Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 67


__ADS_3

Kesetiaan bulan terhadap malam tidak akan berhenti, meski bulan berubah-ubah bentuk setiap hari dan bintang pun masih tetap sama meski berbeda rasi setiap malam yang tenang.


Mereka menjadi saksi dalam kejadian malam yang penuh dengan darah manusia yang tewas dibawa belati hitam seorang elf yang tertutupi oleh jubah putih dengan tudung hitam yang menutupi kepala.


Pertarungan itu hanya berlangsung sekejap dan menewaskan hampir seluruh kelompok perampok gurun dan hanya menyisakan ketua dan anak-anak dan magical beast namun dengan rune budak agar tidak mengamuk, dan beberapa orang dewasa dengan rantai yang mengikat kaki dan tangan mereka.


"Bedebah! Aku tidak memiliki urusan dengan mu. Dan berani sekali kamu menyerang kelompokku!" Teriak ketua perampok itu dengan mengacungkan pedangnya kepada Minami.


"Memang, aku tidak memiliki urusan kepadamu. Tapi kamu berani mengusik nona ku dengan ular jelek mu itu. Dan tentu saja nonaku memintaku untuk menyelesaikan masalah dari akarnya." Kata Minami dengan santai.


"Berani sekali kamu bilang peliharaan ku jelek. Aku akan memotong mu dan memberikan tubuhmu untuk disantap peliharaan ku!" Teriaknya tidak terima karena mengatai ular miliknya jelek.


"Sebelum itu terjadi, aku yang akan memotong mu terlebih dahulu." Kemudian Minami menghilang dari tempatnya dan langsung menyerang bagian belakang dari ketua perampok itu.


Trranggg....


Dentingan benda tajam langsung menggema dan membuat siapapun yang melihat menjadi takut, karena ceceran darah yang tumpah sebelumnya dan kini terjadi lagi dengan kepala yang terpenggal dari pangkal leher dan terbang kearah kurungan para anak-anak.


Sontak anak-anak yang melihat kepala itu langsung berteriak ketakutan karena kepala itu tepat berada dihadapan mereka dengan mata yang terbuka seakan tidak percaya kalau dia mati dengan terpisah kepalanya dari tubuh karena serangan gadis yang terlihat lemah.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Minami kepada anak-anak itu yang ketakutan dengan Minami karena adegan pembantaian kepada seluruh perampok itu tanpa menyisakan seorang pun.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kalian." Kata Minami menenangkan anak-anak itu yang gemetar ketakutan.


"Apa kalian takut dengan kepala ini?" Tanya Minami dan di angguki oleh anak-anak itu. Minami langsung menendang kepala itu seperti bola dan terbang entah kemana.


"Sekarang jangan takut lagi, ikutlah dengan ku." Pinta Minami dan kemudian langsung membuka gembok yang mengurung mereka dalam sebuah jeruji besi yang dibawa dua ekor kuda.

__ADS_1


Lalu Mianami membuka kurungan yang lain yang berisikan para magical beast dan manusia dewasa namun dengan pakaian yang mewah meski sekarang sudah compang camping.


"Terimakasih nona telah menyelamatkan kami." Ucap seorang pria.


"Tidak perlu berterimakasih padaku. Aku hanya menerima perintah dari nonaku. Kalau anda ingin berterima kasih, ucapkan hal itu pada nonaku." Tolak Minami dengan datar namun sopan.


"Kalau begitu, bolehkah saya bertemu dengan tuanmu?" Tanyanya dengan penuh harap.


"Tidak masalah, sekarang sudah larut malam. Kan berbahaya bila kalian pergi di gurun ini." Kata Minami tidak keberatan dan kemudian Mianmi langsung berjalan kembali dimana Aquila bertarung dengan ular raksasa sebelumnya.


Baik anak-anak, magical beast dan beberapa pria itu langsung mengikuti Minami yang sudah mendahului mereka untuk menunjukan jalan.


Setelah berjalan sedikit lama, mereka semua melihat bekas pertempuran yang sangat besar. Lubang menganga dimana-mana dan terdapat rona hitam ditempat itu. Namun tidak ada seorang pun ditempat itu, namun terlihat seorang gadis terduduk dengan salah satu tangan memainkan jarinya di tumpukan pasir dingin.


