Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Wedding Day


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Hari ini adalah hari istimewa yang sudah dinantikan oleh Akash sejak dari minggu kemarin. Lelaki itu sudah tampil dengan balutan tuksedo putih yang membuatnya seperti seorang pangeran gagah dari kayangan. Benar-benar tampan, menawan dan pastinya membuat siapa saja yang memandang pasti akan terpesona. Bahkan senyuman di wajahnya tak menyurut sama sekali, entah kenapa, meski ini bukanlah pernikahannya termasuk dadakan, akan tetapi bagi Akash, ini adalah sebuah pernikahan yang ada dalam list wedding dreamnya.


Sedangkan Shira, wanita itu masih sibuk duduk menanti dirinya selesai dirias. Ia beberapa kali menguap karena semalaman ia benar-benar terjaga, dan ia tertidur saat mentari pagi hendak menyapanya. Sekitar satu jam ia beristirahat, dan itu membuatnya terus-terusan menguap menahan kantuk.


Setelah kurang lebih dua jam Shira dirias, kini wanita itu sudah tampil dan siap untuk dibawa pergi ke gereja, di mana janji pernikahan mereka akan digelar di sana.


Shira sudah tidak mempunyai wali, bahkan tidak ada satu keluarganya yang datang untuk menghadiri pesta pernikahannya sekalipun itu pamannya. Lagi pula, Shira tidak ingin banyak orang yang tahu mengenai pernikahannya ini, termasuk Kalala—sahabatnya.


Shira diboyong berjalan oleh pelayan di sana, Edwin di depan sana sudah menunggunya. Begitu Shira keluar dari rumah mewah itu, Edwin begitu terperangah melihat kecantikan dari calon Nona Mudanya yang sudah tampil sebegitu cantiknya. Bahkan auranya sangat terpancar.


Balutan gaun putih yang mengembang itu, ikut bergelombang saat Shira menuruni anak tangga menuju mobil.  Shira dijemput oleh Edwin untuk pergi ke gereja.


"Silakan, Nona." Edwin mempersilakan Shira untuk masuk ke dalam mobil. Lalu, setelah itu, mereka pun segera pergi menuju gereja.


Selama di perjalanan, tampak kecemasan di wajah Shira. Edwin dapat melihatnya dari kaca spion dalam mobil. Ia memakluminya, karena pernikahan seperti ini sangatlah sakral, apalagi orang yang akan menikah dengan Shira bukanlah pria biasa, melainkan pria paling berpengaruh di kota ini.


Dari luar gereja sudah tampak banyak orang yang berdatangan, dari dalam mobil Shira dapat melihat, karpet merah yang digelar pajang menuju altar.


Mobil berhenti, dan peerasaan Shira semakin terasa tak nyaman dan tak tenang. Dia begitu gugup, sampai-sampai, tangannya sedari tadi tidak sadar terus meremas gaun yang dipakainya.


“Maaf, Tuan. Tapi, yang membawaku ke altar nanti siapa ya?” tanya Shira sebelum ia keluar dari mobil.


“Saya sendiri, Nona. Maaf kalau nanti saya lancang menggandeng Anda,” jawab Edwin yang masih duduk di kursi setirnya.


Shira mengangguk. Entah kenapa, tapi jantungnya kali ini sedang tidak tenang. Tangan Shira bahkan sudah berkeringat. Ia lalu menggenggam satu buket bunga yang sedari tadi tergeletak di sampingnya.. Awalnya ia mengira pernikahannya tidak akan mewah atau cukup dirayakan oleh keluarga saja, akan tetapi melihat banyak orang di luar, membuat dirinya semakin gugup dan takut.


“Tuan, nanti tolong pegang saya yang kuat ya, saya benar-benar gugup, saya takut tidak bisa berjalan dengan lancar,” ucap Shira . Edwin mengangguk, lalu ia pun segera melepaskan seat belt yang terpasang di tubuhnya.


“Apa, Nona sudah siap?” tanya Edwin sebelum ia membuka pintu mobil.


Shira mendesah pelan, ia menarik nafasnya begitu dalam, mencoba mengatur dirinya agar tidak terlalu gugup. “Baiklah, saya sudah siap,” jawabnya.

__ADS_1


Edwin membukakan pintu mobil untuk Shira, belum juga Shira keluar, kilatan dari jepretan orang-orang yang membawa kamera, semakin membuatnya gugup.


Dan saat ia sudah keluar, orang-orang semakin ramai memotret dirinya. Ia memegang lengan Edwin. Edwin menggandengnya dengan pelan. Edwin juga bisa merasakan remasan tangan Shira yang cukup kuat dan membuatnya sakit.


Wanita yang berjalan dengannya saat ini, dia benar-benar sedang gugup. Akan tetapi, sebisa mungkin Edwin harus bisa menahan rasa sakit di lengannya semakin lama, rasa sakit itu terasa semakin hebat.


