Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 59


__ADS_3

Sangat gelap dan dingin, seakan matahari engan keluar dari peristirahatannya dan dinginnya tempat itu seperti disebuah gurun es yang membukukan. itu lah yang dirasakan Aquila saat ini.


Aquila bingung untuk menentukan arah, yang ada dihadapannya hanyalah gelap pekat dan dingin menusuk jiwa dan raganya.


Ditengah kebingungannya Aquila hanya bisa mengikuti kata hatinya untuk berjalan meninggalkan tempat itu. Aquila terus berjalan dan terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Berjam-jam Aquila berjalan didalam tempat itu dan belum juga menemukan titik terang dari tempat itu.


Rasa takut semakin menguat dihati Aquila, dan juga ia sangat merindukan kakak dan adiknya dan ingin segera keluar dari tempat gelap itu. Aquila mulai putus asa dan duduk termenung ditempat gelap itu.


"Berdiam diri tidak ada gunanya, aku harus keluar dari sini dan kembali untuk menyelamatkan adik-adikku apa pun itu. Harus! aku harus keluar dari sini." Tekat Aquila, lalu mulai berdiri dan kembali berjalan.


Rasanya Aquila sudah terlalu lama ditempat itu, ia merasa sudah berhari-hari ditempat gelap namun belum juga menemukan titik terang jalan keluar. Rasa putus asa mulai bangkit lagi dihati Aquila namun rasa rindunya terhadap Leave, Minami, Shiro, dan Rugiel juga ikut menguat dan membangkitkan harapan dihati Aquila agar bisa keluar dari tempat itu.


Berhari-hari sudah dilalui, namun rasa lapar dan haus tidak ia rasakan. Namun hanya rasa rindu semakin kuat dan ingin keluar dari tempat yang mengurungnya itu. setelah perjalanan panjang yang telah di lalui nya, akhirnya Aquila menemukan titik terang dari tempat gelap itu.


Aquila berlari kearah titik cahaya itu semangat. Namun belum juga sampai setelah berlari cukup jauh bahkan berhari-hati. Putus asa menyapa hati Aquila karena belum juga sampai ditempat yang bercahaya itu.


"Apakah tempat ini sedang mempermainkan ku atau sedang mengujiku. Oh tuhan, berikanlah aku kesabaran dan kekuatan untuk melalui tempat ini." Doa Aquila menyelingi keluhannya dan kejengkelannya terhadap tempat gelap yang mengurungnya selama berminggu-minggu. Itu lah yang Aquila rasakan.


"Teruslah berjalan wahai anak manusia yang telah diangkat sebagai Messiah. Dirimu sudah hampir sampai." Sebuah suara seperti laki-laki dan perempuan secara bersamaan seakan menyahuti ucapan Aquila sebelumnya.

__ADS_1


Aquila pun mulai kembali berdiri dan mulai berjalan kembali, namun kali ini tidak terlalu lama seperti sebelumnya seakan ada dorongan tidak kasat mata untuk mempercepat langkah kaki kecilnya yang sudah lelah berjalan.


Tiba sudah Aquila diujung cahaya yang telah ia dambakan selama terkurung ditempat gelap nan dingin.


"Wahai sang Messiah, selamat datang." Ucap suara asing langsung menyapa Aquila yang sedang menyesuaikan cahaya yang masuk dalam matanya yang sudah lama terbiasa melihat kegelapan.


"Siapa kalian? Dan dimana aku saat ini?" Tanya Aquila dengan penasaran dengan orang yang berada dihadapannya.


"Apa kah kamu sudah melupakan aku wahai anakku?" Tanya sebuah suara perempuan yang lembut, Aquila melihat wanita sangat cantik dengan sebuah seruling yang ada di genggaman nya, dengan mahkota bunga Peony yang indah.


"Salam hormat, Dewi Callista." Sapa Aquila kepada Dewi Callista.


"Dimana ini? Dan kenapa aku bisa sampai ditempat ini?" Tanya Aquila secara beruntun tapi hanya senyuman yang lembut menjawab pertanyaan Aquila.


