Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Insting Kalala


__ADS_3

“Tidak!!! Jangan ambil anakku!!!” teriak Asten menangis histeris, saat Jackson terpaksa harus dibiarkan untuk masuk ke dalam mobil milik Marvel.


Asten terus memberontak meminta agar dirinya dilepaskan dari cekalan dua orang bertubuh besar yang menahan pemberontakan dirinya.


“Suamiku, tolong jangan biarkan anak kita pergi ....” Asten terus menangis tersedu, kedua pipinya bahkan sudah banjir dengan air mata, pun matanya yang sudah sembab dan bengkak memerah menahan kesedihan dan amarah yang teramat mendalam di hatinya.


Baker pun sama, lelaki dengan gengsi yang tinggi ini, akhirnya kalah juga jika yang dihadapkannya adalah anaknya. Baker tidak menyangka, kalau Marvel akan menggunakan Jackson sebagai memancing kelemahannya.


“Suamiku! Jangan diam saja, tahan mereka sekarang juga!” teriak Asten begitu emosi, dengan air mata yang terus berderai membuat penghlihatannya semakin buram.


Baker mendekat, menghampiri Asten, merangkulnya pelan, sambil tersedu menangis, melihat anaknya ditahan dan akan dibawa pergi oleh para mafia kejam itu.


“Jika anakmu yang ini ingin selamat, maka, beri tahu aku di mana Akash berada,” ucap Marvel dengan sinis, begitu ia melewati Baker hendak masuk ke dalam mobilnya.


Sedangkan Jackson, lelaki itu hanya bisa diam tanpa bersuara sepatah kata pun, bahkan hanya menengok ke belakang pun ia tidak bisa, karena sejak tadi pisau tajam terus saja mengintai di lehernya dengan jarak satu centi meter, yang kemungkinan bisa langsung merenggut nyawanya.


Marvel naik ke dalam mobil yang sama dengan Jackson, sebelum ia menutup pintu mobilnya, ia menoleh terlebih dahulu ke belakang, di mana Asten dan Baker masih mematung di tempatnya, karena ditahan oleh anak buah Marvel.


Bahkan, Marvel tidak memedulikan tangisan dan jeritan dari Asten yang berulang kali memohon agar Jackson anaknya dilepaskan.


Lelaki itu menyeringai, lalu berteriak, “Jangan lupa, kirimkan alamat anakmu itu ya!”


Dan brak! Pintu mobil pun tertutup.


“Tiiidaaakkk!!! Jangan ambil anakku!!!” suara Asten semakin melemah, begitu pun dengan tubuhnya yang tiba-tiba lemas, dan kepalanya pun langsung terkulai, tubuhnya hampir terjatuh namun karena lengannya masih dicekal oleh dua anak buah Marvel, Asten tidak langsung jatuh begitu saja ke tanah.


Lalu Marvel pun membuka jendelanya, lalu berteriak kepada anak buahnya. “Lepaskan, kita pulang!”


“Asten!”


“Asten! Bangun Asten!” ucap Baker sambil menahan tubuh istrinya yang tengah pingsan, tidak sadarkan diri.


Lalu dua anak buah Marvel itu pun segera masuk ke dalam mobilnya. Dan semua rombongan mobil para mafia itu pun melaju pergi meninggalkan halaman rumah.


Salah satu pengawal dari pihak Baker, hendak menodongkan pistolnya ke arah mobil yang ditumpangi Marvel. Tapi dengan cepat Baker menghentikannya.


“Jangan! Jangan lakukan itu, anakku harus tetap selamat di mobil itu!” teriak Baker, langsung membuat pengawal itu menurunkan senjatanya.


Baker terisak, melihat kepergian Jackson yang ia ketahui pasti anaknya akan menderita di sana, tapi Baker tidak bisa langsung melakukan perlawanan karena ia tahu jika ia langsung melawan, maka nyawa Jackson yang akan melayang.


Setelah beberapa lama terdiam di depan halaman rumahnya, Baker yang tengah bersedih dan putus asa itu, ia segera bangkit, mengangkat tubuh Asten dalam pangkuan kedua tangannya lalu segera membawanya masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.

__ADS_1


Asten terbaring di tempat tidurnya, Baker memandangi wajah istrinya yang begitu menyedihkan. Ia menundukkan kepalanya merasakan sesak di dada yang teramat menyakitkan hatinya.


“Maafkan aku, Asten, aku tidak bisa menahan kepergian anak kita,” lirihnya penuh penyesalan. “Maafkan aku ... maafkan.”


***


Sementara itu, di kediaman rumah rahasia milik Akash, Kalala yang tengah menyajikan teh hangat untuk Shira, tiba-tiba kakinya tersanjung, sehingga secara tidak sengaja ia langsung menumpahkan gelas berisi teh hangat itu.


Prang ....


“Ah ya ampun!” Kalala langsung berjongkok hendak memunguti pecahan dari gelas beling tersebut. Namun baru saja ia hendak mengambil salah satunya, tiba-tiba ibu jari kanannya tertusuk, hingga menimbulkan sedikit darah di tangannya.


“Aw ....” Ia berdesis menahan sakit.


