Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 40


__ADS_3

Kesabaran Aquila benar-benar habis, dan kedua anak remaja itu masih saja bertengkar dan menangis secara bersamaan. Shiro dan Rugiel masih merebutkan Aquila dengan memeluk setiap kaki Aquila dengan erat.


Minami tidak bisa berbuat apa-apa untuk memisahkan kedua pilar yang tengah bertengkar. Leave tertawa kecil melihat tingkah kedua pilar itu dan nonanya yang jarang terlihat marah kini dengan wajah yang sangat kesal menahan kejengkelannya itu.


Para magical beast dan hewan buas hanya bisa menonton saja. Biasanya para pilar sangatlah bijak dan tenang, namun kini terlihat sangat tidak akur dan merebutkan Sang Messiah sebagai barang yang harus dimiliki secara pribadi.


"Kesabaran nona sudah sampai puncaknya, Sepertinya tuan Shiro dan tuan Rugiel akan mendapatkan hukuman dari nona." Kata Leave sambil tertawa kecil dengan nonanya yang sebentar lagi akan meledak.


"Aku belum pernah melihat nona marah, tadi malam hanyalah kemarahan nona yang seperti biasanya ketika bersama tuan Shiro." Ucap Minami sambil terus mengawasi tuan dan nonanya itu.


"Selama aku mengikuti nona dibumi sampai sampai kedunia Callista, sepertinya kali ini adalah kemarahan besar yang diluapkan nona."


"Kita tidak bisa ikut campur dan membantu mereka dalam dalam urusan kakak beradik yang sedang dalam masalah besar itu." Minami terlihat pasrah dengan apa yang akan terjadi terhadap junjungannya yang telah dia ikuti selama ini.


"Tenanglah, nona tidak akan menghukum mereka secara berat. Mungkin akan mendiamkan kedua tuan yang sedang bertengkar itu."


"Aku harap begitu nona."


Wajah Aquila sekarang seperti kepiting yang baru diangkat dari rebusan, terlihat merah dan mengepulkan uap panas dan siap untuk menghancurkan kepiting yang matang.


"KALIAN DIAM..!"


Kesabaran Aquila kini menjadi amarah yang meluap seperti magma gunung berapi yang erupsi. Seketika kedua anak remaja itu langsung diam dan melepaskan pelukan mereka yang erat dikaki Aquila dan menundukkan wajah Karen takut melihat wajah kakaknya yang marah.


"Begini lebih bagus." Ucap Aquila sambil menahan amarah yang seharusnya meluap.


Shiro dan Rugile dengan mulut diam namun bahu dan tangan mereka saling memukul. Kelakuan kedua adiknya yang masih belum akur membuat Aquila gemas ingin meninggalkan mereka dan mencari tempat yang tenang.


Namu kalau dibiarkan, pasti pertengkaran kedua anak remaja terus berlanjut dan tidak akan berakhir. Bisa jadi rencana akan mengunjungi hutan Roa akan tertunda.

__ADS_1


"Bisakah kalian berdua diam dan tenang?" Ucap Aquila lagi dengan nada rendah yang dingin.


"Dengar, Aku bukan barang yang bisa kalian rebutkan. Aku adalah kakak kalian semua bukan milik seorang saja, saudara kalian masih menunggu untuk diselamatkan bukan untuk dibiarkan. Dan apa kalian tega membiarkan yang lain menderita?" Nasehat Aquila sambil dengan nada rendah miliknya.


Shiro dan Rugiel terdiam dan mendengarkan apa yang dikatakan, mereka berdua sangat bersalah dan merasa egois karena ingin sang kakak hanya memperhatikan diri mereka sendiri dan mengabaikan saudara yang lain yang belum terbebas perbudakan manusia yang kejam.


"Maafkan aku kak, aku tidak akan mengulangi kembali." Kata Shiro dengan rasa bersalah yang telah dia lakukan sebelumnya.


"Maafkan Giel juga kak, Giel janji tidak akan mengulangi pertengkaran dengan Shiro dan saudaraku yang lainya nanti."


