Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Surat Kaleng


__ADS_3

Akash membeliakan kedua matanya saat mendapat pesan mengejutkan dari saudara tirinya—Jackson.


(Kau tahu bukan, peraturan rumah kita, kalau wanita yang sudah berkeluarga dilarang bersentuhan dengan lelaki lain apalagi sentuhan mesra seperti ini – melampirkan foto Shira dengan lelaki itu di panggunng)


“Sialan! Bagaimana bisa Shira berpose seperti itu dengan lelaki lain,” gumamnya kesal.


Tiba-tiba, pesan dari Jackson kembali masuk.


(Kalau aku kirimkan ini kepada Ayah, dia pasti akan terkejut melihat menantu perempuannya  bisa dipegang oleh lelaki lain?”)


“Sialan! Sepertinya dia ingin mencari masalah denganku!” Akash tampak frustrasasi membaca ancaman tersebut, handphone yang dipegangnya semakin ia genggam dengan erat.


Sedari dulu, Jackson memang termasuk orang yang licik, dan pintar dalam masalah ancam-mengancam seperti ini. Jadi bukan hal baru bagi Akash untuk mengendalikan Jackson. Hanya saja, untuk kasus kali ini, sepertinya akan sedikit berat, karena masalah ini menyangkut dengan Shira yang belum seperti apa Jackson.


Akash melirik ke arah Edwin yang tengah mengotak-atik komputer.


“Edwin, cepat, antar aku ke kampusnya Shira.” Akash langsung berdiri mengambil jas yang menggantung di kursi, lalu melekatkan ke tubuhnya yang kekar.


Edwin mengangguk, mematikan komputer tersebut, lalu ia bergegas melangkah ke luar dari ruangan.


Akan tetapi, saat Edwin membukakan pintu ruangan kerja, tiba-tiba ... Tuan Baker sudah berdiri di depan pintu.


“Ayah!” ucap Akash terkejut bukan main.


Mereka mematung penuh kewaspadaan, dengan perasaan berdebar tidak karuan. Sudah dipastikan, Baker ke sini pasti karena foto yang dikirmkan oleh Jackson.

__ADS_1


Baker memandang lurus ke arah Akash, menatapnya dengan serius. “Apa Ayah mengganggumu?” tanya Baker, masih bergeming di tempatnya.


“T-tidak, Ayah. Kemari, masuklah,” ajak Akash sedikit gugup.


Dan dengan terpaksa, ia harus mengurungkan niatnya untuk pergi menemui Shira. Hatinya begitu terasa kalut, sungguh ia tidak benar-benar tidak tenang, ingin rasanya ia menolak kehadiran ayahnya itu. Akan tetapi, ia tidak bisa, karena kehadiran Baker pastilah sangat penting untuknya. Dan tidak mungkin ia mengabaikan Ayahnya hanya karena ancaman dari Jackson.


Baker sudah duduk di atas sofa yang tersedia di ruangan tersebut, lalu mulai membuka pembicaraannya dengan Akash. “Bagaimana? Apa kau sudah menemukan siapa orang dibalik penembakanku waktu itu?” tanya Baker menatapnya serius. Karena, dua bulan sebelumnya, Baker pernah terkena tembakan misterius dari seseorang, yang membuatny hampir kehilangan nyawa.


Dan seseorang itu, sudah dipastikan adalah orang-orang terdekat di sekitarnya, yang kemungkinan besar, menginginkan kematian Baker. Akan tetapi Baker masih belum bisa menemukan siapa dalang sebenarnya yang membuat masalah padanya.


Akash menunduk malu, karena sebagai anak pertama di keluarga Atkinson, ia masih belum bisa menyelesaikan kasus ini. “Maaf, Ayah, a-aku belum bisa menangkapnya. Waktu aku mau menangkapnya di markasnya, dia kabur dan melewati jalan pintas di bawah tanah," ucapnya jujur.


Baker memandang Akash dengan kesal. Karena sudah dua bulan lamanya, kasus ini belum juga bisa diselesaikan. Padahal jika biasanya, Akash selalu cepat tanggap dalam menanggapi kasus serupa, akan tetapi entah kenapa di kasus kali ini, anak sulungnya itu tidak bisa bergerak cepat.


Tiba-tiba, Baker melemparkan selembar kertas kepada Akash. Membuat kening Akash berkerut hebat.


(SERAHKAN KEKUASAANMU DI TIMUR! ATAU KAU BESERTA ISTRI DAN ANAK-ANAKMU AKAN MUSNAH SATU PERSATU!)


“Perset***an!” batin Akash, membaca kata-kata yang membuat darahnya seolah naik, menimbulkan efek panas dan berdebar di dada, menahan murka di jiwa.


“Siapa yang mengirimkan ini, Ayah?” tanya Akash begitu serius.


“Ada apa denganmu Akash? Apa kau sekarang menjadi bodoh? Ayah tidak akan menunjukannya padamu kalau Ayah tahu siapa pengirimnya!” cerca Baker dengan nafas yang naik turun tidak teratur, menampakkan emosinya yang tidak stabil.


Akash hanya bisa terdiam menerima cercaan dari ayahnya itu. Ia sadar, seharunya ia tidak mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu.

__ADS_1


“Kemarin pukul 23.50 Ayah menemukannya di halaman depan rumah,” imbuh Baker pelan namun serius.


“Lebih baik, kau segeralah selidiki semuanya. Atau kekuasaanmu yang akan menjadi taruhannya,” ucap Baker begitu serius lalu berdiri dari duduknya dan pamit pergi keluar dari ruangan Akash.


Baker berjalan meninggalkan gedung tersebut di kawal oleh enam bodyguardnya yang semuanya memiliki tubuh tinggi dan besar serta wajah-wajah yang garang menakutkan.


Akash masih merasa geram dengan surat kaleng yang dipegangnya saat ini, pikirannya kini tertuju pada seseorang. Ia harus lebih hati-hati dan mulai sekarang ia harus lebih berfokus pada kasusnya ini, karena ancaman dari surat kaleng ini sudah merambah kemana-mana.


“Edwin! Cari tahu tulisan ini, dan tinta apa yang digunakan untuk menuliskan surat ini,' perintah Akash sambil sedikit berteriak.


Edwin langsung tercengang mendengar perintah tuannya. Karena, menurut Edwin ini sudah diluar kemampuannya, dia hanyalah seorang sekretaris, bukan seorang pengamat tulisan dan ahli dalam urusan pertintaan.


"Perintah gila macam apa ini? Aku bukanlah seseorang yang ahli dalam masalah pertintaan dan tulisan. Bisa-bisanya Tuanku itu menyuruhku melakukan pekerjaan yang tidak lazim. Sungguh konyol," batin Edwin merasa tertekan.


Akan tetapi, meski begitu Edwin tetap harus melakukan perintah Akash, karena bagaimana pun Edwin sudah ketergantungan hidup kepada Akash. Akash sudah terlalu banyak membantunya, dan sudah sepatutnya ia patuh dan tunduk pada perintah dari tuannya itu.


“Baik, Tuan.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut seorang Edwin, si manusia kaku yang tidak pandai berekspresi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih yang sudah baca dan mengikuti sampai sini. Author sayang kalian.


Hari ini kemungkinan update satu bab aja, soalnya authornya lagi ke luar kota dulu ya.


__ADS_2