“Ya ampun, Nak Kalala, kamu kenapa?” Tessa yang baru datang ke dapur ia langsung mendekat ke arah Kalala, langsung mengambil alih tangan Kalala yang berdarah terkena pecahan gelas tersebut.


“Tidak apa-apa, Nyonya, saya hanya terluka sedikit saja, barusan tehnya jatuh,” adunya tidak enak hati.


“Astaga ... sudah-sudah, biar pelayan laki-laki saya membersihkan ini, ayo cepat kita obati dulu lukamu ini,” ucap Tessa khawatir mengangkat bahu Kalala, dan mereka berdua pun berdiri bersamaan.


“Tidak apa-apa, Nyonya, luka saya sangat kecil kok, cukup dibasuh saja, lagi pula saya ‘kan mau mengambilkan teh buat Shira,” ucapnya.


Kalala yang tidak punya pilihan ia pun menuruti perintah Nyonya besarnya itu. Dan pergi menuju kamarnya untuk mengobati lukanya.


Ia mengambil kotak P3K yang ada di laci nakas, lalu ia pun duduk di tepi ranjang, perlahan menuangkan cairan alkohol ke kapas untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu, setelahnya ia pun menuangkan sedikit betadine di bagian ibu jarinya yang terluka. Dan ternyaa, luka sobeknya cukup panjang, padahal tadi ia mengira ia hanya tergores sedikit saja. Dan setelahnya Kalala pun membalut ibu jarinya dengan hansplast.


Namun, perasaan Kalala tiba-tiba jadi tidak enak, terasa ada bimbang yang tidak jelas yang tengah menerpa perasaannya.


Ia berdecak cemas, merasa gelisah. “Ya ampun, Kalala ... ada apa dengan pikiranmu malam ini? Kenapa semuanya terasa tidak fokus dan tidak tenang?” gumamnya pelan kepada diri sendiri.


Ia mendesah pelan, membuang nafasnya. “Semoga saja, keluargaku baik-baik saja di sana, begitu pun dengan Edwin, semoga dia tidak terlibat masalah dari para mafia itu,” batinnya dalam hati.


Selagi melamun, tiba-tiba sepintas bayangan Jackson terlintas di benaknya. Membuat kedua alisnya langsung mengerut. “Loh, kenapa aku jadi kepikiran soal Jackson ya,” gumamnya bingung sendiri.


Tiba-tiba, ia jadi ingat saat malam keberangkatan itu, saat dirinya tengah berciuman dengan Edwin dan Jackson tiba-tiba datang mengacaukan moment romantis itu.


“Ish, dasar, ngapain juga aku mikirin si pengacau itu!” gerutunya. “Hm, sudahlah, lebih baik aku kembali ke dapur untuk membuat teh untuk Shira.”


***


Kedua tangan Jackson diborgol di belakang punggung, tubuh lelaki itu di dorong dengan keras hingga Jackson jatuh tersungkur di atas lantai bata yang penuh debu.

__ADS_1


“Aish! Sialan! Tidak perlu kau mendorongku seperti ini, brengsek!” seru Jackson dengan keras langsung bangkit dan berdiri menghadap Marvel.


Marvel menyeringai. “Hah, dasar! Bocah ingusan! Ternyata mulutmu kasar juga ya,” jawab Marvel menatapnya sinis.


“Dasar tidak sopan!” cerca Marvel.


“Untuk apa aku sopan kepada pria brengsek sepertimu, yang hanya bisa mengancam nyawa seseorang demi mendapatkan apa yang kau inginkan!” teriaknya. Membuat emosi Marvel sedikit terpancing.


Plak!


Tiba-tiba sebuah tamparan keras mengenai sebelah pipi Jackson. Wajah Jackson langsung terbanting, ia menautkan kedua alisnya begitu marah, emosinya semakin memuncak ketika rasa panas dan perih terasa menjalar di pipinya.


Ia menoleh sinis, lalu kembali menatap Marvel dengan tatapan songong, seperti orang ngajak gelut.


“Dasar banci! Bisanya main tampar seenaknya!” seru Jackson.


“Kau bilang apa?!” emosi Marvel semakin tersulut.


“Telingamu budeg ya?” Jackson menyeringai, seolah merendahkan. “Dasar, banci budeg!” hinanya, semakin membuat emosi Marvel memuncak.


Dan saat Marvel hendak menampar yang kedua kalinya, Jackson malah melangkah maju, hingga jarak diantara keduanya sangat-sangat begitu dekat.


“Silakan! Tampak aku jika kau memang beneran banci!”


Dan seketika itu pula, tangan Marvel tertahan di udara. Ia mengentikannya, lalu mengepalkan tangannya dengan erat, dan menariknya kembali ke bawah.


“Argh! Diam kau bocah ingusan! Ingat, aku tidak akan membebaskanmu dari sini, sebelum sodaramu datang menyelamatkanmu!” seru Marvel lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan kosong dan sepi serta sumpek dan menyeramkan itu.


“Buka borgolnya, dan kunci dia di sel!” ucap Marvel saat ia hendak menaiki anak tangga menuju keluar dari ruangan bawah tanah itu.


“Siap, Bos!”


.


.


.


Bersambung....


Novel ini belum tamat ya, masih bersambung. Dan masih ada beberapa bab lagi menuju tamat.

__ADS_1


__ADS_2