
Malam telah menjelang, rembulan bertengger di cakrawala hitam berhias bintang yang berpendar redup karena cahaya rembulan lebih terang. Tiupan angin membawa kedinginan musim gugur yang telah datang sejak beberapa Minggu yang lalu.
Begitu juga dengan seorang gadis bersurai perak masih terlelap dalam tidur nan panjang dengan senyum terpatri di wajahnya yang ayu. Seperti Dewi yang turun di Dunia fana untuk membebaskan peneritaan dari segala angkara murka sang alam yang lelah dengan beban yang telah dia emban selama miliaran tahun.
Dua orang gadis yang berbeda jenis dengan telaten merawat gadis itu yang masih dalam proses pemulihan yang sangat lama, dan kesadarannya telah ditunggu oleh kelima adiknya dan sekor serigala yang menunggu jawaban dari semua pertanyaan yang sudah mengahanuinya selama berada ditempat itu.
Seorang pria yang merupakan raja dari kerajaan Candana yang kini telah menjadi sejarah dan tertelan oleh alam. Dan dia adalah salah satu manusia yang masih hidup dari seluruh kerajaan yang telah ditinggalkan oleh para rakyatnya karena dibantai oleh sang raja yang dalam keadaan tidak sadar terpengaruh kekuatan sang pilar.
Penyesalan telah dia rasakan sejak dia sadarkan diri, dia sangat membenci dirinya sendiri karena telah menumpahkan darah dari orang yang dia cintai, dan rakyatnya yang mencintainya karena kebijaksanaanya.
Namun, semua itu telah musnah bersama hasutan dari kaisar Samudra untuk membunuh sang pilar yang melindungi tempat yang dia cintai dengan menyerap permata kehidupan sang pilar agar menjadi kuat dan tidak tunduk di bawah kekaisaran atau kerajaan yang lain.
Sang raja Candana pun menuruti saran hasutan sang kaisar Samudra. Dan dengan kejam dia membunuh sang pilar yang tidak bisa melukai para manusia karena sudah ditetapkan dari Sang maha dewa pemimpin dari sembilan dewa Dewi yang menciptakan mereka dengan kekuatan penyeimbang alam.
Tentu saja sang pilar penguasa angin Vent Leger tidak dapat melawan dan alhasil dia terbunuh dengan kejam serta kebencian akan manusia berawal dari semua yang menimpa dirinya dan terjatuh dalam kegelapan yang panjang.
Setelah berhasil membunuh sang pilar, sang raja Candana langsung mengambil permata kehidupan sang pilar dan menyerapnya untuk menjadi kekuatan dirinya sendiri. Namu semua itu hanya menjadi delusi dan tanpa sang raja sadari dia telah melumuri tangannya dengan darah dari sanak saudaranya bahkan rakyatnya tidak luput dari pembantaian yang dia lakukan.
Air mata senantiasa menghiasi wajahnya yang lelah dan kecewa karena perbuatan yang dia lakukan selama ini. Dan ternyata semua itu hanyalah tipu muslihat dari sang kaisar Samudera untuk melihat efek dari penyerapan permata kehidupan sang pilar yang melindungi kerajaan Candana yang terkenal kerajaan diatas awan.
__ADS_1
Semua telah berlalu, penyesalan selalu menjadi duri dalam nuraninya yang sudah terluka parah karena kekejaman yang dia lakukan pada seluruh penghuni kerajaan Candana, tentu saja dengan tersulutnya api dendam dalam nurani terluka.
Malam telah berlalu, meninggalkan sang bulan yang masih bercermin di samudra luas dan matahari yang bersinar dengan warna jingga kemerahan serta tidak terlupakan sang bintang fajar menemani bulan yang masih bercermin.
Kicauan burung terdengar samar, sebab hutan terletak sangat jauh dan bersebrangan dengan gapura yang telah runtuh. Semua mahluk hidup yang tinggal dalam sebuah bangunan usang pun terbangun untuk melakukan aktifitas mereka masing-masing.
