Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Pertengkaran Level 2


__ADS_3

Cekkittt .... Mobil mendadak berhenti.


Shira membeliakkan kedua matanya, ia mengira kalau lelaki yang duduk di kemudi itu akan mengacuhkannya, tapi dugaannya salah. Edwin  malah mengikuti ucapan tuannya.


“Turun!” titah Akash dengan dingin.


“Apa?!” Ia memandang Akash tak percaya.


“Cepat turun!” Akash keluar dari dalam mobil, lalu berjalan membukakan pintu mobil untuk Shira.


Shira merengut kesal. Demi menutupi gengsi, ia pun keluar dari dalam mobil, masih dengan wajahnya yang cemberut menahan kekesalan.


“Ayo!” Akash meraih tangan Shira, menggenggamnya dengan erat.


“Tidak usah! Aku bisa keluar sendiri?” Shira pun keluar dari mobil, menepiskan lengan Akash yang menggenggamnya.


Wanita itu benar-benar tengah dibuat kesal, karena ternyata, suaminya tega melakukan hal seperti itu padanya, menurunkannya di tengah jalan. Padahal, Shira tidak benar-benar memintanya, ia hanya merajuk karena merasa malu dan kesal pada diri sendiri.


"Kau kenapa mengikutiku?! Pergilah, biar aku pulang sendiri," ucap Shira mencebikan bibirnya sambil terus berjalan menyususi trotoar.


"Kenapa dia masih mengikutiku sih!" batin Shira, saat melihat bayangan Akash masih mengikutinya di belakang.


"Stop! Akash! Jangan mengikutiku lagi!" Shira berbalik menghadap Akash memasang wajah penuh amarah.


Akash tersenyum simpul. "Sudah, jangan marah-marah mulu. Ayo." Tiba-tiba, Akash menarik lengan Shira, menggenggamnya, dan mengajaknya untuk tetap berjalan menyusuri trotoar jalanan.


"Akash, lepaskan!' rengek Shira yang tidak terima.


Akash mendesah pelan. Lalu, menoleh ke arah Shira, sambil melebarkan senyuman manisnya. “Bukankah pengantin baru sering melakukan hal ini? Jalan berdua sambil bergandengan tangan?” ucap Akash mendekatkan wajahnya dengan wajah Shira sambil tersenyum miring penuh maksud.


Shira menjauhkan kepalanya dari tatapan yang bisa mematikan. Dan tanpa menunggu jawaban dari Shira, lelaki itu langsung menariknya berjalan menyusuri trotoar di atas jembatan besar yang di bawahnya mengalir air sungai yang begitu luas.


“Akash, hentikan!” Shira menepiskan tangannya dari genggaman Akash. Ia bergeming di tempatnya, tak melanjutkan langkahnya.


Akash berbalik, menatap heran ke arah Shira. “Kenapa?” tanyanya.


“Sudah cukup! Aku tidak ingin banyak merepotkanmu lagi. Kita bukan sepasang pengantin yang serius menjalin rumah tangga. Semua ini hanya permainan, Akash!”


“Permainan?” Akash melangkah mendekati Shira dengan pelan.

__ADS_1


Shira menatapnya tegas. “Iya, bukankah kita menikah hanya karena mengikuti permainanmu, dan aku menyetujuinya karena untuk menepati janjiku padamu atas tiga permintaanmu itu!” ucap Shira membeberkan semuanya.


Shira juga sadar, kehadirannya terlalu banyak menimbulkan masalah dan tentunya merepotkan Akash. Ia tidak ingin dirinya hanya menjadi beban untuk Akash. Apalagi saat tahu kalau Akash sebenarnya anak orang kaya. Dia bukan sopir yang selama ini dikiranya, dan dia bukanlah lelaki biasa.


Mungkin wanita lain akan senang jika tahu pasangannya adalah anak orang kaya yang memiliki pengaruh besar, akan tetapi tidak dengan Shira, wanita itu malah merasa insecure, apalagi dia selalu menjadi biang masalah bagi Akash.


“Lalu? Kau ingin apa hah?” Akash menatapnya bingung.


Hening ....


Shira tidak langsung menjawab, kedua mata mereka masih saling memandang, seolah menyiratkan sebuah arti yang begitu dalam.


“Aku ingin mengakhiri semuanya," ucapnya ragu. "Lebih baik, gunakanlah sisa dua permintaanmu itu untuk memintaku agar pergi menjauh darimu,” ucap Shira.


Akash berkacak pinggang, ia membuang wajah seraya mengulum lidah. Baru kali ini ia merasakan bingungnya menghadapi sikap perempuan yang bisa saja memancing emosinya.


“Cukup Shira, aku tidak ingin membahas masalah ini! Cepat masuk kembali ke mobil!” titah Akash menarik lengan Shira, dengan mimik wajah yang berubah dingin.


