
"Iya, iya, aku minta maaf. Tapi aku tadi 'kan cuma iseng aja, aku jug audah niat kok mau hapus lipstik di wajah kamu, cuma ya ...." Shira tidak meneruskan perkataannya.
"Cuma ya apa?! Kamu mau malu-maluin aku di depan ayahku gitu?" Akash masih sibuk menghapus noda merah di seluruh wajahnya itu menggunakan tisu dan kapas.
Mereka berdua masih saja berdebat di dalam kamar mandi.
Shira hendak membantu Akash untuk membersihkan wajahnya, akan tetapi Akash malah menghindar dari sentuhan tangan Shira.
"Udah gak usah dibantu!" Akash tampaknya masih begitu kesal.
"Akash ... jangan marah! Aku 'kan udah minta maaf sama kamu," rengek Shira mencebikkan bibirnya dengan gemas.
Akash sebenarnya tidak tega melihat Shira yang merengek terus meminta maaf padanya. Akan tetapi, entah kenapa ia juga punya rasa senang sendiri ketika melihat istrinya panik seperti itu.
"Aku akan memaafkanmu tergantung kau memperlakukanku besok malam," ucap Akash, lalu membuang kapas kotor itu ke westafel dan berlalu meninggalkan Shira sendirian di dalam kamar mandi.
Shira masih begitu tidak enak hati. "Ishhh ... mau maafin aja susah banget sih dia!' gerutunya, lalu ia pun segera membersihkan tisu dan kapas yang berserakan di atas westafel, sekalian ia juga ingin mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer yang terdapat di kamar mandi.
Sementara itu, kini Akash sudah duduk di atas sofa, di sebrang Baker. Baker juga sudah terhenti dari tawanya.
"Maaf, Ayah. Ayah jadi menunggu lama," ucapnya kaku.
"Tidak apa-apa. Hm, sekarang ayah jadi paham, kenapa kamu memilih dia dan menjadikannya sebagai istri kamu," ucap Baker yang tiba-tiba tersenyum simpul mengucapkannya.
Akash kembali menautkan kedua alisnya. "Hah? Maksud Ayah bagaimana?" tanyanya tidak mengerti.
"Sudah tidak apa-apa, tidak ada maksud apa-apa. Ayah hanya senang saja, ternyata anak Ayah tidak semenyeramkan itu dimata orang."
Akash masih termenung mencoba mencerna perkataan Ayahnya, ia agak sedikit mengerti hanya saja ia tidak mau menerka-nerka maksud dan tujuan dari ucapan ayahnya tersebut.
"Oh ya, Ayah kemari hanya ingin membicarakan sesuatu padamu," ucap Baker.
"Membicarakan apa, Ayah?"
"Tentang istrimu," ucap Baker begitu serius.
"Memangnya ada masalah apa dengan istriku, Yah?"
__ADS_1
"Ini." Baker menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna merah, kepada Akash.
Akash segera meraihnya lalu ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan kertas berwarna coklat di dalamnya.
Kedua mata Akash langsung membeliak sempurna, betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah tulisan yang terdapat di kertas tersebut.
"Ayah ...." Akash memandang Baker dengan wajah paniknya.
Baker mengangguk. "Yang jadi sasarannya sekarang bukan hanya keluarga kita, tetapi istrimu juga," ucap Baker.
Seketika itu pula, Akash meremas kertas tersebut dengan kuat, kedua sorot matanya menajam pun dengan urat-urat di keningnya yang menonjol. Kini hanya ada rasa geram dan emosi yang menguasai jiwanya.
"Sialan! Berani-beraninya mereka melunjak dan menagncam istriku!" geramnya dengan rahang yang sudah mengeras.
"Makanya, untuk itu Ayah sesegera mungkin harus mengirim kalian ke Kanada," ucap Baker. Lalu Baker pun mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam sakunya. Memberikannya kepada Akash dengan mimik wajah yang penuh ke hati-hatian.
"Apa ini, Ayah?"
"Bukalah, dan setelah itu kau harus merobeknya," bisik Baker waspada ke sekitar.
