Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Sadarkan Ibuku Tuhan


__ADS_3

Shira langsung berlari mendekati mayat yang tengah diangkut oleh dua orang penjaga itu.


“Akash!” pekik Shira langsung menarik kain yang menutupi tubuh seseorang itu. Dan betapa terkejutnya Shira saat mengetahui kalau mayat itu bukanlah Akash, tetapi itu adalah mayat bohongan atau bisa disebut seperti manekin yang terbuat dari silikon, yang hampir persis seperti orang sungguhan.


Shira mematung di tempatnya, dan saat Akash masuk, semua orang menoleh ke sana. “Tuan Akash!” pekik Kalala, langsung mengalihkan perhatian Shira dan wanita yang tengah hamil enam bulan itu, ia langsung berlari menghampiri suaminya, merentangkan tangannya lalu memeluknya sambil menangis manja.


“Ya Tuhan, Shira ... jangan menangis, Sayang. Aku tidak apa-apa, kenapa kamu menangis?” tanya Akash mengangkat wajah Shira agar menatapnya.


“Kamu mengejutkanku, Akash! Aku kira, mayat yang dibawa para penjaga itu kamu! Syukurlah itu hanya boneka!”


Akash terkekeh mendengarnya, lalu ia menghujani wajah Shira dengan ciumannya. “Haha, itu hanya boneka, Sayang. Bukan diriku! Aku ‘kan sudah bilang, kalau aku pasti akan pulang dengan selamat,” ucap Akash menjelaskan.


“Tapi tetap saja, kau membuat kami khawatir, apalagi Ibu, Ibu langsung pingsan saat melihat penjaga membawa boneka mayat itu!” adu Shira, membuat mimik wajah Akash langsung berubah, cengo.


“Apa?! Ibu pingsan lagi?” tanya Akash, Shira mengangguk.


Lalu Akash dan Edwin pun langsung pergi berjalan menuju ruang TV, di mana Tessa tengah berbaring di atas sofa ditemani oleh Kalala.


“Astaga! Bu!” Akash langsung berjongkok, memegang lengan Tessa yang begitu lemas, tidak sadarkan diri.


“Kalala, bisa tolong ambilkan minyak kayu putih?” pinta Akash, Kalala mengangguk.


“Sudah, Tuan, penjaga sedang mengambilnya di lantai dua,” ucap Kalala, lalu tidak lama, penjaga yang sempat Kalala suruh tadi, datang membawakan kotak P3K lalu menyerahkannya kepada Kalala.


Kalala pun menuangkan minyak kayu putih ke atas selembar tisu yang ia lipat-lipat, kemudian memberikannya kepada Akash. Lalu Akash pun mendekatkan tisu itu ke hidung Tessa.


Shira pun ikut khawatir, karena takut kalau mertuanya itu kenapa-napa.


Akash mengambil stetoskop yang ada di dalam kotak P3K itu, lalu memasangnya di telinga, dan mulai mendengarkan detak jantung Ibunya itu.

__ADS_1


“Untunglah, detaknya masih normal,” ucapnya melepas stetoskop tersebut, lalu Akash mengambil bantal kecil yang ada di sofa, mengangkat kepala Tessa dan menyimpan bantal tersebut di bawah kepala ibunya itu.


Setelah terus mencoba memberinya aroma minyak kayu putih, akhirnya Tessa pun bangun, masih dengan pandangan matanya yang buram dan remang-remang tidak jelas.


“Akash,” lirihnya dengan suaranya yang terdengar lemah.


“Ibu, tenang, Bu, aku sudah pulang,” ucap Akash kembali menenagkan Tessa.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 siang, sejak kejadian tadi pagi, kini keadaan di rumah pun sudah cukup membaik. Tessa sudah bisa beraktifitas seperti biasanya lagi, sementara Shira, sejak tadi ia begitu kepo soal boneka mayat yang dibawa oleh suaminya itu, bahkan sampai membawanya dua boneka aneh dan menyeramkan.


“Nanti, aku akan menjelaskan soal boneka itu. Karena dalam beberapa bulan kedepan, atau mungkin dalam beberapa minggu kedepan, pasti akan ada orang yang mengetahui keberadaan kita di sini, adan aku akan memanfaatkan boneka itu, sebagai bagian dari rencanaku,” ucap Akash, Shira pun mengangguk paham.


Sementara Edwin dan Kalala, mereka tengah berada di taman belakang, lebih tepatnya ada di sisi kolam renang. Mereka berdua sengaja melipir, karena ingin menghabiskan waktu berdua saja. Apalagi setelah lama tidak bertemu, rasanya ingin sekali menggunakan waktu yang terbilang singkat ini untuk melepas rindu, meski mereka tahu rindu diantara mereka tidak akan pernah berujung.


