
Keributan seketika meledak setelah kepergian Aquila yang menghilang dalam kegelapan hutan di depan gerbang utama istana kekaisaran Zemlya. Jendral yang mereka banggakan hanya bisa terbaring lemah bersimbah darah dari setiap luka gores yang tidak terlalu dalam. Bahkan Armor yang digunakannya pun ikut berlubang membentuk garis yang tidak beraturan.
Meninggalkan suasana kacau itu, Aquila telah menyusul para pilar yang sudah mendahuluinya menuju rumah yang berada ditepi hutan. Setelah sampai di rumah yang mereka tempati, Aquila disambut dengan raut wajah sedih dari Rugiel dan Soleil dan kebencian yang terlihat dari mata Vent Leger.
Sedangkan Minami berusaha menyembuhkan luka di perut Adrian yang masih terbuka dengan aliran darah yang berwarna ungu, dan tentu saja membuat Aquila merasa marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi salah satu adiknya yang merupakan sang pilar malam.
"Kenapa Adrian bisa terluka, bukankah para penjaga penjara telah berkumpul dengan penjaga lain?" Tanya Aquila dengan marah dan tidak percaya dengan harapannya.
Shiro dan Vent Leger hanya saling pandang tidak tau menjawab apa yang sebenarnya. Sedangkan Adrian hanya terbaring lemah dan tidak sadarkan diri karena didalam tubuhnya darahnya sudah hampir habis karena terus mengalir keluar.
"Shiro, bukankah kamu bersamanya, kenapa dia bisa terluka dengan sangat mengerikan seperti itu?!" Tanya Aquila yang sudah tidak bisa menahan amarah nya.
"Kak Aquila, tenanglah. Ini bukan salah Rino, saat kita sampai di tubuh utama Adrian, tubuhnya sudah terluka dengan sayatan panjang di perutnya dan terus menerus mengeluarkan darah dan terdapat wadah yang menampung darah Adrian. Dan juga aku tidak tau kemana aliran darah itu berhenti." Kata Vent Leger menjelaskan semua yang ia tahu, dan tentu saja menghindarkan Shiro dari amarah Aquila yang sudah memuncak.
"Ternyata mereka, dengan senang hati aku akan membantai mereka karena telah berani melukai salah satu adikku." Kata Aquila sambil mengepalkan tangannya erat dengan raut wajah yang sulit di artikan, dan kemudian Aquila melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu dan membalaskan rasa sakit Adrian yang terasa dihatinya.
Melihat Aquila akan pergi, Shiro langsung menghentikan Aquila dengan memeluk tubuh Aquila yang sudah terasa panas dengan nafas menderu. " Kak, jangan lakukan hal itu. Aku tidak ingin tangan kakak terkotori dengan darah lagi, aku tau kak Aquila tidak terima dengan apa yang dirasakan oleh Adrian, tapi aku juga merasakan setiap luka dari saudaraku meski hanya sebuah tusukan duri termasuk dengan setiap luka yang kak Aquila rasakan. Kak, aku mohon, jangan lakukan hal yang membuat ku semakin menderita." Pinta Shiro dengan bersungguh-sungguh, dan juga Shiro merasakan kemarahan Aquila yang sama persis saat menyelamatkan Rugiel yang sudah tidak terkendali.
__ADS_1
"Shiro, biarkan aku pergi. Biarkan aku menuntaskan apa yang harus aku lakukan, aku tidak terima bila salah satu diantara kalian terluka, hatiku terasa sangat sakit. Biarkan aku menuntaskan dendam milik Adrian pada mereka yang melukainya selama ini." Kata Aquila dengan mata yang memerah menahan tangis yang sudah mengantung di pelupuk matanya.
"Kak Aquila, Giel tidak mau kalau Kak Aquila menanggung beban sendiri seperti ini, apakah kak Aquila tidak mempercayai Giel dan saudara Giel?" Tanya Rugiel yang juga ikut memeluk Aquila dengan erat.
