
Angin berhembus begitu tenang, bahkan tidak terasa setelah badai salju telah berlalu. Bintang-bintang bersinar terang menyinari malam yang gelap gulita bersama dengan tumpukan salju yang menggunung.
Pepohonan tetap berdiri dengan gagah meski rantingnya terbebani oleh salju yang membekukannya, namun tampak cantik dari kejauhan dengan warna putih nan bersih. Pohon besar berdiri ditepi sungai dengan gagahnya memancarkan cahaya seperti pita yang menari tertiup angin musim semi yang sejuk menangkan hati yang gelisah.
Daun nya yang menjuntai mengikuti tarian sang cahaya yang menambah kecantikan alam yang jarang terlihat oleh manusia yang suka merusak alam yang senantiasa mencintai mereka dengan kasih sayang yang tidak dapat diungkapkan. Begitu juga sang Messiah yang sering kali disesatkan oleh pikirannya sendiri tentang tindakan yang sangat tidaklah manusiawi bagi orang lain.
"Apa yang kau pikirkan Ta? Wajahmu terlihat suram." Kata Rin membangunkan Aquila yang masih tenggelam dalam lamunannya.
"Tidak ada, apa kamu sudah mengetahui pintu menuju tempat Nix berada?" Tanya Aquila mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, maka dari itu aku mencarimu, tapi yang kulihat dirimu masih memikirkan sesuatu." Kata Rin dengan memandang sahabatnya itu dengan penuh selidik.
"Benarkah, kalau begitu ayo kita ke sana, bukankah Shiro dan yang lainnya sudah menunggu kita kan?" Tanya Aquila kepada Rin.
"Benar juga, dan juga kucing kecilmu itu yang memintaku untuk mencarimu." Jawab Rin sambil mengelus dagunya mengingat yang di katakan Shiro pada dirinya.
"Kalau begitu, jangan menunda waktu lagi." Kata Aquila dengan tersenyum manis, dan sementara Rin menarik tangan Aquila untuk menuju tempat yang dia maksud.
Setelah keluar dari dalam rumah es itu, dan bertepatan di samping dengan pohon Willow yang dimaksud Rin dalam dalam petunjuk yang diberikan oleh sang kaisar samudra.
"Kak Aquila, kakak sangat lama...!!" Teriak Shiro sambil mengayunkan cakarnya kearah Aquila seolah memanggilnya untuk lebih cepat.
__ADS_1
"Benarkah? Lalu sedang apa kau disini?" Tanya Aquila setelah sampai dimana Shiro dan para saudara yang lainnya tengah berkumpul di bawah pohon Willow yang besar dengan ayunan daun yang tertiup angin.
"Tentu saja menunggu kak Aquila dan kak Rin untuk membuka segel penghalang yang menghalangi pintu masuk untuk kedalam, dan aura Nix cukup terasa meski samar." Kata Shiro dengan mengeluhkan tentang segel yang menghalanginya untuk masuk kedalam, biasanya Shiro dengan mudah memecahkan rune penghalang dengan mudah.
"Sudah, sudah. Ayo segera kita lakukan, udaranya semakin dingin bila kita terlalu lama diluar." Kata Rin dengan wajah yang memerah menahan hawa dingin yang sangat jarang dia rasakan, walau pun sering merasakan hawa dingin dari AC rumah atau toko yang dia kelola.
"Lalu, bagai mana?" Tanya Aquila sambil memandangi pohon Willow yang ada didepannya.
"Serahkan saja padaku." Kata Rin dengan percaya diri. Lalu mengulurkan tangannya pada batang pohon Willow, dan kemudian sebuah rune biru muda terlihat dan kemudian menghilang bersama dengan terbukanya batang pohon Willow yang berselimut es tipis.
Kabut berhawa sangat dingin keluar dan menurunkan udara yang sudah dingin karena musim yang sedang berlangsung, membuat mereka yang terbiasa hidup disuhu yang hangat menggigil mengertakkan gigi mereka. Terkecuali Adrian dan Soleil.
