
Setelah makan malam selesai, Shiro masih marah dengan perbuatan Aquila yang tega melemparkan kedalam air dan mengatainya kucing kotor.
"Padahal aku kucing yang cantik bukan kucing kotor.....!!!!" Teriak Shiro melupakan kekesalannya yang ada dibenaknya, lalu menggulung kembali tubuhnya seperti bakpao putih nan lembut.
"Aku tau kalau adikku sangat cantik? Oh...., aku lupa kalau kamu jantan bukan betina Hahaha...." Aquila tertawa mengejek Shiro yang menganggap dirinya cantik.
"Kakak berncanda mu tidak lucu, tentu saja aku laki-laki dengan buluku yang cantik." Shiro menggerutu dan marah kepada Aquila yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
Minami terus membersihkan belatinya dengan kain bersih didekat jendela, sedangkan Leave tertidur disamping Aquila yang terus menggoda Shiro seakan suara berisik itu tidak dia dengar.
"Baiklah, jangan marah ya adikku yang 'cantik'. Jangan marah ya, entar hilang loh 'cantik' nya" Bujuk Aquila tapi masih menekan kata cantik dan menggodanya.
"Kakak hentikan itu, aku tidak mau berbicara kalau kakak masih terus menggodaku." Shiro berdiri dan menghampiri Aquila dengan amarah yang memuncak.
"Ahhhh..... Maafkan kakak ya..?" Aquila sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Hemmmm....!" Dengan muka yang menggemaskan langsung membuang muka kelain arah dari hadapan Aquila.
"Jadi adikku yang tampan, mengenai saudaramu. Apa kamu sudah mengetahui keberadaannya sekarang?" Tanya Aquila dengan serius.
"Mengenai Rugiel, aku kira dia berada di mension jendral kekaisaran selatan. Aku rasa dia berada ditempatnya dulu untuk tidur panjang." Tanggapan Shiro juga langsung serius.
"Apa kamu tau tempatnya?"
"Tentu saja, dia tinggal di gua dekat danau kekaisaran ini."
"Tidak terlalu jauh, dan juga besok jendral itu akan kesana. Yang aku ketahui dia ingin memburu seorang gadis yang telah melukai anaknya." Sambung Shiro.
"Jadi? kamu belum tahu target si bajingan itu?" Tanya Aquila dengan senyum miring, bulu Shiro langsung berdiri akibat senyuman Aquila yang terlihat menyeramkan.
"Kakak tau siapa orangnya?" Shiro penasaran dengan siapa yang telah berani melukai anak jendral itu.
__ADS_1
"Tentu saja, orangnya ada di hadapanmu sekarang." Jawab Aquila dengan santai, Shiro langsung terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Yang benar saja kak! heh... Sudah kuduga. Masalah langsung datang dengan cepat." Shiro tak menyangka kalau gadis yang dimaksud oleh jendral itu adalah kakaknya sendiri.
"Aku tidak mencari masalah, tapi bajingan itu yang datang sendiri membuat masalah denganku." Aquila tak terima bila ia penyebab masala utama.
"Apa salahnya kalau aku membuatnya luka kecil, dia sendiri yang berani berbicara tak pantas dihadapan ku." Bela Aquila.
"Kak itu memang luka kecil, tapi kenapa harus bagian itu." Dibagian akhir suara Shiro menjadi kecil.
"Jadi adik kecilku ingin tahu? bajingan itu memang pantas mendapatkannya. Sudah lupakan saja, lebih baik kita menyimpan tenaga untuk besok." Aquila mengakhiri pembicaraan.
"Benar juga, ini sudah larut malam." Ucap Shiro sambil membenarkan dirinya untuk tidur.
"Kak Nami, kakak juga harus tidur. Dan juga, belati kakak sudah sangat bersih dan mengkilap." Aquila memperingati Minami yang masih asik bergulat dengan belati hitam miliknya.
Aquila membaringkan dirinya untuk tidur disamping Shiro dan Leave, sedangkan Minami menggelar futon yang terlipat rapih dibawah ranjang Aquila.
