
Aura kejam dan dingin dalam seketika langsung memenuhi ruangan itu, membuat orang-orang yang hadir menggigil ketakutan dan termasuk juga ayah dan anak yang menjelek-jelekkan Aquila dan Minami sebagai penjilat agar mendapatkan keuntungan.
"Nona, sekali lagi kamu berbicara omong kosong. Aku tidak segan untuk memotong lidah mu itu. Dan aku juga bukan orang yang baik." Ancaman Aquila langsung mengena terhadap pasangan ayah dan putrinya itu.
"Eghem!. Maaf atas ketidaknyamanannya nona. Lebih baik kita langsung keintinya saja dari acara perjamuan ini. Perjamuan ini aku persembahkan kepada dua dermawan putraku dan juga atas keselamatan nya putraku dari insiden penculikan lima hari yang lalu. Dan silahkan dinikmati hidangan yang sudah disediakan." Kata ayah Lufni dengan berwibawa dan tentu saja mencairkan suasana yang menegangkan dari tamu dan adiknya.
Mereka yang hadir dalam perjamuan itu langsung menyantap makanan yang telah disediakan, termasuk Aquila dan Minami.
Namun, tatapan kebencian masih terarah kepada Aquila dan Minami yang sedang menyantap makan malam mereka dengan anggun dan elegan. Meskipun tubuh mereka ditutupi jubah.
"Ayahanda, bisakah aku berbicara sebentar?" Tanya sehetpra Lufni terhadap ayahnya yang sedang mengobrol dengan tamunya.
"Tentu saja anakku, apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya sang ayah yang penasaran.
"Ayahanda, bisakah kita berbicara berdua saja, ini mengenai kutukanku." Ucap Lufni dengan berbisik.
Ayah Lufni langsung menyeret anaknya dalam ruang yang sangat jauh dari perjamuan itu, yang tidak lain adalah ruang kerja Sanga ayah.
"Apa yang ingin kamu bicarakan anakku?" Tanya sang ayah dengan serius.
"Ayahanda, kutukanku telah sepenuhnya sembuh dan kini aku bisa mengerakkan tubuhku tanpa rasa sakit lagi." Kata Lugni dengan raut wajah yang bahagia.
Sang ayah yang mendapatkan kabar membahagiakan dari putranya sendiri tidak bisa membendung air matanya yang secara spontan jatuh dari pelupuk matanya.
"Benarkah anakku? Kalau begitu aku akan mengumumkan atas kesembuhan mu." Ucap sang ayah lalu pergi meninggalkan ruang kerja itu, namun tangan sang anak langsung mencekal pergelangan Sang ayah.
Ayah Lufni yang penasaran langsung mengalihkan perhatiannya terhadap sang anak. "Ada apa?" Tanyanya dengan mengerutkan dahinya yang melihat anaknya menggelengkan kepalanya secara singkat.
"Ayahanda, aku ingin engkau merahasiakan atas kesembuhan ku. Aku ingin mengetahui siapa penghianat yang bersembunyi diantara kita. Dan tentu saja orang itu adalah dalang dari penculikan itu." Ucap Lufni dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Aku mengerti anakku. Tapi siapa ang menyembuhkan mu, bukankah Panasea mengatakan kalau dirimu tidak bisa disembuhkan?" Tanya Sanga ayah penasaran.
"Ayahanda, apakah kamu percaya dengan ku?"
"Tentu saja aku percaya padamu anakku." Ucap sang ayah dengan memandang sang anak dengan wajah yang serius.
"Kalau begitu ayahanda, tolong rahasiakan ini, aku tidak mau ada orang yang ingin memanfaatkan dirinya."
"Ayahmu ini berjanji pada mu anakkau, aku tidak akan memberitahukan siapa yang telah menyembuhkan mu." Ucap sang ayah dengan serius.
"Sebenarnya yang menyembuhkan ku adalah nona yang mengancam Likta ayahanda, dan apakah ayahanda percaya kalau dia adalah Messiah?"
"Messiah? Apakah kamu sedang bercanda denganku anakku? Tidak mungkin kalau dirinya adalah Messiah." Ucap ayah Lufni dengan tidak percaya.
