
Hari yang paling ditunggu pun akhirnya tiba. Pagi ini, Akash dan Shira sudah berada di dalam mobil. Mereka berdua di jemput oleh Jackson berserta Baker.
Baker duduk di kursi depan bersama Jackson yang sibuk mengemudi. Sementara Akash dan Shira dia duduk di belakang berdampingan.
“Oh ya, untuk reservasi hotel di sana, aku juga sudah membooking kamar khusus untuk kalian berdua,” ucap Jackson sambil fokus menyetir membelah jalanan, menuju Bandara.
“Hm, terima kasih,” ujar Akash dengan dingin.
“Nanti, kalau kalian ada apa-apa, kalian bisa menghubungiku saja,” ucap Jackson menawarkan.
“Hm, terima kasih,” jawab Akash dengan simple.
Sedari dulu Jackson dan Akash memang tidak pernah akur, mereka kerap kali diam-diam berperang dingin tanpa sepengetahuan Baker.
Jackson si tukang mencari muka itu, kerap kali menunjukkan kepeduliannya kepada Akash di hadapan Baker. Maka dari itu, Baker masih mempercayakan segala sesuatunya kepada Jackson, termasuk destinasi honey moon saat ini untuk Akash.
Namun, dalam beberapa hari terakhir ini, Baker pernah memergoki Jackson yang tengah menelepon dengan seseorang secara tidak sengaja.
*Flash back on**
Jadi malam itu, Baker ingin meminta bantuan Jackson untuk menggantikan dirinya rapat mingguan di kantor. Namun, saat ia masuk ke dalam kamar Jackson saat itu posisi Jackson tengah berada di balkon.
“Bagaimana apa kau ingin menerima tawaran dariku.” Kalimat itu lah yang terdengar di telinga Baker.
Baker yang penasaran pun ia sengaja untuk menguping pembciaraan anaknya itu.
“Baguslah, untuk masalah biaya operasi adikmu itu hal yang gampang. Dan aku menyetujui syarat darimu, kau tenang saja, jika kau berhasil kau tidak akan sampai masuk ke penjara,” ucap Jackson menyeringai tajam.
“Apa yang sedang direncakan oleh anakku ini?” batin Baker masih terus menguping.
“Lusa mereka akan ke Kanada, kau pun sama akan aku kirim ke sana. Jadi pastikan kalau kau harus menjalankan semuanya sesuai tawaranku waktu itu.” Suara Jackson kembali terdengar, membuat kedua mata Baker langsung membeliak dengan hebat.
“Kanada? Siapa yang sebenarnya Jackson telepon. Dan siapa yang dimaksud mereka oleh Jackson? Apa mungkin mereka itu adalah Akash dan istirnya?” batin Baker begitu bimbang.
Jackson mengakhiri obrolannya dan mematikan ponselnya. Lalu dia bergumam sendiri.
“Ahahaha, kesalah pahaman memang hal utama untuk merusak kepercayaan, apalagi kalau dia yang salah paham dengan istrinya, sudah aku pastikan ia akan mengakhiri hubungannya dengan perempuan itu, dan dengan begitu perjanjian ayah dengan dia pasti akan dibatalkan, ah ha ha ha ha.” Jackson tiba-tiba terbahak sendirian membayangkan bagaimana rencana yang diinginkannya itu berjalan lancar.
Akan tetapi, sangat disayangkan Baker tidak dapat mendengar dengan jelas gumaman dari Jackson, karena suara anaknya itu terlalu pelan.
Dan Baker pun memilih untuk memundurkan langkahnya, lalu setelah mundur sampai ke ambang pinut masuk, Baker langsung berteriak memanggil nama Jackson dengan cukup keras.
Jackson yang tengah ada di balkon itu langsung menyahut dan menghampiri ayahnya dengan perasaan gugup.
“Sial! Sejak kapan dia ada di sini?” gumam Jackson sedikit terkejut.
“Iya, Ayah ada apa?”
“Apa lusa kau sibuk?” tanya Baker serius.
Jackson mengangguk pelan. “Emh, tidak juga, memangnya kenapa, Yah?”
“Kalau begitu tolong gantikan ayah meeting lusa dengan para manager dan direktur perusahaan, bahas lah sesuai arahan dan power poin yang akan ayah berika padamu,” jelas Baker.
“Oh, baiklah Ayah, siap,” jawabnya sedikit gugup, karena takut kalau ayahnay itu akan mengetahui pembicaraannya tadi.
*Flash back off**
Kini mereka semua pun sudah sampai di bandara, Akash dan Shira pun berpamitan terlebih dahulu kepada Baker.
“Kalian hati-hati di sana ya,” ucap Baker dengan suara yang cukup terdengar tegas penuh penekanan.
“Ingat! Habiskan waktu kalian bersama-sama, saling menghargai dan jangan terlalu sering bermain handphone,” lanjut Baker menasehati.