“Tidak!” Shira ternyata bukanlah seseorang yang gampang, dia terlalu keras kepala.


“Shira!” Akash menatapnya dingin. “Kau bisa 'kan, tidak mencari masalah denganku?!” Akash berkata serius.


Membuat Akash yang melihatnya, merasa Shock dengan tingkah istrinya itu. Pelukan Shira terasa semakin erat, kepalaya bersandar di dadanya. Lalu Akash pun mengedarkan pandangannya, dan secara tidak sengaja, ia melihat Haris—mantannya Shira, tengah mengendarai motor mogenya secara pelan, melintasi mereka.


"Oh, jadi karena mantannya, dia memelukku seperti ini," batin Akash, tersenyum getir.


Tatapan Haris dan Akash saling bertautan. Sekarang Akash paham kalau Shira melakukannya hanya sekedar ingin bersembunyi dari mantannya itu.


Haris melambatkan laju motornya. “Siapa lelaki itu?” gumam Haris. Menyipitkan matanya, demi memperjelas penglihatannya pada Shira.


Entah kenapa, tetapi Haris merasa, ia tidak rela jika melihat mantan kekasihnya itu berpelukan dengan lelaki lain. “Sialan! Apa secepat itu dia mendapatkan lelaki lain setelah putus denganku?” gumamnya.


Tidak ingin berlama-lama melihat adegan drama Korea itu. Haris menarik pedal gas sepeda motornya dengan kencang.


Grung .... Motor mogenya melaju lebih kencang meninggalkan jalanan itu.


Setelah beberapa detik. Akash, kembali memastikan keadaan, sedangkan Shira dia masih tetap memeluknya, menymbunyikan wajahnya di dada Akash.


Akash berdecak, sambil tersenyum sinis. “Lepaskan!” ia mendorong tubuh Shira sedikit kasar, agar tubuh wanita itu bisa menjauh darinya.

__ADS_1


Shira sedikit terhenyak, saat mendapati perlakuan Akash yang cukup dirasa kasar padanya itu.


"Puas sembunyinya?!" Akash menatapnya kesal, lalu pergi meninggalkan Shira begitu saja.


Shira tercenung, ia semakin dibuat bersalah dan semakin tidak enak hati kepada suaminya tersebut.


“Akash!” teriak Shira mencoba mengejarnya, akan tetapi, Akash tetap tidak memedulikannya.


"Akash!"


***


Sudah dua hari lamanya sejak kejadian pertengkaran waktu itu, perang dingin di antara keduanya ternyata masih belum usai. Tidak ada pilihan lain bagi Shira untuk tetap  tinggal  di rumah  milik Akash.


Bahkan keamrin Tessa sempat berkunjung ke rumah, dan sore harinya Tessa pulang. Shira tidak sempat menemui ibu mertuanya tersebut, karena Shira dan Akash masih bertengkar. Bahkan saat Tessa menanyai Akash mengenai keberadaan Shira, lelaki itu hanya berkata kalau Shira sedang melakukan party bersama teman-temannya dan akan pulang malam.


Padahal yang sebenarnya, sejak pertengkaran di sisi jalan itu Shira sering menghabiskan waktunya di kampus dan di Coffe Shop, bahkan saat Coffe Shop akan tutup ia baru beranjak dari sana. Yang membuatnya terpaksa kembali ke kediaman Akash.


Dan pagi ini, setelah selesai berdandan dan bersiap untuk pergi ke kampus, Shira membuka pintu kamarnya, ia membuka pintu sedikit demi sedikiy, mengintip ke luar, memastikan keadaan, apakah ada Akash di ruang sana atau tidak. Dan saat dirasa semuanya aman, ia pun melangkah keluar.


"Yes, aman," gumamnya.


Ia tersnyum lebar, lalu menutup pintu rumah pelan-pelan, melangkah senyap dan begitu sampai di teras, ia langsung berlari menuju pintu gerbang yang jaraknya ada 50 meter di depan sana.


Meski capek, tapi ia senang bisa meloloskan diri dan pergi dari Akash, tanpa harus bertemu dengannya.


Dibalik semua itu, Akash sebenarnya tahu kalau Shira pergi meninggalkan rumah diam-diam. Saat ia turun meniti anak tangga, sambil melipat bagian lengan bajunya, matanya fokus ke arah Shira yang berjalan mengendap-endap layaknya seorang pencuri.


Bahkan saat itu, Akash juga mempercepat langkahnya. Namun, saat ia hendak berteriak memanggil Shira, Shira terlanjur berlari dengan cepat meninggalkan halaman rumah, padahal niatnya waktu itu, Akash ingin mengantarkan Shira ke kampusnya, sekaligus ingin menjelaskan siapa dirinya dan kejadian saat ia pergi di malam pengantin.


.


.


.


Bersambung...


Hayo sampai sini ada yang bisa nebak gak, siapa Akash sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2