"Selamat malam juga nona." Minami sambil meniup lilin yang menyala didekatnya dan menidurkan dirinya diatas futon yang hangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aquila terbangun ditempat yang gelap, di manapun ia melihat hanya gelap yang menyapa matanya. Aquila melangkahkan kaki kecilnya untuk menyusuri tempat itu namun yang dia lihat hanyalah kegelapan saja.
Setelah berjalan cukup jauh, Aquila melihat seberkas cahaya kecil dari lorong gelap itu. Sampailah Aquila diujung dan melihat cahaya yang memekakkan mata menyinari tempatnya berdiri, secara spontan tangan Aquila menutupi matanya untuk menghalau cahaya yang kuat.
Serasa cukup aman, aquila menurunkan tangannya untuk melihat apa yang ada dihadapannya. Terdapat pohon Willow yang sama persis saat Aquila bertemu dengan ayah dan ibunya serta Dewi Callista.
Namun berbeda dengan inti permata dipohon Willow itu, permata itu memancarkan cahaya kuning dan terdapat sepektum kilatan listrik kecil. Aquila memberanikan dirinya untuk menyentuh permata besar itu.
Bukan rasa sakit yang ia bayangkan tidak dirasakan, namun rasa hangat mengalir dari telapak tangannya menuju pusat mana dengan cepat. Dalam waktu singkat, mana dalam dirinya langsung penuh dan membuatnya segar.
__ADS_1
"Kakak akhirnya datang, aku telah lama menunggu kakak untuk menjemput ku." seorang anak kecil yang mirip sekali dengan Shiro versi manusia namun rambutnya berwarna kuning dengan sepasang sayap kecil di kepalanya.
"Siapa kamu, aku tidak mengenalmu?" Tanya Aquila heran dengan anak yang mirip sekali dengan Shiro.
"Kakak sungguh tega hiks, padahal kakak sangat dekat dengan Catarino hiks." Kata anak itu sambil tersedu.
Aquila merasa kepalanya sakit karena melihat anak yang ada dihadapannya menangis tanpa alasan yang tidak ia ketahui.
"Tenang ya adik manis, kakak memang dekat dengan Catarino. Tapi kenapa kamu menagis?" Bujuk Aquila sambil mengelus kepala anak berambut kuning itu dengan membuat.
"Apa Rino belum memberi tau kakak tentang ku?" Tanya nya dengan penuh harap. Aquila hanya bisa menggelengkan kepala karena ia belum tahu semua tentang saudara Shiro.
"Huaaa...... Rino benar-benar melupakanku." Teriaknya dengan histeris, Aquila bingung untuk menenangkan anak yang menangis seumur hidup Aquila tidak pernah dekat dengan anak kecil.
"Aduh gimana ya....? Sudah jangan menangis lagi. Jadi namamu siapa?" Tanya Aquila ditengah kepanikannya.
"Hiks..., namaku Rugiel kak." Jawab Rugiel sambil mengusap air matanya yang mengalir.
"Oh, jadi kamu Rugiel, Shiro sering bercerita tentang mu. Maafkan kakak yang tidak mengenalmu." Kata Aquila dengan rasa bersalah.
"Ini bukan salah kakak, seharusnya aku memperkenalkan diriku sedari awal."
"Sudah tidak apa."
"Kakak sudah waktunya, kakak harus kembali. Aku akan selalu menunggu kakak." Kata Rugiel sambil melambaikan tangannya dan hilang ditelan kabut.
"Tu-tungu....! Rugiel...!" Teriak Aquila sambil berlari kearah kabut yang menelan Rugiel.
Aquila langsung terbangun dari tidurnya, dan melihat sekelilingnya yang masih sama dengan sebelumnya. Semua orang masih tertidur dengan nyenyak, kemudian Aquila turun dari ranjangnya dan melangkah gontai ke kamar mandi untuk menyegarkan pikiranya.
Lalu Aquila menuju jendela dan membukanya, langit masih terlihat gelap dengan bintang fajar yang terang. Semburat warna jingga dan merah terlihat diujung barat menandakan akan terbitnya matahari.
__ADS_1
Aquila duduk ditepi jendela dan merasakan kesegaran udara pagi dengan kelopak bunga sakura yang terbang ditiup angin. Nyanyian burung bersahut-sahutan dan terbang dengan riang untuk menjalani hari ini dengan semangat.