Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 16


__ADS_3

Aquila Aisar ingin rasanya mengutuk, menyumpah serapah kepada Shiro,yang tega mengerjainya dengan memberikan beberapa tumpuk buku tentang mana dan sihir dasar.


tapi, Aquila juga merasa penasaran dengan istilah mana dan sihir didunia ini. sedangkan dibumi tidak ada, melainkan alat elekronik yang sudah mendominasi setiap harinya.


Aquila yang menyibukkan diri dengan tumpukan buku tua yang menguning didalam perpustakaan, hingga sore menjelang Aquila belum keluar dari perpustakaan didalam menara.


Tok Tok..


Aquila yang mendengarkan suara ketukan, dan mengarahkan pandangannya kearah suara ketukan itu berasal.


"masuk lah,..." sambil terus membaca buku tentang sihir dasar.


"nona, apa tidak ingin beristirahat. ini sudah menjelang malam." kata Leave berjalan menghampiri Aquila yang fokus.


"ini belum menjelang malam, mataharinya saja masih belum tenggelam."


"memang belum nona, setidaknya membersihkan diri sendiri lalu non bisa melanjutkan lagi." saran Leave.


"baiklah, juga badanku sudah lengket. oh iya, dimana Shiro?" tanya Aquila.


"setelah mengantarkan nona kesini, tuan langsung menghilang entah kemana dan belum kembali juga."


"hemmmm," lalu Aquila beranjak dari tempat duduknya dan membawa buku yang dia baca, Aquila melangkah kan kakinya keluar dari dalam perpustakaan dan diikuti oleh Leave.


"apa Shiro tidak mengatakan sesuatu, kak?"


"aku rasa tidak nona,"


"huuuh, aku rasa dia merencanakan sesuatu tanpa memberi tahuku."


perjalanan mereka diiringi dengan burung yang terbang menuju sarang mereka, matahari yang akan tenggelam memantulkan sinarnya yang keemasan dipermukaan danau yang tenang.


"sangat indah." kata Aquila lirih namun tetap didengar oleh Leave.


pemandangan alam seperti ini sangat jarang terlihat oleh Aquila dibumi. yang selalu dia lihat hanyalah gedung pencakar langit dengan kendaraan yang berlalu lalang.


setelah puas melihat matahari tenggelam, Aquila dan Leave kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Shiro yang sudah dihiasi cahaya.


saat memasuki rumah Shiro, Aquila dan Leave disambut oleh gadis elf.

__ADS_1


"apakah Shiro sudah pulang?" tanya Aquila kepada gadis elf.


"tuan belum pulang nona."


"hemmm, aku akan membersihkan diri dulu, kak Leave dan nona bisa mendahuluiku aku akan menyusu nanti." kata Aquila dengan datar dan melangkahkan kakinya kearah kamarnya berada.


setelah kepergian Aquila, gadis elf memandang heran nona barunya itu.


"apa nona selau saja begitu?" tanya sang gadis elf.


"iya. nona memang selau begitu, bila dengan orang yang belum dikenalnya. sebenarnya nona orang yang baik. jadi jangan tersinggung ya Minami." kata Leave dengan memberikan semangat kepada gadis elf yang bernama Minami.


lalu mereka berdua duduk sambil berbincang dan menunggu Aquila yang tengah berada didalam kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aquila yang tengah berada didalam kamarnya sambil memandangi kalung pemberian sang kakak yang sama persis dengan milik ibunya.


"ibu, apa aku bisa melakukan ini semua?" Aquila merasa kesedihan yang mendalam dan sangat merindukan ayah dan ibunya yang telah meninggalkannya lima tahun lalu.