Akash kembali membuka kertas yang diberikan ayahnya itu. Di dalam kertas kecil itu ternyata ada sebuah pesan rahasia yang disampaikan Baker pada Akash.
(Jangan ke Kanada, karena akan ada yang menguntitmu. Ayah akan mengirmu ke negara lain).
"Ayah ...." Lagi-lagi, Akash memandang tak percaya kepada Ayahnya.
"Robek," bisik Baker sambil mengangkat kedua alisnya memberi kode. Akash pun mengangguk pelan dan menuruti perintah Ayahnya.
Perasaan Akash semakin berdebar tidak karuan saat ia merobek kertas itu sampai menajdi serpihan yang sangat kecil. Lalu ia pun mengantongi serpihan kertas itu ke dalam saku piyamanya.
"Ayah, bagaimana Ayah bisa a--" Sebelum Akash menyelesaikan ucapannya, Baker terlebih dahulu memberinya kode dengan tatapannya.
"Ada cicak putih di rumah kita," ucap Baker serius.
Akash langsung paham.
Baker hanya bisa menarik nafas pasrah, dan ia memilih untuk mengakhiri obrolannya ini. "Sudah, ayo kita sarapan terlebih dahulu, Ayah pergi dahulu ke ruang makan ya," ucap Baker lalu berlalu begitu saja dari kamar Akash.
__ADS_1
Akash termenung dengan seribu perkiraan di pikirannya. "Bagaimana bisa ada seorang penguntit di rumah ini?" batinnya. Ia pun menjadi sedikit takut dan harus waspada dengan tingkah laku mau pun bicaranya.
"Siapapun itu, aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos dariku, brengsek!" gumamnya menatap kosong ke arah tembok dengan tatapan tajammnya yang penuh tekad.
Akash pun memilih untuk menghampiri Shira di kamar mandi yang tadi katanya ingin mengeringkan rambutnya.
"Shira apa kau sudah selesai?" tanya Akash saat membuka pintu kamar mandi.
Shira yang masih sibuk menata rambutnya ia pun sejenak menoleh ke arah Akash. "Emh, sebentar lagi Akash."
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu kamu di ruang makan ya." Shira mengangguk mengiyakan, lalu Akash pun segera pergi menuju ruang makan. Yang kebetulan saat ia hendak masuk ke ruang makan itu, ia mengundurkan niatnya dan malah berbelok ke dapur.
Dan saat ia baru memasuki area dapur, ia tidak sengaja melihat kehadiran Asten di sana.
"Ngapain dia ada di dapur," gumam Akash langsung bersembunyi di dekat lemari antik yang ada di dekatnya. Menginitp Asten dari kajauhan.
Akash begitu penasaran dengan apa yang tengah dilakukan ibu tirinya di dapur yang sepi seperti sekarang ini. Karena tidak biasanya Asten datang ke dapur untuk membantu menyiapkan makanan. Jadi Akash langsung curiga dengan gerak-gerik ibu tirinya itu.
"Baiklah, sepertinya cukup agar dia bisa masuk rumah sakit," gumam Asten sesaat setelah ia memasukan sesuatu ke dalam salah satu piring omelet yang berjajar di depannya.
Asten tampak celingukan memastikan tidak ada orang yang melihatnya di sana. Lalu wanita itu pun pergi menuju wasbak untuk mencuci tangannya.
Dan Akash pun buru-buru berpindah tempat masuk ke dalam gudang penyimpanan bahan pokok. Ia membuka dan menutup pintunya secara pelan, sambil tetap mengintip Asten dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Kini, Asten tengah berjalan membawa dua piring omelet di baki. Senyuman penuh maksud dari wajah wanita itu tampak sekali, menampilkan kelicikaannya.
Dan saat Asten melewati pintu gudang penyimpanan, di saat itu lah Akash dapat melihat dengan jelas piring yang dibawa Asten.
"Dia pasti merencanakan sesuatu," gumam Akash. Dan saat Asten berhasil keluar dari area dapur, Akash pun buru-buru membuntutinya. Ia melupakan tujuannya untuk mengambil susu untuk Shira.
"Wanita tua bangka itu, harus aku beri pelajaran sekarang juga," gumamnya dalam hati merasa geram.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....