
Guyuran hujan begitu sangat tenang, diakhir musim panas dan awal dari musim gugur. Alunan simfoni alam yang sangat menakjubkan bagi jiwa yang merindukan kesejukan akan di tanah yang gersang. Hujan terus mengguyur hingga malam menjelang.
Suara Cicada yang telah lama hilang, kini memberikan suara nya yang khas bersama dengan suara katak yang nyaring sebagi pengiring sang Cicada yang menyanyi bersama sang hujan. Sangat indah dan menenangkan bagi jiwa yang bergejolak.
Hujan mereda, dan menyisakan air di ranting dan atap yang menetes pada bumi. Biji rumput dan bunga berkecambah menampilkan suasana yang segar. Awan hujan telah menghilang dan digantikan oleh senyuman sang matahari yang bersinar dengan hangat dengan cahaya jingga yang memukau.
Ladang dan sawah kini penuh dengan air, sungai yang dulu berisi air keruh dan kotor kini menjadi penuh dengan air yang jernih, bahkan ikan yang telah lama menghilang sudah kembali dan berenang dengan bebas.
Kicauan burung terdengar merdu didahan yang basah karena air hujan yang mengguyur sehari semalam. Tunas muda terlihat dengan warna hijau muda dengan ukuran kecil seperti biji kacang hijau yang muda.
Suka cita terpancar dari para masyarakat kerajaan Tayounokuni, tidak ada wajah yang kotor atau lesu. Yang ada hanya wajah segar dan raut wajah bahagia. Hal itu juga membuat Sang raja menjadi bahagia, meski bahaya akan datang dalam hitungan hari.
Para pilar telah terbangun dari tidur panjangnya, dan hanya menyisakan seorang gadis yang masih terlelap dalam tidur damainya. Minami dan Leave selalu bergantian menjaga dan merawat Aquila dengan sabar.
Sudah tiga hari Aquila tertidur, namun belum ada tanda-tanda akan bangun. Shiro dan Rugiel terkadang tidur disamping Aquila, dan kadang bergantian dengan Helios dan Soleil. Hal itu sudah biasa bagi Minami dan Leave, sebab mereka telah melalu hari yang sama dengan jangka waktu yang lama.
Satu hari telah berlalu, dan kini genap empat hari Aquila masih tertidur dengan nafas yang tenang, dan mana dalam tubuhnya telah kembali pulih sepenuhnya.
Dan pada hari itu juga, kesadaran Aquila mulai kembali meski secara perlahan. Dan suara dentingan Lonceng kuil Dewi Amaterasu membuat Aquila tersadar sepenuhnya dari tidur panjangnya.
Yang pertama kali dia lihat hanyalah atap putih. Dan suasana dalam ruangannya begitu senyap dan tidak ada suara lonceng, apa itu semua hanyalah sebuah mimpi yang diberikan padanya untuk mengunjugi kuil Dewi Amaterasu.
__ADS_1
Suara pintu geser membuat Aquila langsung terduduk dengan sikap yang waspada. "Ah, nona apa sudah merasa baikan?" Tanya seseorang yang bari saja memasuki tempat itu yang tidak lain adalah Minami.
"Aku sudah merasa baikan, dan kak Nami, dimana kita saat ini. Kenapa raungannya cukup asing?" Tanya Aquila dengan kebingungan.
"Saat ini kita berada di kerajaan Tayounokuni, Tuan Helios yang membawa kita kemari nona." Jawab Minami untuk meredakan kebingungan Aquila.
"Oh, jadi begitu, dimana mereka dan kak Leave, kenapa aku tidak melihat mereka?" Tanya Aquila.
"Oh, mereka sedang berkeliling melihat hutan tempat tinggal Helios nona. Kata tuan Helios dia ingin melihat menara yang sudah lama dia tinggalkan, sedangkan nona Leave sedang membantu koki didapur membuat makanan untuk rakyat negeri ini yang kelaparan." Jelas Minami sambil memberikan air hangat untuk diminum.
"Terimakasih kak, lalu sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?" Lalu Aquila langsung meminum air hangat yang diberikan padanya.
"Hanya empat hari nona, itu termasuk perkembangan yang cepat, sebab beberapa organ dalam nona terdapat kerusakan yang kecil. Namun bila tidak dirawat dengan tepat akan menimbulkan masalah yang besar. Aku harap nona tidak melakukan hal yang membebani tubuh nona dan memicu luka dalam kembali terbuka." Kata Minami dengan panjang lebar dan membuat telinga Aquila sedikit berdengung karena ceramah yang ia dapatkan dari kakaknya itu.
"Baiklah nona, tolong tunggu sebentar. Aku akan membawakannya kemari." Ucap Minami lalu pergi meninggalkan Aquila dalam ruangan yang serba putih dengan lukisan pohon bonsai yang indah.
Pintu geser yang sebelumnya terbuka agar udara bersih dapat masuk dan mengejutkan udara yang kotor. Dan juga dari pintu yang terbuka itu menampilkan sebuah pemandangan yang cukup indah dengan warna hijau muda.
Aquila bangun dari futon yang dia duduki dan berjalan kearah pintu geser yang terbuka itu. Dan sebuah balkon dengan pagar yang terbuat dari kayu besi serta hembusan angin sejuk langsung menerbangkan helai rambut Aquila yang panjang.
Pemandangan yang sangat indah terpajang dihadapan Aquila dengan latar pegunungan dengan bagian puncak berwarna putih. Pepohonan yang dekat dengan tempat Aquila berdiri berdiri dengan gagah dan daun muda yang baru tumbuh menambahkan kesegaran diakhir musim panas.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak melihat pemandangan yang menyegarkan seperti ini, dan hanya pasir saja yang aku lihat." Ucap Aquila sambil menyentuh ranting yang menjuntai ke balkon yang dia tempati.
Dalam sekejap, tunas yang berada di ranting langsung mengeluarkan bunga berukuran kecil bergerombol dengan warna putih yang bersih. Aroma yang sangat menyegarkan langsung masuk dalam rongga hidung Aquila.
"Nona, apa yang kamu lakukan?!" Teriak Minami dengan panik.
"Tidak ada yang aku lakukan kak, aku hanya melihat pepohonan saja." Ucap aquila dengan menatap heran kearah Minami.
"Tapi nona, lihatlah apa yang anda perbuat. Nona membuat pepohonan langsung berbunga. Apa nona mengeluarkan mana lagi?" Tanya Minami sambil memeriksa pergelangan tangan Aquila.
"Tidak, aku tidak melakukan apa pun kak, jangan terlalu cemas, aku baik-baik saja." Kata Aquila yang pasrah karena kekhwatiran kakaknya itu.
"Huuuhhh.... Untung saja nona tidak apa-apa." Ucap Minami dengan menghela nafas lega.
"Kak Nami, dimana buburku?" Tanya Aquila sambil mencari yang ia pesan sebelumnya.
"Ahhh..... Nona sepertinya aku harus membuatnya kembali." Ucap Minami dengan wajah canggung dan malu.
"Kak Nami,....Ah... sudahlah. Aku harap kali ini kak Nami tidak menumpahkannya kembali." Ucap Aquila dengan sedikit kesal.
"Aku akan membuatnya kembali, dan nona jangan melakukan hal yang ceroboh, mengerti?" Kata Minami memperingati sambil menutup pintu geser dan membawa mangkuk bubur yang dia tumpahkan tadi.
__ADS_1
"Aduh... kakakku yang satu ini..." Kata Aquila sambil mengelus jidatnya yang sedikit sakit karena tingkah sang kakak yang sedikit panik dan protektif kepadanya.