Itu bukan sembarangan nasehat. Tetapi ada maksud dan tujuan tertentu dari perkataannya itu yang hanya dipahami oleh Akash.
“Baik, Ayah,” jawab Akash dan Shira bersamaan.
“Hm, baguslah. Kalian cepatlah check in, jadwalnya sudah mepet.”
Akash dan Shira pun memeluk Baker secara bergantian, meski sebenarnya Shira merasa kaku dan kurang nyaman jika dipeluk oleh mertuanya itu.
__ADS_1
Tidak lupa, Shira juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada mertua serta saudara iparnya itu.
“Tuan Jackson, terima kasih sudah membantu dalam mengurus keberangkatan kita,” ucapnya dengan ramah dan sopan.
“Hm sama-sama, sudah tugasku untuk membantu kalian. Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan mendapatkan kesan,” ucap Jackson menekanakan kata ‘kesan’. Seolah menyiratkan sesuatu hal.
Setelah itu, Akash dan Shira pun segera pergi untuk check in. Sementara itu, dua pengawal dan dua pelayan sudah menunggu di dalam kapal. Baker menambahkan orang yang akan melayani mereka menjadi empat orang, itu sudah sesuai dengan apa yang diminta oleh Akash, yaitu dua pengawal laki-laki, dan dua pelayan wanita.
Semua itu Akash minta semata-mata untuk menjalankan rencananya di tempat transit nanti. Namun, sebenarnya ia pun masih bingung karena hingga saat kepergiannya ini, Baker tidak memberikan kode apapun.
Dan kini Akash, Shira dan keempat pelayan dan pengawalnya itu sudah berada di dalam pesawat, lebih tepatnya ada di VVIP Room.
Baker sengaja tidak menyewakan jet pribadi kepada mereka, karena kalau langsung menyewa jet pribadi untuk Akash beserta pelayannya itu, akan sedikit sulit bagi mereka untuk bisa menjalankan misinya.
Dan saat ini, pesawat pun sudah dalam keadaan take off. Dan di saat seperti ini lah, ketakutan menyelimuti Shira.
Ia memegang erat pergelangan Akash, karena entah kenapa setiap pesawat akan take off atau landing, Shira merasakan hal yang sangat tidak nyaman.
Akash sekuat tenaga menahan rasa sakit di pergelangan tangannya akibat dari remasan tangan Shira yang semakin lama semakin terasa kuat dan menyakitkan.
“Tenanglah, Shira, pesawatnya sudah mulai terbang normal,” ucap Shira, saat proses take off sudah selesai.
Shira yang sejak tadi memejamkan matanya dengan kuat, perlahan ia pun membuka matanya, seiring dengan genggaman tangannya yang mulai melemas.
Akhirnya ia bisa kembali bernafas lega. Ini memang cukup mendebarkan jantungnya dan saat ia sadar akan tangannya yang masih bertumpu di lengan Akash, ia punbegitu terkejut melihat pergelangan tangan Akash yang sudah memerah akibat genggamannya.
“Ya ampun, Akash!” Shira memandangnya sendu, dengan perasaan yang tidak enak hati.
“Akash, maafkan aku, a-aku—”
“Sudah, tidak apa-apa, aku paham akan rasa takutmu itu,” ucap Akash tersenyum, meski sebenarnya pergelangan tangannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
“Tapi Akash, tanganmu jadi merah gara-gara aku. Apa ini sangat sakit?” tanyanya cemas.
Akash pun tersenyum melihat kecemasan di mata Shira, di mana kecemasan itu hanya tertuju untuknya seorang.
“Sangat,” jawabnya simple. Membuat Shira semakin tidak enak hati.
“Ya Tuhan, terus aku harus bagaimana? Aku tidak tahu cara mengobatinya,” ucap Shira dengan mimik wajah yang semakin terlihat cemas, tapi menggemaskan di mata Akash.
“Hm, baiklah, aku siap, aku akan membantumu sebagai pengganti tanganmu ini,” ucap Shira, ia pun meraih lengan Akash yang tampak memerah itu dan mengusap-usapnya sambil meniup-niupnya pelan.
Akash tersenyum melihatnya, dan selagi seperti itu, tiba-tiba pikiran jahilnya mulai kembali on.
***
Sementara itu, kini di kampus tempat Shira kuliah, Edwin tengah kebingungan karena pagi ini di tugaskan oleh Akash untuk mengurus izin Shira.
“Waduh, bagaimana ini? Siapa orang pertama yang harus aku hubungi di kampus ini. Semua orang di sini tampak sibuk dengan urusannya masing-masing,” gumamnya begitu ia memasuki kawasan kampus dan baru turun dari mobilnya.
Sungguh, Edwin tidak tahu ruangan apa dan kepada siapa ia harus mengurus izin Shira ini.
