
Hai semuanya, maaf ya kemarin ada kesalahan uplaod, salah kamar authornya.
Efek update tengah malam. Silakan kalian bisa baca ulang mulai dari bab 88 ya, biar ceritanya nyambung dan enggak bikin bingung, terima kasih. Happy reading and enjoy~~~
***
“Apa?! Jadi gagal lagi?” tanya Asten begitu terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Jackson padanya. Kalau Boy lelaki suruhannya itu pulang kembali ke Indonesia dengan tangan kosong, tanpa melaksanakan satu rencana pun.
“Iya, Akash dan istrinya itu sudah berpindah tempat. Aku yang menyuruhnya pulang karena sudah tidak memungkinkan, dan hari ini Akash dengan istrinya itu pasti akan pulang kembali ke sini,” ucap Jackson, dengan mimik wajah yang tampak sedih.
“Dasar bodoh! Kenapa kau malah membiarkan lelaki itu pulang hah?! Apa kau tidak bisa memanfaatkan keadaan? Kita masih bisa mempunyai kesempatan Jackson!” Asten tampak semakin emosi dan merasa kecewa.
“Argh, sudahlah, lain kali lebih baik Ibu mempercayakan rencana kita kepada orang lain. Kau ini, dari dulu selalu saja gagal! Tidak bisa diandalkan!” seru Asten mendelik sebal kepada Jackson, lalu pergi keluar dari kamar Jackson.
Mimik wajah Jackson tampak begitu menakutkan, kedua matanya menatap tajam ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh ibunya, kedua tangannya mengepal erat menggantung di udara, alisnya saling bertautan, pun dengan wajah yang sudah tampak memerah menahan amarah. Ia menggeram kesal.
Entah kenapa, tapi mendengar ucapan dari Ibunya itu, Jackson merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. Sedari dulu ia selalu saja menjadi pelampiasan emosi ibunya. Jika apa yang diinginkan oleh ibunya itu tidak tercapai, Jackson lah yang akan menjadi sasaran amarah ibunya.
“Ahhh... bangsat!”
Prang ....
Kedua tangan Jackson menyapu bersih tiga vas bunga yang terpajang di meja laci. Vas bunga itu langsung pecah berhamburan di atas lantai dengan bunga-bunga hias yang ikut berserakan.
“Sialan! Kenapa ibuku bisanya menyalahkanku saja argh!” Jackson mengacak rambutnya frustrasi.
“Argh!”
Bugh, bugh, bugh!
Jackson memukul-mukul dinding tembok dengan begitu keras hingga punggung tangannya itu memerah berdarah. Emosinya benar-benar begitu tidak terkontrol. Kini semua benda yang ada di hadapannya diraup dan dihancurkan. Bahkan barang-barang pecah yang sudah berserakan itu, ia tendang dan sepak sekeras mungkin.
“Arghhhhhh!!!” teriaknya penuh emosi sambil menggeram, mengepalkan kedua tangannya, sambil menengadah ke langit-langit kamar.
“Semua ini gara-gara Akash! Kenapa hidup dia selalu lebih beruntung dariku argh! Ayah, ibunya semuanya selalu mendukungnya. Sementara aku, tidak pernah aku didukung seperti dia oleh kedua orang tuaku!” Jackson melemaskan tubuhnya di sisi ranjang, menekuk lututnya dengan lemas.
Ia benar-benar merasa lelah, sudah bertahun-tahun dirinya mencoba berdamai dengan keadaan, tapi lingkungannya yang toxic terutama hasutan dari ibunya yang selalu mengompirinya, membuat mentalnya menjadi tidak baik.
Jujur saja, berada di posisi Jackson tidak lah mudah, perlu kesabaran yang lebih extra, selain tuntuan dari ayahnya, ia juga dituntut oleh ibunya agar bisa lebih unggul dari Akash.
Ia tidak tahan lagi, Jackson memilih untuk pergi keluar dari kamarnya itu.
Ia memasuki mobil sport miliknya, menghidupkannya.
Vroommm....
Mobil yang ditumpanginya itu melaju di atas kecepatan maksimal meninggalkan area pekarangan rumah. Ia benar-benar merasa frustrasi, selain tidak punya teman untuk diajak berbincang atau sekedar mengobrol, ia merasa hidupnya benar-benar hampa, tidak ada orang yang bisa dijadikan tempat untuk dirinya berkeluh kesah bahkan ibunya pun malah menjadi penambah beban pikirannya.
