Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Perginya Akash


__ADS_3

“Kandungannya bagus, janinnya juga lincah. Tapi kalau memang ingin pergi ke suatu tempat menaiki hellikopter, boleh-boleh saja, asal Ibunya rileks ya, jangan sampai stress atau tegang,” ucap Dokter yang tengah memeriksa kandungan Shira.


“Jangan lupa juga, untuk makan teratur dan selalu minum vitaminnya ya,” lanjutnya.


“Syukurlah kalau begitu, terima kasih Dok,” ucap Akash begitu senang. Dokter itu mengangguk menebarkan senyumannya.


Dan setelah pulang dari Dokter kandungan, Shira terlebih dahulu meminta kepada Akash untuk membelikannya tahu gejrot, karena sudah lama sekali ia tidak makan tahu gejrot kesukaannya yang ada di depan kampus.


“Tahu gejrot? Ed, kamu tahu emang makanan apa itu?” tanya Akash, yang merasa sedikit aneh mendengar nama makanan tahu gejrot.


“Emh, tidak tahu, Tuan. Tapi, kalau Nona Shira menunjukkan tempatnya, nenti biar saya yang belikan,” ucap Edwin yang tengah menyetir di depan.


***


Kini mereka bertiga pun sudah samping kampus tempat Shira kuliah dulu, di sana berjajar beberapa penjual yang memakai roda.


“Tuan Edwin, itu yang di dekat pohon beringin ya. Beli aja 5 cup,” ucap Shira.


“Baik, Nona.” Edwin pun turun dari mobil, semntara Akash dan Shira berada di dalam mobil.


“Sayang, kok jajajnnya yang di pinggir jalan begini sih, kalau makanannya terkontaminasi dengan polusi gimana? Bahaya juga ‘kan buat bayi kita,” ucap Akash, yang memang sedikit over protektif.


“Enggak gitu juga, Sayang. Kan aku makannya juga jarang-jarang, lagian tukang tahu gejrotnya juga higienis kok, suka pakai sarung tangan bikinnya.”


“Iya, tapi ‘kan ....”


“Udah, dari pada anak kita nantinya ngeces, emang kamu mau? Lagian, nanti kalau kita udah pindah ke tempat rahasiamu itu, kapan lagi aku bisa makan tahu gejrot favotiteku ini,” ucap Shira.


Akash terdiam sejenak, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh istrinya barusan. Nanti di tempat baru mereka, pasti tidak akan ada makanan-makanan seperti ini lagi. Dan tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu.


“Sayang, kalau begitu gimana kalau hari ini kita beli makanan yang kamu mau. Aku takut, nanti kalau kita sudah pindah, kamu ngedadak ngidam yang enggak-enggak lagi, ‘kan nanti di sana susah nyarinya,” usul Akash.


Shira terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. “Enggak usah, Sayang. Dari kemarin aku cuma mau tahu gejrot aja kok. Nanti juga di tempat baru kita, aku enggak bakalan ngidam yanng aneh-aneh kok,” imbuhnya mengusap pelan pipi Akash, sambil menatapnya penuh cinta.


Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya Edwin pun datang, menenteng empat keresek yang berisi 5 cup tahu gejrot.


“Yang ini ‘kan, Nona?” Edwin menyerahkan kantong tersebut setelah memasuki mobil.


Shira mengambilnya penuh semangat. “Yup betul, makasih Tuan Edwin,” ucapnya begitu manis.


“Ya ampun, Sayang. Makanan seperti ini kamu beli 5 cup begini? Ini pasti pedas ‘kan?” Akash terkejut melihat lima gelas cup tahu gejrot itu.


“Ya enggak lah, akan aku kasihkan kepada Ibu satu, Kalala satu, dan untuk aku tiga,” ucapnya begitu manja. Akash hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.


Sementara Edwin, lelaki itu tiba-tiba teringat lagi akan kekasihnya saat Shira menyebutkan nama Kalala barusan.


Selagi melajukan mobil untuk pulang, Edwin kembali memikirkan perdebatannya semalam dengan Kalala, yang membuat mereka dari pagi hingga sekarang tidak bertegur sapa.


“Kenapa sih, dia keras kepala banget, kenapa dia harus ikut segala. Padahal, kalau alasannya hanya karena uang, aku bisa memberinya sesuai yang diberikan Tuan Akash padanya,” batin Edwin merasa gundah.


“Selagi di sini, manfaatkan waktu, mau jajan yang banyak, mau ketemu orang-orang tersayang, mau ini, mau itu, kita harus bisa memaksimalkannya, Sayang.” Tiba-tiba, ucapan Shira barusan begitu mengena di telinga Edwin.


