Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 41


__ADS_3

Diruang singgasana yang mewah, setiap tiang dilapisi dengan ornamen berbentuk Griffin berlapis emas dengan bagian mata diselipkan permata bening putih yang memancarkan cahaya dingin dari sang Surya yang hangat.


Jendela besar dengan kaca bergambar menampilkan keagungan sang pilar dan sang Dewi yang menunggangi pilar dengan anggun. Tirai besar menggantung di setiap sisi kaca yang indah dan menegaskan kemewahan didalamnya.


Para prajurit berdiri didepan pintu besar yang terbuat dari emas dengan ornamen sama dengan tiang didalam ruang singgasana tersebut. Para menteri duduk rapih disisi kanan dan kiri dari singgasana sang kaisar agung yang mereka cintai.


Permaisuri dan para selir duduk dibelakang sang kaisar dengan pembatas sutra transparan berwarna cyin pucat dengan sulaman bunga teratai merah dibagian bawahnya dengan daun hijau yang lebar.


Hamparan karpet beludru merah terpapar dari pintu menuju singgasana sang kaisar yang tengah menduduki singgasana nya dan menatap tajam seakan meminta penjelasan dari semua perbuatannya.


Didepan sang kaisar terdapat seorang lelaki paruh baya dengan pangkal tangan kanan yang terbungkus kain putih dengan noda rempah pengobatan yang berbau tajam, serta tangan kirinya yang terbalut gips penyangga tangan kirinya yang patah. Lelaki paruh baya itu yang tidak lain adalah jenderal kekaisaran itu sendiri.


"Jendral ku, bisakah kamu jelaskan semua ini?" Tanya sang kekaisaran selatan sambil melemparkan sebuah gulungan perkamen.


Gulungan perkamen itu jatuh didepannya dan membuka dengan sempurna, Jendral paruh baya itu terkejut dengan tulisan yang menuliskan semua kejahatan yang telah dilakukan dahulu. Seperti berbuat semena-mena, bertingkah dengan kurang ajar dan melecehkan wanita yang tidak maumengikuti keinginkannya, pemerasan, bahkan korupsi dana peperangan dan pembangunan fasilitas.


"Y-yang m-ulia, saya bisa j-elaskan semua ini..." Ucap sang jendral dengan terbata dan keringat yang mengalir di keningnya.


"Tidak perlu dijelaskan jendral ku. Semuanya telah terbukti bawa kamu telah melakukan hal yang salah." Tolak sang Kaisar dengan tegas.


"Y-yang mulia, tolong dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu." Ucapan Jendral berhenti karena tangan kanan sang kaisar terangkat menandakan kalau dia tidak mau mendengarkan apa pun.


"Penjag! Seret penghianat ini dan hukum pancung dia sekarang!" Perintah kaisar tegas.


Para kesatria yang bersembunyi dibalik tiang besar segera keluar dan menyeret jendral mereka dengan kasar. " Yang mulia, tolong dengarkan saya!. Berikan saya kesempatan sekali lagi..!" Teriak sang jendral sambil meronta dari genggaman para kesatria yang menyeretnya secara kasar.

__ADS_1


Pintu besar itu terbuka dan membiarkan para kesatria itu lewat dan menutup kembali, namun teriakan sang Jendral terus menggema di lorong istana yang besar itu.


Setelah suara jendral yang malang itu hilang, sang kaisar kembali fokus untuk melanjutkan pengadilan yang baru saja tertunda. "Apa diantara para mentriku ada yang tahu tentang gadis yang begitu berani menantang jendral kekaisaran kita?" Tanya sang kaisar dengan penuh wibawa.


"Yang mulia, menurut saksi, gadis itu membawa satu magical beast dan seekor kucing biasa dan seorang gadis berbaju hitam yang misterius." Jawab sang Mentri sosial.


"Lalu, apa kah kalian tau dia ada dimana?"


"Menurut mata-mata yang hamba kirim, kemarin pagi gadis itu menyusul jendral kegua sang pilar Griffin yang mulia." Kata Mentri devisi penyelidikan.


"Apakah dia sudah kembali keibu kota mentri devisi penyelidikan?" Tanyanya kembali.


