Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 106


__ADS_3

Langit sudah memburu dengan rombongan awan yang berkelana di cakrawala, mentari bersinar dengan teriknya namun hanya secercah cahaya yang hangat sampai pada sang bumi.


Sekelompok rombongan melalui hutan yang rimbun akan pepohonan tua yang sudah berlumut. Kumbang badak merayap di batang yang tumbang dengan jamur yang tumbuh di batang yang lapuk karena dimakan usia. Jamur tumbuh dengan subur di hutan nan lembab dan dengan lumut yang membentuk komunitas sendiri di batang yang sudah menua.


Cahaya matahari hanya sampai di tanah lembab yang tersisa hanyalah seberkas cahaya membentuk garis lurus seperti tiang yang menyala. Burung kecil bertebaran menerobos garis sinar dengan riang seakan mengabaikan keganasan yang tersimpan dalam hutan nan mengerikan.


Lolongan hewan buas terdengar bersahut-sahutan mengisi kesepian hutan yang mencekam. Tanah yang lembab dan dengan daun yang membusuk memancarkan aroma tersendiri bagi yang menguhirupnya.


Akar pohon beringin menjuntai seperti tirai akar alam yang mengagumkan, beserta sekelompok kera hidung panjang dengan ekor pendek mengayun dan mengambil akar yang menjuntai untuk berpindah tempat dengan cara mengayunkan dan mengantarkannya pada dahan pohon yang lain.


Perjalanan yang cukup tenang dan menenangkan, tidak ada pertengkaran tidak ada perdebatan seperti biasanya, dan hari dan malam telah berlalu dalam sekejap mata perjalanan menyusuri hutan ke kerajaan Candana kini telah tiba didepan gerbang yang hancur dengan angin yang mendayu cepat.


Sangat cepat, seakan badai angin telah menerpa tempat itu selama ratusan tahun. Tidak ada pepohonan atau bunga yang tumbuh, dan hanya rerumputan pendek yang tersapu dan menyatu dengan daratan yang melayang.


Kerajaan Candana berada diatas awan, sebab sang pilar adalah penguasa angin sehingga wajar saja bila tempatnya berada mengapung di udara bebas.


"Kenapa, rasanya tempat ini telah ditinggalkan cukup lama?" Human Aquila sambil melihat sekelilingnya yang sudah menjadi reruntuhan.


"Mungkin saja, dan anginnya disini sangat tidak bersahabat. Kakiku sakit menahan tubuhku agar tidak terbawa arus angin kuat ini." Kata Shiro dengan kuku jarinya menancap ditahan erat.


"Nona, aku merasakan tidak ada kehidupan disini." Kata Minami sambil memejamkan matanya untuk melihat tempat yang dia pijak.


"Benarkah? Tapi aku tidak yakin akan hal itu kak, aku merasakan kehadiran yang samar mengincar kita dengan mulut terbuka memamerkan taring yang tajam." Kata Aquila dengan santai.


Sssseeessss....


Desis Adrian keras dengan tatapan tajam terarah kesebuah reruntuhan istana yang sudah menjadi puing-puing. Kenapa Adrian sang pilar malam tau, karena dia adalah ular berdarah dingin dan mencari mangsa dengan sensor panas yang terpancar dari musuh atau mangsa, dan lidahnya sebagai pendeteksi dan menangkap sensor panas meski musuh bersembunyi dikegelapan, dan element utama Adrian adalah kegelapan.

__ADS_1


"Ohhh... kau mengetahuinya? Apa kau mau kesana dan bermain sebentar?" Tanya Aquila dengan senyum manisnya.


Dengan mata yang berbinar, Adrian langsung turun dari pundak Aquila dan berjalan merambat dengan cepat kearah reruntuhan yang dia tatap sebelumnya.


"Kak, kenapa Adrian kesana? Bukan kah itu sangat berbahaya untuknya?"Tanya Soleil kepada Aquila dengan heran.


"Biarlah, aku ingn tahu seperti apa orang yang telah berani melihat adik-adikku dengan lapar dan dia juga telah memakan seluruh orang di kerajaan ini, dan bahkan saudaramu juga ikut dia makan permata kehidupannya." Kata Aquila menjawab pertanyaan Soleil dengan senyum sinis.


"Seluruh orang? Nona apa yang nona maksud?" Tanya Leave dengan menatap Aquila penuh tanda tanya.


