
Pagi ini anak-anak di kampus digegerkan oleh kabar terbaru dari Luna. Setelah beberpa minggu ia tidak masuk kelas, ternyata dua hari sejak gegernya video pertengkaran dan pengakuan Luna tentang hamilnya itu, orang tua Luna langsung mencabut anaknya dari kampus, dan akan dipindahkan ke luar negri.
Serta usut punya usut, orang yang menyebarkan video itu adalah Boy. Dan pagi ini pun Haris dikejutkan oleh pengakuan Boy, kalau semua hal itu ada sangkut pautnya dengan Shira.
“Shira?” Haris menautkan kedua alisnya merasa tidak percaya.
Boy mengangguk, menatap sinis. “Hm, gue minta maaf, gue lakuin semua ini karena masalah gue sama Shira nyangkut nyawa adik gue, Ris,” tutur Boy menjelaskan.
“Tapi, siapa yang nyuruh lo buat ngelakuin semua ini?”
“Siapa lagi, kalau bukan orang yang benci sama Shira. Udah, gue cabut dulu, gue ngejelasin biar lo ga salah paham sama Shira, gue juga minta maaf karena udah nyebarin kabar lo sama Luna.”
Haris masih begitu kesal atas pengakuan dari Boy. Ia tidak menyangka, kalau anak baru itu tega membuat ulah dengannya.
“Tunggu!” Haris mengepalkan erat kedua tangannya berancang-ancang untuk meluapkan emosinya.
Dan saat Boy berbalik.
Bugh! Bugh!
Dua pukulan berhasil mendarat di wajah Boy. Lelaki itu tersungkur, dengan hidung yang mengeluarkan darah.
Boy mengusap darah yang mengucur dari lubang hidungnya itu. Ia menoleh kepada Haris.
“Ini balasan dari gue, karena lo udah berani nyebarin aib gue dan pacar gue!” serunya kemudian berlalu meninggalkan Boy yang masih terdiam di atap gedung.
Boy menyadari kesalahannya, ia hanya bisa meringis menahan sakit di hidungnya. Namun, ia merasa lega, karena rasa bersalah yang selama ini menyelimutinya, setidaknya berkurang dengan pukulan yang diberikan oleh Haris padanya.
Ia mengaku, jika menjalankan hal-hal berbahaya seperti ini resikonya terlalu tinggi. Dan sebenarnya, yang menyuruh Boy untuk mengerjai Haris dan Shira waktu itu adalah Asten. Asten berpikir, kalau Shira membuat keributan di kampus, pasti dirinya akan dikeluarkan. Namun nyatanya, bukan Shira yang menjadi fokus utama kasus di kampus, melainkan kasus Haris dan Luna.
Dan Boy pun memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Asten. Ia tidak ingin dirinya terikat dengan orang-orang keji seperti itu. Yang terpenting sekarang, ia sudah bebas dari teror Asten yang selalu memintanya untuk mencelakai Shira. Dan ia juga sudah berhasil menyembunyikan adiknya di tempat aman, yang jauh dari jangkauan orang-orang susurhan Asten.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Shira dan Kalala masih asyik menonton TV bersama.
Sudah dua hari ini, Kalala tinggal bersama Shira atas perintah Akash, yang terlalu mengkhawatirkan keadaan Shira, karena entah kenapa setiap pulang dari kampus, Shira pasti meriang dan tubuhnya panas. Untuk itu, Akash pun meminta Kalala untuk menemani Shira dan ia akan tetap memberi upah kepada Kalala.
“Kal, kayaknya malam-malam begini, enak ya kalau makan bakso lobster,” ucap Shira penuh maksud, sambil senyum-senyum seolah meminta Kalala untuk menuruti permintaannya.
__ADS_1
“Nah-nah-nah ... mulai lagi deh minta yang enggak sehat!” Kalala mendelik. “Shira, kamu ini kurang sehat, enggak baik kalau makan yang begitu.”
Shira malah merengek manja. “Tapi aku pengeeen... emang kamu gak mau?” godanya.
“Enggak! Udah aku bikinin es buah aja ya,” bujuk Kalala.
“Aku maunya yang pedes-pedes, pengennya bakso bukan es buah!”
“Please... Kalala, kali ini aja ya,” pinta Shira memelaskan wajahnya.
Kalala mendengus pelan. Ia tidak bisa melawan permintaan sahabatnya itu. “Ya udah, tapi di bening aja ya, jangan pake sambel.”
