Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 156


__ADS_3

"Ada apa dengan wajah kalian? apa aku salah berkata?" Tanya Sebasta bingung dengan wajah muram yang sebelumnya terlihat cerah.


"Tidak. Kau tidak salah berbicara, namun orang itu sudah tidak ada setelah menyelamatkanmu." Kata Vent Leger dengan muka acuh, akan tetapi matanya masih menyisakan air yang dia usap secara kasar.


"Menolongku? Apa orang itu sangat penting bagi kalian?" Tanya Sebasta yang sangat bingung dengan keadaannya dan saudaranya itu.


"Tentu saja..!! Kalau tidak ada kak Aquila, Sebasta tidak akan...." Jawab Rugiel dengan cepat, namun mulutnya langsung ditutup oleh Soleil.


"Maafkan dia, dia masih sangat terguncang dengan kepergian kak Aquila. Meskipun aku juga tidak bisa menerima kepergiannya yang sangat cepat. Aku kira setelah semua ini selesai kita dapat berkumpul bersama dengan kak Aquila." Kata Adrian sendu.


"Ah...! Dia menitipkan pesan sebelum menghilang, 'Aku mencintai kalian, meski aku telah lenyap dari dunia namun aku masih hidup di hati kalian selamanya." Kata Sebasta.


"Sudah Leil duga, kakak memberikan biji ini untuk membuat kita terus mengingat kakak." Kata Soleil memberi kesimpulan.


"Apa orang itu bernama rin?" Tanya Sebasta kepada Soleil.


"Iya, dia adalah sahabat kakak dari dunia lain yang dipanggil sebagai pahlawan." Jawab Soleil dengan menganggukkan kepalanya.


"Bolehkah aku menemuinya?" Tanya Sebasta lagi.


"Tentu saja, tidak akan ada yang melarang mu menemui sahabat sejati kakak." Kata Soleil dengan semangat, sebab dia melihat keterpurukan Rin yang belum menghilang.


Sebasta pun langsung terbang kearah dimana Leave dan Rin berada.


"Apa aku boleh bergabung?" Tanya Sebasta kepada Leave yang masih berusaha memberi semangat kepada teman nonanya yang sekarang menjadi nonanya.


"Tentu saja, aku tidak melarang mu." Kata Leave dengan lembut.


"Aura kakak sangat mirip dengan orang yang memelukku di pohon kehidupan. Penuh kehangatan." Kata Sebasta.


"Terimakasih, sepertinya nonaku telah menemuimu sebelum kepergiannya." Ucap Leave tegar.

__ADS_1


"Apa kamu bertemu dengan Dita, apa dia bilang kalau aku boleh menyusulnya?" Tanya Rin dengan berlinang air mata.


"Apa yang nona bicarakan. Tentu saja bukan. Lalu siapa sebenarnya nama orang itu? Ah... sudah lah.. Manusia memang membuatku bingung." Kata Sebasta kebingungan.


"Nama dari nonaku adalah Dita Andriyani didunia sebelumnya, dan kemudian nona merubah nama menjadi Aquila Aisar didunia ini. Maaf bila membuatmu bingung." Kata Leave menjelaskan.


"Oh jadi begitu, Untuk kamu yang putus asa, dia tidak bilang seperti itu kepadaku. Namun apa kamu ingin pulang keasalmu?" Tanya Sebasta serius.


"Tentu saja, aku tidak ingin meninggalkan tempat tinggal Dita terlalu lama, di dunia ini hanya memberiku luka yang tidak dapat disembuhkan, bahkan aku ingin segera menyusulnya." Jawab Rin dengan cepat.


"Seperti yang dia duga. Dia tidak ingin kamu menderita disini, lalu dia meminta bantuan kepada Dewi Callista untuk mengantar pulang di bumi dan juga menitipkan ini kepadaku untuk diberikan padamu." Kata Sebasta dengan menyerahkan sebuah kantong yang tidak diketahui isinya.


"Dia memintamu untuk menanamnya di taman rumahnya. Itu saja. Jadi kamu jangan bersedih lagi dengan kepergian dia, kalau dia tau dirimu masih bersedih mungkin aku akan didatanginya dan memukulku." Kata Sebasta dengan niat menghibur.


