Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 1


__ADS_3

Dita menjadi gadis yatim piatu semenjak orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Sudah 5 tahun Dita hidup sendiri dalam kesepian. Dita hanya memiliki kalung dari pemberian ibunya pada saat ulang tahunya yang ke-15 tahun.


Dita bekerja di toko yang dikelola oleh sahabatnya sendiri, yang mulai beroperasi sejak 3 tahun yang lalu. Lebih tepatnya semenjak lulus sekolah menengah atas.


Dita bekerja sabil mengingat kenangan bersama orang tuanya. Tampa terasa Dita telah menyelesaikan membereskan toko tempatnya bekerja.


" Rin, pekerjaanku udah selesai nih. Aku pulang dulu."


" Memang udah semuanya?" tanya Rin tidak yakin.


" Tentu saja." jawab Dita.


" Tunggu aku, aku belum selesai!"


" Memang dari tadi kamu ngapain aja ?" tanya Dita penuh kecurigaan.


" Hehehe... bantuin ya?" Rin memandang Dita dengan penuh harap.


"Baiklah, kalau gak dibantuin juga pasti bakal maksa."


" Ahhhhhh, kau memang teman terbaikku." Rin langsung memeluk Dita dengan semangatnya.


" Bisa kau lepas dulu, Rin. aku tidak bisa bernafas." kata Dita berjuang melepaskan pelukan Rin yabg sangat erat.


" Ahhhhh.... maafkan aku. Aku hanya terlalu senang saja." Dengan senyuman tanpa salahnya.


Kemudian Dita dan Rin membereskan barang-barang yang berada di luar toko dan memasukkannya kedalam toko tempat Dita bekerja.


" Akhirnya beres juga." Kata Dita sambil mengunci toko, dan memberikan kunci tersebut ke Rin.


"Trimakasih ya, udah dibantuin. Kalau tidak pasti bakal kemalaman sampai di rumah."


"Sebagai teman yang baik, akan membantu yang mulia." Kata Dita dengan becanda. kemudian Rin melirik Dita dengan muka bodohnya.


"Ha ha ha, kau selalu saja begitu ya."


" Becandamu gak asik." Kata Rin dengan sebal,sambil memalingkan muka.


" Ayolah. itukan hanya becanda saja,"


" hHemmm?" Kata Rin cuek sambil memalingkan muka.


"Hei, ayolah. Hanya begitu saja kamu udah ngambek." Bujuk Dita, padahal Rin menahan tawa melihat raut wajah Dita yang menahan kekesalanya.


Tak kuasa menahan tawanya, Rin pun tertawa terbahak-bahak.


" Kau mengerjai ku ya."


" Hanya ingin saja, lagian kamu terlihat imut kalau lagi ngambek." Tutur Rin dengan santainya.

__ADS_1


Tampa terasa, perjalanan mereka sampai didepan rumah Rin.


" Ayolah, kamu masih marah gara-gara tadi?" Tanya Rin.


" hem" Jawab Dita.


"Apa kamu gak capek dengan muka kaya gitu?" Kata Rin sambil menusuk pipi Dita yang tembem dengan jarinya.


"Ahhh baiklah, maafkan aku kawan. lain kali tidak akan ku ulangi lagi." Bujuk Rin.


"Aku tidak yakin, kalau kamu gak bakal mengulangi lagi. Kemarin saja kamu janji tidak mengulangi lagi, tapi sekarang kamu ngelakuin lagi." Tutur Dita.


"Hehehe. Maafkan lah daku Dita yang baik hati." Bujuk Rin dengan senyuman yang manis.


"Baiklah, daripada gak kelar ni masalah." kata Dita cuek.


"Ihhhh, kok kaya gitu sih. Baiklah! Sampai jumpa di toko besok." Kata Rin sambil membuka gerbang pekarangan rumahnya.


" Jangan sampai telat lagi. Kalau tidak, aku bakal berangkat duluan." Kata Dita memperingatkan sahabatnya dari depan gerbang rumah Rin.


Rin yang mendengar teriakkan Dita hanya mengangkat jempol tangan sambil tersenyum, lalu masuk kedalam rumah.


Dita berjalan kearah rumahnya yang tidak jauh dari rumah Rin. Perjalanan pulangnya diiringi dengan gemerisik suara angin yang meniup pepohonan yang berada di tepi jalan raya yang sepi.


Suasana tersebut membuat Dita merasakan firasat yang tidak mengenakan diri Dita.


