
Suasana dalam kekaisaran Zemlya sangatlah gelap gulita, hanya pendar cahaya merah dari lentera yang tergantung di setiap sisi jalan menuju pemukiman masyarakat kekaisaran yang diterangi lentera yang lebih cerah.
Dingin bersamaan hadir dengan butiran salju yang turun dari langit dengan warna merah seperti tetesan darah yang baru saja tertumpah kan akibat dari peperangan yang sudah di lalui oleh seorang gadis yang menunggangi seekor rusa kristal. Namun semua itu adalah ilusi dari lentera yang bercahaya merah dan dipantulkan oleh butiran salju putih nan bersih.
Seekor ular kecil yang tertidur di balik jubah hangat terbangun dan menampakkan kepalanya yang bertahta permata ungu kecil dari balik jubah sang pemakainya. Tatapannya seketika langsung menajam terarah pada sebuah istana nan megah dengan lentera yang bergantungan di sisi luarnya.
Seharusnya hari haruslah cerah dengan bertahtakan matahari di cakrawala, namun hanya sebuah bulan yang memancarkan cahaya ungu gelap yang hanya menambah kesan kegelapan yang tidak akan ada habisnya.
Suara riuh ramai terdengar semakin jelas, orang-orang berlalu lalang dijalan yang diterangi dengan lentera cerah yang menyinari sekitarnya. Dalam sekejap keramaian itu hilang dan menjadi sunyi, hanya deru nafas yang terdengar samar dari orang-orang yang terdiam dalam keheranan mereka akan kedatangan rombongan Aquila.
Surai perak, mata nan merah dengan paras yang rupawan bertunggang magical beast Rusa kristal ditarik seseorang yang tidak diketahui karena jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan hanya memperlihatkan kedua matanya yang berbeda netra.
Dan dibelakangnya berdiri tiga remaja yang berparas elok nan tampan dengan karismatik tersendiri dan menandakan kalau mereka bukanlah orang yang dari kalangan bawah. Semua orang yang ada di sana langsung menyingkir memberikan jalan pada mereka untuk dilalui.
"Siapa mereka? Mereka sangat tampan, dan lihatlah perempuan yang ada diatas, dia sangatlah cantik." Puji mereka dengan suara yang berbisik namun masih dapat didengar.
"Aku tidak tau, ahh... aku ingin menjodohkan putriku pada pemuda berambut hitam itu." Kata seorang yang menjawab pertanyaan temanya, dan menatap penuh minat pada Helios.
"Wah.... Aku ingin sekali menikahinya..." Ucap seorang lelaki tampan dengan atribut pakaian yang khas bangsawan.
"Tuan, apa dia pantas?. Kita tidak tau tentang identitasnya." Ucap seorang yang berdiri di sampingnya yang tidak lain adalah pengawalnya.
"Kalau Duke tahu, dia bisa marah. Dan apa lagi ada rumor kalau ada seorang yang mengaku sebagai Messiah dan ternyata dia adalah iblis yang sangat kejam. Dan dari perawakannya dia sangatlah mirip dengan poster ini, dan hanya warna mata dan rambutnya saja yang berbeda." Kata pengawal itu sambil mengamati sosok Aquila yang sudah menjauh dari kerumunan itu.
"Itu hanya rumor, belum tentu benar kan?" Sanggah nya sambil berjalan di jalan yang menghubungkan istana dan perumahan rakyatnya. Sedangkan perumahan bangsawan terletak tidak jauh dari istana kekaisaran yang dibatasi oleh tembok yang tinggi.
__ADS_1
Aquila tidak sengaja mendengar tentang rumor itu yang tiba-tiba memasuki telinganya yang tajam. Tentu saja Shiro dan yang lainnya mendengarkan rumor itu, namun apa daya mereka tidak punya bukti untuk menyanggah semua tuduhan yang dituduhkan pada kakaknya sendiri.
Raut wajah kesal terlihat jelas di wajah Shiro, Helios, dan Vent Leger dan menghawatirkan Aquila. Namun hal itu percuma, orang yang dikhawatirkan malah terlihat acuh dengan wajan datarnya.