Kalala juga menanyai soal kejadian semalam, Edwin menceritakannya, bahkan ia juga menceritakan kalau Jackson terkena tembakan dari bos mafia itu.


Edwin yang melihat reaksi Kalala seperti itu, ia langsung mengerungkan keningnya, ia tidak suka kalau wanitanya ini lebih mengkhawatirkan pria lain dibanding dirinya.


“Biasa aja bisa ‘kan? Gak perlu bertanya sampai terkejut seperti itu,” ucap Edwin sedikit sensi.


“Ah i-iya, maaf, aku hanya kaget aja. T-tapi, kamu sama tuan Akash pasti udah bawa dia ke rumah sakit ‘kan ya?” tanya Kalala sedikit canggung, sambil menyengir mencoba mencairkan suasana.


Edwin terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Hm.”


“Oh ya, bukankah tadi kau bilang dahimu juga terluka? Mana, kemari biar aku obati, kita dari tadi terlalu asyik ngobrol, sampai aku lupa mau ngobatin dahi kamu,” ucap Kalala, sambil menyibakkan sebagian rambut Edwin yang menutupi dahinya.


Wanita itu langsung membuka kotak P3K yang ada di sampingnya, lalu menuangkan cairan alkohol untuk membersihkan terlebih dahulu sedikit goresan luka di dahi kekasihnya.

__ADS_1


Edwin tersenyum simpul melihat usaha wanitanya untuk kembali menenangkan suasana hatinya. Dan kini, Kalala pun tengah fokus mengobati luka di dahinya, dengan jarak wajah di antara mereka yang begitu dekat.


Edwin terus saja memandangi bibir Kalala yang sesekali meniupi dahinya, agar ia tidak merasa kesakitan. Namun, semakin dipandang, semakin ada rindu yang bergejolak di dadanya. Rindu yang sudah sejak lama ia tahan.


“Nah, sudah selesai. Kamu akan lebih baik setelah aku obati,” ucap Kalala saat ia baru saja selesai memasang hansplast di dahi Edwin.


Namun, tatapan Edwin langsung membuat Kalala diam seribu bahasa. Wanita itu paham dan tahu maksud dari tatapan yang dilayangkan kekasihnya itu padanya. Dan dalam hitungan detik yang begitu singkat, tiba-tiba Edwin meraih tengkuk kepalanya lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Kalala, membuat Kalala sedikit shock, karena pacarnya itu melakukan hal ini di siang bolong, di tempat yang mungkin bisa terlihat oleh orang lain.


Namun, Kalala tidak bisa memberontak, karena saat ia ingin melepaskan ciumannya, Edwin malah semakin kuat menahan kepalanya, dan pada akhirnya Kalala pun hanya bisa pasrah, menikmati ciuman yang diberikan oleh kekasihnya.


***


Hari demi hari pun berlalu begitu saja, putaran waktu seolah berjalan dengan begitu cepat, sampai tidak terasa, hari ini Jackson sudah diperbolehkan untuk pulang, dengan beberapa persyaratakan, kalau lelaki itu masih harus cek up seminggu sekali ke rumah sakit, untuk melihat perkembangan otot tangannya yang terkena efek dari tembakan waktu itu.


“Ibu tidak akan tinggal diam! Ibu harus mencari keberadaan Akash beserta istrinya itu!” seru Asten, masih tidak terima akan kecelakaan yang menimpa Jackson—anak kesayangannya.


Jackson hanya bisa mendesah pelan. “Bu ... sudahlah, lagi pula aku bisa kembali ke sini semua itu karena Akash yang menyelamatkanku, Bu! Kalau Akash tidak menyelamatkanku, mungkin hari ini aku tidak ada di sini bersama Ibu, melainkan masih di tempat jahanman itu!” balas Jackson, cukup kesal karena sejak kemarin Ibunya terus saja mengoceh dan mengumpati Akash.


“Tidak, kau jangan terlena akan kebaikannya, Jackson! Dari dulu kau dan dia tidak akan pernah bisa menjadi saudara seutuhnya! Kalian itu berbeda, dan Ibu tidak suka kalau kau akur dengannya!” serunya, lalu pergi meninggalkan Jackson sendirian di kamarnya.


Jackson menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kebingungan, harus menasehati ibunya dengan cara apa lagi, bahkan sepertinya ibunya itu hanya bisa melihat kesalahan orang lain, tanpa berkaca pada diri sendiri.


“Ya Tuhan ... tolong sadarkan ibuku. Aku tidak tahan, jika dia terus diliputi dengan ambisinya untuk menguasai harta ayah dan juga mencelakai saudaraku. Tolong aku, Ya Tuhan ....”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2