Shira yang sejak tadi tengah mengobrol dengan suaminya itu, tiba-tiba ditengah perbincangannya dia mengatakan hal seperti itu. Membuat pikiran Edwin sedikit terbuka, apalagi saat mengingat kata ‘orang tersayang’.


“Sadarlah, Edwin. Apa yang dikatakan oleh Nona Shira itu benar, kamu harus bisa memanfatkan waktu, aku harus bisa menghabiskan waktu bersama orang tersayang, dan itu adalah kekasihku sendiri. Aku harus minta maaf kepada Kalala untuk masalah tadi malam, ya, aku harus mengajaknya berbaikan. Tidak mungkin, hari terakhir kita bersama aku menyia-nyiakannya begitu saja,” batinnya.


Sesampainya di rumah, Shira bergegas menemui mertua serta sahabatnya.


“Kalala, Ibu, aku bawa tahu gejrot buat kalian,” ucap Shira begitu semangat.

__ADS_1


Tessa dan Kalala yang tengah asyik menonton TV itu langsung menoleh ke arah Shira.


“Wah, tahu gejrot di kampus kita bukan, Shir?” tanya Kalala begitu semangat.


“Iya dong. Ini.” Ia memebrikannya satu cup kepada Kalala, lalu satu cup lagi kepada Tessa.


“Ibu harus mencobanya, ini adalah tahu gejrot terenak sejagat raya di dunia ini,” imbuhnya hyperbola.


Tessa terkekeh, lalu menerima satu cup tahu gejrot itu dari tangan Shira.


Saat pandangan Kalala dan Edwin tidak sengaja bertemu, tiba-tiba Kalala langsung membuang wajahnya, masih merasa kesal karena semalam Edwin menyentaknya. Kalala tahu, Edwin menyentaknya karena tidak sengaja, tapi tetap saja, wanita ini sepertinya masih sangat kesal kepada kekasihnya itu.


“Kalala,” panggil Edwin pelan, tapi Kalala tidak menoleh sedikit pun, pura-pura tidak mendengar.


Akash dan Shira yang mendengar panggilan Edwin, mereka saling memandang satu sama lain.


“Kenapa mereka?” tanya Akash berbisik, yang duduk di samping Shira.


“Sepertinya mereka sedang marahan,” balas Shira berbisik.


“Kal ... Kalala,” panggil Edwin, masih berusaha.


Tessa yang sadar kalau Edwin memanggil-manggil Kalala, ia pun langsung menegur Kalala dan memberi tahukan kalau Edwin memanggilnya.


“Nak, Kalala itu, Nak Edwin manggil kamu.”


“Hah?” Kalala menoleh seolah baru tahu.


“Tuh, dipanggil sama Nak Edwin,” ucap Tessa kedua kalinya.


“Oh, iya, maaf tidak dengar,” jawabnya tersenyum sopan kepada Tessa, ia pun menoleh ke arah Edwin tanpa berkata apa-apa, dan masih memasang wajah ketusnya.


“Aku ingin berbicara denganmu,” pinta Edwin.


Kalal pun bangun dari duduknya, lalu pergi mendekati Edwin.


“Ngomong apa?” tanyanya ketus, melipat kedua tangan di dada.


Tanpa menjawab, Edwin langsung menarik lengan Kalala dan membawanya ke taman belakang, yang di mana, di sana tidak ada siapa-siapa.


“Lepaskan Ah!” seru Kalala.


“Kal, aku mau minta maaf,” ucap Edwin pasrah saat wanita itu melepaskan tangannyap.


“Terus?” tanyanya masih membuang wajah tidak mau melihat Edwin.


“Kalala ... aku benar-benar ingin minta maaf. Aku tahu, semalam aku salah karena sudah menyentakmu, t-tapi aku begitu karena aku benar-benar khawatir sama kamu.”


Kalala masih diam tidak memberikan tanggapan apapun.


Edwin menatap waniat yang memeblakanginya itu dengan tatapan sendu dan pasrah. “Aku akan mengizinkanmu pergi dengan mereka. Tapi, aku mohon, maafkan aku, Kal. Aku tidak ingin di hari terakhir kita ini, kamu pergi dalam keadaan marah padaku, aku benar-benar minta maaf, Kal.”


Hati Kalala sedikit tersentuh mendengarnya, ia pun berbalik menghadap Edwin.


“Iya, ya udah, aku maafin kamu,” jawabnya mencebikkan bibirnya.


Sekilas senyuman manis kini tersemat di wajah tampan Edwin, lelaki itu tiba-tiba merentangkan kedua tangannya, berharap Kalala akan memeluknya.


Tapi ternyata, mendapat pelukan dari Kalala memang tidaklah mudah.

__ADS_1


“Jangan meluk-meluk! Baru juga baikan!” ucap Kalala malu-malu, sebenarnya mau.