"ibu, aku sangat merindukanmu, aku sangat ingin bertemu denganmu." dengan deraian air mata yang mengaliri pipinya.


ditempat itu terdapat pohon Willow dengan daun yang menjuntai dan batang pohon yang sangat besar serta terdapat batu permata yang sangat besar mengeluarkan cahaya yang lembut. yang membuat siapapun yang memandangnya terpesona dan merasa tenang, tidak terkecuali Aquila Aisar yang masih memandangnya dengan takjub.


setelah sekian lama Aquila memandang pohon Willow itu, ia tersadar dari kekagumannya akan pohon itu, kemudian Aquila Aisar mendekati pohon Willow karena penasaran.


setelah dekat dengan pohon Willow, dibawah pohon Willow itu terdapat berbagai bunga dengan warna yang indah dan memancarkan cahaya sesuai dengan warnanya masing-masing.


kemudian Aquila menyentuh salah satu bunga, bunga itu seolah merespon sentuhan Aquila dengan mengeluarkan serbuk cahaya dan kemudian terbang dan diikuti dengan bunga yang lainya.


cahaya yang dikeluarkan oleh bunga itu membentuk sebuah rune yang sangat indah namun sedikit mencekam. rune itu melayang kearah kebatu permata yang berada di pohon Willow itu, dan kemudian menyatu dengan batu permata itu.


KRAAK.....


BOOOMMMM.....


WWOOOSSS......


akibat ledakan itu, angin menerpa Aquila dengan sangat kuat dan diiring dengan pecahan batu permata. Aquila dengan sepontan menutup matanya, namun angin dan batu permata itu tidak melukai Aquila sama sekali.

__ADS_1


"apa yang terjadi?!" tanyanya panik dengan peristiwa didepan matanya itu.


setelah angin dari ledakan tadi tidak terasa, Aquila membuka matanya secara perlahan. dan memandang apa yang ada didepannya.


tanpa terasa air mata Aquila mengalir secara perlahan, karena sangat terkejut sekaligus merindukan sosok didepanya.


"A-ayah..... I-ibu....., apa aku sedang bermimpi...?" tanyanya dengan nada bergetar dan badan yang mematung.


kemudian kedua sosok itu menghampiri aquila dan langsung memeluknya, Aquila yang sangat merindukan pelukan hangat dari orang yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang, Aquila langsung menangis sejadi-jadinya karena tak kuasa menahan kerinduannya yang selama ini dia pendam.


kedua sosok itu hanya bisa menenangkan anak yang ada dipeluknya, dengan belaian pada kepalanya dan punggungnya dengan kasih sayang.


setelah tangisan Aquila reda, mereka melepaskan pelukannya.


"aku rasa gadis kecil ku masih saja cengeng seperti dulu walaupun sekarang sudah menjadi gadis besar." kata sang ayah sambil menepuk kepala Aquila. Aquila yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa menahan kekesalannya.


"Ayah, jangan begitu. meskipun anak kita cengeng, tapi dia menjadi gadis yang kuat dan tangguh." bela sang ibu.


"ya, tetap saja. bagi ayah hanyalah gadis kecil yang cengeng." kata sang ayah sambil mengangkat bahunya.


"ayah... aku bukan gadis kecil. umurku sudah 20 tahun...!" Aquila tidak terima dengan perkataan ayahnya itu.


"sudahlah, kalian jangan berkelahi. aku hanya ingin melepaskan rindu pada anak Perempuanku ini. meski sekarang menjadi gadis kecil." kata sang ibu sambil tertawa geli.


"ibu, aku bukan anak kecil, hanya saja tubuhku menjadi kecil. dan juga ini bukan tubuhku." kata Aquila sambil menundukkan kepalanya.


"walaupun itu bukan milikmu, tetapi jiwamu tetap kamu Dita." kata sang ibu dengan lembut.


"Ayah, Ibu. aku sangat merindukan kalian. aku kira kita tidak bisa bertemu dengan kalian lagi." kata Aquila semangat dan sudah melupakan candaan ayahnya tadi.


"kita juga sangat merindukanmu sayang, dan bagai mana kamu bisa datang kemari?" tanya sang ibu penasaran.


dengan tersipu malu, Aquila menjelaskan semuanya yang terjadi pada dirinya. dan memberitahukan bahwa dirinya telah tiada dibumi. dan bertemu kucing kecil menggemaskan yang membawanya kedunia ini dan ternyata salah satu pilar penting menjaga keseimbangan dunia.


ayah dan ibu Aquila hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. "kamu sudah menjalani hal yang berat sayang. apa kamu tahu tujuan mu dibawa kemari?" tanya sang ayah.


DEG...


'apa yang sebenarnya terjadi?' tanyanya dalam benaknya dengan wajah pucat dan ingin tahu alasan yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2