"Huuuhhh...... Kalau begini lebih baik, Kalian akan terlihat saling melengkapi dengan persaudaraan kalian. Bukan hal yang sepele yang memecahkan kesatuan kalian. mengerti?" Hembusan nafas Aquila mulai tenang dan nada yang Aquila gunakan mulai melembut dan tidak serendah dan sedingin saat marah.


"Aku mengerti kak."


"Giel juga, tidak akan mengulanginya lagi." Ucap mereka hampir bersamaan.


Aquila berjalan mendahului Shiro dan Rugiel dan kedua anak remaja itu mengikuti sang kakak dari belakang. Minami dan Leave bernafas lega melihat nona dan kedua tuan merek sudah tidak dalam kondisi yang buruk karena pertengkaran.


"Nona, akankah kita mulai sekarang atau menunda sedikit lebih lama?" Tanya Leave.


"Aku rasa sekarang saja kak, mereka terlihat sudah sangat semangat untuk kembali ke rumah mereka yang dikuasai manusia itu." Jawab Aquila sambil melihat sekelompok magical beast dan hewan buas.


"Kak Nami, bisakah kakak membawa salah satu dari mereka?" Tanya Aquila terhadap Minami.


"Tentu saja nona, dan siap yang akan ikut dengan ku?" Ucap Minami dan melihat kedua pilar yang sedang terdiam dalam perasaan masing-masing.


"Shiro, kamu ikutlah dengan kak Nami." Ucap Aquila yang meminta Shiro untuk ikut dengan Minami.


"Kak, aku ingin denganmu saja." Tolak Shiro dengan suram, dan Rugiel berbinar bahagia.

__ADS_1


"Shiro, mengertilah. Hari ini Rugiel denganku dan besok giliran mu untuk bersama ku." Keputusan akhir Aquila yang terdengar tidak ingin dibantah.


"Baiklah. Aku akan bersama Minami." Ucap Shiro dengan wajah kecewa.


Shiro merubah bentuknya menjadi kucing putih kecil agar mudah digendong, lalu Minami mengendong Shiro yang terlihat lesu.


Rugiel melakukan hal yang sama, dengan bentuk Griffin versi kecil dan melompat dalam pelukan Aquila.


"Kak leave dan kak Nami, ayo kita menghampiri rombongan itu." Ajak Aquila, Leave berubah menjadi rusa putih berukuran besar dan berjalan disampingnya.


Minami pun berjalan beriringan dengan Aquila dan menggendong Shiro yang menyembunyilan wajahnya didada Minami yang berbalut baju berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna bulunya yang putih.


"Nona, apakah kita akan berangkat sekarang?" Tanya Rubah api dengan nada yang berhati-hati.


"Kalau magical beast dan hewan buas yang mengikuti mu siap, mari kita lakukan. Kalau tidak, kita bisa tunda perjalanan ini dan kita bisa melakukannya besok." Kata Aquila sambil mengelus leher Leave.


"Tentu saja nona. Kami semua telah siap untuk kembali kerumah kami hutan Roa. Dan tentu saja ingin mengusir manusia yang menghancurkan rumah kami." Kata Gajah obsidian yang ternyata adalah wakil dari rubah api.


Wajah aneh Aquila terlihat kembali, dan menatap gading gajah obsidian dengan kagum dan air liur nya keluar. "Nona, tolong berhati-hati lah." Tegur Leave yang mulai risih dengan wajah Aquila aneh itu.


Aquila tersadar, kemudian langsung menghadap belakang dan menghapus air yang keluar dari mulutnya itu. Dengan wajah yang memerah karena malu, Aquila langsung menaiki punggung Leave yang lumayan tinggi.


"O iya, pak gajah. Bisakah kamu membawa kakakku yang ini." Tanya Aquila sambil menunjuk Minami yang ada dibawah nya.


"Dengan senang hati nona, saya akan membawa tuan Catarino dan nona....?" Kata gajah obsidian namun tidak mengetahui gadis yang dianggap kakak oleh Messiah dan mengendong Shiro.


"Minami, nama saya Minami." Kata Minami memperkenalkan namanya sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Selanjutnya, mohon kerjasamanya kedepannya nona Minami" Ucap gajah Obsidian dengan senang.

__ADS_1


__ADS_2