
Kini Jackson sudah saampai di tempat yang sesuai dengan alamat yang dikirimkan Edwin via ponselnya. Sebuah hotel yang dekat ke pesisir pantai tapi sedikit sepi dan cukup menyeramkan, apalagi saat ia mengitari area lobby, di sana hanya ada petugas satpam dan juga dua orang recepsionist.
“Kenapa Edwin memilih hotel ini untuk pertemuan kita?” gumam Jackson dalam hati, sedikit takut karena suasananya yang memang benar-benar mengerikan.
“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?” tanya recepsionist yang memakai kerudung merah.
“Emh, begini apa di sini ada yang reservasi atas nama Edwin atau Akash?” tanya Jackson.
“Mohon maaf, apa Tuan ada kepentingan dengan yang bersangkutan?” tanya recepsionist tersebut.
“Oh iya, saya melakukan janji dengannya di hotel ini.”
“Apa Tuan, adalah Tuan Jackson Atkinson?”
“Ya benar, saya Jackson Atkinson,” jawab Jackson membernarkan.
“Oh, baik, mari Tuan akan saya antar menuju ruang pertemuannya,” ucap recepsionist tersebut.
Jackson pun mengikuti langkah kaki wanita yang dua meter ada di depannya, lalu mereka pun masuk ke dalam lift menuju lantai tujuh. Dan setelah lift terbuka, mereka pun keluar, dan pergi melewati lorong yang sepertinya menuju pintu di ujung sana.
“Silakan, Tuan. Tuan Edwin dan Tuan Akash sudah berada di luar,” ucap recepsionist tersebut.
“Luar?” tanya Jackson heran.
“Iya, Tuan, sengaja Tuan Edwin melakukan pertemuan ini di rooftop, dan rooftop kami ada di balik pintu ini,” ucap wanita tersebut, dan saat Jackson membuka pintu tersebut, ternyata benar, bahwa itu adalah jalan menuju rooftop, meski ia harus menaiki anak tangga terlebih dahulu untuk mencapai ke rooftop di atas sana.
“Ah, baiklah, terima kasih,” ucap Jackson tersenyum simpul, lalu segera pergi meniti anak tangga yang lumayan sempit.
“Bisa-bisanya mereka mengadakan acara pertemuan di tempat seperti ini, benar-benar tidak nyaman!” keluh Jackson.
Karena jika pada biasanya Jackon selalu pergi ke hotel-hotel bintang lima yang penuh dengan kemewahan, keindahan dan gemerlap lampu yang terang. Kali ini dan untuk pertama kalinya ia mengunjungi hotel yang benar-benar sepi, sedikit angker dan juga fasilitas yang kurang nyaman menurutnya, bahkan lampu menuju tangga ke rooftop saja cukup redup dan tidak terlalu terang, membuat hawa merinding semakin menjadi-jadi.
Kini Jackson pun sampai di anak tangga yang paling atas, lalu ia pun segera membuka pintu yang masih tertutup itu. Dan kedua mata Jackson dikejutkan dengan suasana yang ada di depan matanya.
“Wow, benar-benar menakjubkan,” ucapnya tersenyum pelan.
“Anda sudah datang?” tanya Edwin yang tiba-tiba sudah muncul di sisinya. Membuat Jackson sedikti terkejut.
“Ah, i-iya, di mana Akash?” tanya Jackson.
“Kemari, ikuti saya,” ucap Edwin lalu berjalan melewati pintu tersebut, mengajak Jackson untuk pergi ke ujung sana, di mana ada taman yang cukup luas untuk bersantai dan mengobrol.
“Wah, ternyata rooftopnya benar-benar seluas ini, dan juga sangat indah,” gumam Jackson saat melihat lampu-lampu tumblr yang menghiasi di sisi pagar rooftop ini.
Dan terlihat di bangku sana hanya ada Akash seorang, tengah duduk lalu berdiri menyambut kedatangan adiknya.
“Akash,” ucap Jackson sedikit antusias. Mereka berdua saling berjabat tangan lalu Jackson yang sedikit ragu, akhirnya ia pun melebarkan kedua tangannya menandakan hendak ingin diberi pelukan.
__ADS_1
Akash yang sedikit terkejut, ia pun akhirnya membalasnya dan mereka pun saling berpelukan sejenak.
“Bagaimana kabarmu, Jackson?” tanya Akash sedikit melebarkan senyumnya.
“Baik, kau bagaimana?” tanya Jackson balik.
“Hm, seperti yang kau lihat,” ucapnya tersenyum. “Duduklah,” titah Akash.
Mereka pun duduk di atas kursi yang tersedia di sana.
“Oh ya, kabar Ayah bagaimana?” tanya Akash, karena bagaimana pun Akash sangat merindukan orang tuanya tersebut, apalagi setelah dua bulan ini mereka tak bertatap muka. Ingin sekali rasanya ia melihat kembali raut wajah Baker yang selalu tegas dan tampak berwibawa di hadapannya.
“Kabar Ayah baik, dia juga sering menceritakan soal kamu.”
Akash tersenyum mendengarnya, meski obrolan di antara mereka saat ini terbilang masih canggung, akan tetapi sedikit Akash merasa senang karena pada akhirnya ia bisa mengobrol santai bersama adik tirinya itu tanpa rasa marah, benci atau pun tersaingi.