"Awalnya aku juga tidak percaya ayahanda saat dia menyembuhkan kutukanku ini, tetapi setelah dia membebaskan magical beast lebih dari sepuluh dan kemudian para magical beast menyebutnya messiah aku langsung percaya kalau dirinya Messiah." kata Lufni dengan serius.
"Aku rasa keputusan untuk merahasiakan kesembuhan mu dan Messiah adalah hal terbaik anakku. Aku tidak tau kalau dirinya sangat pintar." Ucap sang ayah dengan menepuk bahu Lufni dengan penuh kasih sayang.
"Baiklah, dirimu memang sangat pintar, tetapi jangan terlalu sombong." Kata sang ayah menasehati.
"Ayo, kita kembali sebelum yang lain mencari kita." Kata sang ayah lalu keluar dari ruang kerja itu bersama anaknya.
Setelah sampai diruang perjamuan, mereka dikejutkan dengan kelakuan Likta yang menyiramkan anggur di rambut aquila yang terurai.
"Lihatlah dirimu, sangat tidak layak bahkan lebih rendah dari sepatuku." Ucapnya menghina.
"Nona, apa kamu tidak apa?" Tanya Minami khawatir.
"Aku tidak apa kak, tapi aku tidak yakin dia akan tidak apa-apa." Ucap Aquila.
__ADS_1
Aquila berdiri dari tempat duduknya dan kemudian menghampiri Likta yang dengan sombongnya berdiri dihadapan Aquila.
"Nona kali ini perlukan mu sungguh sangat tidak sopan. Apakah ini sikap asli dari seorang nona bangsawan yang terhormat? Aku menjadi meragukan statusmu yang bahkan lebih rendah dari rakyat jelata." Ucap Aquila dengan penuh penekanan.
"Siapa yang kamu sebut rakyat jelata, lihat lah dirimu, sangat tidak layak untuk berada disini." Ucap Likta sambil menunjuk bahu Aquila.
"Aku memang rakyat jelata, tetapi." Ucap Aquila dengan senyum misteriusnya.
"Heh, kalau kamu tau setatusmu, lebih baik angkat kakimu dan pergi dari sini, Kau hanya kotoran yang tidak berguna disini."
PLAK....
Satu tamparan mendarat di pipi Likta, Likat tidak percaya kalau dirinya telah ditampar oleh orang yang dia anggap hina bahkan merusak pemandangan dirumah pamannya itu, dia tidak perduli kalau itu adalah penyelamat sang kakak sepupu.
"Kau....! Berani sekali menampar putri ini?"
"Buat apa aku tidak berani, meski dirimu seorang putri aku tidak takut untuk membunuhmu sekarang juga." Ucap Aquila sambil mencengram dagu Likta.
"Nona, tolong maafkanlah keponakanku." Kata ayah Lufni memohon.
"Baiklah, kali ini aku aku tidak akan menghukum keponakanmu tuan. Tapi, tidak akan yang kedua kalinya." Kata Aquila dengan sangat mengancam.
"Terimakasih nona." Ucap ayah Lufni dengan rasa syukur.
"Archane! Buat dia lumpuh." Perintah Aquila dengan wajah yang datar dan tanpa bekas kasihan.
Sontak saja membuat orang yang ada didalam ruangan itu terkejut terutama Likta dan ayahnya yang tidak menyangka kalau Aquila mengatakan hal yang kejam lantaran dia adalah seorang wanita.
Laba-laba Archane langsung turun dari bahu Minami dan berubah menjadi bentuk nya yang besar dengan taring merah darahnya. "Akan saya laksanakan nona, permintaan mu adalah perintah bagiku." Ucap laba-laba Archen, lalu mulai berjalan perlahan kearah Likta yang sudah terjatuh gemetar.
__ADS_1
"Tolong, jangan sakiti anakku, biarkan aku saja yang menanggungnya." Ucap ayah Likta mengiba.
"Maaf tuan, aku menghukum orang yang salah saja. Bukan menghukum orang yang tidak bersalah. Jadi menyingkirkan." Ucap Aquila dengan wajah datarnya dan tentu saja dengan hawa dingin yang menyelimuti diri Aquila.