Minami menghampiri Aquila yang tengah membawa ular kecil ditangannya namun dalam keadaan tidak sadar dengan kata lain pingsan karena serangan Aquila yang terlampau berlebihan.


"Aku tidak terluka kak, tapi hanya ular kecil ini yang terluka karena serangan petir ku." Jawab Aquila dengan menunjukan ular yang sebelumnya ia lawan.


"Jadi suara gemuruh tadi adalah perbuatanmu nona? Jujur saja, itu membuatku takut." Kata Minami namun mendapat tawa kecil dari Aquila.


"Permisi." Ucap pria tadi yang berbicara untuk mengalihkan perhatian kedua gadis yang sedang asyik mengobrol itu.


Aquila dan Minami langsung mengatakan pandangan mereka kearah suara tadi. Dan wajah Aquila terlihat bertanda tanya namun ditutupi oleh wajahnya daratnya yang dingin.


"Nona, mereka semua adalah tawanan perampok yang mengirimkan ular itu untuk menangkap nona untuk dijadikan budak." Kata Minami, sesaat kemudian aura dingin Aquila keluar dengan sendirinya dan membuat beberapa pria dan anak-anak itu menggigil ketakutan.


"Nona tidak perlu khawatir, aku telah menyelesaikan masalah itu tanpa menimbulkan masalah dimasa depan." Ucap Minami menenangkan Aquila yang mengeluarkan aura dinginnya.

__ADS_1


"Baguslah. Orang-orang seperti itu tidak perlu diberi kasihan." Kata Aquila dengan senyum sinis.


"Nona, bolehkah mereka ikut dengan kita malam ini. Aku takut kenapa-napa dengan mereka bila dibiarkan dalam gurun yang ganas dan penuh dengan magical beast yang membenci manusia."


"Tidak masalah. Jika mereka mau ikut denganku, asalkan jangan banyak bersuara." Kata Aquila mengizinkan lalu pergi mendahului mereka semua yang tidak berani berkata karenanya aura menindas dari Aquila.


"Kalian boleh ikut dengan kami. Tapi, kalian harus tenang malam ini, dan ucapkanlah terimakasihmu besok. Jujur saja nonaku sangat suka suasana tenang." Kata Minami dengan sopan.


"Terimakasih nona atas bantuannya. Kami semua akan tetap tenang." Ucap pria dengan baju yang compang camping itu dan diikuti juga oleh bawahannya dan anak-anak tadi.


"Tolong ikutilah aku." Kata Minami, kemudian dia berjalan didepan mereka untuk menunjukan jalan.


"Kalian sangat lama." Ucap Aquila yang berdiri dengan melipat tangannya dengan wajah datar.


"Nona, jangan begitu, nona membuat anak-anak takut dengan aura nona." Ucap Minami.


"Hemm." Aquila hanya berdehen saja, dan membuat Minami tersenyum canggung kepada rombongan yang mengikuti mereka.


"Maafkan nonaku, dia tidak terbiasa dengan orang baru, jadi jangan diambil hati karena sikapnya." Ucap Minami kepada pria yang mengikutinya.


"Tidak nona, saya mengerti. Jadi jangan meminta maaf kepada kami, dan juga nonalah yang telah menyelamatkan kami semua dari perampok gurun itu. Jadi jangan dipikirkan nona." Ucap pria itu dengan nada sopan.


Setelah berjalan, akhirnya mereka tiba dioase dan disambut gembira dengan anak-anak yang kehausan dan kelapan dari siang hari. Leave yang melihat rombongan itu langsung menghampiri Aquila dan Minami.


"Nona, siapa mereka?" Tanya Leave kepada Aquila.


"Aku tidak tau, tanyakan saja pada kak Nami. Sebab dia yang meyelamatkan mereka semua." Jawab Aquila acuh dan kemudian langsung menyusul Shiro dan Rugiel yang sudah tertidur di tumpukan daun dan semak yang dibuat oleh Leave sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2