"Sebentar lagi kakak akan tau apa yang aku maksud, dan aku rasa Adrian telah selesai membuat orang itu lemah." Jawab Aquila membuat Leave tidak puas.


"Giel, sangat takut. Rasanya mana disini sangat buruk dengan hawa membunuh yang pekat. Kak Aquila, peluk aku, aku sangat takut." Kata Rugiel dengan manja dan tidak terlupa dengan mata yang berkaca-kaca.


Shiro yang mendengar permintaan Rugiel langsung mendengus tidak suka dan mencibir dengan iri. "Dasar manja, aku pun tidak pernah di gendong seperti itu."


"Ara, Rino kau iri ya?" Kata Helios dengan menutupi mulutnya dengan sayap lebarnya.


"Sepertinya Adrian sudah selesai. Ayo, kita kesana, aku ingin melihat seperti apa rupa manusia itu." Ucap Aquila berjalan meninggalkan Shiro dan Helios yang tengah berdebat bersama dengan Minami dan Leave.


"Nona, tunggu aku.." Teriak Leave sambil berlari kecil untuk menyusul Aquila yang telah mendahuluinya.


Aquila yang mendengar teriakan Leave pun berhenti dan menengok kan kepalanya untuk melihat sampai mana Leave dan Minami berada.


"Nona, kenapa tidak bilang kalau mau menyusul tuan Adrian." Kata Minami protes.


"Bukankah aku sudah bilang." Kata Aquila dengan acuh.

__ADS_1


"Aku tidak menyadari kalau nona mengatakannya." Ucap Leave dengan canggung.


"Lupakan. Hei... kalian berdua!! Apa kalian ingin tetap disana?" Seru Aquila dengan keras.


Shiro dan Helios yang mendapat teriakan Aquila pun langsung berhenti dari perdebatan, dan langsung berlari dengan cepat kearah Aquila dengan sangat kencang. Tentu saja momen itu di gunakan oleh Shiro dan Helios untuk menunjukan siapa yang tercepat sampai pada orang yang memanggil mereka yang tidak lain adalah Aquila.


"Yahoo....!! Aku menang. Ha ha ha... Helios kamu kalah..." Tawa Shiro menggema dan membuat Aquila bingung dengan kedua adiknya yang terlihat tengah bersaing merebutkan sesuatu.


"Ya, kali ini kau menang, tapi tidak di masa depan." Kata Helios menanggapi perkataan Shiro dengan optimis.


"Aku akan menantikan momen itu bila terjadi Lio." Kata Shiro, lalu Shiro langsung menaiki punggung Helios dengan nayaman.


"Apa yang kalian bicarakan, sepertinya sangat seru." Ucap Aquila yang terlihat penasaran dengan tingkah Shiro dan Helios yang aneh itu.


"Tidak ada kak Aquila, hanya pertarungan kecil antara aku dan Rino." Kata Helios yang menanggapi perkataan Aquila yang penasaran dengan apa yang mereka lakukan.


"Oh, begitu. Ugh.. kenapa tempat ini sangat bau." Keluahan Aquila sambil mencubit hidungnya untuk menghalau bau busuk dari dalam reruntuhan yang dimasuki oleh Adrian sebelumnya.


"Bau nya sangat buruk. Rasanya mana dalam tubuhku menjadi kacau dan ingin keluar dari dalam tubuhku." Kata Minami dengan tubuh terhuyung lemas.


"Nami, kau tidak apa?" Tanya Leave cemas.


"Aku tidak tau, tapi rasanya aku ingin tidur ..." Jawab Minami sambil menahan kelopak matanya agar tidak terpejam.


"Kak Leave, pergilah bawa kak Nami menjauh dari tempat ini. Helios, bawalah Rugiel dan Soleil bersama mu menjauh dan cari lah tempat yang aman. Firasatku merasakan semakin buruk untuk kalian." kata Aquila dengan wajah serius dengan sorot mata yang tajam terserah pada reruntuhan gelap dihadapinya.


"Aku mengerti kak." kata Helios dengan sigap membawa Soleil dan Rugiel.

__ADS_1


"Nona, berhati-hati lah." Kata Leave dengan cemas.


"Tentu saja, bukan masalah kak." Kata Aquila dengan senyum meyakinkan.


__ADS_2