
"kalala ...." Panggil Shira dengan suara yang terdengar manja.
"Iya, apa Nashira?" tanya Kalala yang saat ini sudah berdiri di dekat tembok stop kontak.
"Kala, aku mau minum susu," pintanya manja sambil mencebik menggemaskan.
Kalala tersenyum sambil menggeleng pelan. "Ya sudah, sebentar aku buatkan dulu," ucapnya lalu berlalu menuju dapur untuk membuatkan susu hangat kesukaan Shira.
***
Sementara itu, di rumah mewah kediaman Akash. Lelaki berparas tampan itu tengah mengerahkan seluruh penjaga rumah untuk mencari keberadaan Shira. Akan tetapi dari semua penjaga itu tidak ada yang bisa menemukannya.
“Tadi siapa yang berjaga di jam 7 malam?” tanya Akash, karena di jam segitu adalah jam pergantian pengawal.
“Telepon mereka yang berjaga tadi! Jangan sampai Shira kabur dari rumah ini.” Akash begitu bimbang merasakan cemas yang tiada henti.
Ia kembali teringat akan tragedi yang terjadi pada Shira akibat ulah dari pamannya yang brengsek.
“Apa jangan-jangan Shira dibawa kabur ke rumah pria tua itu?” duganya.
Tiba-tiba, seorang penjaga datang. “Tuan, semua penjaga yang bertugas saat ini, mereka tidak melihat kepergian Nona Muda. Tapi kata penjaga yang di tangga, memang Nona Shira sempat pulang dan masuk ke kamar bawah, akan tetapi selang beberapa menit Nona Shira keluar lagi, dan sampai sekarang belum pulang ke rumah lagi, Tuan,” lapor salah satu pengawal yang ada di sana.
“Lalu, kenapa kamarnya bisa terbuka? Bukankah itu menandakan ada orang yang masuk?” Akash seolah bodoh, padahal ia sendiri tahu kalau kamar terbuka bisa saja karena ulah dari pelayan yang sudah membersihkan kamar.
“Kemungkinan itu adalah bekas pelayan yang sudah membereskan kamar, Tuan,” jawab pengawal tersebut.
Kini Akash baru sadar, kalau ia seharusnya mengaktifkan GPS dan mencari keberadaan Shira lewat GPSnya. Ia pun buru-buru membuka GPS di handphonenya, mencoba melacak keberadaan Shira.
“Sial! Kenapa GPS-nya tidak berjalan sih!” rutukny begitu kesal.
__ADS_1
Ia mencobanya kembali. Dan permasalahannya bukanlah pada GPS miliknya yang tidak berjalan, melainkan handphone milik Shira yang tidak aktif, jadi kemungkinan Akash tidak bisa menemukan keberadaan istirnya tersebut.
Dan di hasil akhir, setelah mengotak-atiknya beberapa kali, akhirnya terdapat titik terakhir Shira berada, yaitu di kampusnya sendiri.
“Sial! Apa dia tidak mengaktifkan GPS-nya? Dan kenapa aku mencoba meneleponnya selalu tidak terhubung.” Akahs benar-benar dibuat frustrasi, ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
Akash tidak mempunyai pilihan lain selain meminta bantuan dari Edwin—sekretaris serba guna kayak tepung terigu itu.
“Edwin, cepat kemari, kita cari Shira,” ucapnya begitu saja langsung menutup telepon.
Edwin yang waktu itu tengah memesan buket bunga beserta kalung, ia berdecak kesal.
“Astaga ... Ya Tuhan... ujian apalagi ini. Tugas satu belum selesai sudah diberi tugas yang lain,” keluhnya sambil meremas handphone yang dipegangnya.
“Huft... sabarlah sedikit Edwin, Tuanmu sekarang sedang memerlukan bantuanmu,” ucapnya menyemangati diri sendiri.
Jalanan malam ini sangatlah sepi, dari tempat membeli bunga ke kediaman Akash, yang biasanya memerlukan waktu 15 menit, sekarang cukup tujuh menit, Edwin sudah sampai di sana.
Akash sudah menunggunya, dan begitu mobil Edwin muncul di lahan parkir, Akash langsung bergegas menemuinya lalu masuk ke dalam mobil begitu saja.
“Cepat, kita harus pergi ke kampus Shira,” titah Akashpanik.
“Siap, Tuan.”
***
Sesampainya di kampus, Akash dan Edwin bergegas masuk ke ruang keamanan. Di sana mereka bertemu dengan penjaga kampus, menanyakan keberadaan Nashira.
“Oh, Non Shira ya, setahu saya dari jam tujuh malam juga beliau sudah pulang,” ucap Pak Satpam yang berjaga.
__ADS_1
“Benarkan? T-tapi kemana dia pulang?” tanya Akash begitu bodoh, padahal sudah jelas Pak Satpam tidak akan tahu kemana Shira pulang.
“Kalau itu, saya kurang tahu, Tuan. Mungkin pulang ke rumahnya,” jawab Pak Satpam dengan polos.
"Ya kalau pulang ke rumah, saya juga tidak akan mencari sampai ke sini," seru Akash.
"Ya Tuhan, apa yang sudah merasuki otak tuanku ini. Kenapa di saat seperti ini dia malah menunjukkan kebodohannya," batin Edwin merasa miris dengan tuannya itu.
"Maaf, Tuan, tapi saya juga tidak tahu kemana Non Shira pulang," balas Pak Satpam.
"Argh! Percuma saja datang ke sini kalau tidak tahu apa-apa soal Shira!" ucapnya marah-marah, membuat Edwin yang memerhatikannya hanya bisa menunduk malu ssambil menggelengkan kepalanya pelan.
.
.
.
Bersambung...
Hai readers semuanya, masih mau baca lanjutannya gak nih? Kalau mau ramaikan kolom komentarnya dulu dong, yang punya jatah vote bantu vote ya mentemen. Terima kasih.
Semoga kalian tetap suka dengan alurnya.
Jangan lupa follow ig author @dela.delia25
__ADS_1