
Hembusan angin menderu bersama datangnya musim semi yang sangat dinantikan oleh mahluk hidup yang menderita dibawah musim dingin yang membekukan segala tumbuhan atau hewan yang tidak kuat menahan dinginnya musim dingin. Kumpulan salju yang menggunung perlahan hilang dan memperlihatkan dataran tanah yang basah tergenang air.
Suara aliran air mulai terdengar bersama dengan pecahan es yang tersisa dari musim dingin. Sepucuk tunas kecil tumbuh dibalik tanah yang basah dan kemudian diikuti dengan tunas yang lainnya.
Namun, musim dingin tidak berlaku di kekaisaran Dahana yang merupakan tempat tinggal dari sang pilar api. Namun musim semi tetap terasa menyejukkan bagi kekaisaran Dahana yang senantiasa memancarkan hawa panas.
Kesejukan musim semi yang baru tiba tidak dapat menenangkan hati mereka yang diliputi duka yang mendalam. Air mata masih mengalir di pipi mereka yang berkecamuk kesedihan.
"Suatu saat nanti kita pasti akan berkumpul lagi. Namun, aku tidak ingin kalian terlalu sedih setelah kepergian ku. Lagi pula ini hanya perpisahan sementara bukan?" Kata Aquila menghibur.
"Kami... sebenarnya... Tidak ingin berpisah dengan kak Dita.." Kata Nix enggan.
"Kenapa kak Aquila ingin sekali pergi dari kami. Apa Giel terlalu cengeng, Giel janji bila kak Aquila tetap bersama kami Giel tidak akan menjadi adik yang gampang menangis." Ucap Rugiel sambil menahan Isak tangis.
"Haha... Apa yang kamu maksud Rugiel, aku tetap suka apapun dirimu. Jadi jangan terbebani dengan semua ini." Kata Aquila menanggapi perkataan Rugiel sambil mengelus kepala Rugiel, namun tangan Aquila tidak dapat menyentuhnya.
"Nona, aku akan tetap setia kepadamu, aku akan mengingat apa yang nona katakan kepadaku. Namun, nona apa dunia ini akan baik-baik saja tanpa kehadiranmu?" Tanya Minami.
"Dunia Callista sudah aman Minami. Sebab kami para pilar sudah bebas, namun aku tidak ingin berpisah dengan kak Aquila." Kata Shiro yang tidak lain adalah sang pilar utama.
"Dasar kucing kecil. Aku kira kamu sudah dewasa, namun ternyata masih saja menjadi kucing manja. Bukankah aku sudah mengatakan ini hanyalah perpisahan sementara." Kata Aquila yang sedikit marah, namun suaranya tetap lembut.
"Tapi kak.."
"Sudahlah Rino, takdir sudah terjadi, kita tidak dapat berbuat apa-apa." Kata Helios tabah berusaha menerima kenyataan.
__ADS_1
"Itu benar, meski aku juga enggan. Tapi apa daya, kita masih terikat dunia fana yang tidak bisa membantah keputusan Dewi Callista." Kata Adrian menambahkan.
"Sepertinya waktu sudah habis. Aku harap kalian menjaga kesehatan kalian dan kak Leave, tolong rawat Rin seperti kakak merawatku. Terimakasih atas kebaikan dan perhatian kalian semua..." Setelah mengucapkan kata terakhirnya, tubuh dan jiwanya perlahan menghilang berubah menjadi kelopak bunga beraneka ragam dan mengeluarkan aroma yang sangat menenagkan.
Rin yang mendengar penuturan dari sahabatnya itu tidak kuasa menahan kesadarannya untuk menerima kenyataan pahit yang kedua kalinya.
"Wuf.....!!!" Seru Coco yang melihat Rin sudah tidak sadarkan diri.
"Tentu saja nona. Aku akan melakukan semua keinginanmu..." Kata Leave dengan menahan tubuh Rin yang ambruk sambil menatap hamburan kelopak bunga yang menyebar luas di langit biru tanpa awan.
Dari tempat jazad Aquila tergeletak, sebuah tongkat kecil berukir bunga anggrek bulan biru dan sembilan biji hitam dan sebutir biji berwarna putih yang memancarkan aura dari sang kakak yang tidak lain adalah Aquila. Dan kemudian terdengar suara samar ditelinga mereka suara yang merdu nan lembut.