"Belum yang mulia." Kata Mentri devisi penyelidikan.


"Tenanglah wahai prajurit ku, ada apa?" Tanya sang kaisar dengan setenang air.


"Yang mulia, sebuah menara muncul dari arah danau sang pilar Griffin." Kata sang prajurit dengan nafas yang tersengkal-sengakal.


Raut wajah sang kaisar seketika berubah menjadi bahagia yang awalnya setenang air kini menjadi air yang berriak. "Benarkah wahai prajurit ku, benarkah yang kamu katakan?" Tanya sang kaisar dengan semangat dan bahagia yang memancar dari wajahnya yang tua.


"Benar yang mulia, hamba yang rendah ini tidak berbohong." Kata sang prajurit dengan yakin. Lalu sang kaisar berdiri dari singgasananya dan menuju ke pintu ruangan yang berlapis emas. Semua orang yang ada didalam ruangan mewah itu langsung mengikuti langkah sang kaisar yang tengah mendahului mereka.


Mereka melewati lorong yang panjang dengan ornamen terbuat dari emas, guci yang mengkilap diisi dengan berbagai bunga yang mengeluarkan harum yang menawan serta pajangan lukisan yang menghiasi dindingnya yang berwarna kuning emas.


Setelah sampai diujung lorong, mereka segera disambut dengan hamparan taman yang indah dan air mancur bertingkat memercikan air yang sejuk dari puncaknya yang tinggi. Hembusan angin musim semi yang sejuk langsung menyapa wajah mereka yang bahagia.

__ADS_1


Dari taman itu, terlihat sebuah menara yang mengapung diudara dan memancarkan cahaya keatasnya dengan agungnya. Cahaya itu seakan menantang sang Surya yang bersinar terang.


Wajah semua orang di kekaisaran selatan menjadi bahagiaan yang berlipat ganda. Pertama kembalinya musim semi, kedua hukuman mati kepada penjahat kelamin yang menghantui mereka selama ini dan yang terakhir muncul kembali menara sayang pilar Griffin yang mereka tunggu selama seratus tahun itu.


"Dewi Callista telah mengabulkan doa kita semua." Ucap sang kaisar penuh rasa syukur dan haru yang memenuhi hati dan wajah tuanya yang lelah.


"Benar sekali kaisar ku, doa kita serta rakyat kita yang menderita kini dikabulkan oleh Dewi Callista dengan bantuan gadis misterius itu." Kata sang permaisuri yang masih terlihat cantik diusia senjanya.


"Beritahukanlah kepada seluruh rakyat kita, bahwa akan diadakan pesta besar untuk mengucapakan rasa syukur terhadap Dewi Callista tiga hari kedepan." Kata sang kaisar dengan suara lantang miliknya.


"Kami akan laksana kan yang mulia." Ucap para menteri dengan semangat dan bersamaan.


"Kalian bisa kembali, dan menari penyelidikan, tetaplah disini ada yang ingin aku katakan." Pinta sang Kaisar.


"Baik yang mulia." Ucap Mentri penyelidikan. Lalu semua Mentri kembali kediaman masing-masing dan memerintahkan bawahnya untuk menyampaikan kabar gembira keseluruh rakyat kekaisaran selatan.


Dalam waktu sekejap, seluruh rakyat dari kalangan atas atau bawah mengetahui pesta rasa syukur terhadap Dewi Callista yang mereka agungkan.


"Mentri ku, apa kah kamu tau ciri-ciri dari penyelamat kita?" Tanya sang kaisar dibangku taman yang telah diletakkan didekat air mancur itu.


"Menurut orang-orang pernah melihat gadis misterius itu, dia memiliki sepasang mata yang berbeda warna dengan tanda bulan sabit dikeningnya yang mulia, dan rambutnya hitam sepekat malam." Jelas sang mentari penyelidikan.


"Apakah gadis itu sangat cantik Mentri?" Tanya sang permaisuri penasaran.


"Menurut orang yang pernah melihatnya, gadis itu sangatlah cantik, namun dia memiliki tempramen yang kejam dan dingin yang mulia permaisuri." Jelas sang mentari penyelidikan.

__ADS_1


__ADS_2