Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 74


__ADS_3

Ruangan yang sangat indah dan elegan, menandakan kalau sang pemilik memiliki selera tersendiri terhadap ruang pribadinya. Berbagai guci atau patung tertata rapih diberbagai sudut menambah kesan estetika kenyamanan bagi penghuninya.


Diruangan yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman ditempati, sebuah tempat tidur dengan kelambu putih mengandung indah serta sebuah sofa dengan meja kecil menghadap jendela yang mengarah langsung pemandangan kota dimalam hari.


Aquila memandangi kota yang dipenuhi cahaya yang tidak terlalu terang tetapi cukup untuk menerangi sekitarnya. Orang-orang berlalu lalang menikmati angin malam yang dingin berbanding terbalik dengan siang hari yang panas menyengat kulit.


Shiro, Rugiel dan ular kecil berwarna coklat keemasan merebahkan dirinya di ranjang yang empuk dengan seprai putih yang lembut untuk meluruskan tulang belakang mereka yang kaku akibat perjalanan yang jauh.


"Ular, aku memerlukan bantuanmu." Ucap Aquila dengan pandangannya kebawah dengan tatapan penasaran dan curiga.


"Apa yang bisa saya bantu nona?" Tanya sang ular, lalu mendekati Aquila yang berdiri dijendela.


"Ikuti orang itu, lalu jika dia berada ditempat sepi tangkap dia dan bawalah kemari." Perintah Aquila degan senyuman yang sulit diartikan.


"Akan saya laksanakan nona." Ucap sang ular dengan tegas, lalu turun dari jendela dan menyelinap didalam kegelapan malam.


"Ada apa kak Aquila? baru kali ini aku melihat kak Aquila meminta untuk menculik orang." Tanya Shiro terheran.


"Tidak ada, kamu akan tau sendiri Shiro." Ucap Aquila dengan senyuman yang berbeda dari biasanya.


"Kak Aquila, bolehkah aku bermain sebentar? Aku ingin jalan-jalan." Ucap Shiro meminta izin.


"Boleh saja, asalkan jangan pulang terlalu larut malam." Kata Aquila mengizinkan.


"Rino mau kemana? Giel ingin ikut." Tanya Rugiel dengan tatapan memohon.


"Tidak bisa, Giel harus bersama kak Aquila. Akan bahaya kalau Giel ikut." ucap Shiro dengan tegas.


"Baiklah, Giel akan disini bersama kak Aquila." Kata Rugiel dengan sedih.


"Besok, Giel bisa ikut aku besok, jangan menangis ya?" Bujuk Shiro, akan merepotkan kalau Rugiel menangis. Si tepnramen yang suka menangis.


"Emmm..." Rugiel dengan menganggukkan kepalanya.


"Kak, aku pergi dulu." Kata Shiro berpamitan, lalu melompat dari jendela yang berada dilantai dua itu.


TOK..! TOK..!

__ADS_1


"Nona, ini Minami."


"Masuklah kak." jawab Aquila dengan masih memandang pusat kota kerajaan Zuwei.


"Nona, kita diundang untuk makan malam bersama, apa nona mau mengikutinya?" Tanya Minami dengan sebuah nampan yang berisi pakaian yang terbuat dari sutra dengan warna putih.


"Aku akan mengikuti kak, sepertinya akan terjadi hal yang menarik." Kata Aquila dengan senyum sinisnya.


"Nona, tolong jangan tersenyum seperti itu, itu sangat mengerikan." Kata Minami dengan bulu kuduk yang berdiri.


"Minami, sepertinya kamu belum terbiasa dengan nona." Ucap Leave yang masih dengan wujud rusa kristal.


"Nona Leave apa yang kamu bicarakan, tentu saja aku sudah terbiasa. Hanya kali ini aku melihat nona dengan senyum yang berbeda dari biasanya." Ucap Minami yang menyangkal ucapan Leave.


"Benarkah?" Tanya Leave memastikan.


"Tentu saja. Oh iya nona, Tuan rumah memberikan pakaian ini untuk nona kenakan malam ini." Kata Minami sambil menyerahkan nampan yang berisi pakaian.


Aquila melihat nampan yang berada ditangan Minami dengan tatapan menolak. Sebab, pakaian yang dikenakan Minami sangat mencolokkan bentuk tubuh.


"Bolehkah aku tidak memakainya?"


"Tapi, itu sangat..." Sebelum selesai mengatakan keengganannya, Minami langsung menyerahkan pakaian itu kepada Aquila.