"Kalian kenapa? Kalau kalian merasa terganggu dengan ucapan mereka maka biarkan saja." Kata Aquila yang memandangi satu persatu dari tiga remaja yang berjalan di belakangnya dengan wajah kesal dengan tangan terkepal erat.
"Kak, kenapa kamu mendapatkan hal yang tidak sepatutnya. Seharusnya mereka sangat bersyukur karena sang Messiah telah hadir bukan menghardiknya sebagai iblis." Kata Vent Leger dengan nada kesalnya.
"Buat apa? semua itu tidak ada hubungannya dengan ku. Yang terpenting bagi ku adalah keselamatan kalian semua." Kata Aquila dengan santainya.
Hati Vent Leger yang sebelumnya angat kesal dan ingin memarahi pata manusia yang mengatakan hal buruk pada kakaknya itu, seketika menghilang dan digantikan dengan rasa hangat dan bahagia yang tidak bisa dikatakan oleh Vent Leger.
"Itu benar, biarkan mereka mengatakan hal itu, yang terpenting kak Aquila tetap bersama kita apapun yang terjadi. Benarkan kak?" Tanya Shiro dengan bangga.
"Nona, itu tidak baik. Itu sama saja nona akan menghancurkan dunia ini, bukankah tujuan nona hanya ingin membebaskan para saudara tuan shiro?" Kata Leave memperingatkan tentang tujuan dari awal Aquila.
"Ah, Sepertinya aku mulai terpengaruh energi jahat yang sudah menyebar didunia ini." Kata Aquila dengan wajah masam.
"Aku harap nona bisa mengendalikan emosi nona kedepannya. Aku tidak mau bila nona jatuh dalam kemarahan seperti dulu saat di hutan Roa." Imbuh Leave kembali.
"Tidak akan kak Leave. Aku tidak akan terjatuh untuk yang kedua kalinya." Kata Aquila penuh tekat agar tidak menyusahkan Leave seperti dahulu.
"Nona, kita sudah sampai." Kata Minami yang sudah berhenti disebuah rumah yang terlihat tidak terawat dan terletak di pinggir hutan yang jauh dari keramaian aktifitas manusia di kekaisaran Zemlya.
"Akhirnya, kita bisa istirahat sejenak disini." Kata Aquila dengan penuh syukur.
__ADS_1
"Hah, kak Aquila. Aku akan berkeliling sebentar, apakah boleh?" Tanya Shiro dengan harap.
"Tentu saja. Apa kamu tidak ingin beristirahat sejenak shiro?" Tanya Aquila.
"Tidak. Aku akan istirahat nanti saja." Jawab Shiro sambil berjalan memunggungi Aquila.
"Rino...!! Aku ikut....!!!" Teriak Helios sambil berlari kecil.
"Tidak!!! Kau disini saja Lio." Tolak Shiro.
"Kak Aquila, izinkan aku pergi juga. aku ingin jalan-jalan bersama Rino." Pinta Helios dengan penuh harap.
"Shiro, biarkan dia ikut." Kata Aquila dengan lembut, tentu saja Shiro tidak bisa menolak Aquila bila sudah berbicara dengan suara yang penuh pengertian seperti itu.
"Baiklah, asalkan jangan menghalangiku nanti." Kata Shiro dengan wajah suram.
"Kak Aquila memang yang terbaik. Rino juga.. Ha ha ha.." Tawa Helios dengan bahagia.
"Hem... Sudahlah ayo jalan. Atau kamu akan aku tinggal." Kata Shiro sambil berjalan dan meninggalkan Helio yang masih tertawa tidak jelasnya itu.
"Hei....!!! Jangan tinggalkan aku...!!" Teriak Helios sambil berlari cepat untuk menyusul Shiro.
Sedangkan Aquila dan yang lainnya hanya tersenyum geli melihat tingkah Shiro dan Helios itu. Setelah kedua pemuda itu menghilang di kegelapan nan suram, Aquila dan Vent Leger masuk kedalam rumah dan menggendong Soleil dan Rugiel yang masih tertidur sedangkan Adrian sudah terbangun.
Minami dan Leave sudah berada didalam rumah itu dan sedang membersihkan peralatan yang sedang ditutupi kain tipis yang menyelimuti perabotan rumah agar tidak terkotori oleh debu.
__ADS_1