“Syukurlah kalau ayah baik-baik saja.”
***
Sementara itu, di kediaman rumah Baker, pria itu terbangun akibat merasakan ada suara nyamuk yang mengganggu telinganya.
“Astaga! Kenapa aku ketiduran?” gumam Baker langsung duduk dari tidurnya.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, istrinya sudah tidak ada di kamarnya, dan saat ia melihat jam di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 22.45 malam. Hampir dua jam lebih ia tertidur.
“Sial! Aku harus mencarinya, jangan sampai dia mengacaukan pertemuan anak-anakku,” gumamnya langsung bangkit dan mengambil mantel panjangnya yang ada di hanger, lalu melekatkannya ke tubuhnya yang masih terbilang kekar.
Semua penjaga yang tengah berjaga di tempatnya masing-masing langsung berlari menghadap Baker.
“Di mana istriku?” tanya Baker sedikit emosi.
“Nyo-Nyonya sudah pergi sejak satu jam yang lalu, Tuan,” ucap salah satu penjaga yang tadi melihat kepergian Asten.
“Kemana dia pergi dan bersama siapa?” tanya Baker semakin murka.
“Nyo-Nyonya berangkat sendiri, Tuan.”
“Apa?! Sendiri?!” tanyanya sedikit terkejut.
“I-iya, Tuan, tadi sudah saya tawari agar saya sopiri, tapi Nyonya tidak mau dan beliau pun pergi mengendarai mobil lambo kuningnya, Tuan.”
“Dasara, kurang ajar! Berani-beraninya dia melakukan hal seperti itu!” serunya menatap kosong ke arah depan dengan tatapan yang begitu tegas.
“Cepat! Siapkan mobil untukku, dan telepon polisi untuk mengikuti kita,” ucap Baker.
Penjaga yang bertubuh paling jangkung di antara empat penjaga lainnya, langsung mengangguk siap. “Baik, Tuan.”
__ADS_1
“Dasar, wanita ini sejak dulu tidak pernah kapok! Kali ini aku benar-benar harus memberinya pelajaran, aku tidak bisa tinggal diam. Dia terlalu banyak meracuni pikiran anak bungsuku, aku tidak akan membiarkan itu, apalagi kalau sampai Akash kenapa-napa malam ini.”
Mobil pun siap, Baker masuk ke dalamnya, lalu menyuruh salah satu penjaga yang baru saja membukakan pintu mobil untuknya itu, untuk segera menelepon polisi dan nanti ia akan mengirimkan pesan di mana alamat yang harus di tuju oleh polisi.
“Ingat, kau pun harus ikut bersama polisi agar kau bisa menjadi saksi jika nanti di sana terjadi apa-apa.”
“Siap, Tuan.”
Mobil yang ditumpangi oleh Baker pun melaju meninggalkan halaman rumah, meski saat ini sopir di depan masih kebingungan harus melaju menuju ke mana, karena Baker pun masih mencoba menghubungi ponsel Jackson agar pria itu segera mengirimkan alamatnya kepadanya.
“Hallo, ayah.”
“Jackson, kau di mana?” tanya Baker panik.
“A-aku ada di hotel bersama Akash. Memangnya ada apa, Yah?” suara Jackson di balik ponsel.
“Cepat kirimkan alamatmu sekarang, hati-hati, ibumu sedang mengincar keberadaan Akash. Bilang kepada Akash agar berhati-hati dan usahakan jika ingin pergi dari kediamanmu yang sekarang, lebih berhati-hatilah.”
“B-baik, Ayah akan aku sampaikan.”
Baru saja Baker menutup teleponnya, tiba-tiba mobil yang dikendarainya oleng begitu saja di jalanan yang cukup sepi itu.
“Loh, loh, loh, ada apa ini?” tanya Baker.
Sopir di depan pun langsung menepikan mobilnya. “Maaf, Tuan, tapi sepertinya ban mobil kita pecah,” ucap sopir tersebut.
“Aduh!” Baker menepuk jidatnya, merasa begitu frustrasi.
“Ya sudah, tunggu saya akan menelepon mekanik dulu,” ucapnya, tidak lupa ia terlebih dahulu mengirimkan alamat yang harus dikunjungi oleh polisi kepada penjaganya yang tadi.
Namun selagi menunggu mekanik keluar, tiba-tiba di luar mobil ada empat orang lelaki bertubuh besar yang mengepung mobil Baker, tampak dua orangnya membawa senjata pisau, kampak yang cukup besar.
“Hey! Keluar!”
“Sial!” umpat Baker kebingungan.
Bagai jatuh tertimpa tangga, di saat dirinya tengah ada dalam masalah, malah masalah lain pun datang di waktu yang bersamaan. Entah apa yang harus Baker lakukan, apakah ia harus keluar atau tetap berdiam di dalam mobil. Namun yang pasti, ancaman nyawa kini tengah ada di hadapannya, dan ia pun kebingungan karena ia sama sekali tidak membawa senjata selain pisau kecil yang selalu tersedia di sakunya.
.
.
.
Bersambung....
Jreng jreng jreng.... hal apakah yang akan terjadi kepada Baker?
__ADS_1
Dan bagaimanakah nasib Jackson dan Akash yang saat ini tengah panik?
Mau lanjut? Jangan lupa taburkan vote, like dan komen di bawah gengs.