Edwin pun mencegat seorang mahasiswa yang tengah berlalu lalang di area parkik.
“Maaf Mas, saya mau tanya, kalau ngurus izin mahasiswi harus datang ke siapa ya?” tanya Edwin.
“Oh, langsung sama dosen kelas saja, Om,” jawab mahasiswa itu lalu buru-buru dia pergi meninggalkan Edwin sendirian di sana.
“Dosen kelas? Tapi aku kan gak tahu dosen kelas Shira siapa,” gumamnya kebingungan.
“Aduh! Gimana sih ini. Lagian kenapa sih tuanku ini suka banget ngasih tugas berat dadakan. Mana enggak dikasih info tambahan apapun lagi,” gerutunya, merasa pusing akan tugasnya ini.
Karena seumur-umur, Edwin saat kuliah dulu ia tidak pernah bolos meski pun satu hari, bahkan ia juga tidak pernah izin. Meski ia sedang sakit, selagi bisa berjalan dan menulis ia pasti akan tetap berangkat kuliah, makanya ia sama sekali tidak berpengalaman dalam soal meminta izin seperti ini.
Dan di saat seperti ini, kebaikan Tuhan seolah tengah berpihak padanya.
Kedua netranya kini terfokus ke arah seorang wanita yang dikejauhan sana tengah berjalan, memeluk buku-buku di dadanya. Siapa lagi kalau bukan wanita berkaca mata yaitu Kalala.
“Akhirnya ada cewek galak itu lagi,” gumam Edwin.
Edwin pun segera berlari mengejar Kalala yang waktu itu malah belok melewati gedung lain.
__ADS_1
“Hey, kau tunggu!” teriak Edwin dari kejauhan mencoba mengejar Kalala yang semakin berjalan jauh darinya.
“Hey, tunggu!” teriakan Edwin membuat beberapa orang yang tengah berjalan menengok padanya. Akan tetapi teriakan itu bukan ditujukan kepada mereka, melainkan hanya untuk Kalala seorang.
Dasar memang Kalala, dia tidak akan menengok jika bukan dipanggil namanya.
“Hey, Nona galak!” Edwin semakin mempercepat langkahnya.
Sebagian mahasiwi-mahasiswi kampus begitu terpesona melihat seorang lelaki berbadan perfect dengan tinggi yang sangat pas itu, apalagi meliahat wajah cool Edwin, tidak sedikit para wanita yang melihatnya langsung berbisik-bisik memuji ketampanan dan kegagahan Edwin.
“Siapa sih itu? Kok ganteng banget.”
“Iyah ih, siapa sih dia? Tiba-tiba ada di sini. Duh kalau dia mahasiswa baru di sini pasti bakalan banyak fansnya.”
“Gila gagah banget tuh cowok!”
Begitulah kira-kira wanita-wanita yang terpesona membicarakan Edwin.
Edwin masih berusaha mengejar Kalala, hingga akhirnya ia berhasil menarik lengan Kalala, membuat Kalala yang mendapat sentuhan itu langsung terkejut dan dengan refleks ia malah menyikut orang yang memegangnya. Dan sikutan itu tepat mengenai perut Edwin.
“Argh!”
“Siapa kau berani—” Kedua mata Kalala langsung membelalak sempurna saat tahu kalau lelaki yang memegang lengannya itu adalah Edwin.
“Kau?!” pekiknya.
“Aw... perutku,” ringis Edwin. Ini untuk pertama kalinya ada seseorang yang berhasil membuatnya merasa kesakitan dalam satu kali serangan.
Entah bagaimana, tapi jurus sikut yang Kalala lakukan tadi, begitu membuat lambung dan empedu Edwin mersakan sakit yang luar biasa.
“Parah ya kamu. Bisa-bisanya nyerang aku begitu saja,” ucap Edwin membungkukan badannya.
“Ya lagian,kamu juga tiba-tiba maen pegang-pegang lenganku, aku kan jadi refleks!” sangkal Kalala tidak mau disalahkan.
“Aduh! Bukannya ditolongin malah ngomel nyalahin!” Kali ini suara Edwin cukup terdengar keras karena kesal.
Kalala yang kebingungan, ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan pelan.
“I-iya sini aku bantuin, ayo duduk di sana,” ucap Kalala meraih tangan Edwin dan menggandengnya membawanya ke sebuah bangku yang terdapat di sisi taman.
Sementara itu, kini pandangan orang-orang tertuju pada mereka berdua.
“Hey, siapa tuh cowok yang bareng sama si culun?”
“Gak tahu, siapa ya dia? Kok bisa sih cowok ganteng gitu duduk bareng cewek culun kayak si Kalala.”
“Mengiri banget deh, cewek culun kayak dia bisa duduk sebelahan sama cowok ganteng dan gagah kayak gitu.”
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1