"Aku tau itu, terimakasih telah memberikan ini kepadaku." Kata Rin dengan tersenyum berusaha menghilangkan kesedihannya.


"Apa kak Rin akan pulang?" Tanya Shiro.


"Apakah aku boleh berkunjung ke sana?" Tanya Shiro lagi.


"Tentu saja, itu rumah Dita, kamu bisa berkunjung ke sana sesuka hatimu kucing kecil." Kata Rin dengan semangat.


"Pasti aku akan ke sana kak." Kata Shiro.


"Wah..... Rino....!!! Kalau kau ingin kerumahnya kak Aquila jangan lupakan aku, aku juga ingin ikut." Teriak Adrian dari kejauhan.


"Kenapa ular itu lagi?!" Tanya Rin merinding.


"Kenapa kak Rin sangat tidak suka dengan wujudku ini, padahal aku sangat cantik dengan bentuk ini." Kata Adrian sedih.


"Tidak, bukannya aku tidak suka. Namun, kalian semua bisa kesana, aku tidak melarang." Kata Rin dengan mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Benarkah?!" Tanya mereka serempak, namun tidak dengan Sebasta yang terlihat kebingungan.


"Minami, apa kamu mau ikut dengan ku?" Tanya Leave kepada Minami yang berada dibelakang para pilar dunia Callista.


"Terimakasih atas tawaran nona Leave, namun aku tidak bisa ikut dengan mu, aku akan kembali ke negeriku sendiri dan membantu tuan Catarino." Jawab Minami.


"Aku mengerti. Terimakasih telah membantu dan merawat nonaku yang terkadang tidak dapat ditebak itu. Bagiku, dirimu seperti saudaraku Minami." Ucap Leave kepada Minami dan memeluknya dengan erat sebagai tanda perpisahan.


"Apa kalian sudah selesai, aku akan membuka gerbang untuk mengantarkan kalian." Kata Sebasta kepada Leave dan Rin.


"Apa kau yakin Sebasta? kamu membuka gerbang teleportasi dengan mana yang lemah seperti sekarang?" Tanya Helios yang menghawatirkan Sebasta itu.


"Apa kau sedang meremehkan aku Lio? Meski manaku telah hampir terkuras habis tapi aku masih sanggup mengantarkan mereka, lagi pula orang bodoh itu yang memanggilnya menggunakan manaku juga." Kata Sebasta dengan percaya diri.


"Ya, aku setuju denganmu, mahluk bodoh itu tidak layak menjadi pemimpin sebuah kaisar yang memanfaatkan rakyatnya sendiri untuk dijadikan boneka perang." Kata Rin yang memperlihatkan kebenciannya kepada kaisar Samudra yang memerintah rakyatnya sendiri dengan mudah dan tidak berharga.


"Aku mengerti perasaanmu kak Rin, tapi dia sudah mendapatkan hukuman yang setara dengan perbuatannya. Jadi aku harap kak Rin dapat melupakan hal yang tidak menyenangkan itu dalam pikiranmu." Kata Shiro kepada Rin yang membara.


"Kau benar kucing kecil." Ucap Rin dengan menghela nafas lega.


"Dan juga, namaku bukan kucing kecil, aku punya nama yang diberikan kak Dita, namaku Shiro! Jadi kedepannya tolong panggil aku dengan namaku." Kata Shiro yang risih yang terus dipanggil kucing kecil oleh Rin.


"Tapi memang tubuh Rino itu kecil." Kata Rugiel dengan polosnya.


"Apa yang kamu bilang Griffin cengeng!!??" Tanya Shiro dengan memelototi Rugiel yang memalingkan muka karena tahu kalau saudaranya itu tidak suka dipanggil dengan sebutan kecil.


"Tapi, kamu dibilang kecil oleh kak Aquila kamu biasa saja Rino?" Tanya Vent Leger dengan santainya.


"Haaaa..... Sepertinya aku tidak dipedulikan lagi..." Keluh Sebasta yang terlihat jengah dengan pertengkaran kecil yang sedang berjalan layaknya drama.


"Aku mengerti perasaanmu Sebasta. Aku juga pernah mengalaminya dulu." Kata Adrian dengan wajah lelah, sedangkan Ignatius hanya melihat mereka tanpa ikut campur dalam perdebatan yang tidak perlu itu.

__ADS_1


__ADS_2