
“Kalala, aku minta maaf, Kal.” Akhirnya Shira berhasil meraih tangan Kalala. Sejenak mereka menghentikan langkahnya bersama.
“Kamu tidak perlu meminta maaf, Shira. Aku memang sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun hari ini." Kalala masih menunduk tidak melihatnya. "Tolong ... mengerti aku, Shir.” Akhirnya Kalala pun melepsakan genggaman tangan Shira secara pelan.
Jleb!
Sakit tapi tak berdarah. Shira bergeming di tempatnya, menatap kepergian sahabatnya itu, sementara Kalala, dia sudah pergi menjauh darinya.
Shira membisu, lalu mengedarkan pandangannya kepada orang-orang yang kini tengah menatapnya dengan aneh.
“Lihat, dia sungguh tidak tahu malu sekali ya," ucap seorang mahasiswa yang tengah melewat di situ.
“Iya benar, wanita kejam seperti dia, tidak seharusnya berkuliah di sini," balas mahasiswi satunya lagi.
Samar dari suara mereka terdengar di telinga Shira. Akan tetapi, untuk saat ini Shira tidak ingin memedulikan ucapan mereka itu. Yang ia pikirkan saat ini adalah, bagaimana caranya agar dirinya bisa berbicara kembali dengan Kalala.
"Aku tidak ingin hubunganku dengan Kalala, rusak gara-gara kejadian semalam," ucapnya penuh tekad.
Shira berjalan di kordior sendirian, menundukkan pandangan karena merasa tidak nyaman dengan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang berkumpul di mading, Shira yang penasaran pun ikut berjalan ke sana.
“Lihat hey, dia orangnya,” ucap salah satu mahasiwi yang tengah berdiri di antara kerumunan orang.
Semua mata kini teralih kepada Shira. Mereka berbaur, memberi jalan kepada Shira yang hendak menghampiri mading.
Bisik-bisik suara mereka yang terdengar cukup menyakitkan di telinga Shira, membuat dirinya semakin tidak enak hati. Ia berdiri tepat di depan papan mading. Dan betapa terkejutnya Shira saat melihat foto di mading.
“Loh, kok ... bagaimana ini bisa ada di sini?” Shira menatap foto-foto dirinya yang teengah mendorong Luna. Lalu di sana juga ada beberapa foto antara dirinya dengan Akash yang memakai kaca mata hitam.
“Shira, apa kau sebegitunya miskinnya ya, sampai bekerja menjadi seorang pelayan?" tanya mahasiswi yang berkumpul dii sana.
“Sebenarnya tidak ada masalah sih dia bekerja sebagai pelayan atau pelacur sekali pun. Tapi sayang, dia bad attitude.” Balas seseorang yang ada di antara kerumuhan mahasiwa itu.
“Iya benar, kau tidak malu ya Shira kembali ke kampus setelah mempermalukan Luna seperti itu."
Shira menoleh ke arah orang-orang yang mengatainya. Wajahnya tampak mendung, rasa malu kian menyelimutinya.
“Tetapi, kalian salah paham! Apa yang kalian pikirkan, tidak sesuai dengan apa yang ada di gambar,” seru Shira, mencoba membela diri.
Seseorang mencibir. “Salah paham bagaimana? Sudah jelas kami melihat semua aksimu itu di video grup. Apa kau tidak mengeceknya? Atau karena kau asyik melanjutkan malam dengan pria itu, sampai tidak sempat mengecek grup kampus!” ujar seseorang sambil mendelik sebal.
"Apa? Video di grup kampus?" Shira tidak bisa mengelak, semuanya memang benar. Tetapi, lelaki itu jelas adalah suaminya. Orang-orang akan berpikir, kalau lelaki itu adalah pacar atau gebetannya.
Shira tidak mampu menjelaskannya, tidak mungkin juga ia mengaku kalau dirinya sudah menikah.
Tiba-tiba, Kea datang menghampiri Shira. Dengan gayanya yang angkuh, dan kedua tangannya yang dilipat di atas perut, sambil menatap sinis kepada Shira.
“Heh Shira, lo dipanggil Pak Haru tuh,” ucap Kea, kemudian berlalu dari sana.
__ADS_1
"Pak Haru?" batin Shira semakin ketakutan.
Pak Haru adalah dosen yang sering mengatasi masalah para mahasiswa, terutama anak-anak yang ikut kelas dengannya, termasuk Shira.
Shira tidak ada pilihan lain selain menuruti panggilan dari Sang Dosen. Dan saat Shira pergi meninggalkan kerumunan orang itu, mereka pun kembali bergosip membicarakan segala kemungkinan pada Shira.
“Aku yakin, dia pasti akan dikeluarkan dari kampus ini.”
“Benar. Kalau tidak, dia pasti akan di DO.”
“Wanita seperti dia memang pantas mendapatkan itu semua.”
"Lagi pula, Shira yang sekarang bukanlah Shira yang dulu, dia pantas ditendang dari kampus elite ini."
Mereka bergosip seolah mereka paling kaya dan pantas berada di kampus ini. Karena memang pada dasarnya, kampus yang ditempati Shira ini adalah kampus yang terkenal dengan anak-anaknya yang hits dan hedon. Jadi sudah sangat wajar, mahasiwa/i di sana sering beradu kekayaan. Dan menganggap, seseorang yang sudah miskin tidak pantas berada di lingkungan kampus ini.
