Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 123


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba, deretan lampion berbagai bentuk dan ukuran tertata rapih di kios pinggir jalan utama kekaisaran Zemlya. Tawa anak-anak berlarian membawa lampion ukuran kecil sambil bercanda dengan teman-temanya serta teriakan para pedagang menawarkan dagangannya pada orang-orang yang akan mengikuti festival lampion untuk menghormati dewa Chronos sang dewa waktu.


Bulan ungu masih setia di cakrawala bersama awan yang senantiasa menurunkan butiran halus salju berwarna putih, dan turun menghinggapi setiap sisi jalan atau ranting pohon yang ditinggalkan oleh daun pada saat musim gugur. Suara gemericik air terdengar samar karena hampir membeku bersama suhu yang dingin.


Seorang remaja laki-laki dengan Surai ungu nan panjang berterbangan tertiup hembusan angin dingin seperti sebuah lukisan yang baru saja keluar dari kanvas, wajahnya yang tampan selalu memperlihatkan senyuman yang tidak mau turun dari bibirnya yang tipis dengan warna ungu lavender.


Tangannya terulur diluar jendela dan satu persatu butiran salju menghinggapi tangannya kemudian menjadi setitik air dan jatuh pada tumpukan salju yang berada diluar jendela. Dan kemudian seekor kucing putih menghampiri pemuda bersuari ungu itu yang tengah asik dengan pikirannya sendiri.


"Hei, kenapa kau masih disini? Apa kamu tidak ingin ikut kak Aquila jalan-jalan?" Tanya Shiro yang membuyarkan lamunan Adrian.


"Kenapa kau selalu saja membuatku terkejut Rino, tentu saja aku akan ikut dengan kak Aquila." Jawab Adrian dengan cepat.


"Kalau begitu cepatlah bersiap, sebentar lagi kak Aquila akan berangkat." Kata Shiro, kemudian meninggalkan Adrian yang masih terpaku di depan jendela.


"Baiklah, jangan pergi mendahuluiku...!!" Teriak Adrian yang menyadari kalau Shiro sudah pergi agak jauh dari tempatnya yang dia gunakan untuk beristirahat selam dua hari penuh.


"Hah... Anak itu, seakan akan ditinggalkan untuk waktu lama saja." Kata Shiro dengan bergumam dan mengayunkan ekornya dengan santai di bibir tangga.


Tidak butuh waktu lama, Adrian keluar dari kamarnya dengan menggunakan jubah ungu yang menutupi seluruh tubuhnya dan hanya memperlihatkan mata nya yang berpupil vertikal. "Rino, ayo. Aku sudah tidak sabar untuk berkeliling dengan kak Aquila." Kata Adrian dengan bersemangat.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga sudah ingin mengerakkan kaki kecilku yang kaku ini." Kata Shiro tidak kalah antusias dengan Adrian.


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuruni setiap anak tangga yang berhubungan langsung dengan ruang tamu yang sudah di tempati oleh Aquila, Minami, Leave dan juga para saudaranya dengan bentuk hewannya yang imut, kecuali hanya Vent Leger yang masih dalam wujud manusianya dengan Surai abu-abu yang indah.


"Kalian sangat lama, apa yang membuatmu sangat lama?" Tanya Vent Leger dengan wajah garang nya yang menandakan kalau dai sudah jengah menunggu lama.


"Tidak ada." Jawab shiro dan Adrian dengan kompak.


"Sudah lah, jangan memulai perkelahian, atau kita tidak jadi mengikuti festival lampion." Kata Aquila dengan mengancam.


"Kak... Giel hanya ingin melihat lampion yang di hanyut kan di sungai, jadi kalau mereka berkelahi lagi tinggalkan saja mereka." Kata Rugiel dengan memelas.


"Air sungainya sudah menjadi beku, lalu apa yang akan kamu lihat Giel? Kak Dita, kak Dita Leil ingin makan manisan, boleh kan?" Tanya Soleil dengan wajah memelas penuh harap dalam wujud kura-kura yang mungil dan tentu saja ucapan Soleil membuat Rugiel menjadi murung sebab tidak bisa melihat lampion yang terbawa arus air sungai.