Mereka melangkah pelan, mengikuti jalur karpet merah yang mengarah ke altar. Begitu mereka memasuki gedung gereja, semua tamu yang tengah duduk di tempatnya, langsung berdiri dan mengalihkan fokusnya ke arah Shira.


Akash yang berdiri di altar bersama pendeta, dia begitu terpana saat melihat Shira yang sudah didandani sebegitu cantiknya.


Balutan gaun putih yang mengembang, pun riasan yang membuat wajah Shira semakin pangling, membuat Akash yang melihatnya tak bisa berkedip. Terlalu sayang jika ia melewatkan satu detik untuk tidak melihat calon istrinya yang cantiknya seperti bidadari itu.


“Akash,” ucap Shira, saat ia dan Edwin sudah sampai di depan altar.


Akash masih bergeming di tempatnya. Membuat Shira semakin gugup, karena calon suaminya itu malah memperhatikannya sebegitunya. Alih-alih membantunya untuk menaiki altar, dia malah bengong tidak karuan.


“Akash,” ucap Shira sedikit ditekankan, kringat dingin kini semakin terasa di keningnya.


"Tuan, bagaimana ini?" gumam Shira pada Edwin.


Akash mengerejap, saat Edwin berdehem cukup keras. Laki-laki itu akhirnya tersadar, dan dengan cepat, Akash  pun mengulurkan tangannya, membantu Shira untuk menaiki altar.


Prosesi pun dimulai. Janji suci di antara keduanya, akhirnya terucap. Lalu, Sang Pendeta pun menyuruh Akash untuk mencium Shira , yang sudah sah menjadi istrinya.


Degup jantungnya kembali tak terkendali, Shira memejamkan matanya saat radius jarak di antara wajah mereka semakin dekat. Hingga pada akhirnya, kecupan lembut itu mendarat di bibirnya. Cukup lama Akash  menciumnya.


Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... hingga tak terasa sudah lima belas detik, Akash masih belum melepaskan ciumannya. Shira sudah tidak tahan, ia tidak bisa jika harus menahan nafas lebih lama.


Sebelah tangan Shira yang berpegangan di pinggang Akash, sengaja ia cubitkan di pinggang lelaki itu, hingga membuat Akash yang merasakan sakit dari cubitan itu, langsung melepaskan ciumannya.


Setelahnya, tiba-tiba Akash terkekeh, dengan sikap Shira yang seperti itu padanya. Akash menganggap ini adalah perlakuan manis dari wanita yang sudah sah menjadi istrinya.

__ADS_1


Lalu, riuh tepuk tangan dari para tamu undangan pun terdengar. Dan setelah acara prosesi di gereja selesai, kini mereka berpindah tempat ke hotel yang sangat-sangat mewah dan megah.


Jelas, hotel ini adalah miliknya Tuan Baker Atkinson. Sang pemilik kekayaan terbanyak di negaranya. Dan tentunya, hotel tersebut tidak lama lagi akan berganti kepemilikan menjadi milik Akash Orion Atkinson.


Para tamu saling bergantian memberi selamat dan ucapan serta doa kepada dua mempelai yang tengah berdiri di pelaminan. Meski ini bukan pernikahan yang diharapkan Akash mau pun Shira , tetapi pernikahan ini tidak terlalu buruk untuk keduanya.


Jackson datang menghampiri saudaranya yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri tersebut.


“Selamat ya, aku harap ini tidak akan berakhir cepat,” ucapnya penuh maksud, seraya menjabat tangan Akash.


Lalu beralih ia menyodorkan tangannya hendak menyalami Shira. Akan tetapi, buru-buru ditepis oleh Akash. Akash juga menahan tangan Shira yang hendak membalas jabat tangan Jackson.


“Mohon maaf, aku tidak mengizinkan lelaki mana pun untuk menyentuh istriku,” tegasnya menatap tajam kedua mata Jackson. Karena memang sejak tadi, tidak ada satu tamu laki-laki yang menjabat tangan Shira, Shira hanya mengatupkan tangannya, karena perintah Akash.


Dan Shira mengira, jika berjabat tangan dengan Jackson itu tidak akan masalah, namun ternyata, itu terlihat akan lebih bermasalah dibanding berjabat tangan dengan tamu lelaki yang lain.


Shira terperangah mendengarnya. Sementara Jackson, lelaki itu berdehem lalu tersenyum sinis mendengarnya.


“Wow ... posesif sekali ya,” ucapnya. “Aku harap, ini bukan sandiwara, Akash,” imbuhnya, tersenyum miring, lalu memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celananya, tidak jadi berjabat tangan dengan saudra iparnya.


“Terserah!” balas Akash tidak ingin peduli.


"Haha, kau kira aku tidak tahu yang sebenarnya apa!" bisik Jackson menegrling sinis, lalu pergi meninggalkan panggung pelaminan begtiu saja.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa kasih reviewnya di bawah ya gaes. Makasih yang udah baca sampai sini. Author sayang kalian.


Follow ig aku @dela.delia25 untuk mendapat info seputar novel yang aku buat.


__ADS_2