“Ya Tuhan, apa harus sampai begini akibatnya?” gumam Shira, menahan bendungan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
***
Shira memasuki ruang dosen khusus konseling. Di sana sudah ada Luna dan juga ibunya, serta Pak Haru, dosen killer di kampus ini.
“Tidak sopan! Masuk tanpa permisi dulu!” seru Bu Elis, dosen penasehat di kampus ini. Menatap Shira dengan penuh kebencian.
Shira yang sudah mematung di dekat kursi, ia langsung menghentikan langkahnya, merasa tidak enak hati.
Ibunya Luna melirik sinis ke arah Shira. “Pantas saja dia membuat masalah dengan anakku. Pasti orang tuanya tidak mendidiknya dengan benar,” cercanya pelan. Namun masih terdengar di telinga Shira.
“Duduk!” titah Pak Haru pada Shira begitu tegas.
Shira mengangguk, lalu duduk di atas sofa bulat yang tersedia di sana.
“Kamu sudah tahu bukan, kenapa saya memanggilmu kemari?” tanya Pak Haru to the point.
Shira yang memang tidak tahu apa-apa, ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Dasar! Anak zaman sekarang memang terlalu asik dengan dunianya sendiri. Seharusnya tanpa saya jelaskan, kamu sudah tahu apa kesalahanmu sebelum masuk ke ruangan ini.” Pak Haru tampak Murka melihat gelengan kepala dari Shira.
“Lihatlah Ibu, dia bahkan seperti tidak menyesali perbuatannya,” ucap Luna memasang wajah sedih, seraya memegang lengan ibunya dengan kuat, seperti ketakutan.
Shira langsung menatap tajam ke arah Luna. “Dasar! Si Nenek Lampir ini memang ratunya sandiwara. Aku tidak akan membiarkan dia menindasku di depan orang tuanya,” gumam Shira, sorot matanya menajam ke arah Luna.
Luna yang sadar akan tatapan Shira, ia semakin berlagak manja kepada ibunya. “Ibu, lihat matanya! Dia memelototiku, Bu,” rengek Luna sambil menunjuk ke arah Shira. Sudah seperti anak kecil yang ketakutan melihat hantu.
Ibunya Luna yang bernama Nyonya Ella itu langsung menoleh ke arah Shira.
“Heh! Kamu jangan memelototi anak saya seperti itu ya!” serunya.
__ADS_1
Shira tersenyum sinis mendengar ucapan Nyonya Ella. “Maaf, Bu. Mata saya memang suka melotot begini, maklum bawaan orok,” ucapnya begitu jelas.
“Shira! Jangan seperti itu! Seharusnya kau minta maaf, bukan malah mengelak,” sahut Bu Elis.
"Apa Ibu tidak mendengar? Di awal kalimat saya sudah minta maaf loh, Bu!" balas Shira pada Bu Elis.
Tiba-tiba ....
Brak!!!
Pak Haru melemparkan beberapa lembar foto di ke atas meja dengan kasar.
“Stop! Jangan melawan! Sudah, lebih baik kamu jelaskan, semua ini apa!” pinta Pak Haru penuh emosi.
Shira terbelalak melihat sekumpulan foto dirinya yag kini sudah berserakan di atas meja.
Ada foto saat dirinya keluar dari hotel menggunakan jas milik Akash. Foto itu mengingatkannya pada saat ia keluar dari hotel setelah pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh pamannya waktu itu.
Ada juga foto saat dirinya sedang makan di restoran mewah, masih bersama Akash, tetapi wajah Akash di foto itu tidak terlihat.
Lalu, ada pula foto dirinya saat menaiki porchse milik sekretaris Edwin, foto itu mengingatkannya pada saat dirinya dijemput di pinggir jalan.
Shira terdiam membisu, ia tidak bisa menjelaskan semuanya secara rinci. Ia bergeming di tempatnya, menahan kekesalan pada Luna. Karena semua itu, pasti ulah dari Luna.
“Dan ini! Bisa-bisanya kau berpelukan dengan lelaki di pinggir jalan!” teriak Pak Haru, menyodorkan ponselnya di depan Shira.
Shira mendongak, melihat ke layar ponsel yang dipegang oleh Pak Haru, menunjukkan dirinya yang tengah memeluk Akash di pinggir jalan.
"Ya ampun, bagaimana bisa semua foto ini ada di Pak Haru?" batin Shira begitu panik dan bimbang.
"Cepat! Jelaskan semuanya, Shira!" teriak Pak Haru.
Shira tercengang, kedua matanya saling bertautan dengan manik mata milik dosennya itu. Hatinya semakin berdebar tidak karuan, dengan perasaan bimbang dan takut yang kian menyelimuti pikirannya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku mengatakan yang sejujurnya tentang semua foto itu? Tapi, jika tidak, pasti akan ada gosip baru tentangku di kampus ini, dan bisa-bisa ... diriku kedepannya dikeluarkan dari sini." Shira semakin gundah gulana. "Aku harus bagaimana Tuhan?"
Bersambung...
Hai semuanya, ada kabar baik nih, mulai hari ini Dela mau nyoba challenge diri sendiri buat upload satu hari 3 bab. Mohon do'anya ya, biar Dela bisa wujudin semua itu. Dan jangan lupa buat dukungan vote dan hadiahnya ya, ramaikan juga like dan kolom komentarnya, karena satu komentar dari kalian sangat berharga buat nambah semangat Dela.
Terima kasih.
__ADS_1
Love love sekebon pisang buat kalian semuanya xixi :D