"Yey... Manisan... Giel sangat suka manisan, apa lagi kalau ada permen apel.." Kata Rugiel dengan sangat antusias melebihi Soleil.


"Dasar anak-anak, apa bagusnya manisan." Ucap Vent Leger dengan suara lirih.


"Eger, jangan-jangan kamu ingin manisan juga?" Tanya Helios dengan nada yang menggoda.

__ADS_1


"Ti-tidak. Siapa juga yang ingin makan makanan anak kecil seperti itu." Jawab Vent Leger dengan cepat, namun terdapat semburat merah mudah di pipinya yang bersih.


"Apa kau mau? Tentu saja aku akan membelikannya untuk mu juga, Eger. Tidak ada yang akan tidak dapat Manisa. Semuanya akan aku belikan untuk kalian, kalau begitu ayo kita pergi.. !!!" Ucap Aquila dengan semangat yang membawa keceriaan, namun tersirat suatu kekejaman yang akan dia lakukan. Tidak, lebih tepatnya melihat salah satu kakaknya yang akan mewakilinya.


Akhirnya mereka semua pergi ke pusat kota kekaisaran Zemlya untuk berpartisipasi dalam festival yang di laksanakan dalam satu tahun sekali, namu festival kali ini bertepatan dengan datangnya musim dingin yang membuatnya mustahil untuk menerbangkan atau menghanyutkan lampion, dan akhirnya para masyarakat kekaisaran Zemlya menyiasati semua lampion di gantung dengan seutas tali yang terbuat dari logam yang dipilin sebuah tali yang kuat dan tahan panas.


Tabuhan gong yang dipukul dengan nyaring menandakan kalau pembukaan festival akan dibuka, dan seorang Panasea berdiri di mimbar dengan sebuah Alkitab ditangannya dan mengucapkan setiap bait dengan indah. Setelah selesai, sebuah pelita dengan cahaya ungu dan emas menerangi setiap lampion yang tergantung yang sebelumnya telah disulut dengan api biasa.


Suasana yang tadinya berwarna jingga kini berubah menjadi warna yang sangat indah dan dengan tabuhan gong yang dipukul dengan semangat. Tentu saja membuat suasana menjadi meriah dengan tawa bahagia yang melupakan teror yang telah mereka rasakan karena suara tangisan bayi yang menyayat sanubari.


Aquila hanya mengawasi sekitarnya dengan wajah tenang, sedangkan Minami sudah menghilang di balik keramaian para manusia yang mengikuti festival lampion. Dan tidak lupa aquila membelikan manisan pada para adiknya yang sudah menantikan manisan yang sudah di sediakan kios yang menjualnya.


"Kak Dita, terima kasih, Leil akan mengabiskan semua dengan sangat bahagia..." Kata Soleil sambil melahap sebuah manisan jeruk.


"Giel juga, permen apelnya juga sangat enak dan manis. Kak Aquila, cicipi juga ya..?" Tawar Rugiel sambil menyodorkan permen apel yang berukuran sedang.


"Tidak, kalian makan saja semuanya." Tolak Aquila dengan senyum manis melebihi manisnya madu, dan tentu saja membuat seluruh orang yang melihat senyuman Aquila memandangnya dengan penuh kekaguman.


Namun, suasana yang penuh dengan kebahagian seketika berubah menjadi mencekam kembali. Suara tangis bayi, suara gagak yang parau terdengar jelas dan berterbangan dan ada juga yang hinggap di sembarang tempat.

__ADS_1


Tawa anak-anak yang penuh dengan kebahagiaan kini berubah menjadi tangsi ketakutan, dan setiap orang tua dengan sigap memeluk sang anak dengan hari waspada.


"Ibu... Aku sangat takut...." Itulah kata yang selalu terucap dari setiap anak yang merasa sangat ketakutan.


__ADS_2