Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Menyambut Kepulangan Akash


__ADS_3

Maaf di bab sebelumnya ada kesalahan uplaod, tapi udah author perbaiki, silakan yang mau baca ulang biar nyambung ya.


***


Edwin kebingungan, entah haru ke mana ia mengantarkan gadis yang terbaring tidak sadarkan diri itu. Apakah ia harus mengantarkannya ke kost-annya? Atau mengajaknya pulang ke apartemennya.


“Tapi, jika aku membawa dia ke kost-annya pasti orang-orang di sana akan curiga, apalagi pakaian dia saat ini sangat tidak layak,” pikirnya. Melirik bayangan Kalala di dalam kaca spion.


Akhirnya saat di pertigaan lampu merah, ia pun memilih untuk membelokkan mobilnya ke arah apartemennya. Ia pun semakin mengencangkan laju mobilnya.


Dan kini, Edwin sudah sampai di apartemen miliknya. Apartemen yang terbilang cukup elite di kawasan tersebut.


Ia menggendong Kalala di punggungnya, karena jika ia membawanya dengan cara memangku di kedua tangannya, itu tidak mungkin, apalagi baju Kalala yang sudah tercaik-cabik itu.


Ia memasuki lift, menekan tombol 7 B dan setelah beberapa saat, ia pun sampai di lantai yang ia tuju. Lift pun terbuka, Edwin langsung keluar dan bergegas pergi menuju unit miliknya. Ia membuka pintu apartemen miliknya.


Dan membawa Kalala ke kamarnya. Lalu membaringkannya di atas kasur empuk miliknya.


Akhirnya, setelah melewati hari-hari yang cukup berat, Edwin bisa beristirahat mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


Ia mengelap keringat di dahi menggunakan punggung tangannya. Lalu memandangi wajah Kalala yang sepertinya dari pingsan, lanjut ke tidur.


Edwin pun berpikir bagaimana cara mengganti pakaian Kalala? Apakah dirinya harus menggantinya? Atau membiarkannya saja.


Ia tidak mungkin meminta bantuan kepada tetangga unit sebelah untuk urusan ini. Lagi pula ini sudah lebih dari tengah malam, hanya dalam hitungan tiga jam lagi, mentari pagi pasti akan segera muncul.


“Sudahlah, biarkan saja dia seperti ini, lagi pula kalau aku memaksakan mengganti pakaiannya, yang ada saat dia bangun di ngamuk sama aku lagi,” gumamnya lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk memebrsihkan diri.


***


Esok harinya, Shira dan Akash sudah sampai di bandara international Soekarno Hatta. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 24 jam dari Paris-Jakarta itu benar-benar menguras waktu dan tenaga mereka.


“Tuan, apa saya harus menghubungi Tuan Edwin untuk menjemput Anda di sini, atau lebih baik naik taksi onlen saja?” tanya Beni.


Akash menoleh. “Hm, pesan taksi onlen saja, hari ini Edwin pasti sedang kelelahan,” jawab Akash, dan Beni pun mengangguk mengiyakan.


Dan kini, dua taksi onlen pun datang menghampiri mereka yang sejak lima menit lalu sudah menunggu di area kepulangan.


Mereka pun menaiki taksi tersebut. Beni dengan Bela dan Akash dengan Shira, menggunakan mobil yang terpisah.

__ADS_1


“So? Kamu suka dengan liburan kali ini?” tanya Akash sambil memainkan rambut Shira.


Shira tersenyum senang. “He’em, seneng banget, aku suka,” jawabnya sambil sedikit menyengir gemas.


“Syukurlah kalau kau suka, dengan begini aku sudah bisa dapat celah dong,” ucap Akash, membuat kedua alis Shira mengerut bingung.


“Celah apa?” tanya Shira heran.


“Celah-manya menjadi yang spesial di hatimu,” jawabnya menggombal.


Shira melipat bibirnya ke dalam, sebisa mungkin ia tidak terayu oleh gombalan receh dari suaminya itu.


“Dih, tumben ... makan apa kamu bisa ngomong kayak begitu sama aku?” tanya Shira terkekeh kecil.


Akash pun ikut terkekeh melihat Shira yang tertawa kecil padanya. Entah kenapa tapi sekarang, ia jadi sangat suka melihat istrinya itu tertawa seperti itu.


Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit, kini mereka pun sampai di kediaman rumah keluarga Atkinson.


