Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Perfect Night


__ADS_3

Sementara itu, di Kanada, kini Dean dan Dama sudah sampai di tujuan mereka, yaitu di Moose Hotel And Suites, Alberta Canada.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, akhirnya mereka pun sampai juga. Di sana mereka mengaku dari keluarga Atkinson. Dan sesuai yang sebelumnya, kamar yang dipesan ada 4 kamar, 2 kamar di batalkan dan dua kamar lagi akan mereka gunakan masing-masing.


Dama dan Dean pun bergegas pergi ke kamar mereka masing-masing, tampilan mereka masih tampak tertutup, jacket hitam yang sangat tebal, masker hitam dan kaca mata hitam. Apalagi postur tubuh mereka, hampir menyerupai postur tubuh Akash dan Shira. Jadi tidak heran, ketika Boy yang menguntit mereka dari tadi, dia tidak sadar kalau orang yang diikutinya itu bukanlah Shira maupun Akash.


"Loh, kok kamar mereka berbeda?" Gumam Boy saat melihat lelaki dan perempuan itu masing-masing memasukan kartu kunci di kamar yang berbeda.


Akan tetapi, Dean yang merasakan sedang ada yang memerhatikannya, ia pun bergegas beralih mendekati Dama, agar jika memang penguntit yang dikatakan Akash itu benar mengikutinya, hal ini tidak akan membuat kecurigaan.


"Dama, aku harus masuk dulu denganmu, sepertinya pria yang baru saja keluar dari lift di pojok sana adalah orang yang dimaksudkan oleh Tuan Akash," ucap Dean.


Dama pun mengangguk dan sedikit melirik ke arah pojok sana. Lalu ia pun mengajak Dean untuk masuk ke kamar yang sama bersamaan.


"Loh, kok ke kamar itu? Hm, sedikit mencurigakan, padahal tadi kan Tuan Akash mau masuk ke kamar yang satunya lagi," gumam Boy dari jauh.


Selama beberapa menit, ia masih berdiri di tempatnya. Lalu setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan lagi, ia pun masuk ke dalam kamar hotel yang dipesannya, yang kebetulan saat itu, kamar yang akan ditinggalinya pun satu lorong dengan kamarnya.


"Ah, sudahlah lebih baik aku lanjut besok saja mengawasi merekanya, aku juga lelah ingin tidur," gumamnya dalam hati, langsung masuk ke kamar hotelnya.


***


Paris.


Sementara itu, di kamar hotel milik Shira dan Akash yang berada di Paris, setelah berdiam menikmati keindahan kota Paris di malam menjalang pagi ini di balkon, kini mereka berdua pun masuk kembali ke dalam kamar.


"Oh ya Akash, kalau kamu mau mandi, mandi aja duluan, aku mau membereskan dulu pakain kita," ucap Shira. Akash pun mengangguk dan pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Kamar mandi di hotel ini pun tidak kalah luas dengan kamar mandi di rumahnya Akash. Bahkan kamar mandi di sini lebih lengkap dan semuany serba mewah.


Akash pun mencuci wajahnya terlebih dahulu, lalu menggosok gigi dan mulai membuka bajunya bersiap untuk berendam merileksan tubuhnya.


Sementara itu di kamar Shira masih sibuk menata pakaian miliknya dan juga milik Akash, menyimpannya ke dalam lemari. Tidak lupa, setelah selesai mengeluarkan barang di dalam kopernya, koper itu juga ia masukkan ke dalam lemari yang sama itu, khusus di space koper.

__ADS_1


"Ini bingkisan apa?" gumam Shira yang kini tengah berdiri di dekat meja, di mana di meja itu sudah terdapat beberapa makanan penyambut, seperti coklat, puding, kue tiramisu dan beberapa camilan di dalam toples. Hanya saja paper bag berwarna biru tua bertuliskan.


For : Mr. Akash, itu cukup membuat Shira penasaran dan ingin membukanya, dan saat ia buka, ada kertas lagi di dalamnya. bertuliskan.


From your father.


Shira mengangguk paham. Ternyata paper bag itu sengaja dihadiahkan untuk Akash dari ayahnya. Dan saat hendak mengambil benda yang ada di dalamnya, Akash ternyata sudah keluar dari kamar mandi.


Masih dengan sebagian tubuhnya yang terbuka, hanya memakai handuk yang dililitkan di bagian bawah pusarnya. Bahkan sebagian buliran air, masih terlihat menempel di punggung, dada dan bahunya.


Akash menyibakan rambutnya ke belakang, dengan rambut hitamnya yang sedikit basah terkena air dari shower. Karisma dari seorang Akash pun langsung terpancar, aura-aura sexy nya keluar. Membuat Shira yang melihatnya menatapnya dengan bengong.


"Ya ampun, kenapa suamiku bisa setampan itu? Apalagi melihat tubuhnya yang gagah ... ah, itu roti sobeknya benar-benar sexy. Apa dia sekarang sedang membangunkan cell birahiku? Tidak-tidak, aku tidak tahan melihatnya, bahu kekarnya, sepertinya sangat nyaman untuk menjadi pegangan nanti," batinnya yang tiba-tiba pikirannya sudah membawanya terbang ke alam penuh kedewasaan.


