
Ditanah yang berlupur, batang pohon telah ditebang menghiasi setiap sisi dan ranting-ranting berserakan sembarangan dengan daun yang telah layu dan sebagian telah menjadi warna coklat.
Bau getah pohon dan daun yang membusuk melayang diudara membuat aroma yang membuat siapapun ingin mengeluarkan isi perutnya. Para budak terlihat lelah namun tetapi dipaksa untuk terus bekerja.
Mereka ingin beristirahat namun cambuk langsung mencium punggung mereka yang kotor, sebagian prajurit terus mengawasi para budak dan sebagian yang lain masih mengurus seorang gadis kecil yang merepotkan.
Suara dentingan pedang terdengar di sore hari yang mulai gelap, para prajurit yang menyerang gadis itu mulai kelelahan namun harus mendapatkan gadis itu untuk memuaskan tuan mereka yang marah.
Aquila belum merasakan lelah namun terlihat malas meladeni orang-oranh yang ingin menangkapnya. "Sudahlah paman, lebih baik berhenti saja. Kalian sudah kelelahan menemaniku bermain." Kata Aquila sok perhatian.
"Diam kau anak kecil....!!!" Kata salah satu prajurit sambil mengayunkan pedangnya kearah Aquila. Namun dihindarinya dengan sangat cepat oleh Aquila.
"Sudahlah paman. Aku akan kembali lagi besok....." Kata Aquila sambil mengaktifkan telepotasi lalu menghilang dengan sekejap mata.
"Tidak berguna......!!!!! Buat apa aku menyewa kalian kalau hanya membuatku malu. Aku sudah mengeluarkan uang banyak, tapi apa yang kalian berikan pada ku hah...???!!" Bangsawan itu mulai marah-marah melampiaskan kekesalannya ke para prajurit sewaannya dari kerajaan dan tak segan-segan menampar, memukul atau menendang mereka dengan kejam.
Akan tetapi mereka semua hanya bisa diam saja tanpa bisa melawan, memang benar mereka disewanya oleh raja mereka untuk menambah pundi-pundi uang dan menimbun kekayaan.
Aquila yang melihat dari atas pohon yang ditutupi oleh daun yang lebat untuk menyembunyikan tubuhnya agar tidak diketahui oleh mereka yang ingin menangkapnya.
Minami dan Leave sangat kebingungan dan ketakutan karena nona mereka belum kembali dari berkeliling, para magical beast pun membantu mereka untuk mencari Aquila yang menghilang sejak siang sampai menjelang malam.
Sedangkan kedua pilar tidak mengetahui kalau orang yang dianggapnya sebagai kakak telah menghilang karena mereka tidak bisa membuka mata mereka dan kehilangan kesadaran mereka untuk menyesuaikan energi dari pilar yang lain.
Wajah cemas terlihat nyata diwajah Leave, dan Minami masih mencari Aquila dan dibantu juga oleh magical beast yang lain. Leave tidak bisa ikut mencari Aquila karena kedua pilar yang belum terbangun dari tidurnya.
"Nona.....Nona....." Teriak seekor tupai dengan ekor menyerupai bunga matahari yang mekar dari balik pepohonan yang rimbun. Lalu melompat turun dihadapan Leave yang tengah khawatir itu.
"Nona, aku melihat huh.... aku melihat..." Katanya dengan terputus-putus dan nafas yang memburu.
"Tenangkan lah dirimu, lalu berbicaralah." Ucap Leave menenangkan tupai yang terengah-engah.
__ADS_1
"Aku me-melihat nona Messiah ada dihutan Roa, dan be-bertarung dengan orang yang m-menghancurkan rumah kami." Kata tupai bunga dengan terputus-putus.
"Dimana? Antar kan aku segera ketempat nonaku sekarang!" Pinta Leave dengan semangat.
Si tupai bunga yang masih menenangkan nafas nya langsung tercekat dengan permintaan Leave yang ingin menyusul sang Messiah. "Tolong tunggu sebentar..."Kata tupai bunga sambil menghirup nafas dalam-dalam.
"...."
"Baik, ayo ikuti saya." Kata tupai bunga lalu memanjat pohon dan kemudian melompat dari dahan pohon ke dahan yang lain. Leave mengikuti tupai bunga dari belakang dan memperhatikan sekitarnya.
Beberapa waktu telah dilalui namun mereka belum sampai dimana tempat yang dituju oleh tupai bunga.
"Apakah masih jauh?" Tanya Leave cemas.
