Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Izinkan Aku Bertemu Mamamu


__ADS_3

Pagi ini Kalala sudah bersiap untuk keberangkatannya ke Surabaya. Shira meminta kepada Akash untuk ikut mengantarkan sahabatnya itu ke Bandara. Akan tetapi, Akash menolaknya, karena perjalanan menuju Bandara cukup jauh, dan itu pasti akan menguras tenaga Shira, apalagi hari ini ia harus pergi ke kampus untuk menyelesaikan revisi skripsinya.


“Maaf ya, Kala, aku enggak bisa anter kamu ke Bandara,” ucapnya setelah melepaskan pelukannya dengan Kalala.


“Iya, enggak apa-apa, kok, lagi pula aku ke Surabaya cuma dua hari ini, nanti juga kita ketemu lagi.”


Shira mencebikkan bibirnya, seolah enggan untuk ditinggalkan oleh sahabatnya itu. “Emh... aku pasti bakalan kangen sama kamu.” Shira mengayun-ayunkan tangan Kalala dengan manja.


“Udah, Sayang, nanti dia telat lagi,” ucap Akash, menarik Shira menjauhkannya dari Kalala.


Kalala tersenyum, menyemangati Shira agar sahabatnya itu tidak sedih ditinggal olehnya.


“Terima kasih, Tuan, Ibu, dah Shira,” pamitnya kepada Akash, Tessa dan Shira.


Kalala pun memasuki mobil yang di dalamnya sudah ada sopirnya. Ia duduk manis di dalamnya, membuka jendela mobil lalu saat mobil melaju, ia melambaikan tangannya kepada Shira.


“Dah, Kalala, jangan lupa titip salam buat mamamu ya....” Shira berteriak sekencang mungkin, yang dibalas tanda oke oleh tangan Kalala.


“Ummm... sedih banget deh ditinggal sahabatku. Padahal baru lima detik, tapi aku udah kangen banget sama dia,” ucap Shira melihat kepergian mobil Kalala yang semakin jauh dari pandangannya.


Akash dan Tessa menggelengkan kepala mereka masing-masing.


“Enggak usah lebay! Kan masih ada aku sama Ibu,” ucap Akash merangkul Shira dengan penuh kasih sayang.


“Emh, iya... tapi ‘kan ....”


“Enggak ada tapi-tapian, ayo udah masuk yuk, hari ini aku antar kamu ke kampus ya,” ucap Akash sambil mendekap erat Shira ke dalam pelukannya.


***


Bandara Soekarno Hatta.


Jackson sudah menunggu kedatangan Kalala sejak 30 menit yang lalu, dan saat ini kedua netranya baru mendapati sosok yang ia nantikan sejak tadi.


Jackson melambaikan tangannya sebagai pertanda kehadiran dirinya di sana kepada Kalala.

__ADS_1


Kalala pun mempercepat langkanya menghampiri Jackson yang tengah berdiri menunggunya.


“Maaf, Tuan. Apa kamu menunggu lama?” tanya Kalala dengan nafas yang masih naik turun tidak beraturan.


Jackson tersenyum padanya. “Tidak apa-apa, hanya menunggu tiga puluh menit saja.”


“Ya ampun, 30 menit?” tanya Kalala begitu terkejut, saat tahu kalau Jackson sudah menunggunya selama itu.


“Apa kau kemari sendirian? Di mana Akash dan Shira?” tanya Jackson, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh area.


“Saya datang sendiri, Tuan. Tadi diantar pak sopir sampai terminal keberangkatan di depan sana,” jawab Kalala, yang tampaknya masih begitu sulit mengatur nafasnya.


Jackson terkekeh melihat ekspresi wajah Kalala yang masih terengah-engah kelelahan, karena gadis itu pasti kesulitan mencari keberadaan Jackson saat sampai di sini.


“Ini, minumlah.” Jackson memberikan sebotol air mineral yang baru saja dibukanya.


Kalala tidak langsung mengambilnya, matanya masih tetap memandang waspada kepada Jackson.


“Tenang saja, aku tidak akan meracunimu kok, cepat minum dulu. Setelah ini kita pergi ke sana untuk check in,” ucap Jackson.


__


Kini mereka berdua sudah berada di dalam pesawat, menaiki kelas bussines agar tidak terlalu padat penumpang.


“Sebelum take off, matikan dulu ponselmu, karena data internet di ponsel bisa mengganggu penerbangan,” ucap Jackson memberi tahu.


Kalala baru sadar, sejak semalam ia belum membuka-buka ponselnya. Bahkan tadi saat berangkat pun ia tidak sempat mengeceknya. Kalala pun buru-buru mengobrak-abrik tas kecil yang ada di pangkuannya.


Mencari-cari letak ponselnya, dan ia pun menemukannya. Ternyata sudah terdapat 12 panggilan tidak terjawab dari nomor ponsel mamanya. Juga ada empat pesan singkat dari nomor bibinya dan satu pesan singkat dari nomor lelaki yang ada di sampingnya kini.


“Jackson mengirimi aku pesan?” gumam Kalala dalam hati, sekilas melirik Jackson curi-curi pandang.


Kalala pun membuka terlebih dahulu pesan dari bibinya yang mengatakan kalau nanti bibinya akan menjemput Kalala di Bandara.


Setelah itu, jempolnya kini mulai menggulir pesan yang dikirim oleh Jackson.

__ADS_1


Kedua alis Kalala saling bertautan, menatap layar ponselnya dengan heran. Membaca pesan singkat dari Jackson yang ia rasa, ia sepertinya salah kirim.


(Selain untuk memenangkan tender, aku juga ingin memenangkan hati orang tuamu—Jackson)


“Apa dia mengirim ini untuk bertemu dengan pacarnya? Tapi, Tuan Jackson ‘kan belum pernah pacaran?” batin Kalala, kembali melirik sekilas ke arah Jackson.


“Masa iya sih dia beneran ngirim pesan ini buat aku? Aku ‘kan—” Kalala kembali meliriknya heran.


“Kenapa? Apa kau terpesona dengan ketampananku?” tanya Jackson dengan penuh percaya diri, sambil menyunggingkan sebelah sudut bibirnya kepada Kalala.


Kalala langsung terhenyak mendengarnya. “Ih, kepedean banget!” celetuknya, yang buru-buru ia tutup mulutnya dengan jari-jemarinya, karena bibirnya kalau sudah berbicara, memang terkadang suka enggak bisa di rem.


“Pede itu harus, tapi sebelum pede, pastikan sudah berkaca dulu,” jawab Jackson dengan entengnya, semakin membuat Kalala membeliakan matanya, tidak menyangka kalau Jackson ternyata bisa berkata seperti orang narsis juga.


“Apa kau sudah membaca pesan dariku?” tanya Jackson tersenyum tipis.


Kalala yang terpaku melihat garis senyum di bibir lelaki yang ada di depannya itu, ia pun kembali memfokuskan pikirannya. “Hah? Apa?” tanyanya karena memang tadi ia benar-benar tidak fokus.


“Haha, ternyata kau benar-benar terpesona dengan ketampananku ya,” gumamnya terkekeh kecil.


“Kau sudah membaca pesan dariku ‘kan?” tanya Jackson mengulang pertanyaannya.


“Emh, sudah,” jawab Kalala ragu.


“Jadi, bagaimana? Apa kau mengizinkan aku bertemu dengan mamamu?” tanya Jackson dengan serius.


“Eh, apa?! Bertemu mamaku?” tanyanya terkejut.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2