Baker sudah duduk di kursi keagungannya di ruang tamu sana. Ia sudah menantikan kepulangan anak dan menantunya itu sejak tadi.


Begitu pula Asten yang ikut duduk di samping kursi milik suaminya. Ikut menantikan kepulangan Akash dan Shira.


“Pagi, Yah,” sapa Akash kepada Baker, lalu mereka berdua pun saling berpelukan  bergantian bersama Shira.


“Syukurlah, kalian pulang selamat. Jadi, bagaimana honeymoonnya, apa menyenangkan?” tanya Baker.


Shira dan Akash yang sudah duduk di sofa, mereka mengangguk tersenyum malu. “Tentu, Yah. Sangat-sangat menyenangkan.”


“Baguslah kalau begitu. Ingat, tidak lupa ‘kan oleh-oleh yang Ayah minta?” tanya Baker mengingatkan akan suatu hal.


Akash seidkit menautkan kedua alisnya merasa bingung dengan perkataan Ayahnya itu. “M-maksud Ayah, oleh-oleh apa?”


“Itu, Yah, oleh-olehnya ada di koper,” seloroh Shira tiba-tiba.


“Bukan yang itu, Nashira,” ucap Baker menatapnya serius.


Seketika itu pula nyali Shira jadi menciut saat melihat tatapan dari mertuanya itu.


Dan akhirnya Akash pun paham akan maksud dari pertanyaan ayahnya itu, ia tersenyum mesem sedikit malu-malu.

__ADS_1


“Tenang saja, Yah. Aku harap, aku bisa memberikan kabar baik secepatnya kepada Ayah,” jawab Akash serius.


Asten yang sejak tadi hanya duduk berdiam diri tanpa menanyakan balik bagaimana kebahagiaan Akash saat pergi honeymoon, itu ia paham pula apa yang dikatakan Akash pada Baker.


“Hih dasar! Aku juga paham kalau masalah beginian. Pasti suamiku ini ingin segera menimang cucu. Dia pasti ingin Akash untuk segera memberikan kabar kalau istrinya hamil dalam waktu cepat,” batinnya kesal.


Ia masih melirik sinis ke arah Akash dan Shira. “Aku tidak akan membiarakan wanita ini mengandung anaknya Akash, aku tidak akan membiarkan kekayaan suamiku jatuh seutuhnya pada mereka,” batin Asten merasa kesal.


***


Sementara itu, di hotel Alexandria. Jackson baru bangun dari tidur lelapnya. Kedua matanya menyipit, mencoba membuka mata, namun rasa kantuk dan pusing itu seolah masih menyertai kepalanya.


Jackson terkejut saat melihat selimut putih yang membalut setengah tubuhnya. Ia pun kini sudah bangun dan terduduk di tengah sofa.


“Loh, siapa yang menyelimutiku?” gumamnya heran.


Kini, putaran adegan semalam seolah terbayang di benaknya. Ia kembali mengingat, kalau semalam ia sudah mabuk-mabukan ditemani dengan seorang pramu cantik yang ia ingat namanya adalah Kalala.


“Ke mana gadis itu?” gumamanya dalam hati, celingukan mengitari seluruh area kamar.


Ia juga ingat, kalau semalam Kalala meminta izin untuk pulang, namun ia cegah karena ia tidak ingin menghabiskan malam sendirian.


“Apa dia pulang selarut itu?” gumam Jackson sedikit cemas.


Ia pun melihat ke arah meja, ada kotak P3K. Ia merenung, memikirkan kotak itu. Kenapa kotak itu bisa ada di sana, padahal harusnya ‘kan ada di kamar mandi.


Dan saat Jackson menguap, ia menutup mulutnya, lalu saat ia hendak mengusap wajahnya, ia merasakan ada sesuatu yang terasa sedikit aneh di jidatnya. Ia pun kembali meraba jidatnya, dan benar saja, ada sesuatu yang sedikit lengket yang terasa menempel di jidatnya.


Buru-buru Jackson berlari menuju kamar mandi, dan saat ia melihat pantulan wajahnya di cermin westafel, ternyata jidatnya itu tampak terluka sedikit memar.


“Apa aku semalam terjatuh ya? Kenapa dahiku bisa sampai memar begini?” gumamnya dalam hati, tidak ingat apa-apa.


“Ah... sepertinya semalam aku terlalu mabuk, hingga mencelakai diriku sendiri,” batinnya.


 


Bersambung....


Jangan lupa bantu like, komen dan votenya ya gaes.

__ADS_1


__ADS_2