"Nona harus memakainya, aku dan nona leave akan menunggu didepan." Potong Minami dan langsung membawa Leave dan Rugiel yang masih menikmati tiduranya dan menutup pintu.


"Ada apa dengan kak nami? Kenapa dia sekarang sangat suka memaksa." Ucap Aquila terheran dengan salah satu kakaknya itu.


Lalu Aquila mulai mencoba memakai pakaian yang diserahkan oleh Minami sebelumnya. Namun wajah Aquila langsung masam karena baju yang dia kenakan sekarang.


"Apa-apaan ini?! Apa dia mencoba membuatku menjadi wanita penghibur?!" Teriak Aquila yang membuat orang yang tidak jauh dari tempatnya langsung terkejut karena suara Aquila yang menggelegar.


"Non ada apa?" Tanya Minami dengan mendobrak pintu yang tidak dikunci. Namun dalam sekejap, Minami langsung terpesona dengan penampilan Aquila yang cantik dibalut gaun Mesir kuno yang seksi.


"Apa orang tua itu serius memberikan pakaian minim ini?" Tanya Aquila dengan wajah yang memerah karena marah.


"Nona, tenangkan lah dirimu. Nona terlihat sangat cantik dengan gaun itu." Ucap Mianmi sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Aku tidak mau memaki ini."


"Nona, kalau nona malu, pakailah jubah putih itu." Bujuk Leave sambil menunjuk jubah putih yang tergantung digantungkan baju.


"Benar juga, aku akan mengenakan itu." Kata Aquila dengan semangat dan kemudian berjalan kearah jubah nya yang tergantung dan langsung memakainya.


"Ternyata nona sudah ada disini. Hamba kira masih didalam kamar nona." Ucap seorang gadis berumur sama dengan Aquila namun berpakaian pelayan.


"Ada apa?" Kata Minami penasaran.


"Tuan besar meminta hamba untuk menjemput nona dan mengantarkan keruang makan." Ucap pelayan itu dengan sopan.


"Jadi begitu, tolong tunjukan jalanya." Kata Minami dengan sopan juga.


Lalu mereka bertiga berjalan melewati lorong yang panjang, setelah berjalan sedikit lama akhirnya mereka sampai diruang makan dan disambut dengan berbagai orang dengan kepribadian masing-masing.


"Ah, nona sekalian telah datang. Silahkan duduk." Ucap pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah Sehetpra Lufni.


"Terimakasih tuan." Kata Minami dengan sopan.


"Kenapa ada orang jelata ikut perjamuan ini? Sungguh tidak sopan sekali." Ucap seorang gadis dengan sombong dan riasan wajah yang tebal.


"Likta, jangan berbicara sembarangan. Mereka berdua adalah Darmawan kakak sepupumu." Tegur ayah Lufni.


"Paman, buat apa aku berbicara sopan. Mereka berdua hanyalah orang miskin yang kebetulan menyelamatkan kakak Lufni." Ucapnya dengan sombong.


"Benar kakak, bukankah mereka hanya masyarakat sampah yang bisa menjilat kita untuk kepentingan mereka."


"Paman, jaga ucapanmu! Mereka berdua adalah penyelamatku. Tolong hargailah mereka." Kata Lufni dengan dingin.


"Heh.. Buat apa? tidak ada keuntungannya bagiku menghormati dua sampah ini. Dan kamu jangan banyak berbicara anak terkutuk." Kata paman Lufni yang tidak lain ayah Likta yang merendahkan.


"Apa yang kamu katakan? Berani sekali menghina anakku!" Bantah ayah Lufni yang tidak terima anaknya dihina.


"Tuan, tidak baik marah-marah. Luangkan hidupmu untuk yang berguna, dan biarkan dia berkata semaunya sampai suaranya menghilang." Ucap Aquila memegangi namun aura dingin keluar dari tubuhnya.


"Berani sekali dirimu berbicara, siapa yang mengizinkan orang tidak berguna sepertimu." Kata Likta dengan ketidaksukaannya.

__ADS_1


"Aku tidak memerlukan izin dari siapapun. Lebih baik kau diam sebelum aku memotong lidah tajammu itu." Aquila mengatakan dengan senyuman yang sinis.


'Nona, kamu sangat menakutkan' Mungkin itu yang berada dipikiran Lufni dan ayahnya begitu pula laba-laba Archane dan Rugiel yang baru mengetahui sifat Aquila yang kejam.


__ADS_2