karena, sudah dua bulan lamanya, Jackson tidak bertemu dengan Kalala atau pun Akash. Bahkan sejak kejadian terakhir kali itu, mereka tidak pernah bertatap muka atau bertukar suara meski hanya lewat ponsel.


Ada  banyak hal yang diinginkan Jackson untuk dibicarakan dengan saudara seayahnya itu. Namun, sepertinya, waktu sedang tidak berpihak kepadanya. Bahkan selama dua bulan terakhir ini, Jackson terus mencari keberadaan Edwin. Meski mereka kerap kali berpapasan, tapi Edwin selalu menghindar dan susah untuk ditemui. Bahkan saat Edwin datang ke rumah Baker pun, ia tidak sempat untuk bertatap muka dengan sekretaris saudaranya itu, padahal Jackson ingin menanyakan kabar Akash dan Kalala kepadanya.


“Jackson.”


Panggilan dari Ayahnya, membuyarkan lamunan Jackson. Ia langsung mengerjap, lalu buru-buru memasukan kembali gelang yang ada di tangannya itu ke dalam kotak perhiasan. Dan buru-buru menyahuti panggilan Ayahnya.


“Iya, Ayah, masuk saja,” teriak Jackson, sesaat setelah ia memasukan kotak titipan Ayahnya itu ke dalam saku celananya.


Baker pun masuk ke dalam kamar Jackson, menghampiri anaknya yang ada di balkon. Lalu duduk di sebelah kursi kosong yang tersedia di sana.


“Kau sedang apa, Jackson?” tanya Baker.


Jackson duduk, setelah Ayahnya duduknya. “Emh, tidak sedang apa-apa, Ayah, hanya menikmati udara malam dan secangkir teh saja,” jawab Jackson.


Baker mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba, ia tersenyum simpul. “Tidak perlu disembunyikan, Ayah tahu, kamu belum memberikan kotak hadiah itu kepada Kalala ‘kan?”

__ADS_1


Jackson terhenyak, menoleh dengan ekspresi wajahnya yang begitua shock. “Ba-bagaimana, Ayah bisa tahu?”


“Sudah tidak apa-apa. Ayah tahu, kamu kesulitan untuk bertemu dengannya ‘kan?”


Jackson mengangguk ragu, mengiyakan.


Baker menarik nafas. Lalu menoleh serius ke arah Jackson. “Ayah sudah mengatur jadwal agar kamu bisa bertemu dengan dia.”


Jackson melebarkan kedua matanya, terkejut mendengarnya. “Di-dia siapa maksud, Ayah?”


“Edwin, memangnya siapa lagi. Bukankah sekretaris itu adalah kekasihnya?” tanya Baker.


Jackson yang mengira kalau Ayahnya akan mempertemukannya dengan Kalala, ternyata dirinya salah, ia terlalu ge’er.


“Hm, iya, Ayah.”


Jackson tersenyum, meski sebenarnya ia sedikit menyayangkan, karena Edwin hanya memberinya waktu selama lima belas menit saja.


“T-tapi, Ayah. Kenapa sebentar sekali?”


“Manfaat saja waktu yang kamu anggap sebentar itu. Dan yang pasti, kamu harus tetap berhati-hati dengan ibumu, jika kamu tidak ingin rencanamu gagal karenanya,” ucap Baker mewanti-wanti.


“Baik, Ayah. Terima kasih.”


“Hm, tanyakan apa yang perlu kamu tanyakan padanya, karena selama lima belas menit itu, dia akan menjawab semua pertanyaanmu dengan juju.”


“Baik, Ayah. Lalu, di mana besok aku bisa bertemu dengannya, Ayah?”

__ADS_1


“Besok pagi dia akan mengirimkan alamat tempat pertemuannya, kau harus standby dengan ponselmu.” Jackson mengangguk paham.


Lalu setelah itu, Baker pun pamit untuk kembali ke ruangan kerjanya.


“Besok, Jackson akan pergi menemui sekretaris sialan itu?” gumam Asten yang sejak tadi mendengarkan perbincangan mereka.


“Aku harus bisa mengikuti mereka. Aku juga harus tahu obrolan mereka besok,” gumam Asten yang tengah berada di kamarnya, terus memantau percakapan antara suami dan anaknya.


Karena sejak dua minggu yang lalu, Asten sudah menyimpan beberapa alat penyadap suara di ruang kamar anaknya. Karena ia masih begitu berambisi untuk menemukan Jackson serta kerluarganya, dan sebisa mungkin ia harus bisa membalaskan dendamnya kepada mereka.


Wanita itu pun buru-buru melepaskan earphone yang menempel di telinganya, lalu mematikan kembali ponselnya. Dan pura-pura berbaring, tidur di tempat tidurnya.


“Kalian tidak akan pernah lepas dari jangkauanku, Akash! Aku akan tetap memastikan, membayar darah Jackson dengan darah istri dan ibumu!” batinnya, benar-benar bertekad kuat.


.


.


.


Bersambung....


Maaf ya teman-teman, baru bisa update lagi. Kemarin keluarga Dela lagi berduka, karena keponakan kecelakaan motor, terus paman meninggal dan kemarin Umi saya juga celaka, jatuh dari motor, makanya udah satu minggu ini Dela enggak bisa update, belum bisa nulis. Ini juga sebenarnya masih persiapan buat pulang lagi ke Jakarta besok, tapi Dela usahain buat update dulu, soalnya kasian kalian juga pasti nungguin.


Mohon doanya ya temen-teman, semoga besok saya bisa pulang dengan selamat, dan bisa rutinn update lagi kedepannya. Dan semoga keponakan dan umi saya secepatnya bisa sembuh aamiin.


*Terima kasih atas pengertiannya teman-teman semuanya. Salam sayang dari author receh ini.

__ADS_1


__ADS_2