"Aku harap kalian merawat apa yang aku tinggalkan, dan untuk kak Nami, bawalah Tongkat kecilku, hanya itu yang bisa aku berikan kepada kak Nami."
"Aku akan merawat dan menjaga apa yang telah nona berikan kepada ku.." Ucap Minami dengan mengambil tongkat kecil itu dan memeluknya dengan berlinang air mata.
"Kau sangat tidak sopan Eger." Kata Nix kepada sosok serigala putih yang terus mengibaskan ekornya senang.
"Kau berkata demikian, tapi ekormu sangat jujur." Tambah Adrian yang berada di atas tubuh Nix.
"Berisik...! Rino, cepat berikan aku sebiji dari kakak, aku tidak sabar menantikan biji itu tumbuh dan menjadi pohon yang indah." Kata Vent Leger kepada Shiro dengan nada memerintah.
Sedangkan Shiro hanya memasang Vent Leger sekilas dan langsung menghampiri Leave yang sedang menenagkan Rin yang tidak terima akan kenyataan yang sebenarnya.
"Kak Leave... Dita tidak benar-benar pergi kan? Katakan kalau itu hanya ilusiku saja kan kak?!" Teriak Rin dengan mengguncang tubuh Leave.
__ADS_1
"Maafkan saya nona, tapi itu bukan ilusi tapi itu adalah sebuah kebenaran. Meski saya juga ingin menyangkal kalau semua ini adalah hanya sebuah kebohongan." Kata Leave lemah.
"Tidak....! Tidak....! Dimana Dita....!! Aku mohon.. Kak Leave... Aku Ingin melihatnya..." Raung Rin dengan berlinang air mata.
Leave hanya bisa terdiam seribu bahasa, sebab dirinya sendiri menginginkan hal yang sama seperti Rin. Akan tetapi, takdirlah yang menjadi dinding penghalang yang tidak mungkin dirobohkan.
"Kak Rin, aku tau ini berat bagimu. Aku juga minta maaf karena aku tidak bisa melindungi kak Aquila. Namun, kak Rin harus merelakan kepergian kak Aquila. Aku hanya bisa memberikan ini kepada kak Rin, sebab ini lah yang ditinggalkan oleh kak Aquila untuk kak Rin. Aku harap kak Rin, kak Leave menjaganya dan merawatnya." Kata Shiro dengan menyerahkan sebuah biji hitam kepada Rin.
"Terima kasih, tentu saja saya dan nona Rin akan merawatnya dengan baik." Kata Leave dengan tulus.
"Kalau kak Leave dan kak Rin membutuhkan bantuan, datanglah ke menara ku, pintu gerbang senantiasa terbuka untuk kalian." Kata Shiro dengan tersenyum tulus.
"Hei....!! Rino, mana buat ku....!! Aku juga ingin menanam biji itu...!?" Seru Helios tidak sabar.
"Dasar tidak sabar, memangnya kamu bisa merawatnya, yang ada kamu malah memanggang biji pemberian kak Aquila." Kata Adrian mengejek Helios dan kemudian pertengkaran pun tidak dapat terelakkan.
"Ano... Apa yang sebenarnya yang terjadi...?" Tanya sosok ular kecil berwarna biru dengan dua tanduk di kepalanya yang tidak lain adalah Sebasta, dan secara otomatis pertengkaran antara Helios dan Adrian berhenti.
"Sepertinya kamu sudah sadar sepenuhnya." Kata Nix.
"Memangnya apa yang terjadi dengan diriku? Dan kenapa aku berada di wilayah Ignatius? Bukankah seharusnya aku berada diwilayahku?" Tanya Sebasta kepada Nix, sebab Nix lah yang berada didekatnya.
"Ceritanya sangat panjang, aku tidak bisa menceritakan keseluruhannya." Jawab Nix ringkas.
"Saat aku tertidur, aku dipeluk oleh seseorang yang sangat cantik dan sangat hangat seolah aku sedang di tempat pohon kehidupan." Ungkap Sebasta dengan semangat.
__ADS_1
Sontak saja para pilar dunia Callista, Rin, Minami dan Leave membisu dengan wajah sedih yang sebelumnya mereka tahan.