"Wah, rasanya seperti di frizer saja. Huh... Ayo kita masuk sebelum kita dibekukan oleh hawa dingin ini." Ucap Rin dengan memasuki lorong yang menjorok kedalam dengan suhu yang sangat dingin itu.
Setelah menuruni anak tangga yang menurun, mereka melihat sebuah lingkaran sempurna dengan kristal es ditepian memberikan kesan keindahan dalam kesendirian. Sebab hanya lingkaran itu lah yang menghuni ruang itu sendiri.
"Nix..... Hua..... Nix.... A-apa kau mendengar suara giel....??" Tangis Rugiel pecah dengan sangat kerasnya.
"Sudahlah.... Kau cengeng sekali. Dia baik-baik saja, lagi pula dia kan saudara kita yang kuat." Ucap Vent Leger menghibur.
"Benarkah...? Lalu Hiks.... Kenapa Nix ada dalam benda itu...?" Tanyanya kembali dengan menatap penuh harap pada Vent Leger.
__ADS_1
Sedangkan Vent Leger, hanya tersenyum kecil karena tidak tau harus menjawab apa yang ditanyakankan oleh salah satu saudaranya itu yang terkenal suka menangis tidak diketahui apa sebabnya. Sedangkan Aquila mengamati benda itu dengan seksama bersama dengan Shiro yang tengah mencari sesuatu yang ada didalam lingkaran itu dengan ornamen kristal es yang cukup eksotis.
"Apa kau menemukan sesuatu Dita?" Tanya Rin dengan melihat Aquila yang terus menatap lingkaran itu.
"Belum, segel ini sangat rumit, bahkan baru kali ini aku melihat segel yang segitu menakjubkan dan kompleks seperti ini." Jawab Aquila dengan menyentuhkan tangannya pada lingkaran es yang terpatri didinding batu hitam dalam ruangan itu.
"Kak Dita, kak Dita, Bukankah kak Dita membaca buku yang aku berikan pada mu saat kerajaan Zuwei waktu itu?" Tanya Soleil pada Aquila yang terlihat jelas sedang berpikir keras hingga membuat raut wajahnya berkerut.
"Aku belum menyelesaikan membaca buku yang Soleil berikan pada ku, memangnya ada apa?" Jawab Aquila dengan cepat dengan wajah yang penasaran.
"Kak Dita, coba lihat lagi di bagian akhir buku itu, pasti ada petunjuk untuk memecahkan segel itu." Kata Soleil dengan suara yang sangat percaya diri itu.
Tentu saja Aquila langsung mengeluarkan buku dari perpustakaan menara milik Soleil, dan segera membuka buku itu pada halaman terakhir. Setelah membuka beberapa lembar dengan membaca sekilas setiap tulisan dan gambaran rune yang menurut Aquila unik, dan Aquila pun langsung membalikan halaman buku itu dengan cepat untuk mencari yang dia inginkan, sebab suhu didalam ruangan bawah tanah itu semakin menusuk kulit dengan hawa yang dingin.
"Ketemu..! Aku tidak menyangka kalau ada segel seperti ini." Kata Aquila dengan semangat.
"Kalau begitu, cepat lakukan. Aku sudah tidak tahan lagi." Kata Vent Leger dengan nada yang tidak sabar.
"Bagaimana kita membukanya, segel yang ditempatkan pada lingkaran itu sangat rumit. Apa kau yakin Dita?" Tanya Rin dengan cemas pada sahabatnya itu.
"Tenang saja, aku sudah pernah melalui hal seperti ini, namun dengan kasus yang berbeda. Lagi pula, jangan remehkan kemampuan ku ini kawan." Kata Aquila tersenyum yakin dan menenangkan kekhawatiran sahabatnya itu.
__ADS_1
Lalu, Aquila pun langsung melukai salah satu jarinya dengan tingkat kecil berukir bunga anggrek bulan biru, tetesan darah terjatuh satu persatu menyatu dengan rune yang ada di lingkaran itu. Setelah darah Aquila menyebar memenuhi rune penyegelan itu, kemudian sebuah lingkaran es itu pecah dengan cahaya biru muda yang memberikan hawa dingin lebih pekat dari sebelumnya.