Dari kejauhan Dita melihat kucing putih yang terkapar dipinggir jalan. Melihat hal tersebut, Dita melangkahkan kakinya dengan cepat untuk melihat kucing tersebut.


Sesampainya Dita didekat kucing tersebut, membuat Dita terkejut. Lantaran kucing tersebut memiliki luka di keempat kaki kucing tersebut.


"Siapa yang tega melakukan hal yang sangat kejam pada kucing kecil ini. tenang saja kucing kecil, aku akan merawat mu hingga sembuh." Tutur Dita sambil menggendong kucing putih tersebut dengan memandang Dita dengan penuh harap. Seakan-akan mengerti yang diucapkan Dita.


"Miaw"


"Baiklah kucing kecil, kita kembali ke rumah."


Saat akan berjalan pulang, Dita mendengar suara yang sangat aneh.


" Kemarilah, wahai sang Messiah. kami menunggumu." Suara itu bergema entah dari mana suaranya.


Dita berjalan dengan sangat waspada, karena suara itu bergema diiringi dengan suara gemerisik pepohonan yang diterpa angin.


"wahai sang Messiah, kami ingin anda datang dan selamatkan dunia kami."


"Lindungi dunia kami."


"Bebaskan lah kami dari keserakahan manusia."


"Berikan kami kebebasan."

__ADS_1


"Hancurkan lah dendam dan kebencian manusia."


"Berikan dunia kami cahaya ketentraman."


"Jadikan kegelapan kami menjadi waktu damai, agar tidak menjadi teror yang mencekam."


"Sembuhkan lah kami rasa sakit kami."


"b


Bebaskan kami dari kekejaman manusia."


"Selamatkan kami semua dan dunia kami dari kehancuran tingkah dan sikap manusia yang semena-mena terhadap kami."


"Selamatkan kami semua, wahai sang Messiah, dari orang-orang yang ingin mengguasai kami. Sang 9 penjaga dunia ini mengharapkan anda sang Messiah untuk selamatkan kami."


Suara tersebut semakin lama semakin memenuhi otak Dita, yang memintanya untuk menyelamatkan mereka.


"Kalian ini siapa sebenarnya?" Dita bertanya dengan bergetar sambil memeluk kucing putih yang ia temukan tadi.


"Selamatkan kami, sang Messiah."


Ratapan itu terus menggema, seolah-olah akan hancur kapan saja. Gemerisik pepohonan seakan mengisyaratkan akan kesedihan sang suara misterius tersebut.


"Miaw." Suara kucing tersebut membuat Dita merasa tenang. Kucing putih itu menggosokkan kepalanya dengan lemah.


Dita menarik nafas agar bisa menghilangkan suara-suara yang tidak diketahui asal usulnya. Tapi, suara itu tidak hilang meskipun Dita terus menenangkan dirinya sendiri.


"Abaikan suara itu Dita, kamu harus pulang, dan istirahat. Mungkin kamu kecapean." Dita meyakinkan diri sendiri agar tidak ketakutan.


Dita melangkahkan kakinya untuk pulang, meskipun kakinya gemetaran akibat suara yang terus teriang-iang di kepalanya.


Sesampainya di rumah, Dita langsung merawat kucing yang ditemukan tadi. Selesai mengobati kucing tersebut, Dita langsung membersihkan dirinya dan mengistirahatkan dirinya yang kecapean.


"Miaw." Kucing tersebut menghampiri Dita yang sedang tiduran.


"Ada apa kucing kecil?" Dita baru menyadari bahwa kedua mata kucing tersebut berbeda warna yang sangat cantik. sebelah kanan berwarna kuning kemerahan dan sebelah kiri berwarna biru laut.


Kemudian Dita mengangkat kucing tersebut dan meletakkan di samping nya, kemudian tertidur di samping Dita. Melihat hal tersebut Dita hanya tersenyum. Karena kecapean, Dita pun tertidur.


Keesokan harinya, suara alarm berdering dengan sangat kerasnya.


"Siiiaaallllllll........ Kenapa bisa telat...!!!!!"


teriak Dita histeris karena dia bangun kesiangan.


Dengan paniknya, Dita langsung masuk kamar mandi dan melakukan ritual paginya dengan kecepatan tinggi.


Kemudian Dita langsung memakai baju yang telah disiapkannya sebelum tidur kemarin. Dan langsung berangkat bekerja dengan berlari agar cepat sampai ke toko Dita bekerja dengan sangat berantakan akibat berlari.

__ADS_1


__ADS_2