"Dirimu saat ini berada di Asilum, tempat para Dewa dan Dewi tinggal. Dan kenapa dirimu wahai Messiah berada disini, karena kami semua ingin bertemu dengan dirimu." Seorang lelaki tampan dengan warna kulit tembaga yang mengkilap dengan jubah yang mencolok dengan warna hitam keunguan dan bunga teratai ungu ditangan kanan nya, serta tunggangannya sekor macan kumbang hitam dengan taburan cahaya seperti bintang. Dialah sang Dewa Waktu Khronos.


Aquila mulai mengamati sekitarnya, dan ternyata terdapat sembilan Dewa dan Dewi termasuk Dewi Callista. Mereka menunggangi tunggangan masing-masing kecuali tunggangan Dewi Callista yang sudah menjadi zirah yang dikenakan oleh Aquila.


Sesaat mengamati sekitarnya, zirah Wister langsung berubah menjadi wujud aslinya yang beruapa naga dengan warna zamrud langsung menuju Dewi Callista dan menjadi tempat duduk seperti yang lainya. Dan kini baju yang dikenakan Aquila adalah baju yang terakhir kali ia pakai saat dibumi, yaitu gaun putih sederhana dengan renda disisi baawahny.

__ADS_1


Kebingungan Aquila semakin terlihat, karena kerutan di dahinya yang sangat jelas membentuk garis hitam. "Tidak perlu heran anakku, kami semua telah memanggilmu melalui ruang hampa yang baru saja kau lalui. Dan juga kami minta maaf bila kamu merasa dipermainkan oleh waktu dalam ruangan itu." Kata seorang Dewi dengan gaun hijau cerah dengan mahkota berbentuk untaian gandum berbentuk lingkaran dibelakang kepalnya dan sebuah liontin kecil menghiasi dahinya, dan tunggangannya seekor serigala abu-abu dengan rune berada dibelakang tubuhnya. Dia adalah Dewi Kesuburan tanaman Kichijouten.


Aquila memandang Dewi yang baru saja berbicara, rune serigala yang terpasang mengingatkannya pada Leave yang memiliki hal serupa hanya senjatanya saja yang berbeda. Wajah Aquila seketika menjadi bodoh dan ditertawakan oleh Dewa waktu.


"Hahaha, sangat menarik. Kamu memiliki seorang anak yang sangat menarik, aku menjadi iri denganmu." Kata Dewa waktu.


"Dia juga anakmu, sama sepertimu saat dirimu terkejut atau penasaran pasti akan melakukan hal yang sama dengannya." Kata seorang Dewi yang sangat cantik, parasnya mengingatkan Aquila tentang Dewi kecantikan Yunani kuno Afrodit namun hewan tunggangannya bukan burung dara tetapi ular phyton berkepala tiga dengan rune keunguan dengan senjata sebuah jarum.


'Ha..... Cantik namun licik.' Ucap Aquila didalam benaknya yang sedang memuji kecantikannya.


"Ternyata kamu mengetahui sifatnya anakku. Ternyata dirimu sangatlah mengetahui sifat seseorang" Ucap seorang laki-laki yang membuat pikiran Aquila langsung tegang.


'Dia membaca pikiranku...!' Aquila berteriak didalam pikirannya dan menatap horor terhadap dewa yang telah membaca pikirannya itu.


"Tidak perlu terkejut seperti itu. Perkenalkan, aku adalah Dewa kebijaksanaan Orunmla. Senang bertemu denganmu lagi Messiah." Ucapnya sambil tersenyum dan tunggangannya adalah seekor singa putih yang mengibaskan ekor yang sangat panjang, seakan menyapa Aquila.


Aquila hanya tersenyum sopan, kemudian Aquila mefokuskan dirinya kepada Dewi Callista untuk meminta penjelasan kepada dirinya yang berada ditempat yang sangat asing bagi Aquila.


***Hai semuanya, hari ini author hanya bisa up satu capture saja. Paket bulanan author habis dan kepala author juga sakit banget. Mungkin untuk mulai besok author gak bisa up lagi atau mungkin sampai Minggu depan. Maaf bila capture hari ini tidak terlalu bagus. 😭😭😭

__ADS_1


Samapi ketemu diminggu depan. Matta aitai ne* 😣😣😣**


__ADS_2