“Yah, enggak bakalan enak dong, Kal.”
“Ya udah kalau enggak mau.” Kalala sok jual mahal.
Akhirnya Shira pun menyerah dan meminta Kalala untuk memesankan bakso lobster bening tanpa sambel.
Setelah memesankan makanan keinginan Shira lewat aplikasi pengantar makanan. Kini mereka berdua pun kembali fokus menonton drama Korea yang sejak dua jam lalu diputarnya.
“Kal, jadi gimana? Keputusan kamu sama Jackson?” tanya Shira yang sejak beberapa hari lalu kepo akan masalah sahabatnya itu.
Kalala terdiam beberapa saat, menarik nafas lalu mengembuskannya pelan. “Entahlah, aku masih belum membuat keputusan,” jawabnya seolah malas.
“Tawaran yang diberikan tuan Jackson memang cukup banyak. Tapi aku pun takut, Shir.” Kalala menatap Shira begitu sayu.
“Takut kenapa?”
“A-aku takut ... kalau kedepannya akan sangat serius.”
“Memang akan jadi serius,” jawab Shira dengan lantang.
“Tapi ....” Kalala tampak bingung.
“Kal, dengarkan aku ....” Shira memegang erat sebelah tangan Kalala. Memandangnya dengan serius dari mata ke mata.
“Aku tahu, kamu pasti tergoda dengan tawaran uang yang diberikan Jackson pada kamu. Tapi, sebaiknya kamu pikirkan kembali, apa kamu siap masuk ke dalam lingkup keluarganya? Apa kamu siap dengan sikap ayah dan ibunya Jackson? Dan apa kamu siap, jika seandainya kelak kamu menaruh hati kepada Jackson tapi dia tidak membalas perasaanmu?”
Hening, Kalala hanya terdiam, memikirkan perkataan Shira.
__ADS_1
“Aku berbicara seperti ini agar kau bisa lebih mementingkan kebahagianmu lagi, Kal. Tanya hatimu, apa kah kamu yakin dengan keputusan yang akan kamu buat?” tanya Shira.
“A-aku ....” Kalala bingung, entah harus menjawab apa, karena ia pun tahu, jika ia setuju dengan tawaran Jackson, tentu ia pun harus menyiapkan mental yang sangat kuat. Tapi di sisi lain, ia juga sangat membutuhkan uang yang cukup banyak untuk perawaran mamanya, belum lagi untuk biaya kuliahnya.
“Kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku. Kamu hanya perlu meyakinkan dirimu saja, Kal,” ucap Shira tersenyum begitu hangat pada Kalala.
Kalala pun mengangguk mengiyakan.
Ting tong ....
Bel rumah membuyarkan senyuman di antara keduanya. Kalala menoleh sekilas ke belakang.
“Sepertinya, tukang grabnya udah datang.” Kalala pun bergegas untuk membukakan pintu rumah.
Kalala memberikan beberapa lembar uang lebih kepada pengantar bakso tersebut.
“Kembaliannya buat, Bapak aja.”
Bapak setengah baya itu pun tersenyum senang. “Makasih ya, Non.”
“Iya, Pak, sama-sama.”
Kini mata Kalala tertuju pada lampu mobil yang menyinari area pekarangan rumah.
Hatinya berdebar, ia menyembunyikan kantung berisi bakso itu kebelakang punggungnya.
“Kenapa bisa pulang lebih cepat sih,” gumam Kalala panik, karena ia tahu, Akash pasti akan marah kalau tahu dirinya membelikan istrinya itu bakso.
Tampak Edwin keluar dari mobil, lalu membukakan pintu mobil belakang untuk tuannya.
Saat melihat Akash, buru-buru Kalala membalikkan badannya hendak pergi dari sana. Sementar itu, si Bapak pengantar bakso sudah melajukan kembali motornya.
“Siapa bapak itu?” gumam Edwin dalam hati.
“Kalala!” teriak Akash saat Kalala hendak pergi masuk ke dalam rumah.
“Duh! Gawat!” Kalala terpaku dalam kepanikannya.
__ADS_1
Bersambung...
Assalamu'alaikum semuanya, maaf ya kemarin enggak update. Kalau boleh, yang masih punya kupon buat vote, Bantu vote dulu ya mentemen bair authornya makin semangat hehe... makasih yang selalu hadir dan baca ceritaku, author sayang kalian semua.