Setelah membelah jalanan kurang lebih setengah jam di malam hari yang dingin ini, Jackson menghentikan mobilnya di depan lobby Hotel Alexandria. Hotel milik ayahnya yang sudah dipindah tangankan kepada Akash.
Jackson mengeluarkan kartu nama keluarganya, memberikannya kepada resepsionis. Dan saat resepsionis itu tahu kalau itu adalah Tuan Jackson dari pihak Atkinson, resepsionis itu langsung menelepon bagian kamar, untuk menyiapkan kamar presiden suite khusus untuk Tuan Jackson.
“Tolong, berikan aku satu peramu yang sopan, dan juga aku ingin vodka dua botol,” ucapnya pelan, lalu seorang Belboy pun menghampiri.
“Mari, Tuan, saya antarkan Anda ke kamar,” ucap Belboy tersebut dengan penuh kesopanan.
“Hm.” Mereka pun bergegas pergi menuju kamar presiden suite.
Jackson mendudukan tubuhnya di atas sofa berwarna gold yang tersedia di kamar luas bernuansa Eropa itu.
Pikirannya tengah melanglang buana, memikirkan begitu banyak hal, termasuk semua masalah yang tengah menimpanya saat ini.
Permintaan ayahnya agar dirinya bisa memenangkan perebutan lahan, belum lagi ibunya yang menuntut dirinya lebih unggul dari Akash dan mampu menguasai harta ayahnya, dan belum lagi masalah pekerjaannya dengan sekretarisnya yang kemarin sempat bermasalah. Sungguh, ia benar-benar pusing memikirkan semuanya.
__ADS_1
Hari ini, ia ingin sekali melepaskan penat di pikirannya. Hanya satu-satunya cara agar ia bisa menghilangkan gundah dan risau yang tengah ia rasakan saat ini, yaitu dengan cara minum-minum.
Meski sebenarnya Jackson termasuk orang yang anti akan minuman keras, akan tetapi jika keadaan memang sangat merumitkan, terpaksa ia melakukannya, karena hanya dengan cara itu ia bisa meluapkan seluruh isi hatinya dan membuat dirinya sedikit melupakan masalahnya.
Tok, tok, tok.
Pintu kamar terdengar diketuk dari luar.
“Masuk!” Teriak Jackson memerintah.
Seorang gadis berpakaian rapi, dengan kemeja putih dan rompi hitam, serta rok span sejengkal di atas lutut, membuat tampilan wanita itu tampak sangatlah cantik.
Dia tidak memakai kaca mata, hanya saja memakai kontak lens berawarna cokelat muda yang sesuai dengan minus matanya. Rambut hitamnya, di sanggul begitu rapi seperti seorang pramugari.
Ia memasuki ruangan, sambil membawa baki yang di atasnya berisi dua botol vodka, dan satu mangkuk berisi es batu dan satu gelas kecil khusus untuk meracik vodka.
Wanita itu duduk di dekat meja bundar yang dibawahnya beralaskan karpet empuk setinggi 5 cm.
Dan peramu wanita itu tak lain ialah Kalala, pegawai yang beru beberapa minggu bekerja di hotel Alexandria ini.
“Hey, tuangkan satu gelas untukku,” titah Jackson sambil membenarkan duduknya, menyender di bahu sofa, dengan kaki yang diangkat selonjoran di atas meja.
“Maaf jika aku tidak sopan, tapi aku ingin dudukku seperti ini,” ucap Jackson yang dalam kesadarannya masih sedikit memikirkan tentang etika.
“Tidak apa-apa, Tuan,” jawab Kalala pelan.
Kalala pun mulai meracik vodka itu ditambah dengan daun mint, dan juga sedikit air lemon. Lalu menyajikannya kepada Jackson dengan hati-hati.
“Silakan, Tuan,” ucapnya menyodorkan gelas tersebut dengan sopan.
Jackson mengambil gelas kecil berisi vodka dingin itu. Ia langsung meminumnya dalam sekali tegukan.
Ia memejamkan matanya, merasakan sensasi laur biasa yang dirasakan oleh lidah dan tenggorokannya.
Kalala yang masih setia duduk di atas karpet itu, ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Siapa namamu?” tanya Jackson tiba-tiba.