"Tentu saja aku mempercayai kalian semua. Tapi, biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku tidak mengizinkan siapapun melukai kalian meski hanya seujung kuku. Biarkan aku melindungi kalian dengan cara ku sendiri." Jawab Aquila dengan nada yang tegas dan tidak ingin dibantah.
"Kak, kalau kak Aquila mempercayai kita, maka aku mohon untuk kali ini saja, jangan melakukan hal yang sama seperti saat di hutan Roa." Kata shiro dengan penuh harapan.
"Nona, lebih nona menuruti permintaan tuan Shiro. Aku juga tidak mau melihat nona tersiksa dalam amarah nona yang tidak dapat di tahan oleh diriku atau mereka." Kata Leave dengan penuh pengertian yang disampaikan dengan suara lembut.
"Maaf, bila dulu diriku membuat kak Leave merasa kerepotan. Tapi, aku tidak terima bila Adrian dilakukan seperti ini." Kata Aquila teguh pada pendiriannya.
Aquila langsung mengurungkan niatnya untuk membumi hanguskan istana kekaisaran Zemlya karena amarah semata, dan pandanganya langsung tertuju pada tubuh Adrian yang masih tergeletak lemah.
"Maafkan aku, aku bukan kakak yang baik karena tidak bisa menyelamatkanmu. Bahkan aku hampir melupakanmu untuk menuruti keegoisanku." Kata Aquila dengan nada menyesal dan meletakkan tanganya sambil mengarahkan mana miliknya pada luka diperut Adrian.
Pelan namun pasti, luka di perut Adrian mulai menutup dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Dan berangsur-angsur warna kulit yang pucat kini kembali menunjukan warna yang segar seperti sedia kala.
__ADS_1
"K-kakak..." Kata Adrian dengan suara lirihnya.
"Kau sudah sadar, syukurlah... Apa masih ada yang terasa sakit?" Tanya Aquila dengan suara yang terdengar menghawatirkan.
"Kak tetaplah disini, jangan pergi meninggalkan aku sendiri disini, aku takut.. aku sangat takut kak.." Kata Adrian dengan memegang tangan Aquila dengan serat serta gemetar dan nafas pendek namun sangat cepat.
"Kakak tidak akan pergi, kakak akan disini bersama mu, jangan takut ya." Bujuk Aquila menenangkan Adrian yang terlihat sangat ketakutan.
Adrian yang sebelumnya gemetar ketakutan kini mulai tenang dan menutup mata dengan nafas teratur, dan juga tangannya masih tetap memegang erat tangan Aquila tanpa ada kelonggaran sama sekali.
"Seperti nya Adrian mengalami trauma yang sangat menyakitkan kak Dita, aku harap kak Dita tidak meninggalkannya meski sesaat." Kata Soleil dengan memperhatikan Adrian yang sudah tertidur.
"Sepertinya begitu. Tapi aku sangat penasaran, siapa yang membuat Adrian trauma seperti ini." Ucap Aquila dengan wajah datar.
"Jangan pikirkan hal itu kak, lebih baik kita rawat Adrian terlebih dahulu. Dan juga dua hari dari sekarang akan diadakan festival lampion." Kata Shiro memberikan saran dan memberitahukan hal yang penting dalam dua hari kedepan.
"Dan nona, apa nona berkenan membiarkan aku mencari orang yang menculik bayi, rasanya aku ingin membuatkannya menderita karena telah berani melakukan hal yang keji pada bayi yang suci tanpa dosa itu." Kata Minami dengan serius karena merasa sangat kesal pada orang yang membuatnya dalam beberapa hari tidak tenang.
__ADS_1
"Tenang saja kak, dia akan muncul di muka umum pada saat festival dilaksanakan. Pada saat itu juga, kak Nami bebas berbuat apa pun padanya." Kata Aquila dengan senyum dingin yang setia menghiasi wajahnya yang ayu.