Tempat yang senantiasa ramai kini telah sepi, dan menyisakan seorang gadis yang tergeletak lemah. Mata sang gadis terbuka dengan pelan menyesuaikan cahaya yang memasuki retina matanya yang berwarna merah darah.
"Ughh.... Dimana ini? Kenapa sangat sepi?" Tanya Aquila dengan suara lirih.
Kemudian Aquila menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dan berdiri untuk melihat keadaan diluar ruangan yang sepi itu. Setelah sampai di pintu, Aquila melihat seekor ular ungu tengah berjemur dibawah sinar matahari lagi dan dengan sepontan Aquila langsung menghampiri Adrian yang masih memejamkan matanya.
Adrian langsung membuka matanya dan memastikan kalau semua itu bukanlah mimpi yang selalu dinantikan. Ternyata itu adalah kenyataan bukan mimpi, Adrian dengan semangat langsung berjalan cepat mengaliri Aquila yang sudah berdiri dihadapannya dan menggosok betis Aquila dengan kepalanya yang sudah mulai menghangat.
"Ada apa? kelihatanya kamu sangat bahagia." Kata Aquila terheran dengan kelakuan Adrian yang sangat berbeda.
Netra mata ungu dengan pupil vertikal menatap Aquila dengan mata yang berkaca-kaca, dan tentu saja membuat Aquila tambah menjadi bingung.
"N-nona...?" Suara yang samar, namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Aquila. Aquila langsung menengok kan kepalanya untuk mencari sumber suara yang sangat dia pahami yaitu suara dari kakaknya, Leave.
__ADS_1
"Kak Leave, kena-"
"Syukurlah, aku sangat senang melihat nona kembali pulih. Aku sangat takut, sangat takut nona..." Kata Leave dengan memeluk Aquila erat dan air mata yang mengalir membasahi bahu Aquila.
Aquila bingung dengan tingkah kakaknya itu, tidak biasanya dia akan menangis seperti saat ini. Aquila hanya bisa diam dan mengelus punggung Leave untuk menegakan sang kakak yang menangis tidak diketahui sebabnya.
"Kakak, aku baik-baik saja, tidak apa yang perlu di takuti." Kata Aquila menenangkan.
"Aku, aku... Nona, kenapa saat itu nona kembali dengan luka dalam, apa yang terjadi nona?" Tanya Leave setalah menghapus sisa air matanya.
"Kenapa? Aku tidak ingat." Jawab Aquila dengan muka polosnya.
"Lupakan, apa nona merasa lapar atau haus? aku akan menyiapkannya segera." Kata Leave semangat dan belum sempat Aquila menjawab, Aquila telah ditarik oleh Leave dalam ruang yang sebelumnya dan tentu saja diikuti oleh Adrian dari belakang mereka.
Leave langsung mengeluarkan makanan yang telah dia sediakan dan tersimpan dalam ruang dimensi miliknya sendiri dan meletakkannya dihadapan Aquila dengan porsi besar. Tentu saja Aquila merasa tidak menyangka dengan kelakuannya Leave yang takut akan dirinya kelaparan.
"Ka-kak... A-apa kakak yakin?" Tanya Aquila pada Leave yang tersenyum puas dengan makanan yang dia simpan setelah Minami memaksakan semua itu dan memasukannya dalam dimensinya untuk disimpan.
"Tentu saja, nona perlu makan banyak untuk memulihkan kondisi nona agar segera pulih. Aku tidak mau kalau nona kembali sakit." Kata Leave dengan bangga.
__ADS_1
"Ini berlebihan kak, aku tidak sanggup untuk memakan semua ini." Ucap Aquila dengan menatap negri pada jajaran makanan berbagai jenis menunjang kesehatan yang rata-rata semua rasanya hambar, tentu saja Aquila sangat membenci makanan yang hambar.