“Nama saya, Kalala, Tuan,” jawabnya pelan.
“Siapa?” tanya Jackson yang tidak jelas mendengarnya.
“Kalala,” jawabnya lagi.
“Kalala?” ulang Jackson memastikan, Kalala mengangguk mengiyakan.
“Hm, Kalala ya? Baiklah, aku akan mengingatnya. Kau menjadi salah satu pramu terbaik dalam daftar catatanku,” ucap Jackson.
“Ayo, buatkan aku satu gelas lagi,” titahnya.
Hingga tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 24.00 malam. Sudah dini hari, tapi tamu khusus ini belum juga membiarkannya untuk keluar dari kamar.
Kalala sudah berulang kali menguap menahan kantuknya. Sementara Jackson, ia masih sibuk berbicara sendiri, setelah kehilangan kesadarannya sekitar satu jam lalu.
“Tuan, apakah saya sudah boleh keluar?” tanya Kalala.
“Tidak, kau tidak boleh keluar! Kau harus menemaniku sampai pagi,” ucap Jackson dengan suaranya yang terdengar parau.
“Tapi, Tuan, saya kan—”
“Aku bilang tidak ya tidak! Kau mau dipecat dari pekerjaanmu ini hah? Karena tidak becus melayani aku?” ancam Jackson lalu tiba-tiba tertawa tidak jelas.
“Ya Tuhan, harus sampai kapan aku menemani lelaki freak ini? Besok aku masih harus kuliah, aku ingin pulang, aku capek,” keluhnya pelan, sambil meringis seolah ingin menangis.
__ADS_1
“Hey Kalala, kau tahu hal apa yang paling aku benci di dunia ini?” tanya Jackson yang sudah berbicara melantur ke mana-mana.
“Mana saya tahu, Tuan, saya kan bukan peramal!” jawab Kalala ketus, karena saking sudah kesalnya dengan lelaki mabuk di depannya itu.
“Ahahaha, jawabanmu masih masuk di akal. Tapi yang benar adalah, aku benci keluargaku, dan aku membenci diriku sendiri. Dan apa kau tahu, kenapa aku bisa membenci keluargaku dan diriku ini?” Lagi dan lagi, Jackson bertanya hal yang tidak penting bagi Kalala.
“Ya mana saya tahu, Tuan. Saya bukan cenayang yang bisa nebak orang dengan mudah!” jawab Kalala semakin sewot.
Jackson tiba-tiba tertawa lepas, saat ini dirinya seolah tengah berbahagia. Entah kenapa, tapi Jackson merasa kalau Kalala adalah tipe wanita yang asyik diajak mengobrol.
“Hey Kalala, aku akan menaikkan gajimu, karena kau orangnya sangat-sangat lucu. Aku suka bicaramu,” ucap Jackson semakin melantur.
Kalala hanya bisa menggeleng pelan, kembali menguap menahan kantuk, hingga matanya sudah berair saking ngantuknya.
“Hemmm, terserah kau saja, Tuan. Orang mabuk bebas berbicara,” jawab Kalala malas.
“Kalala ....” Panggilnya dengan parau, Jackson mendekat dan menurunkan tubunya di samping Kalala. Ia mendekat dan menyenderkan kepalanya di bahu kecil milik Kalala.
Membuat Kalala begitu terkejut, karena lelaki itu sudah berani merangkul lengannya.
“Tu-Tuan, jangan seperti ini, Tuan. Ini sudah melanggar peraturan,” ucap Kalala panik. Yang awalnya ia sangat ngantuk, tiba-tiba jadi segar gara-gara rasa panik yang dirasakannya.
Jackson tidak merespon, lelaki itu masih memegang erat lengan Kalala. Dengan kepalanya yang semakin terasa berat bertumpu di bahu Kalala. Sambil terus meracau pelan tidak jelas.
“Tuan,” panggil Kalala tidak enak hati.
“Tuan, sadarlah, Tuan, jangan tertidur di bahuku,” ucap Kalala mencoba membangunkannya. Akan tetapi Jackson masih tidak merespon.
Dan tiba-tiba ....
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa bantu votenya yang mentemen, insyaallah 7 hari ke depan, author bakalan update setiap hari 3 bab, mohon doanya ya biar lancar tanpa hambatan. Makasih, luv luv luv sekebon pare.
__ADS_1