
“Lalu apa hah? Lagi pula di dalam pernikahan kita ini, kau selalu menyembunyikan semuanya dariku, kau penuh rahasia Akash, kau lelaki yang penuh misteri! Bahkan sampai detik ini pun aku tidak bisa mengenali siapa sebenarnya suamiku ini!” tegasnya, semakin menangis menjadi-jadi.
Akash terdiam, ia mengakui apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya itu, tapi semua itu ada yang perlu ia jelaskan. Memang akan sangat rumit baginya jika dirinya jujur tentang siapa ia sebenarnya, tapi ia juga sudah sadar, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.
“Baiklah, maafkan aku, Shira, mulai sekarang, aku akan jujur padamu, tentang siapa diriku sebenarnya. Hanya saja, kau pun harus bersiap, Shira,” ucap Akash seolah berat.
Shira mendongak, menatap wajah suaminya itu dengan bingung. “Bersiap apa?” tanyanya pelan.
“Bersiap atas segala macam kemungkinan setelah kamu tahu siapa diriku sebenarnya,” ucap Akash.
Shira bergeming, menatap wajah Akash dengan berbagai macam pertanyaan yang mulai bermunculan di benaknya.
“Kenapa dia berkata seperti itu? Apa suamiku ini adalah orang jahat? Apa dia seorang mafia? Atau mungkin dia ini adalah seorang psikopat?”
“Apa yang harus aku lakukan nanti, jika berbagai kemungkinan itu terjadi? Apa aku harus tetap bertahan dengannya, meski aku tahu kalau dia adalah orang jahat?” batinnya.
“Aku harap, setelah kau tahu siapa aku sebenarnya, kau tidak akan meninggalkanku, Shira. Aku menyayangimu, aku mencintaimu,” ucap Akash begitu tulus, menatap sendu kedua manik indah milik Shira.
Shira terdiam mendengar pengungkapan rasa dari suaminya itu. Entah kenapa, setelah Akash berbicara seperti itu, seolah ada ketakutan yang tengah melingkupi dirinya. Shira tidak bisa berkata-kata, selain menitikan air matanya karena merasa tersentuh hatinya oleh perkataan Akash barusan.
Shira menunduk. “A-aku sudah siap,” jawabnya pelan.
Akash menghela pasrah, seolah ada ketakutan terbesar di dalam hatinya. Tapi, ia juga sadar, ia tidak bisa terus menerus menyembunyikan identitas sesungguhnya dari istrinya itu, karena Akash tahu, Shira mempunyai hak atas keingin tahuannya.
“Baiklah, besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ucapnya.
***
Tepat pukul 17.00 sore, setelah selesai dengan mata kuliah yang dijalaninya, Shira dan Kalala baru saja keluar dari ruang kelasnya. Mereka berdua berjalan menuju area parkir.
“Kal, hari ini aku akan dijemput Akash. Kamu ke halte sendiri enggak apa-apa ‘kan?”
“Tumben. Tapi enggak apa-apa kok, malah aku senang kalau suamimu itu sering-sering menjemput kamu,” ucap Kalala pelan, karena takut ada orang lain yang mendengar.
__ADS_1
“Hm.”
“Ya sudah, kalau begitu aku jalan duluan ya, aku juga takut telat sampai di hotel,” ucap Kalala buru-buru pergi menuju gerbang.
Shira berjalan pelan, sambil menunggu datangnya mobil Akash. Dan tidak lama kemudian, mobil yang ditunggunya itu datang.
Akan tetapi, yang turun dari mobil bukanlah Akash suaminya, melainkan Edwin—si sekretaris kaku.
“Loh, kok bukan Akash yang jemput aku?” tanya Shira mendekat.
Edwin terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Shira dan mempersilakan Shira untuk masuk.
“Tuan Akash sudah menunggu, Anda di suatu tempat, Nona,” jawabnya.
Shira pun mengangguk, dan masuk ke dalam mobil itu.
Cukup jauh dan memakan wakt. Jalanan yang mereka lewati pun cukup berbeda, yaitu melewati hutan dengan pepohonan yang tinggi menjulang. Hingga satu jam lebih dua puluh menit, akhirnya mereka pun sampai di sebuah tempat yang belum pernah Shira singgahi sebelumnya.
Sebuah gedung tinggi yang tampak terlihat sepi, seolah tidak ada orang di dalamnya. Dikelilingi oleh hutan yang terasa penuh misteri.
Shira sepertinya agak ragu saat Edwin mengajaknya memasuki gedung putih tersebut. Dilihatnya ke sekitar, tidak banyak orang di sana, selain dua orang Polisi, yang berjaga di depan pintu sana.
Sepi, sunyi tidak ada kebisingan, dan dengan perasaan yang sudah berdebar tidak karuan, akhirnya Shira pun siap melangkahkan kakinya menginjak teras gedung tersebut.
“Tolong awasi, jangan sampai ada yang curiga,” ucap Edwin kepada kedua polisi yang berdiri di depan pintu masuk.
Penjaga itu mengangguk. Edwin pun mempersilakan Shira untuk masuk ke dalam gedung tersebut, membukakakan pintu hanya sedikit, cukup memberi celah agar tubuh Nonanya itu masuk.
Namun, begitu Shira masuk ke dalam gedung tersebut.
Brak! Pintu tersebut di tutup rapat dan dikunci oleh Edwin, membuat Shira sedikit ketakutan.
“Kenapa di kunci?” tanya Shira.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hanya jaga-jaga saja, karena tempat ini rawan akan bahaya,” ucap Edwin.
Deg, perasaan Shira pun semakin kalut tidak tenang.
“Mari, ikuti langkah saya, Nona,” ajak Edwin menaiki sebuah tangga berbelok yang membawanya ke lantai dua.
Masih sepi tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.
Namun, saat sampai di lantai dua, sebuah keanehan pun Shira dapati.
“Tuan Edwin, i-itu ....”
“Tenanglah, Nona. Jangan bersuara,” ucap Edwin mewanti-wanti, membuat jantung Shira berdegup kencang, serta tangan dan kaki yang sudah mulai bergetar ketakutan.
.
.
.
Mau lanjut???
Ramaikan kolom komentarnya dulu ya gaes hehe....
__ADS_1