"Tidak terlalu jauh nona, tolong bersabarlah." Pinta si tupai bunga memberi pengertian.
"Baiklah." Ucap Leave dan mereka terus melalu dahan pohon terus menerus. Kemudian mereka berdua sampai dimana terdapat batang kayu yang berhamburan dan beberapa lubang yang membekas ditanah menandakan kalau terjadi pertempuran sebelumnya.
"Saya tidak tau, saat saya mengetahui kalau nona Messiah bertarung saya langsung kembali untuk memberitahukan kepada nona." Kata tupai bunga dengan rasa bersalah.
"Bagaimana kalau nonaku tertangkap oleh mereka? Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Leave dengan panik.
"Tertangkap oleh siapa?" Sebuah suara langsung menyahuti perkataan Leave yang panik.
Leave langsung mencari sumber suara yang sangat dia kenal. Dari balik rimbun dedaunan muncul seorang gadis yang mereka cari sejak siang hingga sekarang. Leave langsung melompat dimana Aquila berada dan langsung memeluknya dengan erat.
"Nona, aku sangat khawatir bila nona kenapa-napa." Kata Leave ditengah pelukan yang erat itu. Aquila hanya bisa menepuk pundak Leave dengan pelan.
"Aku tidak apa-apa kak. Lihatlah, tidak ada yang kurang apapun dariku." Ucap Aquila menenangkan Leave yang gemetaran.
"Benarkah, apa nona barusan bertarung dengan manusia itu?" Tanya Leave sambil melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya bermain saja." Kata Aquila sambil tersenyum manis.
"Nona, lain kali jangan pergi sendirian. Kami semua takut nona kenap-napa." Leave menasehati namun diabaikan oleh Aquila.
"Aku bukan anak kecil kak, aku hanya tersesat saja." Kata Aquila sambil mengembangkan pipinya.
Tupai bunga yang terabaikan hanya bisa diam dan bermain dengan ranting pohon membuat lingkaran dikulit pohon yang keras.
"Baiklah, lain kali kalau nona mau berkeliling, nona harus didampingi aku atau Minami. Boleh juga dengan tuan Shiro atau tuan Rugiel." Leave memberikan nasehat lagi.
"Baiklah kakakku yang cantik, ayo kita pulang saja. Aku sangat lapar karena permainan dengan mereka. Dan besok aku akan membuat permainan untuk mereka." Kata Aquila dengan senyum misteriusnya.
"Baiklah nona, ayo tupai kamu juga harus pulang." Ajak Leave, lalu mereka bertiga mulai meninggalkan tempat itu dan kembali ketempat yang lain berada.
Perjalan yang mereka lalu mulai gelap dan hanya cahaya bulan yang membatu mereka untuk melihat jalan dengan cahaya remang. Dan Aquila mulai bosan karena jarak yang ditempuh sangatlah jauh daripada ia tersesat sebelumnya.
"Apa masih jauh kak Leave?"
"Masih jauh nona, sekitar dua jam lagi kita akan sampai." Jawab Leave sambil berlari dan tupai bunga ikut menumpang dipunggung Leave.
"Saat aku tersesat serasa waktu berjalan cepat, tapi sekarang kenapa sangat lama?" Kata Aquila sambil melihat sekitarnya.
"Mungkin nona berlari sangat kencang hingga tidak melihat sekitarnya." Ucap Leave sambil terus berlari dan mengamati pohon yang tadi dilaluinya.
"Mungkin saja kak, sebab aku tadi berlari sangat kencang dan tidak melihat sekitarnya. Saat aku berhenti yang kulihat hanya pohon tumbang dengan orang gendut dengan muka penuh dengan rambut seperti monyet." Aquila menceritakan pertemuan dengan bangsawan dengan perut besar dan wajah penuh berewok.
"Nona tidak baik membicarakan orang secara buruk." Tegur Leave yang mendengarkan cerita Aquila.
"Itu memang benar kak. Dan disana terdapat banyak orang yang dijadikan budak. Aku bingung kenapa harus ada budak bukankah mereka sama-sama manusia?" Tanya Aquila heran.
"Nona, aku juga tidak tau. Lebih baik tanyakan saja kepada tuan Shiro atau Minami. Mereka lebih tau tentang dunia ini daripada kita." Ucap Leave yang memang tidak tau apa-apa.
__ADS_1
"Benar juga. Ayo kak Leave lebih kencang larinya...!!!" Teriak Aquila girang dan Leave pun menambah kecepatan berlarinya dan membuat tupai bunga kewalahan untuk mencari pengangan.