"Nanti? Astaga Shira, apa yang kamu pikrikan," pikirnya tersadar dari lamunan kotornya. "Tapi, dia benar-benar sexy dan menggoda," lanjutnya di dalam hati.


"Kau mau mandi, Shira?" tanya Akash, yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Shira.


"Hah mandi?" tanyanya cengo. "Emh, i-iya, aku akan mandi sekarang," ucapnya gugup langsung menunduk, memalingkan wajahnya dari pesona Akash yang membangunkan gelora jiwanya.


Akash pun mendekat ke arah paper bag itu, ia mengambil sebuah kotak di dalamnya, lalu membukanya dan kedua matanya langsung membelalak sempurna. Saat melihat isi dalam kotak yang dipegangnya adalah botol obat.


"Obat apa ini?" gumamnya, lalu langsung membaca detail obat tersebut, dan ternyata obat itu adalah obat perkasa, alias obat kuat yang khusus ayahnya belikan melalui pelayan hotel yang disuruhnya.


"Haha tidak disangka dibalik wajah sangarnya, ternyata ayahku perhatian juga," ucapnya pelan menggelengkan kepalanya.


Sementara itu di dalam kamar mandi, saat ini Shira tengah membersihkan badannya, berendam sambil merileksasi tubuh dan pikirannya. Hanya saja, pikiran Shira sekarang ini masih saja bergulat dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Bayangan-bayangan adegan ranjang antara dirinya dengan Akash kembali terbayang di benaknya. Ia jadi senyum-senyum sendiri, membayangkan geli bagaimana pergulatannya sesudah ini.


Ada cemas, dan takut tapi ada juga rasa ingin yang begitu bergejolak di dadanya. Setelah kurang lebih berendam 15 menit, ia pun segera bangkit dan membilas seluruh tubuhnya di bawah shower. Tubuhnya yang terasa lelah, kini kembali terasa fresh dan berenergi.


Shira pun segera mengambil handuk kecil di dalam lemari buffet yang terpajang di atas westafel, lalu mengeringkan wajah dan sebagian tubuhnya, setelah itu ia mengambil kimono putih yang menggantung di atas hanger, membalutkannya ke tubuhnya yang cukup berisi itu.

__ADS_1


Sebelum ia keluar, ia memastikan terlebih dahulu kalau penampilannya sedikit sexy dan menggoda, dengan rambut yang digelung berbentuk buns, pun wajahnya yang sudah bersih bebas dari makeup, dan tidak lupa ie menyemprotkan parfum mewah miliknya ke leher dan beberapa titik di badannya. Dan setelah itu ia pun memberanikan diri untuk keluar.


Saat Shira membuka pintu kamar mandi, Shira sedikit dikejutkan dengan ruangan kamar yang sudah menggelap, hanya ada lampu tidur di atas nakas sana, yang membuat suasana terlihat remang-remang.


Ia berjalan keluar, tetapi tidak menemui suaminya. "Di mana Akash?" gumam Shira kebingungan, dan saat ia hendak melangkah lagi mendekati lemari, tiba-tiba sebuah tangan sudah melingkar di perutnya, Shira di tarik agar menempel dengan tubuh Akash.


Akash langsung menenggelamkan wajahnya di leher putih milih Shira, menghirup dalam-dalam aroma khas dari tubuh istrinya itu.


"Akash," lirih Shira pelan.


"Kamu wangi sekali, Shira," bisik Akash, dengan hembusan nafasnya yang mengenai daun telinga Shira, membuat Shira dengan refleks langsung menghindarkan kepalanya merasa geli.


Akash pun membalikan tubuh Shira berhadapan dengannya. Kini kedua mata mereka sudah saling memandang satu sama lain.


Shira yang masih begitu gugup, ia menurunkan pandangannya, namun segera ditahan oleh Akash, dengan mengangkat dagu istrinya itu agar tetap bertatapan dengannya.


"Emm, Akash a-aku--"


Semakin dekat dan semakin mendekat, Shira tidak melanjutkan ucapannya, bola mata milik pria dihadapannya itu perlahan menutup dengan jarak wajah di antara mereka yang hampir menempel dan cup, kecupan itu pun mendarat di bibir Shira. Membuat Shira ikut memjamkan matanya, menikmati desir hangat yang kini mulai menyerang aliran darahnya.


Perlahan dan cukup santai, Akash mengecup bibir istrinya itu dengan penuh perasaan. Sambil merasakan debar menyenangkan di hatinya.


Akash ingin melakukan semuanya sebaik mungkin, tidak ingin grasak-grusuk atau pun bermain kasar. Ia benar-benar ingin menjadikan moment ini, moment yang tidak akan pernah dilupakan olehnya.


Dan di saat ciuman mereka sudah mulai terasa memanas, saling membalas satu sama lain. Tiba-tiba, sebuah bunyi ketukan pintu terdengar.


Tok, tok, tok.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Lanjut gak nih?


__ADS_2