“Yakin, kamu enggak mau meluk aku?” Edwin masih merentangkan kedua tangannya.


Kalala tersenyum mesem, sambil memainkan jari-jemarinya, karena gerogi.”


Karena Kalala tidak juga mendekat, akhirnya Edwin lah yang memeluk tubuh mungil gadis itu. Membuat Kalala yang senang tapi malu itu, langsung mencubit sedikit perut Edwin dengan jahil.


“Aw!” ringis Edwin, saat sakit nyelekit itu datang padanya dalam sekejap.


“Selain pelukan, aku kasih kamu bonus cubitan” jawab Kalala terkekeh. Kini kedua sejoli yang awalnya marahan itu sudah berbaikan, dan keadaan yang awalnya dingin menyejukkan kini berubah romantis dan saling menghangatkan.


Saat malam tiba, semua keperluan yang akan dibawa menuju tempat rahasia itu sudah dikemas, dan sebagian sudah diangkut menggunakan mobil oleh salah seorang anak buah Akash yang akan ikut pergi ke sana juga.


“Ed, kamu dan Kalala berangkat pakai hellikopter yang kedua ya, aku dan Shira akan pergi duluan. Ingat, jangan sampai ada orang yang tahu soal kepergian kita ini. Termasuk ayahku dan juga Jackson, apalagi Tante Asten, jangan sampai wanita tamak itu tahu soal ini.”


“Baik, Tuan.”


“Oh iya, untuk kedepannya kamu lakukan pekerjaannmu sesuai yang aku bilang waktu itu. Dan ingat, untuk beberapa hari ini, rumah ini harus dikosongkan, kau tinggallah dulu di apartemenmu untuk beberpa minggu,” ucap Akash.


Edwin kembali mengangguk mengiyakan. Lalu setelah itu, Tessa, Akash dan Shira pun pergi memasuki mobil. Dan mobil pun pergi meninggalkan halaman rumah tersebut.


Kini tinggalah hanya Edwin dan Kalala yang ada di sana. Semua pelayan di rumah juga sudah pergi sejak sore. Mereka berdua tengah menunggu jemputan kedua.


Pintu rumah sudah di kunci, kini rumah megah dan mewah itu tampak begitu sepi. Tapi memang setiap malam pun rumah ini akan tampak sepi jika hanya dilihat dari luar.


Edwin dan Kalala mendudukan tubuh mereka di anak tangga, teras rumah. Keduanya tengah menikmati indahnya langit malam yang penuh bintang.


“Nanti, kalau kangen aku di sana, tahan dulu kangennya ya,” ucap Edwin, menatap Kalala penuh cinta.


Kalala yang tengah menahan dagu dengan telapak tangannya itu, ia langsung menoleh sambil tersenyum.


“Kamu juga, kamu tahan dulu kangennya ya. Kalau mau, liatin aja foto aku pas sama kamu,” ucap Kalala.


Edwin mengusap puncak kepala kekasihnya itu dengan lembut. “Iya, tapi ... sepertinya rindu aku sama kamu akan semakin berat kalau kita jauhan,” jawab Edwin mencebikkan bibirnya.


Keduanya saling memandang satu sama lain, perlahan demi perlahan Edwin memajukkan wajahnya mendekati wajah Kalala.


Kalala yang sudah tahu niat kekasihnya itu, ia tersenyum malu, lalu memejamkan matanya pelan dan kecupan hangat di bibir pun kini terasa, menggetarkan hati dan jiwa. Jantung keduanya saling berdetak kencang, meski ini adalah ciuman ketiga antara mereka, tapi debaran itu masih tetap ada.


Selagi saling memberikan ******* dan menghangatkan jiwa di tengah malam yang dingin seperti ini, tiba-tiba kilauan lampu di depan sana, langsung membuat keduanya saling melepaskan ciumannya.


Keduanya terkejut saat mendapati ada mobil yang tengah melaju ke arah mereka.


Edwin langsung bangun, dan menarik koper Kalala yang ada di dekatnya.


“Mo-mobilnya sudah datang,” ucap Edwin begitu gugup, dan akward, membuat keadaan di antara keduanya jadi berubah canggung.


Kalala mengangguk pelan, menundukkan wajahnya.


Mobil itu pun berhenti tepat di depan mereka. Namun, begitu sang penyetir keluar, ternyata itu bukanlah sopir yang mereka tunggu, melainkan itu adalah sesosok lelaki lain yang sudah tidak asing di mata mereka.


“Loh, Jackson!” pekik Edwin begitu terkejut.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Ini belum tamat ya, masih ada beberapa bab lagi. Bentar lagi tamat kok hehe.


__ADS_2